TS
Serapium
~ Serapers Story ~
Seraper's Project
Berdasarkan usulan di trit Oripuku atau Obrolan Ringan Seputar Buku dengan TS daninoviandi aka pooh dan
s, maka dibuatlah sebuah proyek untuk menulis bersama dengan seraper lainnya 
Pihak yang berpartisipasi :
1. komet795
2. CSdnadychi

3. InyongWongSunda
4. dansus.06
5. Pepohonan
6. bima2bima
7. vitawulandari
8. ramundro
9. oyxpik
10. after_dark
11. lights.
12. AzkaSetyawan
13. Ambrosiana
14. neoarm23
15. metallisedheart
16. zuko99
17. pimpernel corp.

18. dewok
19. peacekeeper
20. izunayuma
21. RajabJabont
22. daninoviandi
s23. lavioletta
24. Garirakaisambu
kepada id-id di atas, tolong PM daninoviandi dan kirim alamat emailnya.
jadi rules dari proyek ini adalah:
1. Nanti ada sebuah tulisan (bab 1), nah, yang mau lanjut bab 1 tersebut (lanjut ke bab 2) silahkan lanjutkan di thread, nanti saya (dani) akan kirim email tentang file doc dari bab 1 tersebut. silakan ketik ulang atau copas tulisan lanjutan tadi, dan kirim balik ke saya, begitu seterusnya.
2. penulisan bebas, ekspresikan sendiri-sendiri, semoga saja pikiran kita semua sama

3. tiap penulis menulis 1 bab, tapi melanjutkan dari bab sebelumnya. melanjutkan disini, mau mengambil tokoh baru juga tidak masalah, yang penting masih ada benang merahnya
4. yang lagi nulis cerita buat bab selanjutnya tolong ngepost disini kalo lagi nulis
5. happy writing...
indeks:
1. bab 1 by CSdnadychi & InyongWongSunda
2. bab 2 by bima2bima
3. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=699704034&postcount=161]Bab 3 By CSdnadychi/CahayaSenja[/url]
4. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=699883327&postcount=165]Bab 4 By daninoviandi[/url]
5. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=700078312&postcount=181]Bab 5 By Lavioletta[/url]
6. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=700304767&postcount=202]Bab 6 By After_Dark[/url]
7. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=700469354&postcount=212]Bab 7 By Ramundro[/url]
8. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=703420249&postcount=233]Bab 8 part 1[/url] dan [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=703420447&postcount=234]Bab 8 part 2 by wong.lamo[/url]
9. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=704887386&postcount=265]Bab 9 By eclips3[/url]
10. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=706428965&postcount=290]Bab 10 By vitawulandari[/url]
11. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=706742270&postcount=303]Bab 11 part 1[/url] dan [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=706753173&postcount=305]Bab 11 part 2 By Alic3[/url]
12. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=708843816&postcount=326]Bab 12 part 1[/url] dan [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=708845006&postcount=327]Bab 12 part 2 by CahayaSenja[/url]
13. Bab 13 by ramundro
14. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=719934112&postcount=380]Bab 14 by Alic3[/url]
15. [url= http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=728282529&postcount=403]Bab 15 by Izunayuma [/url]
0
17.7K
453
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
7.8KThread•4.7KAnggota
Tampilkan semua post
ramundro
#335
BAB 13, Social Enginer
"Jadi, kita akan segera menghabisi anak sialan itu kan?", kata slime1206 sambil mengemudikan mobil.
"Kecuali kamu ingin segera tertangkap oleh pihak kepolisian, dan mengungkap identitas kita. Dasar Idiot! Gunakan otakmu pecundang!", jawab L4zuard1 ketus.
"Berhenti memanggilku idiot, cacing sialan!"
"Hahaha. Kalian berdua sangat romantis!", timpal Enero, pria gendut yang dari tadi hanya sibuk dengan gadget di tangannya.
"Tidak Slime,kita tidak akan langsung membunuh anak itu. Dari ceritamu kemarin, menurutku, anak itu bukan orang bodoh. Dia memilih tempat untuk menyelinap di tempat yang ramai alih-alih bersembunyi agar kamu kesulitan menemukannya. Itu sudah cukup membuktikan bahwa dia cukup pintar. Dan jika perhitunganku benar, aku yakin saat ini anak itu pasti sudah melakukan sesuatu. Melapor ke kepolisian menurutku", jelas Mr B.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?", tanya slime1206.
"Gunakan otakmu tolol!", potong l4zu4rd1.
"Mungkin kau bisa mengurangi umpatan tak pentingmu itu bocah!", seru Mr B agak kesal, yang langsung disambut tawa oleh Enero, "Kau juga lucu Bradd! Hahaha!". "Diamlah En!", kata Mr B.
"Aku akan menjelaskan rencanaku. Jika anak itu.."
"Mungkin kita bisa memanggil anak itu Nancy. Kata anak sepertinya membuat reputasiku menurun", slime1206 memotong.
"Okelah! Jika Nancy"
"Nama yang lucu slime, dan kau sangat pengertian kepadanya Bradd! Haha!"
"Diamlah kalian semua!!", bentak Mr B. Mereka terdiam.
"Jika Nancy ini kemarin sempat melihat wajahmu slime, dan telah melapor ke pihak kepolisian, maka ini akan sedikit merepotkan. Apalagi slime tampil dengan wajah aslinya. Polisi, dan tentu saja detektif sialan itu akan dengan mudah membuat sketsa wajah slime dan akan segera memburunya. Jadi, pertama kali yang akan kita lakukan adalah .."
"Membunuh detektif itu?", potong slime1206 lagi.
"Hahaha.Kau sangat berani slime!"
"Tidak,itu terlalu berbahaya.Yang akan kita lakukan adalah membingungkan mereka"
Mereka bertiga tampak tak mengerti dengan rencana ini. "Apa maksudmu?", tanya l4zu4rd1.
"Kita akan menggiring opini polisi dan detektif itu agar memburu orang yang salah"
"Social Enginer.Hahaha.Kau sangat jenius Bradd!", timpal Enero. Sementara itu slime1206 dan l4zu4rd1 mengangguk, mulai paham dengan rencana ini.
***
\tSesuai janji mereka di telepon, malam ini Iona berkunjung ke rumah Rio. Rio sendiri sudah tak sabar ingin tahu informasi apa yang bisa diberikan keponakannya itu kepadanya. "Semoga saja ini membantu. Aku sudah bosan dengan semua ini!", kata Rio dalam hati. Tepat pukul 7, bel rumah Rio berbunyi. "Pasti Iona", pikirnya. Rio segera membukakan pintu.
"Iona, cepat ceritakan informasi yang kau punya. Paman sudah tak sabar ingin mendengarnya". Iona mengangguk. "Owh ya Paman! Perkenalkan, ini Yudha, pacar Iona. Target pembunuh itu berikutnya!". Rio tersentak. "Ba-Bagaimana bisa?".
\tYudha menceritakan semua kejadian yang dialaminya kemarin. Mulai dari pertemuannya dengan sang korban, buku yang dititipkan kepadanya, hingga teror yang diterimanya.
"Buku?", tanya Rio tampak sedikit bingung. Yudha menyerahkan buku seharga nyawa itu kepada Rio. Sang detektif kemudian membolak-balik buku itu. "Kami akan segera memeriksanya! Ini akan sangat membantu, Nak!". Yudha dan Iona mengangguk. "Satu pertanyaan lagi. Apakah kau sempat melihat pembunuh itu?". Yudha mengangguk pelan. Air mukanya berubah. Kakinya gemetar. Bahkan hanya mengingatnya saja ia sudah begitu ketakutan. "Ceritakan!", kata Rio.
"Orang itu memakai jas. Tidak terlalu tinggi. Kulitnya putih.Rambutnya sedikit ikal. Dan di bawah mata kirinya, kalau tidak salah, aku melihat sebuah bekas jahitan disana". "Umurnya?", cecar Rio ingin mengoreknya lebih jauh lagi. "Mungkin sekitar 22 tahun. Masih cukup muda menurutku!". "Baiklah, itu akan sangat membantu, Nak! Terima kasih atas segala informnasinya".
"Paman", Iona berkata, "Apakah Paman mau berjanji akan melindungi Yudha dari pembunuh itu, apapun yang terjadi?". Iona meneteskan air mata. Yudha menatap kekasihnya itu. Sangat berterimakasih atas kepeduliannya. "Iona sangat mencintai Yudha!". Rio mengusap rambut Iona, terharu dengan perasaan lembut keponakannya itu. "Tentu saja sayang! Paman janji!"
***
\tRio sedang membolak-balik buku itu di kantornya. Belum ada sedikitpun petunjuk yang bisa ia temukan dari buku itu. Berbagai fakta menarik memang terangkum di buku itu. Diantaranya adalah geografi bawah tanah benua Amerika, tentang aliran lava yang tersalurkan ke gunung-gunung aktif di sana. Tapi apa hubungannya buku ini dengan pembunuhan yang terjadi. Buku ini tentang Amerika, dan pembunuhan ini terjadi di Indonesia. Apa kaitannya? Rio memutar otaknya, mencoba menyambungkan benang-benang yang terurai.
"Tok tok!", suara ketukan pintu membuyarkan imajinasinya.
"Masuk", kata Rio segera. Ternyata Toni.
"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dan berbicara dengan Anda!"
"Siapa?"
"Asisten dr. Rian!"
"Owh, wanita itu. Apakah akhirnya dia akan bicara?"
Rio berkata dalam hati, "Akankah ini akan menjadi sebuah petunjuk lagi?"
"Sepertinya begitu. Dia sangat shock waktu itu sehingga tidak cukup membantu!"
"Trauma dan ketakutan", Rio berhenti sejenak, "Sangat mengganggu. Bukan begitu?".
Tony hanya mengangguk.
"Bawa dia kesini!", perintah sang detektif.
Menit selanjutnya seorang wanita muda memasuki ruang kerja Rio. Masih ada rasa takut dan trauma disana.
"Pak Detektif,ini Nona Arini,asisten dr.Ryan"
"Owh ya, silahkan duduk Nona!", Rio mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu.
"Kalau begitu, saya permisi Pak Detektif!", kata Toni minta izin.
"Tony, tunggu sebentar. Saya mau kamu memeriksa buku ini!"
"Baik Pak!"
\tRio beralih ke wanita itu. "Baiklah Nona, sekarang bisakah Anda ceritakan apa yang Anda ketahui?", kata Rio langsung ke inti permasalahn.
"Emm.. ", wanita itu tampak grogi dan sedikit ketakutan. "Waktu itu, ada seorang pasien yang datang ke klinik. Lemah sekali. Sepertinya dia sedang sakit keras. Lalu ketika tiba gilirannya untuk masuk ke ruangan pemeriksaan, dia meminta saya untuk mencarikan taksi, agar ketika selesai diperiksa, dia bisa langsung pulang. Saya segera keluar ruangan mencarikan taksi. Waktu itu dia adalah pasien terakhir. Lalu saat saya kembali, saya melihat pintu ruang pemeriksaan terbuka. Saya ingin menutup pintu itu dari luar, ketika saya melihat..", wanita itu menghentikan ceritanya, mengambil bafas, "saya melihat darah berceceran dan mayat dr. ryan tergeletak di lantai". Wanita itu menangis. Raut wajahnya sendiri menampilkan rasa takut yang luar biasa. Namun begitu, Rio tak ingin kehilangan kesempatan ini, dan terus bertanya,
"Anda masih ingat ciri pasien itu?". Wanita itu mengangguk. "Pria, tinggi sekitar 170 cm. Berkulit agak gelap. Rambutnya sedikit bergelombang. Umurnya mungkin sekitar 40an". Rio berpikir sejenak. "Kenapa deskripsinya berbeda dengan yang diceritakan Yudha? Apakah pembunuhnya orang yang berbeda?", katanya dalam hati. "Apakah pasien ini memiliki bekas jahitan di bawah mata kirinya?". Wanita itu menggeleng. "Oke, Terima kasih banyak atas informasinya. Akan sangat membantu. Anda boleh pergi!". Sementara wanita itu keluar, Rio memegangi kepalanya. "Kenapa berbeda?"
\tSetelah berada di luar kantor sang detektif, wanita itu mengeluarkan ponselnya. "Misi telah dilaksanakan Bradd!", katanya. Dan seseorang berbicara di ujung telpon, "Penyamaran yang sempurna dan akting yang luar biasa, Nak.Mungkin lain kali kau bisa bermain peran!".Klik.
***
Satu jam kemudian, telepon di ruangan sang asisten detektif, Tony, kembali berdering.
"Halo",kata Tony menerima telepon.
"Kami dari Kepolres Jakarta Selatan,ingin melaporkan.Telah terjadi kembali sebuah pembunuhan.Korbannya seorang wanita muda.Dari kartu identitasnya, diketahui nama korban adalah Arini Subagja.Umur 25 tahun.Pekerjaan asisten dokter.
Tony mengerlingkan matanya. Bertanya dalam hati. "Arini Subagja?Asisten Dokter.Bukankah itu..". Tony menggelengkan kepalanya dengan kuat.Tidak percaya dengan informasi ini.Wanita ini,wanita yang baru saja datang ke kantor ini.
"Ada yang melihat pelakunya?"
"Ada saksi mata yang melihat seseorang lari dari tempat kejadian"
"Laporkan ciri-ciri orang yang lari itu!"
"Baik Pak!"
\tRio masih sibuk di ruangannya, berpikir, mencari jejak yang bisa memberinya petunjuk lain, ketika pintu ruangannya sekali lagi diketuk.
"Tok tok!"
"Masuk!", kata Rio, "Ada apa Ton?"
"Ada pembunuhan lagi!"
Rio kaget dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Secepat ini?"
"Korban adalah Arini Subagja, sisten dr. Ryan".
Rio membuka mulutnya lebar-lebar. Tak percaya dengan informasi ini.Wanita yang baru satu jam yang lalu berbicara dengannya,kini telah terbunuh.Siapa sebenarnya pembunuh ini?
"Ada bukti.Ada saksi mata yang melihat seseorang lari dari tempat kejadian! Polisi yang menangani kasus ini berhasil mendapatkan ciri-ciri pembunuh ini dari saksi mata tersebut"
"Katakan!"
"Seorang pria paruh baya.Umurnya sekitar 40 tahun. Berkulit gelap. Rambut bergelombang.Tinggi sekitar 170 cm"
"Apakah orang ini memiliki bekas jahitan di bawah mata kirinya?",potong Rio. Tony tampak kebingungan, "Maaf?"
***
\tPonsel Mr B berdering.
"Tugas ini terlalu mudah Bradd.Gadis ini,Arini ini sama sekali tak menantang. Aku bahkan tak perlu ikut membantu si anak sialan itu menghabisinya.Lim hanya memintaku berjaga di depan untuk memastikan keadaan aman dan bermain dg para ploisi itu.Dan kau tahu? Astaga,polisi itu,bodoh sekali.Begitu mudahnya mempercayaiku.Hahaha"
"Kau dan Slime melakukan tugas dengan sempurna.Dengan begitu tak ada saksi dalam pembunuhan dr.ryan. Sekaligus,kita bisa mengelabui tikus-tikus itu".
"Kau sangat lucu Bradd, menamai mereka tikus sialan.Hahaha"
"Segera kembali ke markas En.Dan pastikan Slime tidak melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan kita lagi.Sofia juga sudah kembali.Dan kita akan segera membahas inti permainan ini.Aku tak ingin Mom bosan menunggu".
"Hahaha.Jangan tergesa-gesa Bradd.Aku bahkan belum sempat mengasah pisauku". Klik.
"Kecuali kamu ingin segera tertangkap oleh pihak kepolisian, dan mengungkap identitas kita. Dasar Idiot! Gunakan otakmu pecundang!", jawab L4zuard1 ketus.
"Berhenti memanggilku idiot, cacing sialan!"
"Hahaha. Kalian berdua sangat romantis!", timpal Enero, pria gendut yang dari tadi hanya sibuk dengan gadget di tangannya.
"Tidak Slime,kita tidak akan langsung membunuh anak itu. Dari ceritamu kemarin, menurutku, anak itu bukan orang bodoh. Dia memilih tempat untuk menyelinap di tempat yang ramai alih-alih bersembunyi agar kamu kesulitan menemukannya. Itu sudah cukup membuktikan bahwa dia cukup pintar. Dan jika perhitunganku benar, aku yakin saat ini anak itu pasti sudah melakukan sesuatu. Melapor ke kepolisian menurutku", jelas Mr B.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?", tanya slime1206.
"Gunakan otakmu tolol!", potong l4zu4rd1.
"Mungkin kau bisa mengurangi umpatan tak pentingmu itu bocah!", seru Mr B agak kesal, yang langsung disambut tawa oleh Enero, "Kau juga lucu Bradd! Hahaha!". "Diamlah En!", kata Mr B.
"Aku akan menjelaskan rencanaku. Jika anak itu.."
"Mungkin kita bisa memanggil anak itu Nancy. Kata anak sepertinya membuat reputasiku menurun", slime1206 memotong.
"Okelah! Jika Nancy"
"Nama yang lucu slime, dan kau sangat pengertian kepadanya Bradd! Haha!"
"Diamlah kalian semua!!", bentak Mr B. Mereka terdiam.
"Jika Nancy ini kemarin sempat melihat wajahmu slime, dan telah melapor ke pihak kepolisian, maka ini akan sedikit merepotkan. Apalagi slime tampil dengan wajah aslinya. Polisi, dan tentu saja detektif sialan itu akan dengan mudah membuat sketsa wajah slime dan akan segera memburunya. Jadi, pertama kali yang akan kita lakukan adalah .."
"Membunuh detektif itu?", potong slime1206 lagi.
"Hahaha.Kau sangat berani slime!"
"Tidak,itu terlalu berbahaya.Yang akan kita lakukan adalah membingungkan mereka"
Mereka bertiga tampak tak mengerti dengan rencana ini. "Apa maksudmu?", tanya l4zu4rd1.
"Kita akan menggiring opini polisi dan detektif itu agar memburu orang yang salah"
"Social Enginer.Hahaha.Kau sangat jenius Bradd!", timpal Enero. Sementara itu slime1206 dan l4zu4rd1 mengangguk, mulai paham dengan rencana ini.
***
\tSesuai janji mereka di telepon, malam ini Iona berkunjung ke rumah Rio. Rio sendiri sudah tak sabar ingin tahu informasi apa yang bisa diberikan keponakannya itu kepadanya. "Semoga saja ini membantu. Aku sudah bosan dengan semua ini!", kata Rio dalam hati. Tepat pukul 7, bel rumah Rio berbunyi. "Pasti Iona", pikirnya. Rio segera membukakan pintu.
"Iona, cepat ceritakan informasi yang kau punya. Paman sudah tak sabar ingin mendengarnya". Iona mengangguk. "Owh ya Paman! Perkenalkan, ini Yudha, pacar Iona. Target pembunuh itu berikutnya!". Rio tersentak. "Ba-Bagaimana bisa?".
\tYudha menceritakan semua kejadian yang dialaminya kemarin. Mulai dari pertemuannya dengan sang korban, buku yang dititipkan kepadanya, hingga teror yang diterimanya.
"Buku?", tanya Rio tampak sedikit bingung. Yudha menyerahkan buku seharga nyawa itu kepada Rio. Sang detektif kemudian membolak-balik buku itu. "Kami akan segera memeriksanya! Ini akan sangat membantu, Nak!". Yudha dan Iona mengangguk. "Satu pertanyaan lagi. Apakah kau sempat melihat pembunuh itu?". Yudha mengangguk pelan. Air mukanya berubah. Kakinya gemetar. Bahkan hanya mengingatnya saja ia sudah begitu ketakutan. "Ceritakan!", kata Rio.
"Orang itu memakai jas. Tidak terlalu tinggi. Kulitnya putih.Rambutnya sedikit ikal. Dan di bawah mata kirinya, kalau tidak salah, aku melihat sebuah bekas jahitan disana". "Umurnya?", cecar Rio ingin mengoreknya lebih jauh lagi. "Mungkin sekitar 22 tahun. Masih cukup muda menurutku!". "Baiklah, itu akan sangat membantu, Nak! Terima kasih atas segala informnasinya".
"Paman", Iona berkata, "Apakah Paman mau berjanji akan melindungi Yudha dari pembunuh itu, apapun yang terjadi?". Iona meneteskan air mata. Yudha menatap kekasihnya itu. Sangat berterimakasih atas kepeduliannya. "Iona sangat mencintai Yudha!". Rio mengusap rambut Iona, terharu dengan perasaan lembut keponakannya itu. "Tentu saja sayang! Paman janji!"
***
\tRio sedang membolak-balik buku itu di kantornya. Belum ada sedikitpun petunjuk yang bisa ia temukan dari buku itu. Berbagai fakta menarik memang terangkum di buku itu. Diantaranya adalah geografi bawah tanah benua Amerika, tentang aliran lava yang tersalurkan ke gunung-gunung aktif di sana. Tapi apa hubungannya buku ini dengan pembunuhan yang terjadi. Buku ini tentang Amerika, dan pembunuhan ini terjadi di Indonesia. Apa kaitannya? Rio memutar otaknya, mencoba menyambungkan benang-benang yang terurai.
"Tok tok!", suara ketukan pintu membuyarkan imajinasinya.
"Masuk", kata Rio segera. Ternyata Toni.
"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dan berbicara dengan Anda!"
"Siapa?"
"Asisten dr. Rian!"
"Owh, wanita itu. Apakah akhirnya dia akan bicara?"
Rio berkata dalam hati, "Akankah ini akan menjadi sebuah petunjuk lagi?"
"Sepertinya begitu. Dia sangat shock waktu itu sehingga tidak cukup membantu!"
"Trauma dan ketakutan", Rio berhenti sejenak, "Sangat mengganggu. Bukan begitu?".
Tony hanya mengangguk.
"Bawa dia kesini!", perintah sang detektif.
Menit selanjutnya seorang wanita muda memasuki ruang kerja Rio. Masih ada rasa takut dan trauma disana.
"Pak Detektif,ini Nona Arini,asisten dr.Ryan"
"Owh ya, silahkan duduk Nona!", Rio mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu.
"Kalau begitu, saya permisi Pak Detektif!", kata Toni minta izin.
"Tony, tunggu sebentar. Saya mau kamu memeriksa buku ini!"
"Baik Pak!"
\tRio beralih ke wanita itu. "Baiklah Nona, sekarang bisakah Anda ceritakan apa yang Anda ketahui?", kata Rio langsung ke inti permasalahn.
"Emm.. ", wanita itu tampak grogi dan sedikit ketakutan. "Waktu itu, ada seorang pasien yang datang ke klinik. Lemah sekali. Sepertinya dia sedang sakit keras. Lalu ketika tiba gilirannya untuk masuk ke ruangan pemeriksaan, dia meminta saya untuk mencarikan taksi, agar ketika selesai diperiksa, dia bisa langsung pulang. Saya segera keluar ruangan mencarikan taksi. Waktu itu dia adalah pasien terakhir. Lalu saat saya kembali, saya melihat pintu ruang pemeriksaan terbuka. Saya ingin menutup pintu itu dari luar, ketika saya melihat..", wanita itu menghentikan ceritanya, mengambil bafas, "saya melihat darah berceceran dan mayat dr. ryan tergeletak di lantai". Wanita itu menangis. Raut wajahnya sendiri menampilkan rasa takut yang luar biasa. Namun begitu, Rio tak ingin kehilangan kesempatan ini, dan terus bertanya,
"Anda masih ingat ciri pasien itu?". Wanita itu mengangguk. "Pria, tinggi sekitar 170 cm. Berkulit agak gelap. Rambutnya sedikit bergelombang. Umurnya mungkin sekitar 40an". Rio berpikir sejenak. "Kenapa deskripsinya berbeda dengan yang diceritakan Yudha? Apakah pembunuhnya orang yang berbeda?", katanya dalam hati. "Apakah pasien ini memiliki bekas jahitan di bawah mata kirinya?". Wanita itu menggeleng. "Oke, Terima kasih banyak atas informasinya. Akan sangat membantu. Anda boleh pergi!". Sementara wanita itu keluar, Rio memegangi kepalanya. "Kenapa berbeda?"
\tSetelah berada di luar kantor sang detektif, wanita itu mengeluarkan ponselnya. "Misi telah dilaksanakan Bradd!", katanya. Dan seseorang berbicara di ujung telpon, "Penyamaran yang sempurna dan akting yang luar biasa, Nak.Mungkin lain kali kau bisa bermain peran!".Klik.
***
Satu jam kemudian, telepon di ruangan sang asisten detektif, Tony, kembali berdering.
"Halo",kata Tony menerima telepon.
"Kami dari Kepolres Jakarta Selatan,ingin melaporkan.Telah terjadi kembali sebuah pembunuhan.Korbannya seorang wanita muda.Dari kartu identitasnya, diketahui nama korban adalah Arini Subagja.Umur 25 tahun.Pekerjaan asisten dokter.
Tony mengerlingkan matanya. Bertanya dalam hati. "Arini Subagja?Asisten Dokter.Bukankah itu..". Tony menggelengkan kepalanya dengan kuat.Tidak percaya dengan informasi ini.Wanita ini,wanita yang baru saja datang ke kantor ini.
"Ada yang melihat pelakunya?"
"Ada saksi mata yang melihat seseorang lari dari tempat kejadian"
"Laporkan ciri-ciri orang yang lari itu!"
"Baik Pak!"
\tRio masih sibuk di ruangannya, berpikir, mencari jejak yang bisa memberinya petunjuk lain, ketika pintu ruangannya sekali lagi diketuk.
"Tok tok!"
"Masuk!", kata Rio, "Ada apa Ton?"
"Ada pembunuhan lagi!"
Rio kaget dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Secepat ini?"
"Korban adalah Arini Subagja, sisten dr. Ryan".
Rio membuka mulutnya lebar-lebar. Tak percaya dengan informasi ini.Wanita yang baru satu jam yang lalu berbicara dengannya,kini telah terbunuh.Siapa sebenarnya pembunuh ini?
"Ada bukti.Ada saksi mata yang melihat seseorang lari dari tempat kejadian! Polisi yang menangani kasus ini berhasil mendapatkan ciri-ciri pembunuh ini dari saksi mata tersebut"
"Katakan!"
"Seorang pria paruh baya.Umurnya sekitar 40 tahun. Berkulit gelap. Rambut bergelombang.Tinggi sekitar 170 cm"
"Apakah orang ini memiliki bekas jahitan di bawah mata kirinya?",potong Rio. Tony tampak kebingungan, "Maaf?"
***
\tPonsel Mr B berdering.
"Tugas ini terlalu mudah Bradd.Gadis ini,Arini ini sama sekali tak menantang. Aku bahkan tak perlu ikut membantu si anak sialan itu menghabisinya.Lim hanya memintaku berjaga di depan untuk memastikan keadaan aman dan bermain dg para ploisi itu.Dan kau tahu? Astaga,polisi itu,bodoh sekali.Begitu mudahnya mempercayaiku.Hahaha"
"Kau dan Slime melakukan tugas dengan sempurna.Dengan begitu tak ada saksi dalam pembunuhan dr.ryan. Sekaligus,kita bisa mengelabui tikus-tikus itu".
"Kau sangat lucu Bradd, menamai mereka tikus sialan.Hahaha"
"Segera kembali ke markas En.Dan pastikan Slime tidak melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan kita lagi.Sofia juga sudah kembali.Dan kita akan segera membahas inti permainan ini.Aku tak ingin Mom bosan menunggu".
"Hahaha.Jangan tergesa-gesa Bradd.Aku bahkan belum sempat mengasah pisauku". Klik.
0