TS
buhitoz
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Selamet malem.
Permisi, para sepuh sekalian.
Saya mau bikin trit tentang wayang.
Wayang dengan segala kisahnya, tokoh-tokohnya, karakter yang menyertainya
dan berbagai faktor eksternal yang melengkapi kehadirannya seakan bagai sumur yang tidak pernah kering.
Menjadi obrolan mulai dari warung kopi sampai cafe yang mentereng.
Oleh tukang becak sampai presiden.
Dari bromocorah sampai ulama.
Wayang, selain dibahas mengenai lakon dan tokohnya juga menjadi bahan kajian yang menarik dari berbagai sudut pandang.
Oleh karena itu, dengan segala hormat, saya membikin trit ini tidak lain untuk tempat berbagi informasi dan pengetahuan lain tentang wayang.
Mohon bimbingan dari para sepuh.

Permisi, para sepuh sekalian.
Saya mau bikin trit tentang wayang.
Wayang dengan segala kisahnya, tokoh-tokohnya, karakter yang menyertainya
dan berbagai faktor eksternal yang melengkapi kehadirannya seakan bagai sumur yang tidak pernah kering.
Menjadi obrolan mulai dari warung kopi sampai cafe yang mentereng.
Oleh tukang becak sampai presiden.
Dari bromocorah sampai ulama.
Wayang, selain dibahas mengenai lakon dan tokohnya juga menjadi bahan kajian yang menarik dari berbagai sudut pandang.
Oleh karena itu, dengan segala hormat, saya membikin trit ini tidak lain untuk tempat berbagi informasi dan pengetahuan lain tentang wayang.
Mohon bimbingan dari para sepuh.

0
130.6K
2K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
2.5KThread•1.6KAnggota
Tampilkan semua post
kumy
#886
Wayang Kulit Betawi

Jakarta.go.id - Melihat beberapa persamaannya yang terdapat pada wayang kulit sepanjang pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai Tangerang, tampaknya wayang Betawi merupakan degradasi beranting dari Jawa Tengah sampai Jakarta dan sekitarnya.
Wayang kulit Betawi dalam bentuknya dewasa ini, di iringi gamelan logam. Beberapa orang dalang lanjut usia, seperti : Neran (75 tahun) di Cibubur, Kapang (82 tahun) almarhum di Kampung Buek, Tambun dan Belentet kampung rawa Ruko, Tambun, Bekasi, mengatakan bahwa sampai tahun dua puluhan pergelaran Wayang Betawidi daerah DKI Jakarta dan sekitarnya masih lazim di iringi gamelan bambu, yang bentuknya seperti calung Banyumas.
Seperti lazimnya pergelaran wayang kulit, wayang kulit Betawi juga biasa menggunakan kelir, yang menurut istilah setempat biasa disebut kore. Alat musik pengiringnya terdiri dari gendang, terompet, (ada juga menggunakan rebab), dua buah saron, keromong, kedemung, kecrek, kempul dan gong.
Pergelaran wayang kulit Betawi adalah dilaksanakn dalam bentuk arena, dengan pentas sejajar dengan penonton. Pada umumnyta bermain di atas tanah di bawah "tarub" di halaman rumah. Baru akhir-akhir ini beberapa dalang mulai mengadakan pergelaran di atas panggung.
Lakon-lakon yang dipergelarkan dalam wayang Betawi kebanyakan lakon carangan "dari Mahabarata", dengan cerita-cerita yang khas Betawi, seperti "Bambang Sinar Matahari", "Barong Buta Sapujagat", "Cepot Jadi Raja" "Banteng Ulung Jiwa Loro", "Perabu Takalima Danawi", "Kunpayakun", "Sadariah KOdariah" dan sebagainya. Pada perkembangan kemudian banyak juga membawakan lakon-lakon wayang golek Sunda, seperti "Sang Hiyang Rancasan", "Kresna Malang Dewa Sukma", dan lain-lain. Menurut istilah Dalang Kapang, Neran, Saman dan Sa'an. Mereka dianggap memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, mencukupi syarat melakukan "ruwatan", dengan pertunjukkan khusus, membawakan lakon Nurwakala, yang menurut istilah setempat disebut lakon "Betara Kala", disertai sesajen lengkap untuk keperluan itu.
Dalang wayang kulit Betawi dewasa ini antara lain Neran, Niin, di Cibubur, Oking, Kamplong di Munjul, Asmat di Cijantung, Marjuki di Cakung; Comong di Pulo Jae, Jakarta Timur. Di Jakarta Selatan terdapat dalang Bonang dan Sa'an Jagakarsa. Di Jakarta Barat adalah antara lain dalang Usman dan Jari di Cengkareng.
http://www.jakarta.go.id/jakv1/item/...5/263/nid/2159
Belum jelas benar kapan wayang kulit Betawi mulai hidup dan berkembang. Menurut beberapa sumber, wayang kulit Betawi berhubungan dengan penyerangan tentara Sultan Agung dari Mataram ke Batavia. Peristiwa ini terjadi pada saat Batavia dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen. Atas dasar itu wayang kulit Betawi mempunyai persamaan dengan wayang kulit Jawa Tengah.
Walaupun ada persamaan, tapi antara wayang kulit Betawi dengan wayang Jawa Tengah tetap ada perbedaan. Di Jawa Tengah wayang kulit dibina dan dikembangkan oleh pihak kraton. Maka wayang kulit Jawa Tengah harus mengikuti pakem yang telah ada. Wayang kulit Betawi lebih merakyat, sederhana, polos, dan mementingkan keakraban dengan penontonnya.
Wayang kulit Jawa Tengah yang lebih dekat kepada wayang kulit Betawi adalah wayang kulit Banyumas. Wayang kulit Betawi dan wayang kulit Banyumas menampilkan lakon saduran dan para punakawan ditampilkan sebagai tokoh favorit atau tokoh utama.
Wayang kulit Betawi sering membawakan cerita bukan dari kitab Mahabrata dan Ramayana. Ia menampilkan lakon kehidupan sehari-hari. Hal itu didukung oleh penggunaan bahasa Betawi, khususnya bahasa Betawi Ora.
Pengaruh Sunda sebenarnya lebih menonjol. Lagu-lagu yang mengiringi pergelaran wayang kulit Betawi adalah lagu-lagu Sunda. Disebut lagu-lagu Sunda gunung. Lagu-lagu itu sering pula dibawakan oleh topeng Betawi, topeng blantek, rebana biang, dan tanjidor. Lagu-lagu khas wayang kulit Betawi, misalnya : Jiro, Bendrong, Rinci-Rinci, Rayah-Rayah, Kekawen, Wewawangan, Karawitan Bata Rubuh, dan lain-lain.
Musik yang mengiringi wayang kulit Betawi disebut gamelan ajeng. Alat musik gamelan ajeng terdiri atas : terompet (sering juga digunakan rebab), dua buah saron, gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan goong. Namun dahulu sampai tahun 1920-an, wayang kulit Betawi diiringi gamelan bambu.
Wayang kulit Betawi sering mengambil lakon dari wayang golek yang berasal dari Mahabrata. Misalnya lakon : Sang Hyang Rancasan, Arjuna Dipotong, Gatotkaca Tapa, Pendawa Dua, Anta Sakti, Dewa Kesuma, Kresna Malang Dewa Sukma, Menak Putra, Jaya Antara, dan sebagainya. Namun lebih banyak lagi lakon khas Betawi. Misalnya : Kunfayakun, Saadul Hak, Bambang Sinar Matahari, Kyai Haji Sukiranak, Barong Buta Sapujagat, Muris kimpoi, Cepot Jadi Raja, Banteng Ulung Jiwa Loro, Prabu Takalima Danawi, Sadariah Kodariah, dan sebagainya.
Bagi para pendukungnya, wayang kulit Betawi memiliki fungsi ritual. Ia ditanggap untuk membayar nazar dan ruwat. Ruwat adalah upacara menolak bala bagi keluarga yang mempunyai susunan anak yang istimewa. Misalnya anak tunggal, satu anak lelaki diapit anak perempuan, satu anak perempuan diapit dua anak lelaki, dan sebagainya. Tidak semua dalang mampu melaksanakan pementasan untuk upacara ruwat. Dalang yang masih muda belum mampu mengendalikan Betara Kala. Ruwatan hanya dilakukan oleh dalang senior yang matang. Dalang senior yang matang dianggap memiliki kemampuan spiritual yang tinggi.
Dalang wayang kulit Betawi yang masih bertahan samapai saat ini adalah : Niin dan Neran di Cibubur, Oking dan Komplong di Munjul, Asmat di Cijantung, Marjuki di Cakung, Comong di Pulo Jae, Bonang dan Saan di Jagakarsa, dan Usman di Cengkareng.
Daearah yang dianggap gudang wayang kulit Betawi adalah Tambun. Saking terkenalnya wayang kulit Betawi dari Tambun, banyak orang mengenalnya sebagai wayang Tambun. Wilayah Jakarta Timur, khususnya Kecamatan Pasar Rebo dan Cakung termasuk tempat subur bagi wayang kulit Betawi. Wilayah Jakarta Selatan terdapat di Kecamatan Pasar Minggu. Wilayah Jakarta Utara di Kecamatan Cilincing. Wilayah Jakarta Barat di Kecamatan Cengkareng.
http://lembagakebudayaanbetawi.com/a...g-kulit-betawi

Secara umum serupa dengan Wayang Kulit Purwa Jogjakarta. Wayang Kulit Betawi, menggunakan bahasa Betawi yang bercampur logat Jawa, Penduduk Jakarta, yang terdiri atas berbagai macam suku bangsa, Dari bentuk fisik wayangnya, urutan adegan yang ditampilkan, bisa dipastikan Wayang Kulit Betawi ini adalah turunan langsung dari Wayang Kulit Purwa. Diperkirakan sewaktu Sultan Agung Anyakrakusuma mengerahkan prajurit Mataram menggempur Batavia, pada tahun 1628 dan 1629, sebagian tentaranya tercecer di daerah pinggiran kota bagian selatan dan tenggara.
Mereka inilah yang kemudian menetap dan membawa budaya Wayang Kulit Purwa ke daerah sebelah timur dan tenggara Betawi. Dalam pertumbuhannya selama ratusan tahun, Wayang Purwa itu dipengaruhi unsur budaya Betawi, Sunda, dan Cina - sehingga jadilah seperti yang dapat disaksikan sekarang. Misalnya, toya yang merupakan salah satu senjata tradisional Cina, kadang-kadang muncul dalam Wayang Betawi, walaupun yang menggunakan toya dalam wayang itu adalah tokoh panakawan. Perbedaan lain antara Wayang Kulit Betawi dengan Wayang Kulit Purwa adalah unsur peran serta penonton. Peran serta penonton Wayang Betawi jauh lebih menonjol, hampir serupa dengan pergelaran Wayang Golek Sunda. Pada Wayang Kulit Betawi, antara dalang, penabuh gamelan, dan penonton dapat menyatu menjadi kesatuan pertunjukan yang mendekati utuh.
http://www.pdwi.org/index.php?option...sia&Itemid=187
0