- Beranda
- The Lounge
Maafkan Aku Sayang, Cintaku Abadi Untukmu.[Real Story]
...
TS
Yuga03
Maafkan Aku Sayang, Cintaku Abadi Untukmu.[Real Story]
Maafkan Aku Sayang, Cintaku Abadi Untukmu.[Real Story From Medan]
Quote:
Lastri memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Intra yang ditumpanginya memasuki Terminal Amplas. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kenangan dan mimpinya yang ditinggalkan di kota ini.Setelah turun dari bus, Lastri bergegas melompat ke dalam Angkot lagi,KPUM trayek Terminal Amplas-Pinang Baris. Tadi dia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Dia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Sudah Tiga tahun Lastri berada di Bandung hanya untuk bekerja dan bekerja. Tiga tahun juga dia bendung rasa rindu pada keluarganya di Medan, Lastri memutuskan untuk menghabiskan cuti tahunannya pulang ke Medan. Pihak kantor mengizinkannya untuk ambil cuti tahunan selama 14 hari.
Pelan-pelan Angkot KPUM yang ditumpangi Lastri Sebentar lagi akan melintasi perempatan Universitas Sumatera Utara,Dia ingat dulu, lama sekali pernah bergiat menimba ilmu di Universitas itu. Sambil tersenyum Lastri mengenang jalan hidupnya. Sesampainya dirumah, Orang tua Lastri begitu bahagia melihat ia tetap sehat, bahkan mereka mengatakan ia jauh berubah, tutur bahasanya semakin lembut dan sopan, cara berpakaiannya benar-benar menunjukkan kalau Lastri memang perempuan kantoran, Lastri semakin feminim dan semakin cantik. Keluarganya menyambutnya dengan penuh kegirangan.
Lastri tidak pernah lupa akan kebiasaannya dulu, setiap hari minggu ia pasti selalu ke pantai cermin untuk melepaskan rasa penat lelah menjalani rutinitas selama satu minggu,Pantai Cermin adalah salah satu tempat terciptanya kenangan antara Lastri dan Andre dimasa lalu,tapi sayangnya andre telah menikah. Kala itu Lastri mengundang Andre untuk menghadiri acara wisudanya, tapi disaat itu juga orang yang dia kasihi menyodorkan undangan pesta pernikahannya. Betapa hancurnya hati Lastri. Wisuda dilalui dengan air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan. Seusai wisuda, keberangkatannya bekerja di Bandung pun ia per cepat. Dua hari sebelum pesta pernikahan Andre di situ ia meninggalkan kota Medan.Lastri pergi tanpa pamit pada siapapun kecuali keluarganya. Sejak itu hingga saat dia kembali ke medan dia tidak tahu gimana kabar andre.Ah ya sudahlah, lupakan. Lastri berkata dalam hatinya. Dia duduk ditepi pantai. Pandanganya tertuju ke lautan yang luas, ia juga tetap memperhatikan sekeliling. Tak bisa dia bohongi ia berharap bisa melihat andre ada di tempat ini. Lastri tak sedikit pun bisa melupakan Andre, walaupun Andre sudah menikah.
Dari kejauhan Lasrti melihat sesosok pria yang lagi berenang di pantai, itu Bang surya. Ia mendekati Surya.
Hei, Bang Surya apa kabar?. Lastri menjulurkan tangannya sambil tersenyum.
Surya hanya terdiam melihatnya, sepertinya dia tidak mengenali Lastri lagi.
Ini aku Bang, Lastri, Lastri mantannya Bang Andre. Sebenarnya berat hati lastri menyebut nama Andre, tapi memang hanya itulah yang bisa mengingatkan Surya padanya karena Lastri berkenalan dengan Surya melalui Andre.
Oh,, Lastri? Sudah lama ya kamu tidak kelihatan lagi kemana saja dek?.
Aku sekarang kerja di Bandung bang, aku sudah dua tahun di sana.
Wah, pantesan gak pernah lagi kelihatan.
Ya gitu deh, Abang apa kabar?.
Sehat, Lastri?.
Seperti yang Abang lihat.
Tapi kamu jauh berubah ya, kamu jauh lebih cantik dari sebelumnya, abang saja sampai tak mengenalmu tadi.
Oh ya?.
Sebenarnya dalam hati Lastri juga ingin menanyakan pada Surya bagaimana kabar Andre, tapi ia rasa itu tidak perlu. Sekarang ia sadar sekalipun ia jauh dari semua kenangan, tetap saja cintanya pada Andre belum pudar,Adilkah buatku ini Tuhan, Lastri mengeluh.
Dek sudah tau berita belum mengenai si Andre?.
Mendengar nama Andre, Lastri terkejut jantungnya berdetak tak menentu, berharap tidak membahas tentang Andre, Surya malah mengingatkannya, tapi Lastri berusaha bersikap tenang.
Memangnya kenapa dengan Andre, bang?.
Lho belum tau beritanya ya?.
Informasi yang diberitahukan Surya semakin membuatnya penasaran, tapi ia tetap berusaha tenang.
Berita apa sih bang? Buat penasaran saja.
Kapan terakhir kamu bertemu dengan Andre?.
Ya sudah lamalah, tiga tahun yang lalu sewaktu dia antar undangan padaku. Mengingat kejadian itu membuat lastri berkata terbata-bata dan pelan, karena hatinya terpukul tiap kali ingat kejadian itu.
Terus kau tidak tahu kalau pernikahan mereka gagal?. Surya berkata dengan wajah yang sangat serius.
Mendengar kata gagal ia semakin terkejut, Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, ada rasa bahagia di hatinya, tapi ada juga rasa sedih di hatinya.
Kau tahu dek, dua hari sebelum pesta mereka berlangsung, Orang tua si perempuan datang ke rumah Andre di kampung, satu kampung terkejut mana boleh Orang tua siperempuan datang ke rumah Besannya sebelum acara pernikahan anak perempuannya berlangsung, tidak ada yang tahu tujuannya, tiba-tiba orang tua si perempuan menarik paksa putrinya keluar dari rumah si Andre. Orang tua si perempuan tidak setuju mereka menikah, ternyata selama ini si perempuan hanya meminta restu kepada Bapak Udanya saja (adik laki-laki dari bapak), sementara orang tuanya tidak setuju, karena perempuan itu sudah dijodohkan dengan paribannya (anak laki-laki dari bibi). Pernikahan dibatalkan, sempat juga memang ini sampai pada jalur hukum, tapi tak tahu endingnya apa, tapi yang pasti sekarang si perempuan sudah menikah dengan paribannya itu.
Surya diam sejenak, Lastri tidak sabar mendengar kabar selanjutnya terutama kabar Andre.
Jadi sekarang Andre dimana?.
Sekarang aku tidak tahu dia dimana, sejak kejadian itu dia tidak pernah muncul lagi dan tidak ada kabar.
Istri Surya datang mendekati Surya dan Lastri dan mengajak Surya pulang, sayang sekali aku rasa moment ini untuk ditinggalkan, padahal aku ingin mendengar lagi informasi yang sangat penting ini. Ucap Lasrti dalam hati
Perasaan sedih, tapi juga bahagia bersatu dalam dirinya. Iasedih karena ia membayangkan bagaimana kalau ia berada di posisi mereka dan ia bahagia berarti ia masih ada kesempatan untuk mengulang lembaran baru dengan Andre.
Informasi yang Lastri dapatkan dari Surya tadi membuat ia benar-benar gelisah dan memancing dirinya untuk mencari tahu dimana sekarang keberadaan Andre, tapi ia tidak tahu harus mulai mencari dari mana, hanya satu jawaban ia harus menjumpai Orang tuanya di Siantar.
Walaupun cuaca tidak bersahabat, rintikkan hujan di pagi hari tidak membuat Lastri malas untuk berpergian sesuai rencananya, ia mengeluarkan mobil Avanza silver milik Papanya. Selama ia di Medan Papanya mempercayai menggunakan mobil Avanzanya kemanapun Lastri pergi, Lastri menuju Siantar.
Sampai di depan rumah Andre, ia keluar dari mobil, seorang perempuan yang paruh baya datang menghampirinya menatap keheranan.
Cari siapa dek?.
Ini Namboru (sapaan buat Mamanya pacar kita atau suami kita, atau juga satu marga sama bapak kita dalam adat Batak). Lastri memastikan.
Namboru mana yang adek maksud?. Namboru bertanya heran.
Namboru, Mamanya Andre?. Lastri bertanya lagi.
Iya benar, adek ini siapa ya?.
Ini aku Lastri, Namboru. Lastri menyalami tangan Namboru.
Setelah Namboru tahu kalau itu adalah Lastri, Namboru memeluknya dan menangis histeris, situasi menjadi ramai para tetangga datang karena mendengar tangisan histeris Mama Andre, mereka membawa Lastri dan Namboru masuk ke rumah.
Mama Andre menceritakan kejadian yang sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Surya pada Lastri, Mama Andre malah berkata kalau mereka sudah malu sekali atas kejadian itu dan sejak itu Andre tidak pernah lagi menunjukkan dirinya. Mama Andre bilang Andre sekarang ada di Riau, sudah dua tahun dia disana dan tidak pernah pulang dan rasa rindu yang Mama Andre rasakan yang membuat Mama Andre semakin kurus kering, padahal dulu Mama Bang Andre termasuk perempuan yang gemuk.
Mama Andre menyuruh Lastri menelepon Andre tanpa berpikir panjang ia langsung menghubungi Andre. Pembicaraan pun tercipta begitu menyenangkan, awalnya Andre tidak percaya kalau Lastri yang menelepon dirinya, tapi Lastri meyakinkan dia kalau ini memang benar-benar dirinya. Satu jam menelepon tanpa memperdulikan telinganya yang sudah panas mereka sama-sama melepas rindu melalui telepon,Lastri menyuruhnya pulang karena waktunya di Medan hanya tinggal 10 hari lagi. Tanpa basa basi Andre mengatakan malam ini dia akan pulang dan sampai di Medan besok pagi.
Lastri menyarankan dia pulang tidak usah ke kampungnya tapi ke Medan saja, karena kata Andre untuk sekarang ini dia masih belum bisa menahan rasa malu. Tapi kami bingung kemana dia harus tinggal, sementara Mamanya juga ingin bertemu dengan Andre, tinggal di Medan tempat saudara mereka juga masih belum siap. Tapi tidak berlama-lama lagi Lastri dan Mama Andre pergi ke Medan, sampai di Medan mereka langsung cari kamar kost untuk Mama Andre dan Andre tempati sementara dan Lastri bersedia membiayai semua kebutuhan mereka selama mereka nge-kost.
Pelan-pelan Angkot KPUM yang ditumpangi Lastri Sebentar lagi akan melintasi perempatan Universitas Sumatera Utara,Dia ingat dulu, lama sekali pernah bergiat menimba ilmu di Universitas itu. Sambil tersenyum Lastri mengenang jalan hidupnya. Sesampainya dirumah, Orang tua Lastri begitu bahagia melihat ia tetap sehat, bahkan mereka mengatakan ia jauh berubah, tutur bahasanya semakin lembut dan sopan, cara berpakaiannya benar-benar menunjukkan kalau Lastri memang perempuan kantoran, Lastri semakin feminim dan semakin cantik. Keluarganya menyambutnya dengan penuh kegirangan.
Lastri tidak pernah lupa akan kebiasaannya dulu, setiap hari minggu ia pasti selalu ke pantai cermin untuk melepaskan rasa penat lelah menjalani rutinitas selama satu minggu,Pantai Cermin adalah salah satu tempat terciptanya kenangan antara Lastri dan Andre dimasa lalu,tapi sayangnya andre telah menikah. Kala itu Lastri mengundang Andre untuk menghadiri acara wisudanya, tapi disaat itu juga orang yang dia kasihi menyodorkan undangan pesta pernikahannya. Betapa hancurnya hati Lastri. Wisuda dilalui dengan air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan. Seusai wisuda, keberangkatannya bekerja di Bandung pun ia per cepat. Dua hari sebelum pesta pernikahan Andre di situ ia meninggalkan kota Medan.Lastri pergi tanpa pamit pada siapapun kecuali keluarganya. Sejak itu hingga saat dia kembali ke medan dia tidak tahu gimana kabar andre.Ah ya sudahlah, lupakan. Lastri berkata dalam hatinya. Dia duduk ditepi pantai. Pandanganya tertuju ke lautan yang luas, ia juga tetap memperhatikan sekeliling. Tak bisa dia bohongi ia berharap bisa melihat andre ada di tempat ini. Lastri tak sedikit pun bisa melupakan Andre, walaupun Andre sudah menikah.
Dari kejauhan Lasrti melihat sesosok pria yang lagi berenang di pantai, itu Bang surya. Ia mendekati Surya.
Hei, Bang Surya apa kabar?. Lastri menjulurkan tangannya sambil tersenyum.
Surya hanya terdiam melihatnya, sepertinya dia tidak mengenali Lastri lagi.
Ini aku Bang, Lastri, Lastri mantannya Bang Andre. Sebenarnya berat hati lastri menyebut nama Andre, tapi memang hanya itulah yang bisa mengingatkan Surya padanya karena Lastri berkenalan dengan Surya melalui Andre.
Oh,, Lastri? Sudah lama ya kamu tidak kelihatan lagi kemana saja dek?.
Aku sekarang kerja di Bandung bang, aku sudah dua tahun di sana.
Wah, pantesan gak pernah lagi kelihatan.
Ya gitu deh, Abang apa kabar?.
Sehat, Lastri?.
Seperti yang Abang lihat.
Tapi kamu jauh berubah ya, kamu jauh lebih cantik dari sebelumnya, abang saja sampai tak mengenalmu tadi.
Oh ya?.
Sebenarnya dalam hati Lastri juga ingin menanyakan pada Surya bagaimana kabar Andre, tapi ia rasa itu tidak perlu. Sekarang ia sadar sekalipun ia jauh dari semua kenangan, tetap saja cintanya pada Andre belum pudar,Adilkah buatku ini Tuhan, Lastri mengeluh.
Dek sudah tau berita belum mengenai si Andre?.
Mendengar nama Andre, Lastri terkejut jantungnya berdetak tak menentu, berharap tidak membahas tentang Andre, Surya malah mengingatkannya, tapi Lastri berusaha bersikap tenang.
Memangnya kenapa dengan Andre, bang?.
Lho belum tau beritanya ya?.
Informasi yang diberitahukan Surya semakin membuatnya penasaran, tapi ia tetap berusaha tenang.
Berita apa sih bang? Buat penasaran saja.
Kapan terakhir kamu bertemu dengan Andre?.
Ya sudah lamalah, tiga tahun yang lalu sewaktu dia antar undangan padaku. Mengingat kejadian itu membuat lastri berkata terbata-bata dan pelan, karena hatinya terpukul tiap kali ingat kejadian itu.
Terus kau tidak tahu kalau pernikahan mereka gagal?. Surya berkata dengan wajah yang sangat serius.
Mendengar kata gagal ia semakin terkejut, Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, ada rasa bahagia di hatinya, tapi ada juga rasa sedih di hatinya.
Kau tahu dek, dua hari sebelum pesta mereka berlangsung, Orang tua si perempuan datang ke rumah Andre di kampung, satu kampung terkejut mana boleh Orang tua siperempuan datang ke rumah Besannya sebelum acara pernikahan anak perempuannya berlangsung, tidak ada yang tahu tujuannya, tiba-tiba orang tua si perempuan menarik paksa putrinya keluar dari rumah si Andre. Orang tua si perempuan tidak setuju mereka menikah, ternyata selama ini si perempuan hanya meminta restu kepada Bapak Udanya saja (adik laki-laki dari bapak), sementara orang tuanya tidak setuju, karena perempuan itu sudah dijodohkan dengan paribannya (anak laki-laki dari bibi). Pernikahan dibatalkan, sempat juga memang ini sampai pada jalur hukum, tapi tak tahu endingnya apa, tapi yang pasti sekarang si perempuan sudah menikah dengan paribannya itu.
Surya diam sejenak, Lastri tidak sabar mendengar kabar selanjutnya terutama kabar Andre.
Jadi sekarang Andre dimana?.
Sekarang aku tidak tahu dia dimana, sejak kejadian itu dia tidak pernah muncul lagi dan tidak ada kabar.
Istri Surya datang mendekati Surya dan Lastri dan mengajak Surya pulang, sayang sekali aku rasa moment ini untuk ditinggalkan, padahal aku ingin mendengar lagi informasi yang sangat penting ini. Ucap Lasrti dalam hati
Perasaan sedih, tapi juga bahagia bersatu dalam dirinya. Iasedih karena ia membayangkan bagaimana kalau ia berada di posisi mereka dan ia bahagia berarti ia masih ada kesempatan untuk mengulang lembaran baru dengan Andre.
Informasi yang Lastri dapatkan dari Surya tadi membuat ia benar-benar gelisah dan memancing dirinya untuk mencari tahu dimana sekarang keberadaan Andre, tapi ia tidak tahu harus mulai mencari dari mana, hanya satu jawaban ia harus menjumpai Orang tuanya di Siantar.
Walaupun cuaca tidak bersahabat, rintikkan hujan di pagi hari tidak membuat Lastri malas untuk berpergian sesuai rencananya, ia mengeluarkan mobil Avanza silver milik Papanya. Selama ia di Medan Papanya mempercayai menggunakan mobil Avanzanya kemanapun Lastri pergi, Lastri menuju Siantar.
Sampai di depan rumah Andre, ia keluar dari mobil, seorang perempuan yang paruh baya datang menghampirinya menatap keheranan.
Cari siapa dek?.
Ini Namboru (sapaan buat Mamanya pacar kita atau suami kita, atau juga satu marga sama bapak kita dalam adat Batak). Lastri memastikan.
Namboru mana yang adek maksud?. Namboru bertanya heran.
Namboru, Mamanya Andre?. Lastri bertanya lagi.
Iya benar, adek ini siapa ya?.
Ini aku Lastri, Namboru. Lastri menyalami tangan Namboru.
Setelah Namboru tahu kalau itu adalah Lastri, Namboru memeluknya dan menangis histeris, situasi menjadi ramai para tetangga datang karena mendengar tangisan histeris Mama Andre, mereka membawa Lastri dan Namboru masuk ke rumah.
Mama Andre menceritakan kejadian yang sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Surya pada Lastri, Mama Andre malah berkata kalau mereka sudah malu sekali atas kejadian itu dan sejak itu Andre tidak pernah lagi menunjukkan dirinya. Mama Andre bilang Andre sekarang ada di Riau, sudah dua tahun dia disana dan tidak pernah pulang dan rasa rindu yang Mama Andre rasakan yang membuat Mama Andre semakin kurus kering, padahal dulu Mama Bang Andre termasuk perempuan yang gemuk.
Mama Andre menyuruh Lastri menelepon Andre tanpa berpikir panjang ia langsung menghubungi Andre. Pembicaraan pun tercipta begitu menyenangkan, awalnya Andre tidak percaya kalau Lastri yang menelepon dirinya, tapi Lastri meyakinkan dia kalau ini memang benar-benar dirinya. Satu jam menelepon tanpa memperdulikan telinganya yang sudah panas mereka sama-sama melepas rindu melalui telepon,Lastri menyuruhnya pulang karena waktunya di Medan hanya tinggal 10 hari lagi. Tanpa basa basi Andre mengatakan malam ini dia akan pulang dan sampai di Medan besok pagi.
Lastri menyarankan dia pulang tidak usah ke kampungnya tapi ke Medan saja, karena kata Andre untuk sekarang ini dia masih belum bisa menahan rasa malu. Tapi kami bingung kemana dia harus tinggal, sementara Mamanya juga ingin bertemu dengan Andre, tinggal di Medan tempat saudara mereka juga masih belum siap. Tapi tidak berlama-lama lagi Lastri dan Mama Andre pergi ke Medan, sampai di Medan mereka langsung cari kamar kost untuk Mama Andre dan Andre tempati sementara dan Lastri bersedia membiayai semua kebutuhan mereka selama mereka nge-kost.
Quote:
Spoiler for SUMBER:
0
5.2K
Kutip
56
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Yuga03
#8
Quote:
Sejak Andre meninggal dunia. Andre memang hanya menjadi kenangan di dalam hati Lastri. Pergi tanpa pamit. Hilang tanpa jejak. Meninggalkan Lastri yang masih menyimpan luka rindu tak terperi. Pernikahan satu bulan lagi. Undangan dicetak, pakaian sudah dijahitkan. Semua sudah beres hanya tinggal waktunya saja.tetapi pernikahan itu tidak akan pernah terwujud lagi sebab Andre telah Pergi untuk selamanya.
Malam beranjak tua, namun Lastri masih betah termenung di sudut ranjang. Dari jendela dia menatap nanar kepergian hujan. Titik-titik air menyisakan ingatan tentang cerita indah dikala masih bersama Andre.dia biarkan pikirannya melayang di bibir malam.Hingga Pagi menjelang.
Cahaya kekuningan mentari yang muncul malu-malu telah menembus kaca jendela kamarnya. Dia buka kelopak matanya dengan enggan. Masih terasa berat, setelah mengumpulkan nyawa selama beberapa detik, dia pun bangkit dari ranjang dan beranjak ke luar..
Sejak Andre Pergi untuk selamanya, Lastri memang sudah berubah,Dia tak lagi bekerja di bandung, Seluruh penghuni kompleks tempat tinggal bahkan semesta alam sudah paham kebiasaan yang dia lakukan saban pagi. Aktivitas yang telah dia jalani selama Beberapa Minggu terakhir. Seperti pagi ini. Begitu bangun dari tidur,satu-satunya tempat yang dia tuju adalah beranda rumah. Dengan semangat baru yang bercampur dengan karat kesenduan, dia akan duduk di depan pintu, menengadah,menatap hamparan langit biru yang terpampang bersih tak bernoda. Tanpa lelah,dia akan menulis dilangit dengan menggunakan tinta hati. Agar dimana pun Andre berada, senantiasa dapat melihat dan membaca pesan kerinduannya,Tak seorang pun bisa mengerti jalan pikirannya. Matahari dan arakan awan pun memandang miris. Mereka iba akan kenaifannya menyoreti langit itu,untuk Calon Suaminya Andre. Mereka berkata,usahamu sia-sia belaka, Bukan hanya alam,orang-orang pun telah menggangap ada yang tak beres dengan otaknya.
Tapi hal itu bukan dia jadikan alasan untuk mengalihkan pandangannya dari hamparan langit biru, pikirnya: orang-orang yang menggangap dia gila sama sekali tak mengerti apa yang aku lakukan Kalau saja suatu hari nanti orang-orang tahu,setiap pagi dan sore dalam sisa-sisa hidup Lastri sedang menulis pesan untuk seorang laki-laki yang sangat dia cintai,mereka pasti akan menundukkan kepala,malu karena mereka yang merasa normal itu sama sekali tak memiliki cinta sebesar yang dirasakan Lastri.
Ibu Lastri yang melihat kejadian itu dari balik pintu tak kuasa menahan haru, dipeluknya ayah yang juga terharu melihat kelakuan Lastri itu.
Apa yang harus kita perbuat, yah? Kita tak bisa terus-menerus membiarkan Lastri seperti ini. Terus berada di bawah kepedihan.
Iya, ayah mengerti. Tapi biarlah untuk saat ini dia seperti itu. Mungkin besok dia juga sudah lebih tenang.
Ibu dan ayah pun berlalu meninggalkan Lastri dan kepedihannya.
Siang itu ibu Lastri mengajaknya untuk pergi berbelanja ke pasar. Nampaknya dua Minggu telah cukup membuatnya lebih tenang. Walau terkadang ayah harus menenangkannya yang tiba-tiba saja bisa histeris kembali. Hari ini kita masak apa ya, Lastri?.
Tiba-tiba Lastri teringat dengan makanan kesukaan Andre.
Emm soto ayam aja, Bu. Lastri lagi pingin makan soto ayam.
Ya sudah, nanti ibu masakkan soto ayam yang paling spesial untuk Lastri. Tapi, nanti bantuin ibu masak ya!.
Lastri hanya menjawab dengan anggukan. Selesai berbelanja, Mereka pun bergerak menuju mobil yang sedari tadi telah menanti. Namun tiba-tiba, mata Lastri menangkap sesosok Laki-laki yang beberapa Minggu ini Dia rindukan. Dia hentikan langkahnya sejenak.
Andre!, serunya dengan suara agak kencang. Membuat ibu nya terperanjat dan seketika menatap Lastri.
Mata Lastri tak berkedip melihat Laki-laki itu. Langsung dia hampiri Laki-laki itu yang tengah asik Memakan bakso, Lastri memegang pipinya. Dalam bayang, dialah Calon Suamiku.Andre ujar Lastri. Matanya berkaca. Dia peluk dengan erat Laki-laki itu. Namun, seulas senyum dari bibirnya tiada. Dia pandangi wajahnya lekat-lekat. ?, tanyanya lirih.
Namun Laki-laki itu tak menjawab. ibu lastri berlari menghampirinya.
Dia bukan Andre, Nak. Bukan!.
Tidak! Ini Calon Suamiku, Bu. Andre. Andre, Bu,.
Subhanallah! Andre sudah meninggal, Nak. Andre sudah berada di rumah Allah.
Lastri menggeleng. Lastri, dia bukan Andre, Nak
Kaukah Andre calon suamiki?, Tanya Lastri penuh harap kepada laki-laki itu.
Dia tak menjawab. Namun kali ini Suara Lastri agaknya semakin keras.
Kaukah Calon Suamiku?!.
Dia amat terkejut, dan dengan terbata ia pun menjawab, Bu bu u kan.
Barulah Lastri tersadar. Bagai terlepas dari sebuah sihir,Lastri pun menyadari bahwa dia bukanlah Andre. Laki-laki itu pun Pergi meninggalkan Lastri yang langsung terjatuh di pinggir jalan. Seketika itu, hujan kembali mengguyur. Airmata Lastri bersatu dengan bulir-bulir hujan yang kian menderas.
Aku ingin bertemu Andre ya Allah!, teriaknya.
Lastri lihat kilat menyambar-nyambar, petir melengking-lengking. Tiba-tiba.
Gedubraak!
Pohon besar yang sedari tadi menaunginya kini tumbang tersambar kencangnya angin dan tajamnya kilat. Lastri tersenyum. Allah telah menjawab pintaku.
Tunggu aku di surga, Andre
___END___
.
Malam beranjak tua, namun Lastri masih betah termenung di sudut ranjang. Dari jendela dia menatap nanar kepergian hujan. Titik-titik air menyisakan ingatan tentang cerita indah dikala masih bersama Andre.dia biarkan pikirannya melayang di bibir malam.Hingga Pagi menjelang.
Cahaya kekuningan mentari yang muncul malu-malu telah menembus kaca jendela kamarnya. Dia buka kelopak matanya dengan enggan. Masih terasa berat, setelah mengumpulkan nyawa selama beberapa detik, dia pun bangkit dari ranjang dan beranjak ke luar..
Sejak Andre Pergi untuk selamanya, Lastri memang sudah berubah,Dia tak lagi bekerja di bandung, Seluruh penghuni kompleks tempat tinggal bahkan semesta alam sudah paham kebiasaan yang dia lakukan saban pagi. Aktivitas yang telah dia jalani selama Beberapa Minggu terakhir. Seperti pagi ini. Begitu bangun dari tidur,satu-satunya tempat yang dia tuju adalah beranda rumah. Dengan semangat baru yang bercampur dengan karat kesenduan, dia akan duduk di depan pintu, menengadah,menatap hamparan langit biru yang terpampang bersih tak bernoda. Tanpa lelah,dia akan menulis dilangit dengan menggunakan tinta hati. Agar dimana pun Andre berada, senantiasa dapat melihat dan membaca pesan kerinduannya,Tak seorang pun bisa mengerti jalan pikirannya. Matahari dan arakan awan pun memandang miris. Mereka iba akan kenaifannya menyoreti langit itu,untuk Calon Suaminya Andre. Mereka berkata,usahamu sia-sia belaka, Bukan hanya alam,orang-orang pun telah menggangap ada yang tak beres dengan otaknya.
Tapi hal itu bukan dia jadikan alasan untuk mengalihkan pandangannya dari hamparan langit biru, pikirnya: orang-orang yang menggangap dia gila sama sekali tak mengerti apa yang aku lakukan Kalau saja suatu hari nanti orang-orang tahu,setiap pagi dan sore dalam sisa-sisa hidup Lastri sedang menulis pesan untuk seorang laki-laki yang sangat dia cintai,mereka pasti akan menundukkan kepala,malu karena mereka yang merasa normal itu sama sekali tak memiliki cinta sebesar yang dirasakan Lastri.
Ibu Lastri yang melihat kejadian itu dari balik pintu tak kuasa menahan haru, dipeluknya ayah yang juga terharu melihat kelakuan Lastri itu.
Apa yang harus kita perbuat, yah? Kita tak bisa terus-menerus membiarkan Lastri seperti ini. Terus berada di bawah kepedihan.
Iya, ayah mengerti. Tapi biarlah untuk saat ini dia seperti itu. Mungkin besok dia juga sudah lebih tenang.
Ibu dan ayah pun berlalu meninggalkan Lastri dan kepedihannya.
Siang itu ibu Lastri mengajaknya untuk pergi berbelanja ke pasar. Nampaknya dua Minggu telah cukup membuatnya lebih tenang. Walau terkadang ayah harus menenangkannya yang tiba-tiba saja bisa histeris kembali. Hari ini kita masak apa ya, Lastri?.
Tiba-tiba Lastri teringat dengan makanan kesukaan Andre.
Emm soto ayam aja, Bu. Lastri lagi pingin makan soto ayam.
Ya sudah, nanti ibu masakkan soto ayam yang paling spesial untuk Lastri. Tapi, nanti bantuin ibu masak ya!.
Lastri hanya menjawab dengan anggukan. Selesai berbelanja, Mereka pun bergerak menuju mobil yang sedari tadi telah menanti. Namun tiba-tiba, mata Lastri menangkap sesosok Laki-laki yang beberapa Minggu ini Dia rindukan. Dia hentikan langkahnya sejenak.
Andre!, serunya dengan suara agak kencang. Membuat ibu nya terperanjat dan seketika menatap Lastri.
Mata Lastri tak berkedip melihat Laki-laki itu. Langsung dia hampiri Laki-laki itu yang tengah asik Memakan bakso, Lastri memegang pipinya. Dalam bayang, dialah Calon Suamiku.Andre ujar Lastri. Matanya berkaca. Dia peluk dengan erat Laki-laki itu. Namun, seulas senyum dari bibirnya tiada. Dia pandangi wajahnya lekat-lekat. ?, tanyanya lirih.
Namun Laki-laki itu tak menjawab. ibu lastri berlari menghampirinya.
Dia bukan Andre, Nak. Bukan!.
Tidak! Ini Calon Suamiku, Bu. Andre. Andre, Bu,.
Subhanallah! Andre sudah meninggal, Nak. Andre sudah berada di rumah Allah.
Lastri menggeleng. Lastri, dia bukan Andre, Nak
Kaukah Andre calon suamiki?, Tanya Lastri penuh harap kepada laki-laki itu.
Dia tak menjawab. Namun kali ini Suara Lastri agaknya semakin keras.
Kaukah Calon Suamiku?!.
Dia amat terkejut, dan dengan terbata ia pun menjawab, Bu bu u kan.
Barulah Lastri tersadar. Bagai terlepas dari sebuah sihir,Lastri pun menyadari bahwa dia bukanlah Andre. Laki-laki itu pun Pergi meninggalkan Lastri yang langsung terjatuh di pinggir jalan. Seketika itu, hujan kembali mengguyur. Airmata Lastri bersatu dengan bulir-bulir hujan yang kian menderas.
Aku ingin bertemu Andre ya Allah!, teriaknya.
Lastri lihat kilat menyambar-nyambar, petir melengking-lengking. Tiba-tiba.
Gedubraak!
Pohon besar yang sedari tadi menaunginya kini tumbang tersambar kencangnya angin dan tajamnya kilat. Lastri tersenyum. Allah telah menjawab pintaku.
Tunggu aku di surga, Andre
___END___
.
0
Kutip
Balas