TS
undesco
[Orific] Spark
Cerita kedua yang akan saya selesaikan di SF FS ini. Cerita pertama saya selesaikan ketika ikut permainan yang diselenggarakan oleh otaku_insider. Index cerita pertama bisa dilihat di post ini. Index saya ada di nomor sembilan "undesco x Misaka Mikoto".
Cerita kali ini adalah potongan-potongan cerita dari penumpang kapal SS Spark yang melakukan perjalanan dari planet Gezegen menuju planet Ard yang ditempuh selama lebih dari tiga tahun.
Karena sifatnya yang cenderung "open", kalau ada yang mau,
user lain boleh menambahkan cerita tentang penumpang lain. Satu ato dua post. Semua setting akan jelas dalam empat atau lima LOG
Welp, selamat membaca. Komentar, kritik dan saran.
LOG #0963
Beep... Beep... QxB4
Suara perempuan digital itu mengumumkan langkah yang diambilnya.
Di layar hitam besar yang menyatu dengan dinding terlihat menteri hitam menangkap pion putih di B4. Dalam dua langkah lagi, putih akan kalah.
Eh.. Aku kalah, Ai-chan.
Pemuda yang bermain catur melawan sistem komputer itu menyadari kalau dia tidak bisa menghindari serangan hitam. Posisi kuda dan benteng hitam sudah sempurna untuk mematikan segala gerakan yang bisa dilakukan pemain putih.
Sudah berapa kali? Rasanya aku ga akan bisa menang melawanmu.
Beep... Dengan ini kita sudah bermain sebanyak 69 kali, dan semuanya berakhir dengan kemenangan Ai-chan.
Pemuda itu bangkit dari kursi di depan layar besar itu dan meregangkan tangannya. Di dalam kabin cuma ada dia seorang.
Hnn... Enam puluh sembilan, eh? AI-mu terlalu advanced untuk aku kalahkan. Sudah berapa lama sejak kita berangkat?
Beep... Dua tahun, dua ratus dua puluh satu hari, tiga jam empat puluh menit dalam waktu lokal kapal. Beep... Perhitungan tahun tidak mengenal tahun kabisat dan satu tahun itu sama dengan tiga ratus enam puluh lima hari.
Sistem komputer kapal bernama Ai-chan menjelaskan kepada pemuda itu dengan suara perempuan digital.
Beep... Andy, sesuai jadwal dalam lima menit Andy seharusnya masuk ke dalam chamber Cold Sleep. Andy sudah terbangun selama empat puluh tujuh jam lima puluh lima menit di sesi ini.
Oke, oke..
(Aah... Rasanya dua hari itu tidak cukup panjang.)
Andy berjalan menuju chamber Cold Sleepmiliknya, tempat di mana manusia tidur dengan sangat lelap. Chamber ini berbentuk kapsul seukuran manusia dengan kemiringan 30 derajat dengan lantai.
Psshh... Tutup transparan kapsul itu terbuka perlahan.
Andy masuk dan berbaring di dalam kapsul itu.
Beep... Selamat tidur, Andy. Kita akan bertemu lagi tiga bulan ke depan.
Yo, sampai jumpa, Ai-chan.
Psshh...
Tutup kaca kembali menutup. Dua buah jarum yang terhubung dengan selang bening menancap di lengan Andy, masing-masing di kiri dan kanan. Selang bening menghubungkan lengan Andy dan kontainer di sisi kiri dan kanan kapsul.
Initiating Cold Sleep. Replacing blood from circulatory system with soguk solution.
Darah Andy mengalir keluar melalui selang di lengan kirinya dan dikumpulkan ke dalam kontainer di sisi kapsul.
Hey, Ai-chan. Nama kapal ini apa? Aku lupa.
Selang beberapa detik, cairan kental berwarna bening dengan sedikit warna merah mengalir dari kontainer di sebelah kanan menuju lengan Andy, menggantikan darahnya. Cairan ini berfungsi untuk mendinginkan tubuh, merendahkan metabolisme, detak jantung, dan mekanisme tubuh lainnya. Dengan sistem ini, perjalanan panjang antar sistem tidak memakan banyak umur dari penumpang.
Beep... Kapal ini bernama SS Spark. Selamat tidur Andy.
Andy sudah terlelap ketika Ai-chan menjawab pertanyaannya.
Cerita kali ini adalah potongan-potongan cerita dari penumpang kapal SS Spark yang melakukan perjalanan dari planet Gezegen menuju planet Ard yang ditempuh selama lebih dari tiga tahun.
Quote:
Index
*1: 963
*2: 0003, 0054
*3: 0007
*4: 1123, 1125, 1128
*5: 1140, 1142, 1147, 1151
*6: 0155, 0156
*7: 0377, 0375, 0280, 0376
*8: 0378, 0379, 0382
*9: 1156, 1158%#
10: Admin_room, ####
11: ####, 1161, 0666
12: 0911, ####, 1163
13: 1345, 1346, 1350, 1360, 1365
14: 0999
15: 1243
16: 1367, 1369, ####, 1358, ####
Alt_01: Cam B03, Cam B08
Alt_02: Cam Amphi 03
Alt_03: 1377
*1: 963
*2: 0003, 0054
*3: 0007
*4: 1123, 1125, 1128
*5: 1140, 1142, 1147, 1151
*6: 0155, 0156
*7: 0377, 0375, 0280, 0376
*8: 0378, 0379, 0382
*9: 1156, 1158%#
10: Admin_room, ####
11: ####, 1161, 0666
12: 0911, ####, 1163
13: 1345, 1346, 1350, 1360, 1365
14: 0999
15: 1243
16: 1367, 1369, ####, 1358, ####
Alt_01: Cam B03, Cam B08
Alt_02: Cam Amphi 03
Alt_03: 1377
Spoiler for :
Karena sifatnya yang cenderung "open", kalau ada yang mau,
user lain boleh menambahkan cerita tentang penumpang lain. Satu ato dua post. Semua setting akan jelas dalam empat atau lima LOG
Welp, selamat membaca. Komentar, kritik dan saran.

Spoiler for part 1/not really prolog:
Spoiler for :
Dalam perjalanan luar angkasa yang bisa memakan waktu bertahun-tahun, banyak orang yang menemukan teman baru, sahabat baru, bahkan mungkin pasangan hidup.
LOG #0963
Beep... Beep... QxB4
Suara perempuan digital itu mengumumkan langkah yang diambilnya.
Di layar hitam besar yang menyatu dengan dinding terlihat menteri hitam menangkap pion putih di B4. Dalam dua langkah lagi, putih akan kalah.
Eh.. Aku kalah, Ai-chan.
Pemuda yang bermain catur melawan sistem komputer itu menyadari kalau dia tidak bisa menghindari serangan hitam. Posisi kuda dan benteng hitam sudah sempurna untuk mematikan segala gerakan yang bisa dilakukan pemain putih.
Sudah berapa kali? Rasanya aku ga akan bisa menang melawanmu.
Beep... Dengan ini kita sudah bermain sebanyak 69 kali, dan semuanya berakhir dengan kemenangan Ai-chan.
Pemuda itu bangkit dari kursi di depan layar besar itu dan meregangkan tangannya. Di dalam kabin cuma ada dia seorang.
Hnn... Enam puluh sembilan, eh? AI-mu terlalu advanced untuk aku kalahkan. Sudah berapa lama sejak kita berangkat?
Beep... Dua tahun, dua ratus dua puluh satu hari, tiga jam empat puluh menit dalam waktu lokal kapal. Beep... Perhitungan tahun tidak mengenal tahun kabisat dan satu tahun itu sama dengan tiga ratus enam puluh lima hari.
Sistem komputer kapal bernama Ai-chan menjelaskan kepada pemuda itu dengan suara perempuan digital.
Beep... Andy, sesuai jadwal dalam lima menit Andy seharusnya masuk ke dalam chamber Cold Sleep. Andy sudah terbangun selama empat puluh tujuh jam lima puluh lima menit di sesi ini.
Oke, oke..
(Aah... Rasanya dua hari itu tidak cukup panjang.)
Andy berjalan menuju chamber Cold Sleepmiliknya, tempat di mana manusia tidur dengan sangat lelap. Chamber ini berbentuk kapsul seukuran manusia dengan kemiringan 30 derajat dengan lantai.
Psshh... Tutup transparan kapsul itu terbuka perlahan.
Andy masuk dan berbaring di dalam kapsul itu.
Beep... Selamat tidur, Andy. Kita akan bertemu lagi tiga bulan ke depan.
Yo, sampai jumpa, Ai-chan.
Psshh...
Tutup kaca kembali menutup. Dua buah jarum yang terhubung dengan selang bening menancap di lengan Andy, masing-masing di kiri dan kanan. Selang bening menghubungkan lengan Andy dan kontainer di sisi kiri dan kanan kapsul.
Initiating Cold Sleep. Replacing blood from circulatory system with soguk solution.
Darah Andy mengalir keluar melalui selang di lengan kirinya dan dikumpulkan ke dalam kontainer di sisi kapsul.
Hey, Ai-chan. Nama kapal ini apa? Aku lupa.
Selang beberapa detik, cairan kental berwarna bening dengan sedikit warna merah mengalir dari kontainer di sebelah kanan menuju lengan Andy, menggantikan darahnya. Cairan ini berfungsi untuk mendinginkan tubuh, merendahkan metabolisme, detak jantung, dan mekanisme tubuh lainnya. Dengan sistem ini, perjalanan panjang antar sistem tidak memakan banyak umur dari penumpang.
Beep... Kapal ini bernama SS Spark. Selamat tidur Andy.
Andy sudah terlelap ketika Ai-chan menjawab pertanyaannya.
0
3.2K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
undesco
#21
Spoiler for :
----Sebenarnya LOG yang ini, selain yang di dalam kurung itu putih.
----LOG #####
Ketidakpercayaan masih terlihat jelas di wajah Mikail.
(Tapi kenapa? Apa untungnya bagi Su Empire atau Dewan Tua merekam semua kejadian di kapal ini?)
Dia memperhatikan lagi layar yang ada di dinding. Sebuah daftar berisi nama-nama orang, diagram kapal SS Spark, daftar LOG, dan sebuah diagram perjalanan kapal-kapal yang menuju Ard.
“Ai-chan, coba buka daftar yang berisi nama itu,” perintahnya sambil menunjuk ke sisi kiri layar.
“Baiklah.”
Kotak yang berisi daftar LOG mengecil dan bergerak ke salah satu sudut dan digantikan tempatnya oleh daftar yang berisi nama-nama orang.
“Tidak ada judulnya...” gumam Mikail.
“Adnan Halim, Allan Pirovsky, Amine Tandogan, Andy Woodsgate, April Mukaffee, Bahadur Al-Majnun...” Mikail mengeja nama-nama yang ada di daftar, lalu memberi perintah baru, “Ai-chan, coba scrollsampai huruf M.”
Daftar itu bergerak cepat ke bawah, dan berhenti tepat di nama pertama yangberawalan huruf M.
Mikail memperhatikan nama-nama yang berawalan huruf M, lalu setelah menemukan apa yang dicarinya, dia menopangkan kepalanya ke kepalan tangan kanannya.
(Namaku ada di daftar ini.. Kalau perkiraanku benar, semua orang yang namanya ada di sini adalah orang-orang yang terlibat dalam Project Spark ini.)
“Adakah nama Juneid Atolyev di daftar itu?”
“Pencarian sedang dilakukan, harap tunggu sebentar.”
Daftar itu bergerak cepat dari atas ke bawah, memindai setiap nama. Sesekali sebuah nama tampak keluar dari daftar utama dan bergerak ke arah kanan.
“Pencarian selesai. Dari 1329 nama, tidak ada Juneid Atolyev. Beberapa nama yang mirip sudah Ai-chan pisahkan dari daftar utama.”
(Sudah kuduga, tidak mungkin nama administrator keparat itu ada di daftar ini.)
(Apa ini berarti semua orang yang ada di daftar ini sama sepertiku? Dipaksa olehnya untuk melakukan hal-hal yang aneh sepertiku?)
(Tapi untuk apa dia mengumpulkan orang sebanyak ini? Seribu tiga ratus orang, dan saya hanya disuruh untuk mengucapkan “deep love, yandere kanojo”. Rasanya terlalu berlebihan, tapi apa untungnya merekam semua ini?)
“Gyaaah!” teriak Mikail sambil mengacak rambutnya dengan kedua tangannya. Sebentar kemudian dia berhenti, wajahnya bersinar seperti baru mendapatkan pencerahan.
(Ah, untuk apa saya pusing memikirkannya. Toh hanya rekaman aktivitas kapal dan tidak merugikan siapapun. Saya sudah melakukan tugas, dan mereka tidak akan mengganggu keluargaku lagi.)
“Ai-chan, saya mau pergi ke lobby,” kata Mikail sambil berdiri.
“Ai-chan akan kembali ke mode biasa, untuk masuk ke interface Project Spark atau berbicara lagi dengan Ai-chan yang sebenarnya, Mikail perlu mengulangi kata pengaktifannya.”
“Oke,” jawab Mikail singkat sambil membuka pintu.
(Not that I need to. Tugas saya sudah selesai, dan saya tidak ingin berurusan lagi dengan “Ai-chan yang sebenarnya”.)
Spoiler for :
LOG #1161
Di salah satu meja lobby, empat orang sedang bermain Trading Company, sebuah gameberbasis bisnis yang mirip dengan Monopoli. Seorang perempuan di antaranya memangku dua anak kecil yang sangat mirip satu sama lain. Kedua anak kecil itu kadang mengganggu permainan dengan mengacak tumpukan uang yang diproyeksikan ke atas meja, tapi sistem komputer dengan cepat mengetahuinya dan mengembalikan ke posisi seharusnya.
“Aku beli seribu kilo salak,” ucap Andy sambil mengulurkan selembar uang virtual ke tengah papan permainan.
Uang virtual yang dipegangnya terpecah menjadi kepingan kecil dan hilang, lalu sebuah kantung dengan gambar salak hasil proyeksi muncul dan bergerak ke sisi Andy.
Seseorang berkemeja dengan lambang palang merah di punggungnya mendekati meja tersebut, lalu menyapa mereka, “Wah, lagi main Trading Company, yah?”
Keempat pemain dan dua anak kecil menghentikan permainan mereka dan melihat ke arah orang yang menyapa.
“Nii-chan!” teriak Astra dan Stella bersamaan.
Evani menurunkan mereka dari pangkuannya dan keduanya langsung setengah berlari ke arah Mikail.
“Apa kabar, Stella, Astra?” tanya Mikail sambil berjongkok dan mengusap kepala mereka.
Keduanya memiringkan kepala mereka, tidak mengerti apa yang ditanyakan Mikail, lalu membalikkan wajah mereka ke arah Irene. Menanyakan apa maksudnya hanya dengan pandangan yang kebingungan.
“Ba—ik.. Coba bilang ‘ba—ik‘,” Irene menjawab.
“Pa—ik ?” keduanya seolah memastikan, lalu menjawab pertanyaan Mikail dengan semangat, “Paik!”
“Yah, boleh juga lah,” gumam Mikail. “Sana, kalian dipanggil Mama,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Irene.
“Apa kabar, Mikail?” tanya Evani sambil melirik Astra dan Stella yang kembali ke ibu mereka.
“Baik, Evani.”
Mikail menundukkan kepalanya sedikit ketika dia melihat Andy yang duduk di samping Irene.
“Ah, perkenalkan, ini Andy. Andy, ini Mikail.”
Andy berdiri dan menjabat tangan Mikail sambil memperkenalkan dirinya, “Andy.”
“Mikail Kreutzef, senang berkenalan denganmu.”
Wajah Andy sedikit terkejut ketika mendengar namanya, “Dari Su?”
“Iya.. Maaf, apa kita pernah bertemu?” tanya Mikail dengan wajah kebingungan.
“Ah, tidak.. Aku cuma melihat seragammu, seragam Imperial Army, bukan?”
“Rupanya dari situ.. Benar sekali.”
“Mikail ini orang yang membantu kelahiran Astra dan Stella, dan karena saya sering bermain dengan keluarga Kaya, saya jadi kenal Mikail,” jelas Irene. “Kalau sedang tidak tidur, dia sering datang ke lobby dan ngobrol dengan keluarga Kaya.”
“Hee...”
“Mikail, duduk sini. Kita main bersama, ulang dari awal,” ajak Polat.
“Ah, pasti karena kamu yang paling miskin,” jawab Mikail sambil tertawa kecil.
“Kamu kenal suamiku dengan baik,” sahut Irene sambil tersenyum. “Saya tidak masalah kalau diulang.”
“Kalau yang lain setuju diulang, saya ikut main.”
“Aku tidak masalah. Evani?”
Evani menggeleng kecil, dan mereka berlima memulai permainan baru Trading Company sambil mengobrol ringan.
Permainan yang berakhir satu jam setelahnya dimenangkan oleh Andy. Andy memilih untuk membangun armada perdagangan yang besar di awal, dan menyalip kekayaan semua pemain dalam dua kali pengangkutan.
Mereka terus bermain bersama, mengganti jenis permainan ketika bosan, kadang memesan makanan kecil dan minuman, sampai lampu lobby redup, tanda sudah larut malam.
Mereka berpamitan dan keluar dari lobby, diawali oleh Irene yang menggendong kedua anaknya yang terlelap dan Polat. Evani awalnya menunggu Andy, tapi akhirnya keluar dari lobby setelah Andy mengatakan kalau dia masih agak lama di lobby dan Evani lebih baik ke kabin lebih dulu.
Yang tersisa di lobby hanya Mikail dan Andy yang sedang menikmati kopi.
“Mikail Kreutzef,” Andy membuka pembicaraan sambil menatap Mikail yang duduk di hadapannya dengan tajam. “Aku rasa kau terlibat dengan Project Spark?”
Di salah satu meja lobby, empat orang sedang bermain Trading Company, sebuah gameberbasis bisnis yang mirip dengan Monopoli. Seorang perempuan di antaranya memangku dua anak kecil yang sangat mirip satu sama lain. Kedua anak kecil itu kadang mengganggu permainan dengan mengacak tumpukan uang yang diproyeksikan ke atas meja, tapi sistem komputer dengan cepat mengetahuinya dan mengembalikan ke posisi seharusnya.
“Aku beli seribu kilo salak,” ucap Andy sambil mengulurkan selembar uang virtual ke tengah papan permainan.
Uang virtual yang dipegangnya terpecah menjadi kepingan kecil dan hilang, lalu sebuah kantung dengan gambar salak hasil proyeksi muncul dan bergerak ke sisi Andy.
Seseorang berkemeja dengan lambang palang merah di punggungnya mendekati meja tersebut, lalu menyapa mereka, “Wah, lagi main Trading Company, yah?”
Keempat pemain dan dua anak kecil menghentikan permainan mereka dan melihat ke arah orang yang menyapa.
“Nii-chan!” teriak Astra dan Stella bersamaan.
Evani menurunkan mereka dari pangkuannya dan keduanya langsung setengah berlari ke arah Mikail.
“Apa kabar, Stella, Astra?” tanya Mikail sambil berjongkok dan mengusap kepala mereka.
Keduanya memiringkan kepala mereka, tidak mengerti apa yang ditanyakan Mikail, lalu membalikkan wajah mereka ke arah Irene. Menanyakan apa maksudnya hanya dengan pandangan yang kebingungan.
“Ba—ik.. Coba bilang ‘ba—ik‘,” Irene menjawab.
“Pa—ik ?” keduanya seolah memastikan, lalu menjawab pertanyaan Mikail dengan semangat, “Paik!”
“Yah, boleh juga lah,” gumam Mikail. “Sana, kalian dipanggil Mama,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Irene.
“Apa kabar, Mikail?” tanya Evani sambil melirik Astra dan Stella yang kembali ke ibu mereka.
“Baik, Evani.”
Mikail menundukkan kepalanya sedikit ketika dia melihat Andy yang duduk di samping Irene.
“Ah, perkenalkan, ini Andy. Andy, ini Mikail.”
Andy berdiri dan menjabat tangan Mikail sambil memperkenalkan dirinya, “Andy.”
“Mikail Kreutzef, senang berkenalan denganmu.”
Wajah Andy sedikit terkejut ketika mendengar namanya, “Dari Su?”
“Iya.. Maaf, apa kita pernah bertemu?” tanya Mikail dengan wajah kebingungan.
“Ah, tidak.. Aku cuma melihat seragammu, seragam Imperial Army, bukan?”
“Rupanya dari situ.. Benar sekali.”
“Mikail ini orang yang membantu kelahiran Astra dan Stella, dan karena saya sering bermain dengan keluarga Kaya, saya jadi kenal Mikail,” jelas Irene. “Kalau sedang tidak tidur, dia sering datang ke lobby dan ngobrol dengan keluarga Kaya.”
“Hee...”
“Mikail, duduk sini. Kita main bersama, ulang dari awal,” ajak Polat.
“Ah, pasti karena kamu yang paling miskin,” jawab Mikail sambil tertawa kecil.
“Kamu kenal suamiku dengan baik,” sahut Irene sambil tersenyum. “Saya tidak masalah kalau diulang.”
“Kalau yang lain setuju diulang, saya ikut main.”
“Aku tidak masalah. Evani?”
Evani menggeleng kecil, dan mereka berlima memulai permainan baru Trading Company sambil mengobrol ringan.
Permainan yang berakhir satu jam setelahnya dimenangkan oleh Andy. Andy memilih untuk membangun armada perdagangan yang besar di awal, dan menyalip kekayaan semua pemain dalam dua kali pengangkutan.
Mereka terus bermain bersama, mengganti jenis permainan ketika bosan, kadang memesan makanan kecil dan minuman, sampai lampu lobby redup, tanda sudah larut malam.
Mereka berpamitan dan keluar dari lobby, diawali oleh Irene yang menggendong kedua anaknya yang terlelap dan Polat. Evani awalnya menunggu Andy, tapi akhirnya keluar dari lobby setelah Andy mengatakan kalau dia masih agak lama di lobby dan Evani lebih baik ke kabin lebih dulu.
Yang tersisa di lobby hanya Mikail dan Andy yang sedang menikmati kopi.
“Mikail Kreutzef,” Andy membuka pembicaraan sambil menatap Mikail yang duduk di hadapannya dengan tajam. “Aku rasa kau terlibat dengan Project Spark?”
Spoiler for Cerita lepas karena lagi ga ada kerja.:
LOG #0666
Kabin 111 tidak berbeda dengan kabin penumpang lainnya. Sebuah meja berproyektor dan kursi, sebuah sofa panjang untuk istirahat, layar besar yang ada di dinding, dan sebuah chamber Cold Sleep.
Penghuni kabin 111 adalah seorang pemuda berambut pirang yang sedang duduk santai di sofa.
“Ai-chan, aku mau kau mengubah apa yang akan kukatakan menjadi sebuah file teks, sebuah surat.”
“Beep... Baiklah, Tim.”
“Untuk Nenek di Ard,
“Kalau Nenek membaca file ini, berarti kapal ini sudah sampai dengan selamat ke Ard.
“Maafkan cucumu ini, mempertanyakan keyakinan keluarga kita.
“Maksudku, berapa banyak keluarga di galaksi ini yang masih melakukan ibadah kepada Tuhan? Oke, aku tidak menyangkal bahwa masih banyak yang percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi yang beribadah pada-Nya? Banyak yang mempercayai adanya Tuhan hanya sebagai pencipta, karena berusaha menjelaskan awal semuanya secara sains itu tidak mungkin.
“Katanya yang berbuat jahat masuk neraka, yang baik masuk surga. Tapi apa buktinya kalau surga dan neraka itu ada? Apa buktinya kalau setelah mati ada kehidupan lain?
“Dan takdir. Semua kegiatan kita sudah ditentukan sejak dulu. Bukankah ini tidak adil?
“Bagaimana kalau aku sudah ditakdirkan masuk neraka? Untuk apa lagi aku menjalankan hidup ini? Lebih baik aku mati saja sekarang, daripada berlama-lama di dunia ini. Kehidupan kita dikekang oleh konsep takdir ini.
“Aku tidak mau hidup dikekang takdir seperti ini.
“Lagipula kehidupan yang kujalani selama ini rasanya tidak ada artinya. Aku selalu dimarahi Ayah dan Ibu, dan sekarang dikirim ke tempat Nenek. Alasan mereka di depanku katanya mereka akan dipindahtugaskan ke planet lain yang jaraknya jauh, dan sebaiknya aku melanjutkan pendidikanku di tempat yang lebih dekat. Tapi aku tahu kalau sebenarnya mereka sudah muak denganku.
“Jadi aku memilih mengakhiri hidupku di kapal ini. Lepas dari kekangan takdir, mempersingkat waktu kalau aku sudah ditakdirkan untuk disiksa. Itupun kalau ada kehidupan setelah mati.
“Sekalian aku mau membuat pengakuan, aku sering melanggar ajaran keyakinan kita kalau tidak ada yang melihat. Jadi jangan pikir aku yang selama ini adalah anak yang taat.
“Mungkin itu saja, Nek. Aku sayang Nenek. Walaupun kita hanya sempat bertemu dulu sekali ketika aku masih kecil, tapi waktu itu masih kuingat dengan sangat jelas.”
Tim menghela napas, “Itu saja, Ai-chan.”
“Beep... File teks sudah tersimpan, Ai-chan akan mengirimkannya ke tablet milik Tim.”
“Terima kasih. Sekarang aku mau kau mematikan sensor bahaya penumpang. Dengan kata lain, apapun yang terjadi padaku, kau tidak boleh mengirimkan sinyal bahaya ke pihak kapal.”
“Beep... Dimengerti.”
Tim berjalan ke arah chamber Cold Sleep yang ada di sudut ruangan.
Tutup transparannya membuka dengan suara “pssh”.
Tim meraih selang yang berujung jarum kecil, memandangi jarum tajam itu sebentar, lalu mulai menusukkan jarum itu berulang-ulang di pelipisnya.
Kabin 111 tidak berbeda dengan kabin penumpang lainnya. Sebuah meja berproyektor dan kursi, sebuah sofa panjang untuk istirahat, layar besar yang ada di dinding, dan sebuah chamber Cold Sleep.
Penghuni kabin 111 adalah seorang pemuda berambut pirang yang sedang duduk santai di sofa.
“Ai-chan, aku mau kau mengubah apa yang akan kukatakan menjadi sebuah file teks, sebuah surat.”
“Beep... Baiklah, Tim.”
“Untuk Nenek di Ard,
“Kalau Nenek membaca file ini, berarti kapal ini sudah sampai dengan selamat ke Ard.
“Maafkan cucumu ini, mempertanyakan keyakinan keluarga kita.
“Maksudku, berapa banyak keluarga di galaksi ini yang masih melakukan ibadah kepada Tuhan? Oke, aku tidak menyangkal bahwa masih banyak yang percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi yang beribadah pada-Nya? Banyak yang mempercayai adanya Tuhan hanya sebagai pencipta, karena berusaha menjelaskan awal semuanya secara sains itu tidak mungkin.
“Katanya yang berbuat jahat masuk neraka, yang baik masuk surga. Tapi apa buktinya kalau surga dan neraka itu ada? Apa buktinya kalau setelah mati ada kehidupan lain?
“Dan takdir. Semua kegiatan kita sudah ditentukan sejak dulu. Bukankah ini tidak adil?
“Bagaimana kalau aku sudah ditakdirkan masuk neraka? Untuk apa lagi aku menjalankan hidup ini? Lebih baik aku mati saja sekarang, daripada berlama-lama di dunia ini. Kehidupan kita dikekang oleh konsep takdir ini.
“Aku tidak mau hidup dikekang takdir seperti ini.
“Lagipula kehidupan yang kujalani selama ini rasanya tidak ada artinya. Aku selalu dimarahi Ayah dan Ibu, dan sekarang dikirim ke tempat Nenek. Alasan mereka di depanku katanya mereka akan dipindahtugaskan ke planet lain yang jaraknya jauh, dan sebaiknya aku melanjutkan pendidikanku di tempat yang lebih dekat. Tapi aku tahu kalau sebenarnya mereka sudah muak denganku.
“Jadi aku memilih mengakhiri hidupku di kapal ini. Lepas dari kekangan takdir, mempersingkat waktu kalau aku sudah ditakdirkan untuk disiksa. Itupun kalau ada kehidupan setelah mati.
“Sekalian aku mau membuat pengakuan, aku sering melanggar ajaran keyakinan kita kalau tidak ada yang melihat. Jadi jangan pikir aku yang selama ini adalah anak yang taat.
“Mungkin itu saja, Nek. Aku sayang Nenek. Walaupun kita hanya sempat bertemu dulu sekali ketika aku masih kecil, tapi waktu itu masih kuingat dengan sangat jelas.”
Tim menghela napas, “Itu saja, Ai-chan.”
“Beep... File teks sudah tersimpan, Ai-chan akan mengirimkannya ke tablet milik Tim.”
“Terima kasih. Sekarang aku mau kau mematikan sensor bahaya penumpang. Dengan kata lain, apapun yang terjadi padaku, kau tidak boleh mengirimkan sinyal bahaya ke pihak kapal.”
“Beep... Dimengerti.”
Tim berjalan ke arah chamber Cold Sleep yang ada di sudut ruangan.
Tutup transparannya membuka dengan suara “pssh”.
Tim meraih selang yang berujung jarum kecil, memandangi jarum tajam itu sebentar, lalu mulai menusukkan jarum itu berulang-ulang di pelipisnya.
0
Kutip
Balas