- Beranda
- Supranatural
Kembalinya sabda palon naya genggong
...
TS
Reusi
Kembalinya sabda palon naya genggong
siapakah sabda palon naya genggong itu ?
ialah 2 penasehat kerajaan brawijaya 5
SABDA PALON dan NAYA GENGGONG
Sabdapalon adalah pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa kuat terakhir yang beragama Hindhu dari kerajaan Majapahit di Jawa. Bagian mitologi Jawa keberadaan Sabda Palon dipercaya mbaureksa kekuasaan di Jawa (Nusantara). Sabda Palon diyakini merupakan penjelmaan derivatif Hyang Ismaya (Semar) yang memiliki kewajiban menjadi pamomong semua penguasa (manusia) di Jawa (Nusantara). Sabdo Palon atau Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Sedangkan dalam filosofi Jawa Semar disebut juga Badranaya dari gabungan kata Badra:Membangun sarana dari dasar dan Naya=Nayaka :Utusan yang kira-kira bila diterjemahkan berarti Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : Awas Merapi. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah Barat Daya. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama Sabdo Palon Noyo Genggong adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu Budha (Syiwa Budha).
Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 (1+7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah rakaat sholat lima waktu di dalam syariat Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari bumi sap pitu dan langit sap pitu yang berasal dari Tuhan YME. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan Sad Kahyangan Jagad. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
ialah 2 penasehat kerajaan brawijaya 5
SABDA PALON dan NAYA GENGGONG
Sabdapalon adalah pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa kuat terakhir yang beragama Hindhu dari kerajaan Majapahit di Jawa. Bagian mitologi Jawa keberadaan Sabda Palon dipercaya mbaureksa kekuasaan di Jawa (Nusantara). Sabda Palon diyakini merupakan penjelmaan derivatif Hyang Ismaya (Semar) yang memiliki kewajiban menjadi pamomong semua penguasa (manusia) di Jawa (Nusantara). Sabdo Palon atau Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Sedangkan dalam filosofi Jawa Semar disebut juga Badranaya dari gabungan kata Badra:Membangun sarana dari dasar dan Naya=Nayaka :Utusan yang kira-kira bila diterjemahkan berarti Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : Awas Merapi. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah Barat Daya. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama Sabdo Palon Noyo Genggong adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu Budha (Syiwa Budha).
Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 (1+7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah rakaat sholat lima waktu di dalam syariat Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari bumi sap pitu dan langit sap pitu yang berasal dari Tuhan YME. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan Sad Kahyangan Jagad. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
daun.kelor dan nawi36b memberi reputasi
2
86.3K
440
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.8KAnggota
Tampilkan semua post
rakyat bergitar
#383
Sugeng Rawuh Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong
nuwunsewu mbah sepuh TS, sedulur semua..
kulonuwon, numpang nenamu mbah..
disadur dari sedulur di 'sabdalangit'
sy sempat copas ini di thread merapi sy. rasanya ada hubungan dengan thread Mbah Sepuh TS. memang sudah lama, tapi ko ada relevansinya.
SECERCAH HARAPAN MERAPI
Hari ini (Jumat Legi tanggal 19 Nopember 2010) adalah hari ke 35 atau tepat selapan hari sejak acara labuh ke Merapi pada Jumat legi tanggal 15 Oktober 2010. Kali ini kami kembali melaksanakan ritual agung multi etnis dan multi kepercayaan yang kami pusatkan di dua tempat, Pasarean Agung Agung Kotagede di mana sumare para ratugung binatara, paranata, putra wayah dan sahandap sentono dalem. Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Enis, Panembahan Senopati, Kanjeng Ratu Kalinyakmat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Sultan Hadiwijaya (Ki Jaka Tingkir), Pangeran Jayaprana, Ki Juru Martani, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sinuhun Sampeyan nDalem Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dan di Pasarean agung Imogiri di mana sumare sapanghandap sampeyan ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati, Kanjeng Ratu Batang, Gusti Hamangkurat Jawi, Sri Sultan HB III s/d IX, Sinuhun Kanjeng Sunan Pakubuwono I s/d IX dan masih banyak lagi.
Malam itu sungguh istimewa, acara dipusatkan di dalam pelataran pasir pasarean agung Kotagede Panembahan Senopati dengan menggelar tikar dan ubo rampe sesajian lengkap juga gelar tumpeng nasi kuning komplit dan tumpeng nasi putih sebagai simbol penghormatan kepada leluhur di tlatah Kutai dan Mataram. Tak kurang nasi dus untuk semua peserta yang hadir. Acara dimulai pada jam 21.11 wib. Pranata adicara (mc) adalah abdi dalem pasarean wakil dari Solo segera membuka acara dengan sambutan singkat dan padat. Dalam membuka sambutan, berkali-kali MC megatakan sugeng rawuh katuraken dumateng panjenenganipun Raden Mas Sabdopalon ingkang paring dawuh ngleksanaaken adicara malem tirakatan punika dan MC menyebut pula nama-nama para leluhur agung yang sumare di Pasarean Agung Kota Gedhe dan Imogiri. Banyak perserta tirakatan agak bingung kenapa MC menyebut Sabdopalon dari awal acara hingga penutup dan kenapa pula tidak ada yang meralatnya. Tampak beberapa peserta agak bingung dan menyangka MC telah melakukan kesalahan dalam menyebut nama. Tapi sebagian besar lainnya tampak tetap tenang seperti tak ada yang salah.
Sugeng Rawuh Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong
Beberapa di antara kami, rekan-rekan yang memiliki bakat bawaan lahir bisa melihat dan berinteraksi dengan titah gaib. Tak mengherankan jika malam itu banyak yang menyaksikan sebagai acara yang istimewa karena benar-benar dihadiri oleh banyak leluhur besar nusantara terutama yang sumare di dua pasarean agung tersebut. Namun ada satu hal paling istimewa, di mana saat acara selesai pada jam 23.00 kami melihat ada satu leluhur yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Ternyata beliau adalah Ki Sabdopalon (saudara kembar Ki Noyogenggong). Dalam hati saya, inilah beliau sosok legendaris yang banyak dibicarakan orang, dan ternyata betul-betul ada, sebagai sosok yang sederhana mengenakan udeng di kepala. Berperawakan tidak gemuk, tidak kurus tinggi sedang semampai dengan wajah yang bersih berseri. Suara dan tutur kata yang lembut tak ubahnya seorang resi arif bijaksana. Yah, malam itulah banyak di antara kami merasa beruntung, bisa menyaksikan sosok legendaris itu betul-betul rawuh.
Apakah rawuhnya Ki Sabdopalon dan Noyogenggong sudah beberapa waktu lamanya atau baru malam itu, dengan sebelumnya ditandai Gunung Merapi meletus dahsyat 5 pada Nopember 2010 lalu ? Hal itu saya pikir tidaklah menjadi soal, yang paling penting adalah bahwa Ki Sabdopalon benar-benar telah rawuh. Beliau netepi janjine yang diucapkan pada 500 tahun lebih yang lalu. Kedatangannya bukan untuk menghancurkan, tetapi akan memberikan pelajaran hidup bagi manusia Jawa yang telah hilang kejawaannya. Pelajaran yang diberikan bukanlah dengan kekerasan, peperangan, kelicikan, atau pun keculasan. Bukan itu jalan yang bakal ditempuh. Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong tokoh yang pandai belajar dari sejarah, menghargai sejarah, dan tahu sejatinya hidup. Beliau berdua memberikan pelajaran melalui aras kasih sayang, welas asih, dan memberikan pelajaran-pelajaran berharga melalui peristiwa dan pengalaman hidup. Hanya tinggal tergantung kita saja, apakah mau dan sudi untuk belajar dari peristiwa dan pengalaman atau mau ndablek. Itu pilihan masing-masing orang. Tentu saja, masing-masing pilihan akan memiliki konsekuensi yang berlaku secara adil dan bijaksana. Yang tak mau ambil pelajaran akan rugi sendiri dan tergilas oleh dinamika zaman. Sementara yang mau belajar akan menjadi orang yang selalu beruntung, selamat, sejahtera lahir dan batin.
Kenapa Merapi Bergejolak ?
Perlu diketahui, Merapi bergolak karena ada beberapa alasan, pertama; karena ulah manusia yang sudah tidak menghargai para penghuni dimensi lain yang jelas-jelas selama ini selalu konsisten menjaga keselarasan alam semesta, sehingga lagi-lagi manusia lah yang diuntungkan. Tapi pernahkan mayoritas manusia sadar diri telah berhutang budi dan jasa kepada sesama makhluk di bumi ini, sehingga manusia beradab untuk berterimakasih ? Saya lihat yang terjadi justru sebaliknya, sebagian manusia malah mendisreditkan, menjelek-jelekan, menghina, tidak menghargai makhluk lain dengan menuduhnya sebagai sumber kesesatan, kemusrikan, angakara, dan dunia hitam kejahatan. Sekedar untuk berempati, bagaimana perasaan Anda apabila setiap saat konsisten menjaga ketentraman lingkungan masyarakat di temat mana Anda hidup, tetapi ada kelompok masyarakat yang memfitnah, mendistkreditkan, dan menuduh Anda sebagai penjahat dan biang kerok ? Sesuai janji Ki Jurutaman (abdi dalem Panembahan Senopati) ia akan tetap setia menjaga Jogjakarta dari letusan Merapi, dengan syarat, selama masyarakat masih memiliki kesadaran kosmos, untuk saling menghormati dan menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apapun wujudnya, dan bagaimanapun caranya. Terbukti ratusan tahun sejak Ki Jurutaman bertugas menjaga Merapi, gunung Merapi tak pernah sekalipun menebar abu vulkanik ke arah Jogja. Tahun 2006-2007 adalah batas kesabaran terakhir masyarakat Merapi. Tahun 2010 kesabaran itu tak lagi bisa diulurulur karena tindakan masyarakat manusia terhadap para tetangganya itu sudah keterlaluan. Inilah yang dimaksud masyarakat melanggar paugeran. Atas pelanggaran itu, berdampak sikap kecewa Ki Jurutaman yang ditandai luruhnya geger boyo (glacap gunung) pada tahun 2007 lalu . Geger boyo atau glacap gunung yakni hamparan bukit yang mirip punggung buaya, yang berada di sebelah selatan kawah Merapi berfungsi sebagai tanggul penahan arah lava pijar supaya tidak mengarah ke selatan (Jogjakarta). Sejak longsornya geger boyo pada tahun 2006, Jogjakarta mulai mendapat kiriman abu vulkanik, saat itu tahun 2007 saat Merapi terjadi erupsi, abu vulkaniknya mencapai Jalan Gejayan dan Condong Catur Yogyakarta. Peristiwa yang sama-sekali belum pernah terjadi sejak ratusan tahun silam. Alasan kedua; bergolaknya Merapi karena masyarakat halus gunung paling aktif di dunia itu hingga kini belum lah memiliki seorang ratu. Tidak seperti gunung Lawu dengan Dewi Untari (Dewi Nawang Sari). Memang banyak penguasa di sana sebut saja di antaranya adalah Mbah Petruk. Tetapi mereka bukanlah sosok yang hangratoni jagad Merapen, melainkan sekedar penguasa sebagian wilayah saja. Karena masyarakat halus Merapi lebih awas ketimbang masyarakat manusia yang sudah bebal ketajaman batinnya.
sumber
http://www.kaskus.co.id/showthread.p...780369&page=35
http://sabdalangit.wordpress.com/201...arapan-merapi/


kulonuwon, numpang nenamu mbah..
disadur dari sedulur di 'sabdalangit'
sy sempat copas ini di thread merapi sy. rasanya ada hubungan dengan thread Mbah Sepuh TS. memang sudah lama, tapi ko ada relevansinya.
SECERCAH HARAPAN MERAPI
Hari ini (Jumat Legi tanggal 19 Nopember 2010) adalah hari ke 35 atau tepat selapan hari sejak acara labuh ke Merapi pada Jumat legi tanggal 15 Oktober 2010. Kali ini kami kembali melaksanakan ritual agung multi etnis dan multi kepercayaan yang kami pusatkan di dua tempat, Pasarean Agung Agung Kotagede di mana sumare para ratugung binatara, paranata, putra wayah dan sahandap sentono dalem. Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Enis, Panembahan Senopati, Kanjeng Ratu Kalinyakmat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Sultan Hadiwijaya (Ki Jaka Tingkir), Pangeran Jayaprana, Ki Juru Martani, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sinuhun Sampeyan nDalem Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dan di Pasarean agung Imogiri di mana sumare sapanghandap sampeyan ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati, Kanjeng Ratu Batang, Gusti Hamangkurat Jawi, Sri Sultan HB III s/d IX, Sinuhun Kanjeng Sunan Pakubuwono I s/d IX dan masih banyak lagi.
Malam itu sungguh istimewa, acara dipusatkan di dalam pelataran pasir pasarean agung Kotagede Panembahan Senopati dengan menggelar tikar dan ubo rampe sesajian lengkap juga gelar tumpeng nasi kuning komplit dan tumpeng nasi putih sebagai simbol penghormatan kepada leluhur di tlatah Kutai dan Mataram. Tak kurang nasi dus untuk semua peserta yang hadir. Acara dimulai pada jam 21.11 wib. Pranata adicara (mc) adalah abdi dalem pasarean wakil dari Solo segera membuka acara dengan sambutan singkat dan padat. Dalam membuka sambutan, berkali-kali MC megatakan sugeng rawuh katuraken dumateng panjenenganipun Raden Mas Sabdopalon ingkang paring dawuh ngleksanaaken adicara malem tirakatan punika dan MC menyebut pula nama-nama para leluhur agung yang sumare di Pasarean Agung Kota Gedhe dan Imogiri. Banyak perserta tirakatan agak bingung kenapa MC menyebut Sabdopalon dari awal acara hingga penutup dan kenapa pula tidak ada yang meralatnya. Tampak beberapa peserta agak bingung dan menyangka MC telah melakukan kesalahan dalam menyebut nama. Tapi sebagian besar lainnya tampak tetap tenang seperti tak ada yang salah.
Sugeng Rawuh Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong
Beberapa di antara kami, rekan-rekan yang memiliki bakat bawaan lahir bisa melihat dan berinteraksi dengan titah gaib. Tak mengherankan jika malam itu banyak yang menyaksikan sebagai acara yang istimewa karena benar-benar dihadiri oleh banyak leluhur besar nusantara terutama yang sumare di dua pasarean agung tersebut. Namun ada satu hal paling istimewa, di mana saat acara selesai pada jam 23.00 kami melihat ada satu leluhur yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Ternyata beliau adalah Ki Sabdopalon (saudara kembar Ki Noyogenggong). Dalam hati saya, inilah beliau sosok legendaris yang banyak dibicarakan orang, dan ternyata betul-betul ada, sebagai sosok yang sederhana mengenakan udeng di kepala. Berperawakan tidak gemuk, tidak kurus tinggi sedang semampai dengan wajah yang bersih berseri. Suara dan tutur kata yang lembut tak ubahnya seorang resi arif bijaksana. Yah, malam itulah banyak di antara kami merasa beruntung, bisa menyaksikan sosok legendaris itu betul-betul rawuh.
Apakah rawuhnya Ki Sabdopalon dan Noyogenggong sudah beberapa waktu lamanya atau baru malam itu, dengan sebelumnya ditandai Gunung Merapi meletus dahsyat 5 pada Nopember 2010 lalu ? Hal itu saya pikir tidaklah menjadi soal, yang paling penting adalah bahwa Ki Sabdopalon benar-benar telah rawuh. Beliau netepi janjine yang diucapkan pada 500 tahun lebih yang lalu. Kedatangannya bukan untuk menghancurkan, tetapi akan memberikan pelajaran hidup bagi manusia Jawa yang telah hilang kejawaannya. Pelajaran yang diberikan bukanlah dengan kekerasan, peperangan, kelicikan, atau pun keculasan. Bukan itu jalan yang bakal ditempuh. Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong tokoh yang pandai belajar dari sejarah, menghargai sejarah, dan tahu sejatinya hidup. Beliau berdua memberikan pelajaran melalui aras kasih sayang, welas asih, dan memberikan pelajaran-pelajaran berharga melalui peristiwa dan pengalaman hidup. Hanya tinggal tergantung kita saja, apakah mau dan sudi untuk belajar dari peristiwa dan pengalaman atau mau ndablek. Itu pilihan masing-masing orang. Tentu saja, masing-masing pilihan akan memiliki konsekuensi yang berlaku secara adil dan bijaksana. Yang tak mau ambil pelajaran akan rugi sendiri dan tergilas oleh dinamika zaman. Sementara yang mau belajar akan menjadi orang yang selalu beruntung, selamat, sejahtera lahir dan batin.
Kenapa Merapi Bergejolak ?
Perlu diketahui, Merapi bergolak karena ada beberapa alasan, pertama; karena ulah manusia yang sudah tidak menghargai para penghuni dimensi lain yang jelas-jelas selama ini selalu konsisten menjaga keselarasan alam semesta, sehingga lagi-lagi manusia lah yang diuntungkan. Tapi pernahkan mayoritas manusia sadar diri telah berhutang budi dan jasa kepada sesama makhluk di bumi ini, sehingga manusia beradab untuk berterimakasih ? Saya lihat yang terjadi justru sebaliknya, sebagian manusia malah mendisreditkan, menjelek-jelekan, menghina, tidak menghargai makhluk lain dengan menuduhnya sebagai sumber kesesatan, kemusrikan, angakara, dan dunia hitam kejahatan. Sekedar untuk berempati, bagaimana perasaan Anda apabila setiap saat konsisten menjaga ketentraman lingkungan masyarakat di temat mana Anda hidup, tetapi ada kelompok masyarakat yang memfitnah, mendistkreditkan, dan menuduh Anda sebagai penjahat dan biang kerok ? Sesuai janji Ki Jurutaman (abdi dalem Panembahan Senopati) ia akan tetap setia menjaga Jogjakarta dari letusan Merapi, dengan syarat, selama masyarakat masih memiliki kesadaran kosmos, untuk saling menghormati dan menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apapun wujudnya, dan bagaimanapun caranya. Terbukti ratusan tahun sejak Ki Jurutaman bertugas menjaga Merapi, gunung Merapi tak pernah sekalipun menebar abu vulkanik ke arah Jogja. Tahun 2006-2007 adalah batas kesabaran terakhir masyarakat Merapi. Tahun 2010 kesabaran itu tak lagi bisa diulurulur karena tindakan masyarakat manusia terhadap para tetangganya itu sudah keterlaluan. Inilah yang dimaksud masyarakat melanggar paugeran. Atas pelanggaran itu, berdampak sikap kecewa Ki Jurutaman yang ditandai luruhnya geger boyo (glacap gunung) pada tahun 2007 lalu . Geger boyo atau glacap gunung yakni hamparan bukit yang mirip punggung buaya, yang berada di sebelah selatan kawah Merapi berfungsi sebagai tanggul penahan arah lava pijar supaya tidak mengarah ke selatan (Jogjakarta). Sejak longsornya geger boyo pada tahun 2006, Jogjakarta mulai mendapat kiriman abu vulkanik, saat itu tahun 2007 saat Merapi terjadi erupsi, abu vulkaniknya mencapai Jalan Gejayan dan Condong Catur Yogyakarta. Peristiwa yang sama-sekali belum pernah terjadi sejak ratusan tahun silam. Alasan kedua; bergolaknya Merapi karena masyarakat halus gunung paling aktif di dunia itu hingga kini belum lah memiliki seorang ratu. Tidak seperti gunung Lawu dengan Dewi Untari (Dewi Nawang Sari). Memang banyak penguasa di sana sebut saja di antaranya adalah Mbah Petruk. Tetapi mereka bukanlah sosok yang hangratoni jagad Merapen, melainkan sekedar penguasa sebagian wilayah saja. Karena masyarakat halus Merapi lebih awas ketimbang masyarakat manusia yang sudah bebal ketajaman batinnya.
sumber
http://www.kaskus.co.id/showthread.p...780369&page=35
http://sabdalangit.wordpress.com/201...arapan-merapi/


0