Kaskus

News

merkapaAvatar border
TS
merkapa
[JANGAN LUPA KREDIT FOTO!]Foto2 Pesawat2 Fighter
tempat foto2 pesawat tempur

F-16 RTAF


Spoiler for F-16:


INDEX

Deskripsi Umum Pesawat Fighter:
Bag. 1
Bag. 2 [b] [c] [d]
Bag. 3
Bag. 4 [b]
Bag. 5
Bag.6
Bag.7
0
179.1K
1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
Militer
KASKUS Official
20.4KThread10.8KAnggota
Tampilkan semua post
jojo8228Avatar border
jojo8228
#586
Lanjutan Pesawat Fighter, Bag. 2
Periode Antar-Perang (1919–38)


Pengembangan fighter melambat selama periode antar-perang ini, terutama di AS dan UK, di mana anggarannya dipotong besar-besaran. Di Perancis, Italia dan Rusia, di mana anggaran diijinkan untuk pengembangan besar, baik monoplane dan pesawat berstruktur logam yang umum pada akhir 1920an. Akan tetapi mereka telalu banyak menghamburkan uang dan akhirnya malah dilalui oleh negara yang tidak terlalu banyak menghamburkan uang, AS, Inggris dan Jerman, pada awal 1930.

Dengan terbatasnya anggaran pertahanan, AU cenderung konservatif dalam pengadaan pesawat, dan tipe biplane masih populer dengan pilot karena kelincahannya, dan tetap beroperasi dalam jangka waktu lama karena kompetitif. Desain seperti Gloster Gladiator, Fiat CR.42, dan Polikarpov I-15 merupakan desain umum walaupun di akhir 1930an dan banyak yang masih dioperasikan hingga akhir 1942. Hingga awal 1930an, sebagian besar fighter di AS, Inggris, Italia dan Rusia masih merupakan biplane yang dilapisi oleh kain. Persenjataan fighter akhirnya mulai dipasang di dalam sayap, di luar busur proSENSOR, walaupun kebanyakan masih mempertahankan penggunaan dua senapan mesin yang disinkronisasi di tepat di depan pilot (yeng merupakan bagian terkuat dari struktur pesawat). Senapan dengan kaliber.30 dan .303 (7.62 mm) tetap menjadi favorit karena senjata yang lebih besar terlalu berat dan terlalu susah untuk digunakan atau dianggap tidak perlu untuk pesawat ringan. Persenjataan tipe PD I masih terus digunakan dalam menghadapi fighter musuh karena tidak cukupnya pertempuran udara-ke-udara untuk menyanggah anggapan ini.


Spoiler for Mesin Rotary:



Mesin rotary, populer selama PD I, dengan cepat mulai hilang setelah mencapai puncaknya karena gaya rotasi menjegah bahan bakar dan udara untuk dikirim ke silinder, yang pada akhirnya membatasi tenaga yang dihasilkan. Mesin ini terutama digantikan terutama oleh mesin radial stasioner meskipun pengembangan mesin terus dibuat dengan mesin inline yang mendapatkan dasarnya dengan beberapa mesin, termasuk 1,145 cu in/18.8 L V-12 Curtiss D-12. Tenaga mesin pesawat meningkat beberapa kali lipat selama periode ini, dari 180 hp (130 kW) pada Fokker D.VII 1918 menjadi 900 hp (670 kW) pada Curtiss P-36 1938. Debat antara mesin in-line versus model radial berlanjut, AU naval lebih menyukai mesin radial, sementara AD lebih memilih mesin in-line. Desain radial tidak memerlukan sistem pendingin terpisah (dan rentan), tetapi telah meningkatkan drag. Mesin in-line memiliki rasio tenaga-ke-berat yang lebih baik. Akan tetapi, mesin radial dapat tetap bekerja dengan baik walaupun telah mengalami kerusakan parah akibat pertempuran.


Spoiler for Mesin Radial:



Beberapa AU bereksperimen dengan “heavy fighters" (yang disebut "destroyer" oleh Jerman). Pesawat ini lebih besar, biasanya dengan mesin kembar, kadang-kadang merupakan adaptasi dari tipe bomber kecil maupun menengah. Desain semacam ini biasanya memiliki kapasitas bahan bakar internal yang lebih besar (yang tentu saja meningkatkan jarak operasional pesawat) dan persenjataan yang lebih berat dari pada pesawat bermesin tunggal. Dalam pertempuran, pesawat ini terbukti rentan terhadap fighter yang bermesin tunggal yang lebih lincah.


Spoiler for Mesin in-line:



Pada masa akhir periode antar perang, terjadi Perang Sipil Spanyol. Ini merupakan kesempatan bagi Luftwaffe Jerman, Regia Aeronautica Italia, dan Red Air Force Uni Soviet untuk menguji kemampuan pesawat terbaru mereka. Setiap pihak mengirimkan sejumlah pesawat untuk mendukung setiap kepentingannya di konflik. Pada dogfight di atas Spanyol, fighter Messerschmitt (Bf 109) terbukti memiliki kemampuan yang sangat baik, begitu juga denganPolikarpov I-16 milik Soviet. Desain Jerman memiliki ruang yang sangat besar untuk pengembangan dan pengalaman yang didapat selama perang ini mengarah pada pengembangan model yang jauh lebih baik pada PD II. Russia, yang merupakan pihak yang kalah, gagal untuk menjaga kecepatan pengembangan pesawat, dan I-16 dikalahkan oleh Bf-109 yang sudah dikembangkan pada PD II. Dan walaupun model yang lebih baru bermunculan, I-16 tetap menjadi fighter garis-depan utama hingga 1942.

Italia mengembangkan beberapa monoplane seperti Fiat G.50, tetapi karena kekurangan dana, mereka dipaksa untuk tetap mengoperasikan pesawat biplane Fiat CR.42 yang usang. Dari awal 1930an, Jepang telah berperang di China melawan Nasionalis China dan juga Rusia. Jepang menggunakan pengalamannya untuk mengembangkan pelatihan dan pesawat, mengganti pesawat biplane dengan pesawat monoplane canteveler modern, dan membentuk kader untuk pilot istimewa untuk diterjunkan dalam Perang Pasifik. Di Inggris, di bawah perintah Neville Chamberlain, seluruh industri aviasi Inggris diperlengkapi kembali, yang mengijinkan perubahan cepat dari pesawat biplane berangka logam yang dilapisi kain menjadi pesawat monoplane canteveler pada waktu perang dengan Jerman.Tanpa usahanya pada awal 30an, Churchill tidak akan memiliki pendukung untuk mengalahkan Jerman. Periode untuk pengembangan pesawat biplane mulai berakhir, dan fighter Hawker Hurricane dan Supermarine Spitfire akhirnya mulai menggantikan fighter biplane Gloster Gladiator dan Hawker Fury walaupun mereka tetapi dioperasikan di garis depan. Walaupun Spanyol bukan kombatan, mereka menyerap banyak pelajaran.


Spoiler for Formasi Finger-Four:



Perang Sipil Spanyol juga menyediakan kesempatan untuk memperbarui taktik fighter. Salah satu inovasi yang dihasilkan dari pengalaman peperangan udara adalah formasi "finger-four" oleh pilot Jerman Werner Mölders. Setiap skuadron fighter dibagi menjadi beberapa penerbangan (Schwärme) yang tiap-tiapnya terdiri dari empat pesawat. Setiap Schwarm dibagi menjadi dua Rotten yang merupakan sepasang pesawat. Setiap Rotte terdiri dari pemimpin dan wingman. Formasi fleksibel ini membuat pilot dapat mempertahankan kewaspadaan situasional, dan dua Rotten dapat berpisah kapan saja untuk menyerang musuhnya sendiri. Taktik finger-four kemudian diadopsi secara luas dan menjadi formasi taktis dasar selama Perang Dunia.


Bersambung....


Sumber: http://jojo8228.blogspot.com
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.