TS
otaku_insider
[Trit Fanfic] Waifu Holygrail War
![[Trit Fanfic] Waifu Holygrail War](https://dl.kaskus.id/i1205.photobucket.com/albums/bb431/papa_santos/ff.png)
Quote:
- Thread ini adalah tempat para pemain WHW memposting karya fanficnya.
- Selain peserta dilarang untuk memposting apapun di thread ini.
- Para peserta hanya diperkenankan untuk mempost fanficnya saja di thread ini.
- Para peserta tidak diperbolehkan untuk chit chat/berkomentar tentang fanfic peserta lainnya di thread ini.
- Postingan yang sekiranya tidak perlu akan segera dihapus.
Quote:
jika ada pertanyaan yang berkaitan dengan kontes fanfic ini, silahkan tanyakan saja di trit diskusi
:
komentar, chit chat, atau apapun yg berkaitan dengan trit ini silahkan pos di sana juga, jangan di sini oce
: komentar, chit chat, atau apapun yg berkaitan dengan trit ini silahkan pos di sana juga, jangan di sini oce

Story Setting
Quote:
Sebuah berita yang mengekspos keberadaan Waifu Holygrail War menyebar di kota AKIBA dengan sangat cepat, hal itu disebabkan oleh berbagai media massa yang sempat meliput sebuah fenomena aneh yang terjadi dalam kota tersebut. Salah satunya adalah terdapat banyak coretan aneh yang bertuliskan "HOLYGRAIL WAR IS NEAR! ANON IS REAL!" berukuran raksasa, yang menempel pada spot-spot dan lokasi penting di AKIBA. Belum ada konfirmasi yang jelas dari pihak berwajib tentang siapa dalang di balik semua ini. Mereka sempat beranggapan bahwa perbuatan tersebut hanyalah salah satu bentuk kenakalan anak muda jaman sekarang saja. Namun kemudian, bukti konkrit yang mengejutkan jutaan penduduk di AKIBA itu pun muncul di situs bernama UCUBE. Sebuah rekaman CCTV yang mengabadikan detik-detik ketika coretan raksasa itu dibuat telah membuat mereka semua yang menyaksikannya semakin bertanya-tanya.
Dalam rekaman tersebut terlihat dengan sangat jelas jika coretan-coretan itu secara ajaib terbentuk dengan sendirinya. Berbagai pihak telah menyatakan pendapatnya tentang hal ini, beberapa dari mereka masih tetap menyangkal dan menuduh hal tesebut sebagai salah satu rekayasa teknologi yang dapat dengan mudah dilakukan pada abad ini. Namun ternyata lebih banyak orang yang percaya bahwa hal tersebut merupakan sebuah konfirmasi nyata dari suatu eksistensi yang sama sekali bukan manusia. Kemudian mereka pun mulai beramai-ramai menebar spekulasi mereka masing-masing tentang hal ini di dunia maya, namun tiba-tiba saja di waktu yang bersamaan seorang user internet yang berinisial 'Terminator' mengaku bahwa dirinya adalah utusan ANON dan merupakan pelaku di balik kejahilan global yang melanda kota AKIBA tersebut. Dirinya membuat pengakuan ini di berbagai situs web yang didalamnya terdapat user-user yang tinggal di kota AKIBA. Dirinya juga menyertai deskripsi lengkap tentang aturan dan ketentuan permainan WHW pada setiap postingannya di dunia maya.
Berbagai kalangan dari beberapa komunitas intelektual hanya beranggapan jika hal konyol ini tidak lebih dari sekedar postingan troll belaka dan merupakan salah satu kebohongan publik dengan skala yang besar. Namun ada saja beberapa orang yang percaya dengan sesuatu yang menurut mereka sangat menarik dan menantang ini. Mereka ini pun kemudian dengan sengaja menyatakan kesanggupannya untuk ikut serta dalam permainan yang bernama Waifu Holygrail War ini kepada sang 'Terminator'.
Dan hanya mereka yang benar-benar percaya sajalah yang akan dipilih secara khusus oleh ANON untuk menjadi pemain dalam permainan Waifu Holygrail War. Mereka terdiri dari 16 orang yang masing-masing telah mendapat persetujuan ANON untuk menjadi pemain yang akan bersaing di dalam pertempuran yang dapat merenggut nyawa mereka sendiri ini.
Dalam rekaman tersebut terlihat dengan sangat jelas jika coretan-coretan itu secara ajaib terbentuk dengan sendirinya. Berbagai pihak telah menyatakan pendapatnya tentang hal ini, beberapa dari mereka masih tetap menyangkal dan menuduh hal tesebut sebagai salah satu rekayasa teknologi yang dapat dengan mudah dilakukan pada abad ini. Namun ternyata lebih banyak orang yang percaya bahwa hal tersebut merupakan sebuah konfirmasi nyata dari suatu eksistensi yang sama sekali bukan manusia. Kemudian mereka pun mulai beramai-ramai menebar spekulasi mereka masing-masing tentang hal ini di dunia maya, namun tiba-tiba saja di waktu yang bersamaan seorang user internet yang berinisial 'Terminator' mengaku bahwa dirinya adalah utusan ANON dan merupakan pelaku di balik kejahilan global yang melanda kota AKIBA tersebut. Dirinya membuat pengakuan ini di berbagai situs web yang didalamnya terdapat user-user yang tinggal di kota AKIBA. Dirinya juga menyertai deskripsi lengkap tentang aturan dan ketentuan permainan WHW pada setiap postingannya di dunia maya.
Berbagai kalangan dari beberapa komunitas intelektual hanya beranggapan jika hal konyol ini tidak lebih dari sekedar postingan troll belaka dan merupakan salah satu kebohongan publik dengan skala yang besar. Namun ada saja beberapa orang yang percaya dengan sesuatu yang menurut mereka sangat menarik dan menantang ini. Mereka ini pun kemudian dengan sengaja menyatakan kesanggupannya untuk ikut serta dalam permainan yang bernama Waifu Holygrail War ini kepada sang 'Terminator'.
Dan hanya mereka yang benar-benar percaya sajalah yang akan dipilih secara khusus oleh ANON untuk menjadi pemain dalam permainan Waifu Holygrail War. Mereka terdiri dari 16 orang yang masing-masing telah mendapat persetujuan ANON untuk menjadi pemain yang akan bersaing di dalam pertempuran yang dapat merenggut nyawa mereka sendiri ini.
Quote:
Berbagai ketentuan mutlak yang terjadi saat pemilihan pemain:
> Setiap calon pemain akan dikirimi sebuah pesan singkat yang berisi tentang ucapan selamat karena telah terpilih sebagai salah satu pemain dalam permainan WHW.
> Pesan singkat tersebut dapat berasal dari berbagai macam media komunikasi, seperti SMS, e-mail, telepon rumah, surat dari kotak pos, radio, televisi, dan berbagai media lainnya.
> Isi pesan singkat tersebut beraneka ragam, dari mulai isi pesan yang sangat formal, sampai isi pesan yang terkesan tidak niat sama sekali.
> Setelah pemain mendapatkan pesan tersebut, maka dari tangan kanannya akan segera muncul sebuah gambar yang membentuk sebuah simbol bertuliskan WHW, disertai dengan nama waivant dan classnya.
> Waivant akan secara otomatis tersummon ke dunia ini setelah pemain kembali ke kediaman masing-masing, waivant tersebut akan keluar dari sebuah magic circle aneh yang bisa muncul dari mana saja di rumah sang pemain.
> Seorang waivant telah dibekali pengetahuan lengkap tentang aturan dan ketentuan dalam permainan ini.
> Setiap calon pemain akan dikirimi sebuah pesan singkat yang berisi tentang ucapan selamat karena telah terpilih sebagai salah satu pemain dalam permainan WHW.
> Pesan singkat tersebut dapat berasal dari berbagai macam media komunikasi, seperti SMS, e-mail, telepon rumah, surat dari kotak pos, radio, televisi, dan berbagai media lainnya.
> Isi pesan singkat tersebut beraneka ragam, dari mulai isi pesan yang sangat formal, sampai isi pesan yang terkesan tidak niat sama sekali.
> Setelah pemain mendapatkan pesan tersebut, maka dari tangan kanannya akan segera muncul sebuah gambar yang membentuk sebuah simbol bertuliskan WHW, disertai dengan nama waivant dan classnya.
> Waivant akan secara otomatis tersummon ke dunia ini setelah pemain kembali ke kediaman masing-masing, waivant tersebut akan keluar dari sebuah magic circle aneh yang bisa muncul dari mana saja di rumah sang pemain.
> Seorang waivant telah dibekali pengetahuan lengkap tentang aturan dan ketentuan dalam permainan ini.
All Star Index
Quote:
Spoiler for ABRE:
1. ekka4shiki x Ryougi Shiki
Spoiler for INDEX:
2. lala4jach x Louise Françoise le Blanc de la Vallière
Spoiler for INDEX:
3. undead098 x Mami Tomoe
Spoiler for INDEX:
4. dantd95 x Hitagi Senjougahara
Spoiler for INDEX:
5. altheonix x Sakura Kyouko
Spoiler for INDEX:
6. what_a_joke x Flandre Scarlet
Spoiler for INDEX:
7. kurogawa x Tachibana Kanade
Spoiler for INDEX:
8. girindera x Yuri "Yurippe" Nakamura
Spoiler for INDEX:
0
28.2K
Kutip
259
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
shojogun
#30
[Prolog, Part 1] [Flandre Scarlet]
Spoiler for :
Aku teringat hari itu. Kedua orang tuaku bertengkar untuk kesekian kalinya.
"Apa hubunganmu dengannya? Selingkuhan barumu? Besok akan kupecat dia !"
"Dia rekan kerjaku ! Memangnya dengan 1 kali dia mengantarku pulang, kami sudah punya hubungan seperti yang kau pikirkan?"
"Lalu kemana kau sabtu kemarin? Kupikir kau berangkat untuk rapat, namun kudengar kau malah keluar bersamanya !! Dasar pramuria !!"
"Kau sendiri? Siapa itu Michiko?"
"Diaaaam !!"
Berisik...
"..."
"..."
"..."
Suara - suara aneh itu muncul lagi di kepalaku..
Apa yang ingin disampaikan oleh suara - suara ini? Aku pun tidak tahu. Suara ini terdengar seperti suara seorang anak perempuan, namun terdengar samar - samar dan tidak jelas.
Entah sejak kapan suara - suara ini seakan mulai menghantui pikiranku. Yang kutahu, aku butuh pelampiasan jika aku ingin suara - suara tersebut lenyap, meskipun hanya sesaat.
Bagaimana caraku mendapatkan pelampiasan ini? Aku harus bermain.
Aku pun berjalan kembali ke kamarku, sementara kedua orang tuaku masih beradu mulut.
Sesampainya di kamar, aku pun berbaring ke tempat tidurku. Sembari berbaring, aku memperhatikan sekitarku. Dinding dan langit - langit kamarku berwarna putih. Kamarku memang terkesan kosong, selain karena luasnya yang cukup besar, kamarku tidak ditempati banyak benda besar, seperti rak ataupun lemari. Hanya ada 1 meja belajar, tempat tidurku dan 2 lemari kecil. 1 lemari berisi pakaianku dan satunya lagi berisi buku - buku dan mainan - mainanku. Bisa dikatakan, tidak ada yang memasuki kamar ini selain aku.
Suara - suara ini makin mendenging di kepalaku. Aku ingin bermain. Aku pun membuka lemari mainanku, dan mengambil beberapa action figure. Kuletakkan mereka di lantai, sembari aku mengambil palu dari kotak peralatan yang kuambil sembunyi - sembunyi. Kuhantam dengan keras sampai figure - figure tersebut tidak berbentuk lagi.
Inilah permainanku. Pelampiasanku, pembebasan sementaraku terhadap suara - suara aneh tersebut.
Tapi lama - lama aku mulai bosan. Mainan - mainan ini terlalu mudah untuk dihancurkan.
Aku tertawa, sementara napasku mulai terbata - bata. Pikiranku mulai tenang, dan aku pun kembali berbaring. Selagi aku berbaring, aku memperhatikan marmut peliharaanku,yang kutaruh di kandang yang terletak di atas meja belajarku. Aku bangkit kembali dan berjalan menuju meja belajarku.
Saat aku sudah berada di depan kandangnya, marmut peliharaanku bersembunyi. "Keluarlaaah.." kataku sambil mendekatkan jemariku ke tubuhnya yang sedang bersembunyi. Namun, saat dia keluar sambil mengejar jemariku, dia terlihat seperti ketakutan, dan berteriak. Meskipun suaranya kecil, aku cukup kaget dan tak sengaja menjentakkan jariku ke tubuhnya. Dia memanjat ke jariku dan mengigit jariku.
Tiba - tiba suara aneh itu kembali berdengung di kepalaku. Tanpa pikir panjang, aku menarik marmut itu keluar dari kandangnya, dan kulempar dia ke dinding kamarku. Marmut itu terlempar dengan kuat. Tubuhnya hancur sebagian, dan darahnya menempel di dinding kamarku.
Suara itu semakin menganggu, dan aku menoleh ke cermin yang terletak di meja belajarku. Mataku melotot. Otot wajahku seakan memaksaku untuk tersenyum sinis.
Ternuyata marmut itu masih hidup. Nafsu yang misterius tiba - tiba memenuhi pikiranku. Kuambil palu yang tadi masih terletak di lantai kamarku, dan kuhantamkan ke tubuh marmut itu.
Darah muncrat dari tubuhnya yang kecil sembari teriakannya dan ayunan paluku yang semakin keras. Kuhantam makhluk kecil tak berdaya itu hingga dia menjadi gumpalan merah yang tidak jelas lagi bentuknya.
Aku pun tak kuasa menahan tawa. Perasaan ini sangat menyegarkan. Suara - suara itu pun hilang dari kepalaku. Benar - benar kegiatan yang mengasikkan
Mainan - mainanku pun semakin bertambah banyak jenisnya. Selain bermain dengan marmut, aku juga bermain dengan ikan hias dan burung. Saat itu, aku paling senang bermain dengan kucing. Teriakannya saat permainan berlangsung sangat merdu. Apalagi disaat aku melumat seekor anak kucing di depan induknya. Teriakan dari keduanya benar - benar sangat enak didengar.
Lama kelamaan, aku mulai terbiasa dengan suara - suara yang menghantui pikiranku. Tapi aku tidak bisa lepas dari permainan bersama binatang - binatang kecil ini. Hobby ini terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan. Tapi kurasa hobby ini juga terlalu sayang jika kunikmati sendiri.
Aku pun membawa seekor kucing ke sekolahku.
Di sekolahku aku termasuk anak yang pendiam. Murid dan pegawai sekolahku terkesan takut padaku. Kalaupun ada yang mau berbicara denganku, itupun hanya penjilat yang mengharapkan sesuatu dariku. Aku sendiri selalu menjauh dari mereka. Aku tidak peduli dan tidak ingin berteman dengan sampah - sampah seperti itu.
Namun aku punya seorang teman. Namanya adalah Asuka Sakurada. Dia adalah anak perempuan yang supel, meskipun tidak cukup cerdas. Dia adalah satu - satunya anak yang berani berbicara denganku secara terang - terangan.
Pagi itu aku mengelus - elus kepala kucing yang kubawa. Dia dalam keadaan tidak sadar karena sebelumnya kuberi obat bius. "Nanti siang kita akan bermain bersama Asuka... Pasti mengasyikkan." kataku sambil tersenyum. Sebenarnya tidak diperbolehkan membawa binatang ke sekolah, tapi aku tahu guru - guru terlalu takut untuk memperingatkanku, anak dari investor terbesar sekolah ini.
"Wah, Kagami-kun, kenapa kau membawa kucing ke sekolah? Memangnya kau tidak takut dimarahi oleh bu guru nanti?" tanya Asuka kepadaku pagi itu. Aku tidak menjawabnya. "Tapi kucing ini lucu sekali yah.. Hehehe.." lanjutnya.
"Apakah kau mau bermain dengannya?" balasku.
"Aku mauuuu" kata Asuka dengan antusias.
"Baiklah, kita akan bermain dengannya nanti saat istirahat siang. Kita ke taman belakang sekolah saja yah" kataku lagi.
Saat istirahat siang, kami pun berjalan menuju taman belakang sekolah. Tempat ini sepi, biarpun saat istirahat. Aku pun mengeluarkan alat - alat permainanku, dari palu, tang, sebungkus paku dan pisau dapur.
"Hah? Apa yang ingin kamu lakukan dengan alat - alat itu?" teriaknya sambil terbelalak. "Tentu saja kita akan bermain dengannya !" kataku sambil mencabut telinga kucing yang kubawa itu dengan tang.
Kucing itu mulai sadar dan mengerang kesakitan karena telinganya telah robek. Aku pun tertawa. Menyenangkan sekali !!
"Pembunuuuh !!" teriaknya sambil berlari dariku.
Asuka mulai menjauhiku. Dia sepertinya tidak membicarakan soal kejadian kemarin kepada teman - temannya. Aku tidak mengerti, kenapa dia tidak mau bermain denganku. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.
Aku tidak suka ini.
Bagaimana kalau aku membuat dia menjadi mainanku? Sepertinya dia lebih asik menjadi mainan ketimbang menjadi teman bermain.
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah lebih awal. Sembari menunggu Asuka, aku duduk di kelasku yang berada di lantai 3. Aku sendiri di kelas dan aku tahu Asuka selalu datang paling pagi.
Saat aku duduk melamun sambil memandang papan tulis di depan, mendadak suara - suara itu mulai terngiang di kepalaku. Kali ini suaranya sangat membuatku sakit kepala. Aku pun menutup mataku dan menjedukkan kepalaku ke mejaku.
"Krieeet..." Suara pintu terbuka.
Aku pun mengangkat kembali kepalaku dan sangat kaget ketika sekelompok badut masuk ke kelasku. Mereka membawa seorang pria setengah bawa yang sudah telanjang. Diikatkannya pria itu di depan papan tulis. Mereka pun mulai bernyanyi dan tertawa dengan histeris
.
Mendadak di sampingku ada seorang anak perempuan. Rambutnya pirang, dan pakaiannya berwarna merah.
Dia mengandengku, dan membawaku berjalan ke depan kelas. Seorang badut memberikanku sebilah pisau.
Anak perempuan itu tersenyum kepadaku, dan berkata
"..."
"..."
"..."
Sama persis seperti suara - suara yang selalu menggangguku selama ini.
Aku pun tertawa dan mulai mencabik - cabik pria tua di depanku. Dia berteriak kesakitan saat kutusukkan pisau itu ke matanya.
Tiba - tiba, pintu kelasku terbuka lagi. Kali ini Asuka yang kaget melihatku. Badut - badut, pria tua mainanku dan anak perempuan tadi tiba - tiba menghilang. Namun pisau yang kupakai masih berada di tanganku, meskipun tanpa bercak darah.
Asuka melarikan diri dan aku mengejarnya.
"Toloooooong !!" teriaknya.
"Asukaaaa, aku ingin bermaiiiiin !!"
Aku hampir berhasil mengejarnya, namun saat berada di tikungan, dia terpeleset dan jatuh.
Jatuh dari lantai 3.
Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan informasi bahwa tulang kaki Asuka hancur, dan dia tidak dapat berjalan lagi dengannya.
Asuka ternyata mainan yang terlalu gampang rusak.
Membosankan...
"Apa hubunganmu dengannya? Selingkuhan barumu? Besok akan kupecat dia !"
"Dia rekan kerjaku ! Memangnya dengan 1 kali dia mengantarku pulang, kami sudah punya hubungan seperti yang kau pikirkan?"
"Lalu kemana kau sabtu kemarin? Kupikir kau berangkat untuk rapat, namun kudengar kau malah keluar bersamanya !! Dasar pramuria !!"
"Kau sendiri? Siapa itu Michiko?"
"Diaaaam !!"
Berisik...
"..."
"..."
"..."
Suara - suara aneh itu muncul lagi di kepalaku..
Apa yang ingin disampaikan oleh suara - suara ini? Aku pun tidak tahu. Suara ini terdengar seperti suara seorang anak perempuan, namun terdengar samar - samar dan tidak jelas.
Entah sejak kapan suara - suara ini seakan mulai menghantui pikiranku. Yang kutahu, aku butuh pelampiasan jika aku ingin suara - suara tersebut lenyap, meskipun hanya sesaat.
Bagaimana caraku mendapatkan pelampiasan ini? Aku harus bermain.
Aku pun berjalan kembali ke kamarku, sementara kedua orang tuaku masih beradu mulut.
Sesampainya di kamar, aku pun berbaring ke tempat tidurku. Sembari berbaring, aku memperhatikan sekitarku. Dinding dan langit - langit kamarku berwarna putih. Kamarku memang terkesan kosong, selain karena luasnya yang cukup besar, kamarku tidak ditempati banyak benda besar, seperti rak ataupun lemari. Hanya ada 1 meja belajar, tempat tidurku dan 2 lemari kecil. 1 lemari berisi pakaianku dan satunya lagi berisi buku - buku dan mainan - mainanku. Bisa dikatakan, tidak ada yang memasuki kamar ini selain aku.
Suara - suara ini makin mendenging di kepalaku. Aku ingin bermain. Aku pun membuka lemari mainanku, dan mengambil beberapa action figure. Kuletakkan mereka di lantai, sembari aku mengambil palu dari kotak peralatan yang kuambil sembunyi - sembunyi. Kuhantam dengan keras sampai figure - figure tersebut tidak berbentuk lagi.
Inilah permainanku. Pelampiasanku, pembebasan sementaraku terhadap suara - suara aneh tersebut.
Tapi lama - lama aku mulai bosan. Mainan - mainan ini terlalu mudah untuk dihancurkan.
Aku tertawa, sementara napasku mulai terbata - bata. Pikiranku mulai tenang, dan aku pun kembali berbaring. Selagi aku berbaring, aku memperhatikan marmut peliharaanku,yang kutaruh di kandang yang terletak di atas meja belajarku. Aku bangkit kembali dan berjalan menuju meja belajarku.
Saat aku sudah berada di depan kandangnya, marmut peliharaanku bersembunyi. "Keluarlaaah.." kataku sambil mendekatkan jemariku ke tubuhnya yang sedang bersembunyi. Namun, saat dia keluar sambil mengejar jemariku, dia terlihat seperti ketakutan, dan berteriak. Meskipun suaranya kecil, aku cukup kaget dan tak sengaja menjentakkan jariku ke tubuhnya. Dia memanjat ke jariku dan mengigit jariku.
Tiba - tiba suara aneh itu kembali berdengung di kepalaku. Tanpa pikir panjang, aku menarik marmut itu keluar dari kandangnya, dan kulempar dia ke dinding kamarku. Marmut itu terlempar dengan kuat. Tubuhnya hancur sebagian, dan darahnya menempel di dinding kamarku.
Suara itu semakin menganggu, dan aku menoleh ke cermin yang terletak di meja belajarku. Mataku melotot. Otot wajahku seakan memaksaku untuk tersenyum sinis.
Ternuyata marmut itu masih hidup. Nafsu yang misterius tiba - tiba memenuhi pikiranku. Kuambil palu yang tadi masih terletak di lantai kamarku, dan kuhantamkan ke tubuh marmut itu.
Darah muncrat dari tubuhnya yang kecil sembari teriakannya dan ayunan paluku yang semakin keras. Kuhantam makhluk kecil tak berdaya itu hingga dia menjadi gumpalan merah yang tidak jelas lagi bentuknya.
Aku pun tak kuasa menahan tawa. Perasaan ini sangat menyegarkan. Suara - suara itu pun hilang dari kepalaku. Benar - benar kegiatan yang mengasikkan
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Mainan - mainanku pun semakin bertambah banyak jenisnya. Selain bermain dengan marmut, aku juga bermain dengan ikan hias dan burung. Saat itu, aku paling senang bermain dengan kucing. Teriakannya saat permainan berlangsung sangat merdu. Apalagi disaat aku melumat seekor anak kucing di depan induknya. Teriakan dari keduanya benar - benar sangat enak didengar.
Lama kelamaan, aku mulai terbiasa dengan suara - suara yang menghantui pikiranku. Tapi aku tidak bisa lepas dari permainan bersama binatang - binatang kecil ini. Hobby ini terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan. Tapi kurasa hobby ini juga terlalu sayang jika kunikmati sendiri.
Aku pun membawa seekor kucing ke sekolahku.
Di sekolahku aku termasuk anak yang pendiam. Murid dan pegawai sekolahku terkesan takut padaku. Kalaupun ada yang mau berbicara denganku, itupun hanya penjilat yang mengharapkan sesuatu dariku. Aku sendiri selalu menjauh dari mereka. Aku tidak peduli dan tidak ingin berteman dengan sampah - sampah seperti itu.
Namun aku punya seorang teman. Namanya adalah Asuka Sakurada. Dia adalah anak perempuan yang supel, meskipun tidak cukup cerdas. Dia adalah satu - satunya anak yang berani berbicara denganku secara terang - terangan.
Pagi itu aku mengelus - elus kepala kucing yang kubawa. Dia dalam keadaan tidak sadar karena sebelumnya kuberi obat bius. "Nanti siang kita akan bermain bersama Asuka... Pasti mengasyikkan." kataku sambil tersenyum. Sebenarnya tidak diperbolehkan membawa binatang ke sekolah, tapi aku tahu guru - guru terlalu takut untuk memperingatkanku, anak dari investor terbesar sekolah ini.
"Wah, Kagami-kun, kenapa kau membawa kucing ke sekolah? Memangnya kau tidak takut dimarahi oleh bu guru nanti?" tanya Asuka kepadaku pagi itu. Aku tidak menjawabnya. "Tapi kucing ini lucu sekali yah.. Hehehe.." lanjutnya.
"Apakah kau mau bermain dengannya?" balasku.
"Aku mauuuu" kata Asuka dengan antusias.
"Baiklah, kita akan bermain dengannya nanti saat istirahat siang. Kita ke taman belakang sekolah saja yah" kataku lagi.
Saat istirahat siang, kami pun berjalan menuju taman belakang sekolah. Tempat ini sepi, biarpun saat istirahat. Aku pun mengeluarkan alat - alat permainanku, dari palu, tang, sebungkus paku dan pisau dapur.
"Hah? Apa yang ingin kamu lakukan dengan alat - alat itu?" teriaknya sambil terbelalak. "Tentu saja kita akan bermain dengannya !" kataku sambil mencabut telinga kucing yang kubawa itu dengan tang.
Kucing itu mulai sadar dan mengerang kesakitan karena telinganya telah robek. Aku pun tertawa. Menyenangkan sekali !!
"Pembunuuuh !!" teriaknya sambil berlari dariku.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Asuka mulai menjauhiku. Dia sepertinya tidak membicarakan soal kejadian kemarin kepada teman - temannya. Aku tidak mengerti, kenapa dia tidak mau bermain denganku. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.
Aku tidak suka ini.
Bagaimana kalau aku membuat dia menjadi mainanku? Sepertinya dia lebih asik menjadi mainan ketimbang menjadi teman bermain.
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah lebih awal. Sembari menunggu Asuka, aku duduk di kelasku yang berada di lantai 3. Aku sendiri di kelas dan aku tahu Asuka selalu datang paling pagi.
Saat aku duduk melamun sambil memandang papan tulis di depan, mendadak suara - suara itu mulai terngiang di kepalaku. Kali ini suaranya sangat membuatku sakit kepala. Aku pun menutup mataku dan menjedukkan kepalaku ke mejaku.
"Krieeet..." Suara pintu terbuka.
Aku pun mengangkat kembali kepalaku dan sangat kaget ketika sekelompok badut masuk ke kelasku. Mereka membawa seorang pria setengah bawa yang sudah telanjang. Diikatkannya pria itu di depan papan tulis. Mereka pun mulai bernyanyi dan tertawa dengan histeris
.
Mendadak di sampingku ada seorang anak perempuan. Rambutnya pirang, dan pakaiannya berwarna merah.
Dia mengandengku, dan membawaku berjalan ke depan kelas. Seorang badut memberikanku sebilah pisau.
Anak perempuan itu tersenyum kepadaku, dan berkata
"..."
"..."
"..."
Sama persis seperti suara - suara yang selalu menggangguku selama ini.
Aku pun tertawa dan mulai mencabik - cabik pria tua di depanku. Dia berteriak kesakitan saat kutusukkan pisau itu ke matanya.
Tiba - tiba, pintu kelasku terbuka lagi. Kali ini Asuka yang kaget melihatku. Badut - badut, pria tua mainanku dan anak perempuan tadi tiba - tiba menghilang. Namun pisau yang kupakai masih berada di tanganku, meskipun tanpa bercak darah.
Asuka melarikan diri dan aku mengejarnya.
"Toloooooong !!" teriaknya.
"Asukaaaa, aku ingin bermaiiiiin !!"
Aku hampir berhasil mengejarnya, namun saat berada di tikungan, dia terpeleset dan jatuh.
Jatuh dari lantai 3.
Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan informasi bahwa tulang kaki Asuka hancur, dan dia tidak dapat berjalan lagi dengannya.
Asuka ternyata mainan yang terlalu gampang rusak.
Membosankan...
0
Kutip
Balas