- Beranda
- Supranatural
Mengenal Pesugihan Gunung Kawi
...
TS
zeroea
Mengenal Pesugihan Gunung Kawi
Spoiler for Gunung Kawi:
Sekedar berbagi pengetahuan Gan,tidak ada maksud untuk mengajak hal-hal yang sirik dan menyekutukan TUHAN YME.Ini mengenai pesugihan Gunung Kawi. Nama Eyang Jugo sangat erat kaitannya dengan Pesugihan Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur. Dapat dikatakan, Gunung Kawi termasuk lokasi pesugihan paling populer di Indonesia dan Asia Tenggara. Meskipun belum ada data valid seputar orang yang berhasil kaya setelah melakukan ritual pesugihan di sana ataupun orang yang gagal menjadi kaya setelah ritual.
Persoalan lainnya adalah ada orang-orang yang bertindak seolah-olah membantu melancarkan urusan Anda di Gunung Kawi, tetapi malah berakibat menguras uang Anda. Khususnya terkait biaya selametan, ubo rampe dan sebagainya.
Dalam hal ini, dibutuhkan kehati-hatian untuk mereka yang datang dengan tujuan ritual. Jika Anda berkunjung sebagai seorang wisatawan yang hendak menikmati keindahan panorama Gunung Kawi, tentu tidak menjadi masalah.
Di sisi lain, daun dewandaru yang menjadi harapan diri ingin kaya, juga sering menjadi permainan orang tertentu. Daun itu sengaja dilemparkan orang hingga menjadi rebutan. Jadi bukan daun yang jatuh dari pohon. Informasi ini saya dapatkan dari orang yang pernah berziarah ke Gunung Kawi.
Sesuatu yang mungkin sudah difahami bagi orang yang berziarah ke Gunung Kawi adalah adanya sebuah Padepokan yang menjadi rumah tinggal Eyang Jugo semasa hidupnya. Padepokan itu terletak di desa Jugo, Kesamben, Blitar.
Ada banyak orang yang mengetahui Padepokan Eyang Jugo ini, namun tidak banyak peziarah yang mengunjunginya. Dengan kata lain, para peziarah Gunung Kawi, khususnya yang bertujuan mencari pesugihan, tidak serta merta mengunjungi padepokan ini di Blitar. Melainkan langsung menuju makam keramat Eyang Jugo di Gunung Kawi, Malang.
Inilah yang kemudian menjadi problematika tersendiri bagipeziarah yang datang langsung ke Gunung Kawi tanpa menyempatkan diri mengunjungi Padepokan Eyang Jugo. Sementara itu, bagi para peziarah yang pernah datang ke Padepokan Eyang Jugo justru mengaku merasa lebih mantap saat berziarah ke Gunung Kawi. Terutama menyangkut tata cara dan prasyarat ritual yang harus dipenuhi.
Betapa tidak, ada banyak cerita seputar peziarah yang kehabisan bekal hingga tidak dapat pulang ke daerahnya masing-masing. Hal ini tentu sangat menyedihkan. Semua itu terjadi disebabkan orang tersebut tidak mengetahui banyaknya calo yang menjerat dirinya dengan biaya selametan yang besar dan tidak masuk akal.Bahkan yang lebih menyedihkan adalah upaya orang-orang tertentu yang dengan sengaja mengambil keuntungan dengan cara yang tidak wajar.
Ambil contoh, adanya prasyarat hewan kambing kendit (hitam) yang di tumbalkan secara hidup-hidup. Maksudnya, seorang peziarah Gunung Kawi yang ingin mengikuti ritual pesugihan diharuskan membeli seekor kambing kendit untuk kemudian dilepas dalam keadaan hidup ke arah hutan.Pada kenyataannya, kambing kendit tersebut disemir cat warna hitam lalu dilepas ke hutan. Jadi bukan asli kambing berwarna hitam. Ketika kambing itu dilepas ke hutan, tentu tidak berapa lama kemudian akan kembali ke kandangnya atau diambil kembali oleh pemilik kambing tersebut. Harga hewan tersebut ada yang mencapai puluhan juta rupiah per ekornya. Di atas harga pasaran yang umum berlaku.
Spoiler for Daun Dewandaru:
Spoiler for Kisah Singkat Daun Dewandaru:
Spoiler for Lantas dimana daun dewandaru itu?:
Spoiler for Karma Buruk Kekayaan:
to be continue...................
Sumber : BaNi MusTajaB (gus7.wordpress.com)
mincli69 memberi reputasi
1
39.5K
121
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•15KAnggota
Tampilkan semua post
balaprabu
#81
siapa eyang Djugo ini sebenarnya
Eyang Djoego sebenarnya bernama Eyang Kyai Zakaria II. Beliau masih keturunan dari bangsawan keraton Kartasura. Gelar tersebut menunjukan bahwa selain bangsawan, beliau juga seorang ulama. Pada akhirnya nanti, warga Tionghoa juga menyebutnya dengan Tow Law She atau Guru Besar Pertama. Setelah tertangkapnya perang Diponegoro usai, beliau memutuskan untuk mengembara seorang diri, tanpa anak dan isteri. Agar tak diketahui pasukan Belanda, beliau tak lagi menggunakan gelar Kyai Zakaria II, dan mengganti nama Sadjoego yang artinya seorang diri. Pada akhir pengembaraannya ke daerah Jawa Timur, beliau mendirikan sebuah padepokan di desa SananDjoego, kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Konon nama desa itu juga diambil dari namanya. Di daerah ini, Eyang Sadjoego atau disingkat Eyang Djoego, selain mengajar agama islam dan pertanian, juga memberikan pengobatan. Beliau mempunyai tiga buah guci kuno yang airnya berkhasiat menyembuhkan.
sumber http://groups.yahoo.com/group/budaya...a/message/5838
Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut. Makam yang menjadi magnet untuk menarik puluhan ribu orang datang setiap tahunnya. Para Peziarah itu datang untuk menghormati dan sekaligus memohon berkat kepada beliau yang dimakamkan di tempat tesebut, yaitu Eyang Djoego dan Eyang RM Iman Sudjono. Ya betul, memang dalam satu liang lahat tersebut dimakamkan dua orang Eyang yang merupakan sahabat perjuangan, guru dan murid yang sudah saling mengangkat Bapak-Anak ini
Ternyata benar juga bunyi pesan singkat rekan tadi. Saya beruntung bisa berkunjung di Gunung Kawi, di malam Jumat Legi di Gunung Kawi.
Mas, bunga Mas, murah kok hanya Rp 2000 saja per bungkusnya, nampak pedagang menawarkan bunganya kepada saya
Yayasan Ngesti Gondo, lembaga yang secara resmi menjadi pewaris tanah Pasarean dan berhak menyandang jabatan pengadeg juru kunci makam, memberikan kesempatan bagi warga desa setempat untuk berdagang di Gunung Kawi.
Akulturasi
berkunjung ke Gunung Kawi. Sebuah berkah tersendiri ketika disana dapat melihat akulturasi budaya China dan Jawa.
NAmpak Bangunan seperti wihara begitu megah dibangun disana dengan lilin lin raksasa pun juga, yang harga sebijinya bisa mencapai Rp 35 juta sampai Rp 40 juta. dan Lilin Raksasa itu ada penjaganya agar api di lilin tetap menyala karena diyakini berkaitan dengan kelangsungan bisnis sang empunya lilin. Jika api itu sampai mati, dipercaya sebagai pertanda matinya bisnisnya.
Jika lilin yang bisa bertahan sampai setahun itu hampir habis, Sukirman menghubungi pemilik lilin untuk mengganti lilin tersebut. Terkadang pemiliknya datang dan mengganti, namun tidak sedikit pula yang cukup mentransfer uang kepada penjaga untuk menggantinya.
Selain mengikuti upacara ritual standart Islam-Kejawen yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa juga melakukan ritual tionghoanya. Segera saja klenteng kecil buatan Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung membludagnya kaum Tionghoa yang ingin berseEyangyang. Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam. Di ketiga kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan kelenteng khusus untuk Ciamsi (ramalan).
Di bekas kelenteng kecil lama yang di bongkar, dibangun sebuah masjid letaknya berdekatan dengan kelenteng Tionghoa yang baru. Masjid Iman Sujono yang megah ini, konon khabarnya juga sumbangan konglomerat nomor satu Indonesia, Liem Sioe Liong.
Disini tidak ada diskriminasi suku. Baik itu Jawa ataupun Tionghwa sama saja karena tujuannya cuma satu yaitu berdoa, katanya.
Suasana percampuran budaya China dan Jawa memang terlihat sejak awal masuk ke lokasi wisata ritual Gunung Kawi. Di gerbang pintu masuk misalnya, desaign gerbang mirip dengan bangunan China dengan bertuliskan tulisan Jawa.
Begitu juga dengan bentuk pendapa persembanyangan, bangunan dibangun modal bangunan Jawa namun penuh dengan aksesori dari China, seperti lampion dan tulisan huruf Tionghwa.
Selain bangunan dengan modifikasi China dan Jawa, suasana di sepanjang jalan mirip dengan kawasan di Pecinan. Banyak restoran, toko barang antik dan aksesori maupun penjual kelontong yang menawarkan barang beraneka ragam khas Jawa dan China.
Ada penjual batu akik, penjual api lilin raksana dan perlengkapan ritual masyarakat Tionghwa. Di sana juga tampak keramaian suara kocokan dan bunyi gemeretak lemparan kartu ciamsi, hiruk pikuk peramal nasib jangka pendek dan suara gamelan Jawa yang mengiringi pagelaran wayang kulit.
Pemerintah daerah kabupaten Malang sendiri berkomitmen melestarikan seluruh budaya yang ada di Gunung Kawi yang menjadi ikon kota Malang. Untuk menarik wisatawan, pemerintah telah mengagendakan gebyar wisata ritual setiap perayaan 1 Muharram.
http://pojokngalam.wordpress.com/201...o-gunung-kawi/
Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut. Makam yang menjadi magnet untuk menarik puluhan ribu orang datang setiap tahunnya. Para Peziarah itu datang untuk menghormati dan sekaligus memohon berkat kepada beliau yang dimakamkan di tempat tesebut, yaitu Eyang Djoego dan Eyang RM Iman Sudjono. Ya betul, memang dalam satu liang lahat tersebut dimakamkan dua orang Eyang yang merupakan sahabat perjuangan, guru dan murid yang sudah saling mengangkat Bapak-Anak ini
Ternyata benar juga bunyi pesan singkat rekan tadi. Saya beruntung bisa berkunjung di Gunung Kawi, di malam Jumat Legi di Gunung Kawi.
Mas, bunga Mas, murah kok hanya Rp 2000 saja per bungkusnya, nampak pedagang menawarkan bunganya kepada saya
Yayasan Ngesti Gondo, lembaga yang secara resmi menjadi pewaris tanah Pasarean dan berhak menyandang jabatan pengadeg juru kunci makam, memberikan kesempatan bagi warga desa setempat untuk berdagang di Gunung Kawi.
Akulturasi
berkunjung ke Gunung Kawi. Sebuah berkah tersendiri ketika disana dapat melihat akulturasi budaya China dan Jawa.
NAmpak Bangunan seperti wihara begitu megah dibangun disana dengan lilin lin raksasa pun juga, yang harga sebijinya bisa mencapai Rp 35 juta sampai Rp 40 juta. dan Lilin Raksasa itu ada penjaganya agar api di lilin tetap menyala karena diyakini berkaitan dengan kelangsungan bisnis sang empunya lilin. Jika api itu sampai mati, dipercaya sebagai pertanda matinya bisnisnya.
Jika lilin yang bisa bertahan sampai setahun itu hampir habis, Sukirman menghubungi pemilik lilin untuk mengganti lilin tersebut. Terkadang pemiliknya datang dan mengganti, namun tidak sedikit pula yang cukup mentransfer uang kepada penjaga untuk menggantinya.
Selain mengikuti upacara ritual standart Islam-Kejawen yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa juga melakukan ritual tionghoanya. Segera saja klenteng kecil buatan Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung membludagnya kaum Tionghoa yang ingin berseEyangyang. Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam. Di ketiga kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan kelenteng khusus untuk Ciamsi (ramalan).
Di bekas kelenteng kecil lama yang di bongkar, dibangun sebuah masjid letaknya berdekatan dengan kelenteng Tionghoa yang baru. Masjid Iman Sujono yang megah ini, konon khabarnya juga sumbangan konglomerat nomor satu Indonesia, Liem Sioe Liong.
Disini tidak ada diskriminasi suku. Baik itu Jawa ataupun Tionghwa sama saja karena tujuannya cuma satu yaitu berdoa, katanya.
Suasana percampuran budaya China dan Jawa memang terlihat sejak awal masuk ke lokasi wisata ritual Gunung Kawi. Di gerbang pintu masuk misalnya, desaign gerbang mirip dengan bangunan China dengan bertuliskan tulisan Jawa.
Begitu juga dengan bentuk pendapa persembanyangan, bangunan dibangun modal bangunan Jawa namun penuh dengan aksesori dari China, seperti lampion dan tulisan huruf Tionghwa.
Selain bangunan dengan modifikasi China dan Jawa, suasana di sepanjang jalan mirip dengan kawasan di Pecinan. Banyak restoran, toko barang antik dan aksesori maupun penjual kelontong yang menawarkan barang beraneka ragam khas Jawa dan China.
Ada penjual batu akik, penjual api lilin raksana dan perlengkapan ritual masyarakat Tionghwa. Di sana juga tampak keramaian suara kocokan dan bunyi gemeretak lemparan kartu ciamsi, hiruk pikuk peramal nasib jangka pendek dan suara gamelan Jawa yang mengiringi pagelaran wayang kulit.
Pemerintah daerah kabupaten Malang sendiri berkomitmen melestarikan seluruh budaya yang ada di Gunung Kawi yang menjadi ikon kota Malang. Untuk menarik wisatawan, pemerintah telah mengagendakan gebyar wisata ritual setiap perayaan 1 Muharram.
http://pojokngalam.wordpress.com/201...o-gunung-kawi/
0