TS
joeraygaul
Buddha Theravada Indonesia
Namo Buddhaya
Namo Dhammaya
Namo Sanghaya
Kalena Dhammasavanam, kalena dhammasakkhacca, ettammangalamuttamam'ti
_/|\_
Salam bagi semua kaskuser warga forspi sekalian, semoga semua dalam kondisi baik dan berbahagia semua.
Melalui trid ini TS berniat untuk menjalin komunikasi dengan semua warga kaskus yang menganut Buddhisme aliran Theravada atau yang sedang belajar mendalami Buddhisme dan siapa saja yang berminat untuk mempelajari Buddhisme Theravada.
Buddhisme Theravada atau sering juga disebut Buddhisme aliran selatan adalah Buddhisme yang sebagian besar sumber ajarannya berasal dari Pali Tipitaka, yaitu Tipitaka berbahasa Pali. Berbagai doktrin dan ajaran mendasar yang menjiwai ajaran Buddhisme Theravada adalah berbagai kitab yang kanonik yang penukisannya menggunakan bahasa Pali, yaitu suatu bahasa rumpun IndoArya yang digunakan sebagai bahasa text/tulisan (bukan bahasa lisan/ucapan) yang berkembang di India Tengah dahulu pada masa Sang Buddha Gotama masih hidup dan berkarya.
Ajaran dasar Buddhisme Theravada tidak berbeda terlalu jauh dengan aliran Buddhisme lainnya (Mahayana, Tantrayana, Vajrayana), yaitu sama2 bercorakkan Tilakkhana (3 corak), Cattariariyasaccana (4 kebenaran ariya), dan praktek pengembangan Buddhisme Theravada pun sama-sama mengembang suatu metode pelatihan diri yang disebut Ariyaattanghikkamagga (jalan mulia beruas delapan) yang sering dibagi menjadi tiga aspek yaitu latihan kebijaksanaan (panna), moralitas (sila), dan pelatihan pikiran dan konsentrasi (sammaddhi). Dan khusus untuk Theravada, yang berarti jalan/tradisi para tua2, pelatihan praktik dan pengembangan lebih difokuskan kepada pencapaian dalam kehidupan saat ini juga, yaitu jalan savakaboddhi.
So demikian penghantar singkat dari TS, saya sangat memohon agar para rekan warga Forspi dan forum kaskus ini mau ikut berbagi, dan membagi pengetahuannya mengenai Buddhisme Theravada di trit ini. Dan juga para senior agar sudi mau membagi pengetahuan dan pengalamannya di trit ini.
Namo Buddhaya,
Sabbhe sattha bhavantu sukkhitattha,
semoga semua mahluk berbahagia
_/|\_




Sejarah
Bagan dan Skema dari Pali Tipitaka
Ulasan Singkat Pali Tipitaka dan Skema Pali Tipitaka
Pencarian Kebenaran :
Empat Kebenaran Mulia/Cattari ariyasaccana :
Tiga corak ( Tilakkhana)
Patthimokkha Sila, Vinaya dan aturan bagi para Bikkhu/Petapa
Panduan bagi perumah tangga/umat awam :
Bahan untuk perenungan
Daftar Alamat Vihara Sangha Theravada Indonesia
Indeks Sutta, Tuntunan Puja Bakti, Tulisan2 bagian dari Tipittaka lainnya, Meditasi dan lain sebagainya
Indeks
Diasuh oleh :
Minibalanar
Info kegiatan dan acara Buddhist :
Info kegiatan dan acara Buddhist
Approved by Moderator :
Approved
Namo Dhammaya
Namo Sanghaya
Kalena Dhammasavanam, kalena dhammasakkhacca, ettammangalamuttamam'ti
_/|\_
Salam bagi semua kaskuser warga forspi sekalian, semoga semua dalam kondisi baik dan berbahagia semua.
Melalui trid ini TS berniat untuk menjalin komunikasi dengan semua warga kaskus yang menganut Buddhisme aliran Theravada atau yang sedang belajar mendalami Buddhisme dan siapa saja yang berminat untuk mempelajari Buddhisme Theravada.
Buddhisme Theravada atau sering juga disebut Buddhisme aliran selatan adalah Buddhisme yang sebagian besar sumber ajarannya berasal dari Pali Tipitaka, yaitu Tipitaka berbahasa Pali. Berbagai doktrin dan ajaran mendasar yang menjiwai ajaran Buddhisme Theravada adalah berbagai kitab yang kanonik yang penukisannya menggunakan bahasa Pali, yaitu suatu bahasa rumpun IndoArya yang digunakan sebagai bahasa text/tulisan (bukan bahasa lisan/ucapan) yang berkembang di India Tengah dahulu pada masa Sang Buddha Gotama masih hidup dan berkarya.
Ajaran dasar Buddhisme Theravada tidak berbeda terlalu jauh dengan aliran Buddhisme lainnya (Mahayana, Tantrayana, Vajrayana), yaitu sama2 bercorakkan Tilakkhana (3 corak), Cattariariyasaccana (4 kebenaran ariya), dan praktek pengembangan Buddhisme Theravada pun sama-sama mengembang suatu metode pelatihan diri yang disebut Ariyaattanghikkamagga (jalan mulia beruas delapan) yang sering dibagi menjadi tiga aspek yaitu latihan kebijaksanaan (panna), moralitas (sila), dan pelatihan pikiran dan konsentrasi (sammaddhi). Dan khusus untuk Theravada, yang berarti jalan/tradisi para tua2, pelatihan praktik dan pengembangan lebih difokuskan kepada pencapaian dalam kehidupan saat ini juga, yaitu jalan savakaboddhi.
So demikian penghantar singkat dari TS, saya sangat memohon agar para rekan warga Forspi dan forum kaskus ini mau ikut berbagi, dan membagi pengetahuannya mengenai Buddhisme Theravada di trit ini. Dan juga para senior agar sudi mau membagi pengetahuan dan pengalamannya di trit ini.
Namo Buddhaya,
Sabbhe sattha bhavantu sukkhitattha,
semoga semua mahluk berbahagia
_/|\_
Bagi para rekan kaskuser sangat dimohon agar tidak ngejunk, flame, atau trolling. Harapan TS agar trit ini dapat menjadi wadah komunikasi dan berbagi pemahaman dan wawasan agar praktik dan latihan kita semua semakin berkembang dan maju.
Annumodanna _/|\_
Annumodanna _/|\_



Sejarah
- Sejarah Singkat Buddhisme Theravada
- Kronologi Singkat Part 1
- Kronologi Singkat Part 2 dan Sejarah Singkat Sangha Theravada Indonesia (STI)
Bagan dan Skema dari Pali Tipitaka
Ulasan Singkat Pali Tipitaka dan Skema Pali Tipitaka
Pencarian Kebenaran :
- Saduran bebas Kalama Sutta, sumbangan artikel dari bro Minibalanar
- Kalama Sutta
- Kalama Sutta
- Kalama Sutta
- Kalama Sutta
- Ehipassiko, posted by Minibalanar
Empat Kebenaran Mulia/Cattari ariyasaccana :
- Pengantar dari TS
- Dari sumber lain yang saya copas
- Tulisan salah seorang member kaskus di forum lain yang saya copas
Tiga corak ( Tilakkhana)
Patthimokkha Sila, Vinaya dan aturan bagi para Bikkhu/Petapa
- Parajika dan Sanghadisesa
- Aniyata dan Nissagiya Pacittiya
- Pacittiya 1
- Pacittiya 2(Acelaka Vagga, Surapana Vagga, Sapana Vagga, Sahadhammika Vagga
- Pacittiya 3(Ratana Vagga) dan Patidesaniya
- Sekhiya
- Adhikarana Samatha
Panduan bagi perumah tangga/umat awam :
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Sigalovada Sutta
- Pancasila Buddhist, by Minibalanar
- [URL="http://www.kaskus.co.id/showpost.php?[*]p=698709246&postcount=66"]Pancasila Buddhist, by Minibalanar[/URL]
- Sila dan Vinaya by Minibalanar
- Sila dan Vinaya by Minibalanar
- Sila dan Vinaya by Minibalanar
- Pharabava Sutta
Bahan untuk perenungan
- Bebas dari kesalahan, tulisan Banthe Saddhaviro Mahathera
- Apakah agama Buddha itu kuno? Tulisan Banthe Uttamo
- Cara berpikir seorang praktisi dan non praktisi, tulisan Bikkhu Buddhadasa
- Perenungan Brahmavihara1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7
Daftar Alamat Vihara Sangha Theravada Indonesia
- Pulau Sumatra dan Banten
- DKI Jakarta dan Jawa Barat
- Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta
- Jawa Timur dan Bali
- Nusa Tenggara dan Pulau Kalimantan
- Pulau Sulawesi
Indeks Sutta, Tuntunan Puja Bakti, Tulisan2 bagian dari Tipittaka lainnya, Meditasi dan lain sebagainya
Indeks
Diasuh oleh :
Minibalanar
Info kegiatan dan acara Buddhist :
Info kegiatan dan acara Buddhist
Approved by Moderator :
Approved
Diubah oleh joeraygaul 22-11-2012 14:10
emineminna dan nona212 memberi reputasi
2
110.9K
747
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Tampilkan semua post
Minibalanar
#224
CETIYA DUSSA DIDIRIKAN DI ALAM BRAHMA AKANITTHA
Brahmà Ghatikàra menangkap busana Bodhisatta yang dilemparkan ke angkasa; dan mendirikan sebuah cetiya, berukuran dua belas yojanà dan berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena cetiya itu berisi busana, maka disebut Cetiya Dussa.
CHANNA PULANG KE KOTA
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, sampaikan pesan ini kepada ‘ibu-Ku’ (maksudnya: ibu angkat-Nya Mahàpajapati Gotamã
dan ayah-Ku bahwa Aku dalam kondisi sehat.” Kemudian Channa, setelah bersujud dengan penuh hormat kepada Bodhisatta dan mengelilingi-Nya, mengambil buntalan berisi perhiasan Bodhisatta, membawa kudanya dan pergi.
KANTHAKA TERLAHIR KEMBALI SEBAGAI DEWA SETELAH MENINGGAL DUNIA
Karena mendengarkan percakapan antara Bodhisatta dengan Channa, kuda Kanthaka menjadi sangat sedih dengan pikiran, “Mulai saat ini aku tidak akan dapat melihat tuanku lagi.” Setelah ia menghilang dari pandangan Bodhisatta, ia tidak dapat menahan kesedihannya yang timbul karena berpisah dengan seseorang yang dicintainya ‘piyehi vippayoga’, sewaktu ia meninggalkan Bodhisatta yang sangat disayanginya; ia meninggal dunia karena patah hati dan terlahir kembali di Surga Tàvatimsa sebagai dewa bernama Kanthaka. Sedangkan Channa, pertama-tama ia bersedih karena berpisah dengan Bodhisatta, kemudian kesedihannya bertambah karena meninggalnya Kanthaka. Tertekan oleh penderitaan ganda, ia pulang ke Kota Kapilavatthu dengan air mata berlinang, menangis.
KUNJUNGAN BODDHISATTA KE KOTA RAJAGAHA SETELAH BERDIAM SELAMA TUJUH HARI DI HUTAN MANGGA ANUPIYA
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta berdiam selama tujuh hari dalam kebahagiaan pertapaan di hutan mangga yang disebut Anupiya kemudian berjalan kaki sejauh tiga puluh yojanà dalam sehari dan memasuki Kota Ràjagaha. (Pernyataan ini diambil dari Komentar Buddhavaÿsa dan Komentar Jàtaka).
MEMASUKI RAJAGAHA UNTUK MENGUMPULKAN DANA MAKANAN
![kaskus-image]()
Boddhisatta memasuki Rajagaha, masyarakat berbisik2 membicarakan-Nya
Ketika Beliau akan mengunjungi Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, Beliau berdiri di pintu gerbang timur kota itu; Beliau berpikir, “Jika Aku mengirim pesan kepada Raja Bimbisàra mengenai kunjungan-Ku, ia akan tahu bahwa Pangeran Siddhattha, putra Raja Suddhodana, telah datang ke kotaku; kemudian dengan penuh perhatian dan penghormatan ia akan mengirimkan banyak harta benda kepada-Ku. Tidaklah tepat bagi seorang petapa seperti-Ku untuk memberitahukannya dan menerima empat kebutuhan dengan cara seperti itu. Sekarang, Aku akan pergi mengumpulkan dàna makanan.” Jadi, setelah mengenakan jubah Pamsukålika yang dipersembahkan oleh Brahmà Ghatikara dan mengambil mangkuk-Nya, Bodhisatta memasuki kota melalui pintu gerbang timur dan mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah.
Tujuh hari sebelum Bodhisatta memasuki Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, sebuah festival sedang dirayakan oleh orang banyak. Pada hari Bodhisatta memasuki kota. Raja Bimbisàra mengumumkan dengan tabuhan genderang, “Festival telah selesai. Para penduduk harap segera kembali ke pekerjaannya masing-masing.” Pada waktu itu para penduduk masih berkumpul di halaman istana. Sewaktu raja membuka jendela dan melihat keluar untuk memberikan perintah yang diperlukan, ia melihat Bodhisatta yang memasuki Ràjagaha dengan penuh ketenangan.
Melihat penampilan yang anggun dari Bodhisatta, para penduduk Ràjagaha menjadi sangat gembira dan terjadi kegemparan di seluruh kota seperti ketika Gajah Nàlàgiri, yang juga disebut Dhammapàla, memasuki kota atau seperti para penghuni Alam Tàvatimsa yang ketakutan saat Raja Asura bernama Vepaciti, mendatangi tempat mereka.
Ketika Bodhisatta mulia berkeliling dengan keagungan raja Gajah Chaddanta untuk mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah di Kota Ràjagaha, para penduduk menyaksikan penampilan anggun yang tiada bandingnya dalam diri Bodhisatta, mereka merasa sangat gembira dan terheran-heran, penasaran ingin melihat bagaimana tingkah laku Bodhisatta yang unik.
Salah satu orang berkata kepada orang lainnya, “Teman, bagaimana ini? Apakah istana bulan yang turun ke alam manusia dengan cahayanya yang menyembunyikan ketakutan Rahu Si Raja Asura?”
Orang kedua menjawab dengan nada mengejek, “Apa yang kau katakan, teman? Pernahkah engkau melihat bulan yang turun ke alam manusia? Itu adalah Dewa Kàma, Dewa Keinginan, melihat kemegahan raja kita dan para penduduknya, ia turun dan menyamar untuk bermain dan bersenang-senang dengan kita.”
Orang ketiga berkata, “O teman, bagaimana itu? Apakah kau gila? Dewa Kàma memiliki tubuh berwarna hitam legam karena terbakar oleh api kekuasaan, keangkuhan, dan kemarahan. Sebenarnya orang yang kita lihat itu adalah Sakka, raja para dewa, yang memiliki seribu mata, yang datang ke kota kita karena mengira bahwa ini adalah Alam Tàvatimsa.”
Orang keempat sambil tersenyum berkata kepada orang ketiga, “Bagaimana engkau dapat mengatakan hal itu? Kata-katamu sendiri saling bertentangan. Menyebutnya Sakka, mana seribu matanya? Mana gajah tunggangannya Eràvana? (Jika Ia adalah Sakka, ia harus memiliki seribu mata, bersenjata petir, dan Eràvana sebagai tunggangannya. Ia tidak memiliki semua itu). Sebenarnya, ia adalah brahmà yang, mengetahui bahwa para brahmana telah melupakan semua Veda, datang untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan pelajaran mereka dan melatihnya dengan rajin.”
Orang lain, seorang terpelajar, menghentikan perdebatan mereka dan berkata, “Beliau bukan bulan, bukan Dewa Kàma, bukan Sakka, dan bukan brahmà. Sebenarnya, Beliau adalah manusia luar biasa, raja dan guru di tiga alam.”
Selagi para penduduk Ràjagaha saling berbicara, masing-masing dengan pendapatnya sendiri-sendiri, pelayan istana datang kepada Raja Bimbisàra dan melaporkan, “Raja besar, seorang yang luar biasa yang tidak seorang pun mengetahui apakah Beliau adalah dewa, atau gandabha atau nàga atau yakkha, sedang mengumpulkan dàna makanan di Kota Ràjagaha.” Mendengar kata-kata ini, raja yang telah melihat Bodhisatta dari teras atas di istananya merasa penasaran dan memerintahkan menterinya, “Pergi selidiki orang ini; jika ia adalah yakkha ia akan menghilang ketika tiba di luar kota ini; jika ia adalah dewa ia akan berjalan di angkasa; jika ia adalah nàga ia akan masuk ke dalam tanah dan menghilang; jika ia manusia, ia akan memakan makanannya di tempat tertentu.”
Dengan ketenangan indria dan batinnya juga dalam keanggunannya, dengan mata yang selalu menatap ke bawah (sejauh kira-kira empat lengan), Beliau menarik perhatian para penduduk Ràjagaha, Beliau berkeliling dan mengumpulkan makanan secukupnya—makanan yang terdiri dari berbagai macam bahan kasar dan halus berwarna warni dicampur menjadi satu. Kemudian Beliau bertanya kepada para penduduk, “Di manakah biasanya para petapa yang mengunjungi kota ini berdiam?” Para penduduk menjawab, “Mereka biasanya berdiam di jalan masuk menuju gua yang menghadap timur di puncak Gunung Pandava.” Dan kemudian Bodhisatta meninggalkan kota melalui pintu gerbang timur. Setelah itu Beliau duduk menghadap ke timur di jalan masuk gua di gunung dan berusaha memakan makanan campur aduk dari bahan kasar dan halus yang dibawa-Nya.
Brahmà Ghatikàra menangkap busana Bodhisatta yang dilemparkan ke angkasa; dan mendirikan sebuah cetiya, berukuran dua belas yojanà dan berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena cetiya itu berisi busana, maka disebut Cetiya Dussa.
CHANNA PULANG KE KOTA
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, sampaikan pesan ini kepada ‘ibu-Ku’ (maksudnya: ibu angkat-Nya Mahàpajapati Gotamã
dan ayah-Ku bahwa Aku dalam kondisi sehat.” Kemudian Channa, setelah bersujud dengan penuh hormat kepada Bodhisatta dan mengelilingi-Nya, mengambil buntalan berisi perhiasan Bodhisatta, membawa kudanya dan pergi.KANTHAKA TERLAHIR KEMBALI SEBAGAI DEWA SETELAH MENINGGAL DUNIA
Karena mendengarkan percakapan antara Bodhisatta dengan Channa, kuda Kanthaka menjadi sangat sedih dengan pikiran, “Mulai saat ini aku tidak akan dapat melihat tuanku lagi.” Setelah ia menghilang dari pandangan Bodhisatta, ia tidak dapat menahan kesedihannya yang timbul karena berpisah dengan seseorang yang dicintainya ‘piyehi vippayoga’, sewaktu ia meninggalkan Bodhisatta yang sangat disayanginya; ia meninggal dunia karena patah hati dan terlahir kembali di Surga Tàvatimsa sebagai dewa bernama Kanthaka. Sedangkan Channa, pertama-tama ia bersedih karena berpisah dengan Bodhisatta, kemudian kesedihannya bertambah karena meninggalnya Kanthaka. Tertekan oleh penderitaan ganda, ia pulang ke Kota Kapilavatthu dengan air mata berlinang, menangis.
KUNJUNGAN BODDHISATTA KE KOTA RAJAGAHA SETELAH BERDIAM SELAMA TUJUH HARI DI HUTAN MANGGA ANUPIYA
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta berdiam selama tujuh hari dalam kebahagiaan pertapaan di hutan mangga yang disebut Anupiya kemudian berjalan kaki sejauh tiga puluh yojanà dalam sehari dan memasuki Kota Ràjagaha. (Pernyataan ini diambil dari Komentar Buddhavaÿsa dan Komentar Jàtaka).
MEMASUKI RAJAGAHA UNTUK MENGUMPULKAN DANA MAKANAN

Boddhisatta memasuki Rajagaha, masyarakat berbisik2 membicarakan-Nya
Ketika Beliau akan mengunjungi Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, Beliau berdiri di pintu gerbang timur kota itu; Beliau berpikir, “Jika Aku mengirim pesan kepada Raja Bimbisàra mengenai kunjungan-Ku, ia akan tahu bahwa Pangeran Siddhattha, putra Raja Suddhodana, telah datang ke kotaku; kemudian dengan penuh perhatian dan penghormatan ia akan mengirimkan banyak harta benda kepada-Ku. Tidaklah tepat bagi seorang petapa seperti-Ku untuk memberitahukannya dan menerima empat kebutuhan dengan cara seperti itu. Sekarang, Aku akan pergi mengumpulkan dàna makanan.” Jadi, setelah mengenakan jubah Pamsukålika yang dipersembahkan oleh Brahmà Ghatikara dan mengambil mangkuk-Nya, Bodhisatta memasuki kota melalui pintu gerbang timur dan mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah.
Tujuh hari sebelum Bodhisatta memasuki Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, sebuah festival sedang dirayakan oleh orang banyak. Pada hari Bodhisatta memasuki kota. Raja Bimbisàra mengumumkan dengan tabuhan genderang, “Festival telah selesai. Para penduduk harap segera kembali ke pekerjaannya masing-masing.” Pada waktu itu para penduduk masih berkumpul di halaman istana. Sewaktu raja membuka jendela dan melihat keluar untuk memberikan perintah yang diperlukan, ia melihat Bodhisatta yang memasuki Ràjagaha dengan penuh ketenangan.
Melihat penampilan yang anggun dari Bodhisatta, para penduduk Ràjagaha menjadi sangat gembira dan terjadi kegemparan di seluruh kota seperti ketika Gajah Nàlàgiri, yang juga disebut Dhammapàla, memasuki kota atau seperti para penghuni Alam Tàvatimsa yang ketakutan saat Raja Asura bernama Vepaciti, mendatangi tempat mereka.
Ketika Bodhisatta mulia berkeliling dengan keagungan raja Gajah Chaddanta untuk mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah di Kota Ràjagaha, para penduduk menyaksikan penampilan anggun yang tiada bandingnya dalam diri Bodhisatta, mereka merasa sangat gembira dan terheran-heran, penasaran ingin melihat bagaimana tingkah laku Bodhisatta yang unik.
Salah satu orang berkata kepada orang lainnya, “Teman, bagaimana ini? Apakah istana bulan yang turun ke alam manusia dengan cahayanya yang menyembunyikan ketakutan Rahu Si Raja Asura?”
Orang kedua menjawab dengan nada mengejek, “Apa yang kau katakan, teman? Pernahkah engkau melihat bulan yang turun ke alam manusia? Itu adalah Dewa Kàma, Dewa Keinginan, melihat kemegahan raja kita dan para penduduknya, ia turun dan menyamar untuk bermain dan bersenang-senang dengan kita.”
Orang ketiga berkata, “O teman, bagaimana itu? Apakah kau gila? Dewa Kàma memiliki tubuh berwarna hitam legam karena terbakar oleh api kekuasaan, keangkuhan, dan kemarahan. Sebenarnya orang yang kita lihat itu adalah Sakka, raja para dewa, yang memiliki seribu mata, yang datang ke kota kita karena mengira bahwa ini adalah Alam Tàvatimsa.”
Orang keempat sambil tersenyum berkata kepada orang ketiga, “Bagaimana engkau dapat mengatakan hal itu? Kata-katamu sendiri saling bertentangan. Menyebutnya Sakka, mana seribu matanya? Mana gajah tunggangannya Eràvana? (Jika Ia adalah Sakka, ia harus memiliki seribu mata, bersenjata petir, dan Eràvana sebagai tunggangannya. Ia tidak memiliki semua itu). Sebenarnya, ia adalah brahmà yang, mengetahui bahwa para brahmana telah melupakan semua Veda, datang untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan pelajaran mereka dan melatihnya dengan rajin.”
Orang lain, seorang terpelajar, menghentikan perdebatan mereka dan berkata, “Beliau bukan bulan, bukan Dewa Kàma, bukan Sakka, dan bukan brahmà. Sebenarnya, Beliau adalah manusia luar biasa, raja dan guru di tiga alam.”
Selagi para penduduk Ràjagaha saling berbicara, masing-masing dengan pendapatnya sendiri-sendiri, pelayan istana datang kepada Raja Bimbisàra dan melaporkan, “Raja besar, seorang yang luar biasa yang tidak seorang pun mengetahui apakah Beliau adalah dewa, atau gandabha atau nàga atau yakkha, sedang mengumpulkan dàna makanan di Kota Ràjagaha.” Mendengar kata-kata ini, raja yang telah melihat Bodhisatta dari teras atas di istananya merasa penasaran dan memerintahkan menterinya, “Pergi selidiki orang ini; jika ia adalah yakkha ia akan menghilang ketika tiba di luar kota ini; jika ia adalah dewa ia akan berjalan di angkasa; jika ia adalah nàga ia akan masuk ke dalam tanah dan menghilang; jika ia manusia, ia akan memakan makanannya di tempat tertentu.”
Dengan ketenangan indria dan batinnya juga dalam keanggunannya, dengan mata yang selalu menatap ke bawah (sejauh kira-kira empat lengan), Beliau menarik perhatian para penduduk Ràjagaha, Beliau berkeliling dan mengumpulkan makanan secukupnya—makanan yang terdiri dari berbagai macam bahan kasar dan halus berwarna warni dicampur menjadi satu. Kemudian Beliau bertanya kepada para penduduk, “Di manakah biasanya para petapa yang mengunjungi kota ini berdiam?” Para penduduk menjawab, “Mereka biasanya berdiam di jalan masuk menuju gua yang menghadap timur di puncak Gunung Pandava.” Dan kemudian Bodhisatta meninggalkan kota melalui pintu gerbang timur. Setelah itu Beliau duduk menghadap ke timur di jalan masuk gua di gunung dan berusaha memakan makanan campur aduk dari bahan kasar dan halus yang dibawa-Nya.
0