- Beranda
- The Lounge
Mengenal Lebih Dekat Museum Abdul Djalil
...
TS
prophetlove
Mengenal Lebih Dekat Museum Abdul Djalil
Quote:
+++++++++++++++++++++
Mengenal Lebih Dekat Museum Abdul Djalil 
+++++++++++++++++++++
Mengenal Lebih Dekat Museum Abdul Djalil 
+++++++++++++++++++++
TOLONG BANTU RATE5


Quote:
Quote:
Pengunjung akan disambut patung macan sebelum memasuki gedung museum Abdul Djalil Magelang. Bagi Taruna, binatang ini simbol semangat juang para taruna.
Quote:
Menghabiskan hari libur akhir pekan tidak selalu dilakukan dengan bersenang-senang di taman atau pusat berbelanjaan, namun bisa juga bersenang-senang sambil belajar tentang dunia militer. Mengunjungi Museum Militer adalah salah satu pilihannya.
Di Magelang, Jateng, ada Museum Abdul Djalil, museum yang berada di komplek Akademi Militer (Akmil) Magelang itu menyimpan berbagai benda-benda sejarah yang berhubungan dengan dunia kemiliteran. Museum ini didirikan pada tahun 1964dengan nama Museum Dharma Bhakti Taruna, kemudian pada tahun 1975 diubah menjadi Museum Taruna Abdul Djalil.
"Nama Abdul Djalil sendiri, adalah nama seorang alumni Akmil Yogyakarta yang telah gugur di medan perang saat berlangsungnya agresi militer kedua. Dia memiliki dedikasi yang luar biasa, juga memiliki keahlian di bidang seni, sastra, musik, dan lain-lain," terang Perwira Urusan Museum, Letnan 1 Infanteri, AD Martono.
Seekor macan Tidar jantan yang telah diawetkan di dalam sebuah kotak berkaca akan menyambut pengunjung sebelum memasuki gedung museum. Menurut Martono, macan tersebut adalah macan liar yang saat itu hidup di sekitaran Gunung Tidar. Sementara macan Tidar betina, disimpan di dalam ruang Akabri.
Macan adalah simbol semangat juang para taruna, karena itu selain dijadikan obyek wisata bagi masyarakat umum untuk lebih mengenal sejarah kemiliteran, museum ini didirikan juga untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan patriot bagi taruna itu sendiri.
Pengunjung di museum ini lebih banyak para anak-anak sekolah dari berbagai daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Per minggu, rata-rata terdapat sekitar 200 orang pengunjung, dan tidak dikenai tarif masuk, hanya diminta kesadarannya untuk memberikan uang perawatan secara sukarela.
"Kita tidak memasang tarif, karena semuanya demi pendidikan nasionalisme. Hanya saja, ketika ada pengunjung yang melebihi 10 orang, maka harus memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu dan ditujukan kepada Gubernur Akmil, apabila disetujui maka baru dipersilakan masuk," jelasnya.
Museum yang memiliki dua lantai dengan luas bangunan sekitar 980 meter persegi ini, terdapat tujuh ruang, antara lain ruang auditorium yang menampilkan film pendek sejarah berdirinya Akmil Magelang. Kemudian ruang pra-Akademi Militer Nasional (AMN), ruang AMN, ruang AKABRI, ruang Akmil, ruang koleksi senjata laras panjang dan pistol, dan ruang batik taruna yang berisi foto alumni berprestasi. Juga ditambah taman meriam yang berada di komplek luar gedung museum.
Memasuki ruang senjata, simpan kamera Anda, sebab setiap pengunjung dilarang keras membawa kamera dalam bentuk apa pun, termasuk kamera yang terdapat pada handphone. Bahkan demi kepentingan nasional, ruang ini juga tertutup untuk wisatawan asing. Mereka hanya dipersilakan berkunjung di ruang yang lain tapi tidak untuk ruang senjata.
"Ruang senjata memang tidak diperbolehkan karena dihawatirkan akan terpublikasi dan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tegas Kepala Urusan Museum, Kapten Agam Martaweli CBA.
Di ruang senjata ini, terdapat sebanyak 400 jenis senjata, baik pistol dan senjata laras panjang berbagai ukuran dan karakternya, serta artileri. Senjata-senjata tersebut bukan hanya senjata yang biasa dipakai oleh tentara, namun juga terdapat senjata yang biasa digunakan oleh personel kepolisian. Bahkan, juga terdapat senjata-senjata yang digunakan oleh para anggota PKI dalam tragedi G 30 S/PKI. Sebagian senjata masih digunakan di lapangan.
Bahkan di museum ini juga terdapat dua senjata pistol emas. Pistol emas tersebut salah satunya adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (mantan Wapres RI) yang merupakan pistol yang digunakan untuk memberangus PKI. Sedangkan pistol emas kedua adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu (mantan Kepala Staf TNI AD).
Di ruang yang lain, yakni ruang batik taruna terdapat foto-foto alumni yang berprestasi, baik di bidang kemiliteran maupun di bidang pemerintahan. Tentunya, foto Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan alumni terbaik AKABRI/Akmil tahun 1973 juga terpasang cukup spesial di ruang ini. Untuk menghormati dan mengenang para taruna yang wafat, di museum ini juga terdapat foto-foto taruna yang telah gugur di medan tempur saat dikirim ke Timor Timur maupun ke Aceh. [/FONT]
Di Magelang, Jateng, ada Museum Abdul Djalil, museum yang berada di komplek Akademi Militer (Akmil) Magelang itu menyimpan berbagai benda-benda sejarah yang berhubungan dengan dunia kemiliteran. Museum ini didirikan pada tahun 1964dengan nama Museum Dharma Bhakti Taruna, kemudian pada tahun 1975 diubah menjadi Museum Taruna Abdul Djalil.
"Nama Abdul Djalil sendiri, adalah nama seorang alumni Akmil Yogyakarta yang telah gugur di medan perang saat berlangsungnya agresi militer kedua. Dia memiliki dedikasi yang luar biasa, juga memiliki keahlian di bidang seni, sastra, musik, dan lain-lain," terang Perwira Urusan Museum, Letnan 1 Infanteri, AD Martono.
Seekor macan Tidar jantan yang telah diawetkan di dalam sebuah kotak berkaca akan menyambut pengunjung sebelum memasuki gedung museum. Menurut Martono, macan tersebut adalah macan liar yang saat itu hidup di sekitaran Gunung Tidar. Sementara macan Tidar betina, disimpan di dalam ruang Akabri.
Macan adalah simbol semangat juang para taruna, karena itu selain dijadikan obyek wisata bagi masyarakat umum untuk lebih mengenal sejarah kemiliteran, museum ini didirikan juga untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan patriot bagi taruna itu sendiri.
Pengunjung di museum ini lebih banyak para anak-anak sekolah dari berbagai daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Per minggu, rata-rata terdapat sekitar 200 orang pengunjung, dan tidak dikenai tarif masuk, hanya diminta kesadarannya untuk memberikan uang perawatan secara sukarela.
"Kita tidak memasang tarif, karena semuanya demi pendidikan nasionalisme. Hanya saja, ketika ada pengunjung yang melebihi 10 orang, maka harus memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu dan ditujukan kepada Gubernur Akmil, apabila disetujui maka baru dipersilakan masuk," jelasnya.
Museum yang memiliki dua lantai dengan luas bangunan sekitar 980 meter persegi ini, terdapat tujuh ruang, antara lain ruang auditorium yang menampilkan film pendek sejarah berdirinya Akmil Magelang. Kemudian ruang pra-Akademi Militer Nasional (AMN), ruang AMN, ruang AKABRI, ruang Akmil, ruang koleksi senjata laras panjang dan pistol, dan ruang batik taruna yang berisi foto alumni berprestasi. Juga ditambah taman meriam yang berada di komplek luar gedung museum.
Memasuki ruang senjata, simpan kamera Anda, sebab setiap pengunjung dilarang keras membawa kamera dalam bentuk apa pun, termasuk kamera yang terdapat pada handphone. Bahkan demi kepentingan nasional, ruang ini juga tertutup untuk wisatawan asing. Mereka hanya dipersilakan berkunjung di ruang yang lain tapi tidak untuk ruang senjata.
"Ruang senjata memang tidak diperbolehkan karena dihawatirkan akan terpublikasi dan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tegas Kepala Urusan Museum, Kapten Agam Martaweli CBA.
Di ruang senjata ini, terdapat sebanyak 400 jenis senjata, baik pistol dan senjata laras panjang berbagai ukuran dan karakternya, serta artileri. Senjata-senjata tersebut bukan hanya senjata yang biasa dipakai oleh tentara, namun juga terdapat senjata yang biasa digunakan oleh personel kepolisian. Bahkan, juga terdapat senjata-senjata yang digunakan oleh para anggota PKI dalam tragedi G 30 S/PKI. Sebagian senjata masih digunakan di lapangan.
Bahkan di museum ini juga terdapat dua senjata pistol emas. Pistol emas tersebut salah satunya adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (mantan Wapres RI) yang merupakan pistol yang digunakan untuk memberangus PKI. Sedangkan pistol emas kedua adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu (mantan Kepala Staf TNI AD).
Di ruang yang lain, yakni ruang batik taruna terdapat foto-foto alumni yang berprestasi, baik di bidang kemiliteran maupun di bidang pemerintahan. Tentunya, foto Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan alumni terbaik AKABRI/Akmil tahun 1973 juga terpasang cukup spesial di ruang ini. Untuk menghormati dan mengenang para taruna yang wafat, di museum ini juga terdapat foto-foto taruna yang telah gugur di medan tempur saat dikirim ke Timor Timur maupun ke Aceh. [/FONT]
Quote:
Terletak diJalan Gatot Subroto Komplek Akmil Magelang . Memiliki luas 980 m2, jarak dari pusat kota adalah 1 km ke arah selatan. Obyek Wisata terdekat dari museum ini adalah Borobudur (17km), Kopeng (33km), Monumen Jogja Kembali (41km), Prambanan(50km).
Museum Abdul Djalil memiliki tujuh ruangan:
1) Ruang Auditorium.
2) Ruang Pra AMN (Akademi Militer Nasional).
3) Ruang AMN.
4) Ruang Akabri.
5) Ruang Akmil.
6) Ruang koleksi senjata.
7) Ruang Bhakti Taruna.
Keunikan khas yang dimiliki adalah koleksi senjata dan peralatan pendidikan sejak AMN.
Fasilitas lain yang diberikan : pemandu, toko cinderamata, mushola, kamar mandi/wc umum, pos kesehatan/ P3K, Pos Keamanan, tempat pemutaran film sekilas Akademi Militer Magelang.
Waktu Kunjungan ke museum ini setiap hari (dengan mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Gubernur Akmil)
Museum Abdul Djalil memiliki tujuh ruangan:
1) Ruang Auditorium.
2) Ruang Pra AMN (Akademi Militer Nasional).
3) Ruang AMN.
4) Ruang Akabri.
5) Ruang Akmil.
6) Ruang koleksi senjata.
7) Ruang Bhakti Taruna.
Keunikan khas yang dimiliki adalah koleksi senjata dan peralatan pendidikan sejak AMN.
Fasilitas lain yang diberikan : pemandu, toko cinderamata, mushola, kamar mandi/wc umum, pos kesehatan/ P3K, Pos Keamanan, tempat pemutaran film sekilas Akademi Militer Magelang.
Waktu Kunjungan ke museum ini setiap hari (dengan mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Gubernur Akmil)
Quote:
LANJUT KE BAWAH
V
V

V
V

0
7.6K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prophetlove
#1
Quote:
Spoiler for museum ini juga warisan buat para taruna dan masyarakat indonesia:
SEPINTAS, gedung itu barangkali tak terlalu istimewa sebagai fasilitas pendidikan di Akademi Militer (Akmil) di Magelang. Apalagi persis di pelataran depannya teronggok sebuah tank rongsok dengan moncong mengarah ke jalan. Namun, bangunan kukuh bergaya modern dan bercat putih itu menyimpan sejumlah kenangan. Di situ tersimpan rapi sejumlah barang pribadi milik "Bapak TNI" Jendral Sudirman. Seperti, tandu -- yang mengangkat tubuhnya ketika bergerilya melawan Belanda -- jam tangan, kaca mata, topi, dan tongkat komando. Di situ juga terdapat koleksi pakaian seragam militer dan tongkat komando milik Letjen. Oerip Soemohardjo, tokoh pencetus gagasan pembentukan lembaga pendidikan perwira. Maka, buat generasi yang tidak mengalami masa revolusi di tahun 1940-an, isi gedung itu menjelma menjadi sebuah sejarah. Itu sebabnya sosok bangunan ini diberi nama: Museum Taruna Abdul Djalil - yang terletak di dalam kompleks Akmil. Dan sejak Senin pekan ini pajangan di museum itu semakin marak. Jenderal yang baru memasuki masa pensiunnya, tak tanggung-tanggung, menyumbangkan 125 pucuk senjata koleksinya, dari berbagai jenis dan kaliber. Sebanyak 58 buah di antaranya merupakan senjata laras pendek. Seperti pistol tipe Python atau Walter. Selebihnya senjata laras panjang seperti model M-16, Ak-47 atau Carbine. Ada juga mortir dan bazooka yang diperolehnya dari Timor Timur. Seluruh koleksi senjata sumbangan Jenderal Benny ditaruh di bangsal khusus yang diberi nama Ruang Koleksi Senjata. Ruangan yang luasnya sekitar 6 x 10 m sekelilingnya dipenuhi 14 kotak kayu berdinding kaca. Di masing-masing berwarna cokelat terpampang inisial LBM -- sebuah singkatan dari nama Leonardus Benyamin Moerdani. Bagi Moerdani, adanya museum baru itu sungguh melegakan. "Kalau saya tak diizinkan untuk memanfaatkan ruangan di museum ini, saya sungguh tidak tahu ke mana harus menyimpan koleksi senjata saya," katanya. Kepada TEMPO, Moerdani mengaku "Baru separuh yang saya serahkan ke museum, yang saya anggap menarik bagi para taruna." Dia masih memikirkan suatu tempat yang aman untuk menyerahkan sisa koleksi senjatanya. Antara lain yang tergolong antik, seperti dari zaman VOC. Gagasan membangun museum datang dari gubernur AMN waktu itu, Kolonel Inf. Soerono, kini Ketua Umum KONI Pusat. Terpikir oleh Soerono perlu disediakan ruang khusus untuk tempat penyimpanan benda-benda penting milik AMN. Karena jumlah koleksi kian lama kian bertumpuk, dua tahun kemudian museum kecil yang sudah ada sejak 1964 itu diperluas bangunannya oleh gubernur AMN berikutnya, Mayjen. TNI A. Tahir. Gedung baru itu pun berganti nama menjadi "Museum Taruna". Atas prakarsa Gubernur Akabri Udara Mayjen. TNI Wiyogo Atmodarminto -- kini Gubernur DKI Jaya -- nama gedung itu diubah lagi menjadi "Museum Taruna Abdul Djalil", November 1975. Nama ini diambil dari seorang taruna yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI dalam pertempuran Plataran, Yogyakarta, tahun 1949. November tahun silam, ketika Jenderal Benny berkunjung ke Akmil, terbersit gagasan untuk ikut menyumbangkan koleksinya. Karena tak ada lagi tempat yang lowong di museum itu, maka bangunan itu dipugar -- sekaligus menambah sebuah ruang baru untuk koleksi senjata Jenderal Benny -- sejak pertengahan April lalu.
Quote:
Spoiler for museum abdul jalil:

PEMELIHARAAN MUSEUM. Seorang pekerja mengecat atap bangunan museum Abdul Djalil di Komplek Akmil Magelang, Jateng Rabu (11/11). Pembersihan dan pengecatan museum yang menggambarkan lintasan sejarah perjalanan Akademi Militer dari masa ke masa tersebut merupakan kegiatan pemeliharaan rutin untuk menjaga keindahan dan kenyamanan tempat bersejarah tersebut. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/ed/pd/09.
Spoiler for museum abdul jalil:

BELAJAR SEJARAH MILITER. Sejumlah siswa SD Cacaban I mendengarkan penjelasan seorang angggota Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) petugas museum tentang berbagai jenis atribut militer di museum Abdul Djalil, komplek Akmil Magelang, Jateng, Jumat (22/10). Kunjungan siswa SD tersebut bertujuan untuk mengenal lebih dalam seluk beluk dan sejarah kemiliteran Indonesia. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/ed/nz/10
Spoiler for museum abdul jalil:

Spoiler for museum abdul jalil:

MUSEUM ABDUL DJALIL. Sejumlah siswa SD Cacaban I menyaksikan seekor harimau loreng yang diawetkan sebagai simbol keperkasaan dan kedisiplinan militer di museum Abdul Djalil, kompleks Akmil Magelang, Jateng, Jumat (22/10). Museum Abdul Djalil merupakan salah satu museum militer yang menyimpan berbagai benda sejarah kemiliteran Indonesia yang banyak dikunjungi pelajar untuk belajar sejarah militer dan sebagai sarana meningkatkan nasionalisme dan bela negara bagi generasi muda. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/IP/10.
Quote:
0
Kutip
Balas