- Beranda
- The Lounge
Apa dan Bagaimana Batu Kandung Empedu?
...
TS
ZimaZuma
Apa dan Bagaimana Batu Kandung Empedu?
Apa dan Bagaimana Batu Kandung Empedu?
Quote:
Quote:
kalo berkenan di
ya gan
ya ganQuote:
Spoiler for no repost:
tapi maaf jika seandainya

Quote:
Quote:

Quote:
Quote:
Penyakit kandung empedu menjadi favorit karena kebetulan mengenai tokoh nasional. Proses penanganannya juga berjalan lancar melalui operasi yang berlangsung hanya 1 jam. Satu hari setelah operasi beliau sudah bisa turun dari tempat tidur dan jalan-jalan.
Gejala utama peradangan empedu termasuk batu kandung empedu adalah nyeri perut. Nyeri perut sendiri adalah suatu keadaan yang sering ditemukan dan mengantarkan pasien datang ke RS baik di poliklinik maupun gawat darurat RS. Pasien yang datang ke Poliklinik penyakit dalam 30 % karena nyeri perut dan 50-60 % yang datang ke konsultan penyakit lambung dan pencernaan. Nyeri perut yang terjadi bisa tiba-tiba atau kronis. Nyeri perut berhubungan dengan organ yang terkena yang menimbulkan nyeri perut tersebut. Nyeri perut di ulu hati tidak selalu berasal dari lambung atau maag, bisa berasal dari pancreas, kandung empedu, liver atau usus dua belas jari. Bahkan nyeri perut di ulu hati juga bisa berhubungan dengan serangan jantung dalam hal ini serangan jantung bagian bawah (infark miokard inferior).
Nyeri ulu hati karena masalah kandung empedu terjadi karena adanya peradangan pada kandung empedu baik berlangsung akut maupun kronis. Nyeri ulu hari karena masalah di kandung empedu bisa juga terjadi karena adanya batu pada kandung empedu. Jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan batu pigmen.
Nyeri karena adanya batu kandung empedu berlangsung beberapa saat dan berulang (kolik bilier), biasanya nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung belakang. Untuk mengetahui penyebab dari nyeri ulu hati tersebut perlu dilakukan USG abdomen. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui apakah ada peradangan baik akut maupun kronis pada kandung empedu tersebut. Selain itu melalui pemeriksaan USG juga diidentifikasi adanya batu pada kandung empedu. Pemeriksaan USG abdomen juga dapat mengevaluasi saluran empedu, bisa mengidentifikasi adanya pelebaran saluran empedu.
Sumbatan bisa terjadi jika batu yang ada di kandung empedu menyumbat pada saluran empedu tersebut. Data yang ada pada kami 20 % pasien dengan keluhan nyeri ulu hati atau nyeri perut disebabkan karena gangguan pada kandung empedunya baik berupa batu di kandung empedu atau peradangan pada kandung empedu itu sendiri. Kalau dilihat dari umur 20 % kasus yang mengalami gangguan pada kandung empedu tersebut lebih dari 80 % berumur diatas 40 tahun dan tidak ada yang berumur dibawah 30 tahun.
Peradangan pada kandung empedu (kholesistitis) yang berlangsung tiba-tiba atau akut, bisa ringan dan bisa berat. Pada kondisi yang berat, infeksi bisa saja selain mengenai kandung empedu juga bisa mengenai pancreas. Bahkan bisa terjadi infeksi luas dan sistemik yang dapat membahayakan jiwa.
Pasien dengan peradangan kandung empedu akut perlu dirawat di RS dan perlu mendapat antibiotika sistemik. Kandung empedu yang bermasalah apalagi ada batu didalamnya biasanya memang kandung empedu tersebut harus diangkat (kolesistektomi). Pada kondisi yang ringan dan dengan batu kandung empedu tanpa keluhan sama sekali, biasanya tidak perlu diatasi dengan operasi. Pengobatan pada batu kandung empedu yang tunggal dan kecil (diameter kurang dari 1,5 cm) cukup dengan diet dan obat-obatan. Obat-obatan yang diberikan yaitu obat yang bekerja melarutkan batu kolesterol yaitu ursodeoxycholic acid (UDCA). Obat ini biasanya diberikan selama 3 bulan.
Pada kasus yang memang memerlukan oeprasi, saat ini sebagian besar RS juga telah menerapkan tehnik laparaskopi untuk pengangkatan kandung empedu tersebut, Melalui tehnik ini masa rawat manjadi pendek, komplikasi paska operasi menjadi minimal.
Gejala utama peradangan empedu termasuk batu kandung empedu adalah nyeri perut. Nyeri perut sendiri adalah suatu keadaan yang sering ditemukan dan mengantarkan pasien datang ke RS baik di poliklinik maupun gawat darurat RS. Pasien yang datang ke Poliklinik penyakit dalam 30 % karena nyeri perut dan 50-60 % yang datang ke konsultan penyakit lambung dan pencernaan. Nyeri perut yang terjadi bisa tiba-tiba atau kronis. Nyeri perut berhubungan dengan organ yang terkena yang menimbulkan nyeri perut tersebut. Nyeri perut di ulu hati tidak selalu berasal dari lambung atau maag, bisa berasal dari pancreas, kandung empedu, liver atau usus dua belas jari. Bahkan nyeri perut di ulu hati juga bisa berhubungan dengan serangan jantung dalam hal ini serangan jantung bagian bawah (infark miokard inferior).
Nyeri ulu hati karena masalah kandung empedu terjadi karena adanya peradangan pada kandung empedu baik berlangsung akut maupun kronis. Nyeri ulu hari karena masalah di kandung empedu bisa juga terjadi karena adanya batu pada kandung empedu. Jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan batu pigmen.
Nyeri karena adanya batu kandung empedu berlangsung beberapa saat dan berulang (kolik bilier), biasanya nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung belakang. Untuk mengetahui penyebab dari nyeri ulu hati tersebut perlu dilakukan USG abdomen. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui apakah ada peradangan baik akut maupun kronis pada kandung empedu tersebut. Selain itu melalui pemeriksaan USG juga diidentifikasi adanya batu pada kandung empedu. Pemeriksaan USG abdomen juga dapat mengevaluasi saluran empedu, bisa mengidentifikasi adanya pelebaran saluran empedu.
Sumbatan bisa terjadi jika batu yang ada di kandung empedu menyumbat pada saluran empedu tersebut. Data yang ada pada kami 20 % pasien dengan keluhan nyeri ulu hati atau nyeri perut disebabkan karena gangguan pada kandung empedunya baik berupa batu di kandung empedu atau peradangan pada kandung empedu itu sendiri. Kalau dilihat dari umur 20 % kasus yang mengalami gangguan pada kandung empedu tersebut lebih dari 80 % berumur diatas 40 tahun dan tidak ada yang berumur dibawah 30 tahun.
Peradangan pada kandung empedu (kholesistitis) yang berlangsung tiba-tiba atau akut, bisa ringan dan bisa berat. Pada kondisi yang berat, infeksi bisa saja selain mengenai kandung empedu juga bisa mengenai pancreas. Bahkan bisa terjadi infeksi luas dan sistemik yang dapat membahayakan jiwa.
Pasien dengan peradangan kandung empedu akut perlu dirawat di RS dan perlu mendapat antibiotika sistemik. Kandung empedu yang bermasalah apalagi ada batu didalamnya biasanya memang kandung empedu tersebut harus diangkat (kolesistektomi). Pada kondisi yang ringan dan dengan batu kandung empedu tanpa keluhan sama sekali, biasanya tidak perlu diatasi dengan operasi. Pengobatan pada batu kandung empedu yang tunggal dan kecil (diameter kurang dari 1,5 cm) cukup dengan diet dan obat-obatan. Obat-obatan yang diberikan yaitu obat yang bekerja melarutkan batu kolesterol yaitu ursodeoxycholic acid (UDCA). Obat ini biasanya diberikan selama 3 bulan.
Pada kasus yang memang memerlukan oeprasi, saat ini sebagian besar RS juga telah menerapkan tehnik laparaskopi untuk pengangkatan kandung empedu tersebut, Melalui tehnik ini masa rawat manjadi pendek, komplikasi paska operasi menjadi minimal.
Quote:
Quote:
Kenapa seseorang bisa terkena batu empedu?
Wanita lebih banyak pada laki-laki, semakin tinggi umur semakin tinggi terkena batu kandung empedu ini, pada pasien diatas 40 tahun akan lebih berisiko untuk terjadinya batu kandung empedu. Di Amerika 25 % wanita berumur 60 tahun mengalami batu empedu dan setelah diatas 75 tahun hampir 50 % mengalami batu empedu. Resiko lain untuk terjadinya batu kandung empedu antara lain obesitas, diabetes mellitus, pasien dengan sindrom metabolik yaitu dengan obesitas, kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah, trigliserida yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, dan juga dengan gula darah yang tinggi, riwayat keluarga dengan kandung empedu, diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol dan rendah serat dan yang menarik juga ternyata penurunan berat badan yang mendadak juga bisa menyebabkan terbentuknya batu kandung empedu.
Bagi pasien yang sudah dioperasi kandung empedunya juga tetap harus menjaga makannya karena bisa saja terbentuknya pasir dan batu pada saluran empedunya walau kandung empedunya sudah diangkat.
Salam sehat,
sumber; KOMPAS.com
Wanita lebih banyak pada laki-laki, semakin tinggi umur semakin tinggi terkena batu kandung empedu ini, pada pasien diatas 40 tahun akan lebih berisiko untuk terjadinya batu kandung empedu. Di Amerika 25 % wanita berumur 60 tahun mengalami batu empedu dan setelah diatas 75 tahun hampir 50 % mengalami batu empedu. Resiko lain untuk terjadinya batu kandung empedu antara lain obesitas, diabetes mellitus, pasien dengan sindrom metabolik yaitu dengan obesitas, kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah, trigliserida yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, dan juga dengan gula darah yang tinggi, riwayat keluarga dengan kandung empedu, diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol dan rendah serat dan yang menarik juga ternyata penurunan berat badan yang mendadak juga bisa menyebabkan terbentuknya batu kandung empedu.
Bagi pasien yang sudah dioperasi kandung empedunya juga tetap harus menjaga makannya karena bisa saja terbentuknya pasir dan batu pada saluran empedunya walau kandung empedunya sudah diangkat.
Salam sehat,
sumber; KOMPAS.com
Quote:
Quote:
Lanjut ke bawah Gan
0
7.5K
Kutip
43
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ZimaZuma
#3
lanjut Gan
Quote:
Renang Mencegah Empedu Mengkristal
Quote:
Dalam perjalanan hidup ini, sekitar 15 persen dari populasi manusia akan mengalami gangguan batu empedu, dengan risiko membesar seiring bertambahnya usia. Batu empedu muncul bila cairan empedu di kandung empedu terkumpul dan mengendap.
Seiring perjalanan waktu, kolesterol yang terdapat pada cairan empedu mengkristal dan membentuk batu. Kendati penyakit batu empedu seringkali tanpa gejala, ketika keadaan memburuk gejala yang biasa ditimbulkan adalah serangan usai mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi.
Hal itu terjadi karena lemak memicu hormon lalu merangsang kandung empedu berkontraksi, sehingga empedu yang tersimpan dipaksa masuk ke dalam duedenum, yaitu jalan keluar menuju usus kecil.
Pada banyak kasus, batu di dalam empedu tidak menimbulkan gangguan dan menghilang sendiri secara alamiah. Kondisi demikian bisa juga menyebabkan penyumbatan dan menimbulkan rasa sakit, sehingga harus dioperasi.
Namun, tak usah gusar. Banyak upaya bisa dilakukan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit batu empedu. Di antaranya menjaga berat badan tetap normal, menurunkan kadar kolesterol, dan mengonsumsi makanan berserat.
Diet ketat untuk menurunkan berat badan dengan cepat tidak disarankan. Kondisi demikian justru akan merangsang hati mengeluarkan kolesterol dalam jumlah besar ke cairan empedu, sehingga bisa menimbulkan batu empedu.
Prinsip utama bagi pasien batu empedu adalah merawat kantung empedu. "Hindari konsumsi makanan berlemak, seperti daging merah dan gorengan, karena lemak bisa merangsang munculnya batu empedeu," kata dr.Errawan Wiradisuria, Sp.B dari RS.Gading Pluit Jakarta.
Mereka yang kegemukan (obesitas) juga beresiko lebih tinggi mengalami batu empedu. "Bila sudah terlanjur gemuk, turunkan berat badan hingga mencapai bobot dan kolesterol ideal," katanya.
Guna menghindari batu empedu, Dr.Errawan menyarankan untuk rajin berolahraga. Olah fisik penting untuk membakar lemak-lemak tubuh dan mengurangi risiko terbentuknya batu empedu.
"Pola hidup sehat dan hidup tertib akan membantu kita mengendalikan tingkat kolesterol tetap di bawah angka normal," tambahnya.
Dr.Andrew R.Hart dari University of Bristol di Inggris menyatakan bahwa berenang atau joging teratur bisa mencegah pembentukan batu empedu. "Gaya hidup aktif bisa memperkecil risiko terkena batu empedu hingga 60 persen," ungkapnya seperti dikutip Reuters.
Olahraga akan memicu cairan empedu bergerak seperti dikocok, sehingga mencegah untuk mengkristal. "Bila Anda banyak bergerak, cairan empedu tak punya waktu untuk membentuk kristal-kristal kolesterol sampai menjadi batu," katanya.
sumber; sehatnews.com
Seiring perjalanan waktu, kolesterol yang terdapat pada cairan empedu mengkristal dan membentuk batu. Kendati penyakit batu empedu seringkali tanpa gejala, ketika keadaan memburuk gejala yang biasa ditimbulkan adalah serangan usai mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi.
Hal itu terjadi karena lemak memicu hormon lalu merangsang kandung empedu berkontraksi, sehingga empedu yang tersimpan dipaksa masuk ke dalam duedenum, yaitu jalan keluar menuju usus kecil.
Pada banyak kasus, batu di dalam empedu tidak menimbulkan gangguan dan menghilang sendiri secara alamiah. Kondisi demikian bisa juga menyebabkan penyumbatan dan menimbulkan rasa sakit, sehingga harus dioperasi.
Namun, tak usah gusar. Banyak upaya bisa dilakukan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit batu empedu. Di antaranya menjaga berat badan tetap normal, menurunkan kadar kolesterol, dan mengonsumsi makanan berserat.
Diet ketat untuk menurunkan berat badan dengan cepat tidak disarankan. Kondisi demikian justru akan merangsang hati mengeluarkan kolesterol dalam jumlah besar ke cairan empedu, sehingga bisa menimbulkan batu empedu.
Prinsip utama bagi pasien batu empedu adalah merawat kantung empedu. "Hindari konsumsi makanan berlemak, seperti daging merah dan gorengan, karena lemak bisa merangsang munculnya batu empedeu," kata dr.Errawan Wiradisuria, Sp.B dari RS.Gading Pluit Jakarta.
Mereka yang kegemukan (obesitas) juga beresiko lebih tinggi mengalami batu empedu. "Bila sudah terlanjur gemuk, turunkan berat badan hingga mencapai bobot dan kolesterol ideal," katanya.
Guna menghindari batu empedu, Dr.Errawan menyarankan untuk rajin berolahraga. Olah fisik penting untuk membakar lemak-lemak tubuh dan mengurangi risiko terbentuknya batu empedu.
"Pola hidup sehat dan hidup tertib akan membantu kita mengendalikan tingkat kolesterol tetap di bawah angka normal," tambahnya.
Dr.Andrew R.Hart dari University of Bristol di Inggris menyatakan bahwa berenang atau joging teratur bisa mencegah pembentukan batu empedu. "Gaya hidup aktif bisa memperkecil risiko terkena batu empedu hingga 60 persen," ungkapnya seperti dikutip Reuters.
Olahraga akan memicu cairan empedu bergerak seperti dikocok, sehingga mencegah untuk mengkristal. "Bila Anda banyak bergerak, cairan empedu tak punya waktu untuk membentuk kristal-kristal kolesterol sampai menjadi batu," katanya.
sumber; sehatnews.com
0
Kutip
Balas