Quote:
Boooooosaaaaaan...., gerutu ku dalam hati, di kamar sambil tiduran, dengerin musik dan tak lupa pula hp yang selalu aktif berbunyi. Selama liburan kekasihku makin aktif menelpon ku, wajar saja selama aku kuliah waktu ku bersamanya hanya tengah malam. Dan besoknya mata ku langsung terasa penih karena kurang tidur. Tapi itu tak masalah bagi ku, yang penting dia senang dan aku juga senang.
Aku tak tau apa saja yang kami bicarakan, namun setiap di telpon, cerita dan kisah tiada habisnya terlontar, sampai tak tau waktu (ga usah di jelasin ngomong apa aja ya, kalo di jabarin satu-satu yang nulisnya capek. Hehehe).
***
Tak berapa lama..
Teteh, mau ikut atau gak?, tiba-tiba mama datang menghampiri ke kamar ku dan bertanya.
Emang mau kemana ma?, tanya ku bingung, tumben-tumbenan aja gitu ngajak kalo mau pergi, biasanya juga ga bilang-bilang.
Sodara kita ada yang nikah di Jakarta bulan Januari, kalo teteh mau ikut biar mama pesenin tiketnya, biar kita pergi berdua, sambungnya menjelaskan pada ku.
Teteh masih libur kan?, tanya nya lagi pada ku.
Masih ma, teteh masih libur, jawab ku semangat.
Tanpa basa basi lagi mama langsung memesan tiketnya dan besoknya tiket itu sudah ada di tangan ku.
Tanggal 20 Januari, baca ku dalam hati.
Waah, masih lama, ga sabar, gerutu ku dalam hati.
***
Malamnya..
Seperti biasanya tengah malam, para LDR menghabiskan waktu pada malam hari. Berhubung biara telpon yang lebih murah serta suasana yang mendukung buat berdua.
00:00 WIB
Aku segera menelponnnya. Tak berapa lama telpon ku di angkat. Aku benar-benar tak bisa manahan diri untuk mengulur waktu. Dan langsung saja..
Sayang, sayang tau ga bulan Januari Hasna mau ke Jakarta, ucap ku langsung tanpa basa basi.
Tapi masih lama yank, tanggal 20 Januari Hasna berangkat, ntar kita ketemu ya yank, sambungku terus tanpa memberi kekasihku kesempatan untuk berbicara.
Sayaaang udah ngomongnya?, tanya kekasih ku dari ujung sana yang bingung dengan apa yang ku bicarakan.
Sayang, kalo ngomong pake titik koma, trus sebelum ngomong itu ucapin salam dulu kalo temponnnya gue angkat, jelasnya dengan penuh kelembutan menasehatiku.
Heheee, iya sayang, abis nya ga sabar pengeng cerita tau, jawab ku sambil tertawa.
Assalamualaikum sayang, sapa ku mengulangi nasehatnya.
Walaikumsalam, nah sekarang ngomong pelan-pelan, jawab nya dengan jelas dan panjang lebar ku utarakan masudku ke Jakarta.
***
Sayaaang, kayaknya acara nonton kita batal, ortu Hasna ga ngijinin Hasna pergi, kalau Hasna tetep pergi Hasna bakalan di gampar, ungkap ku menyesal. Dengan linangan air mata ku ungkapkan satu per satu hal dan alasan pembatalan acara itu.
Yaa.. sebelumnya kami sudah membuat acara, bahwa hari pertama aku tiba di Jakarta akan mengadakan acara nonton bareng. Sekalian bertemu untuk pertama kalinya, awalnya aku yakin akan terjadi, namun batal karena aku tak dapat ijin.
Yaudah gpp, kalau gitu kita ga usah jadi ketemu aja ya, ucapannnya dengan nada sangat kecewa (aku yakin ia benar-benar kecewa, tapi aku bisa apa).
Untuk ketemu aja sulit ya, kayaknya emang harus gue yang kesana, jelas nya lagi.
Aku hanya bisa diam sesekali memohon maaf karena sudah membatalkan acara itu. Dengan penjelasan dan kesabaran akhirnya dia mengerti dan menerima semuanya.