TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#115
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 4.2
Kenapa kau tidak menyadarinya juga? Kau sudah resmi menjadi salah satu dari kami. Kau sudah menjadi vampir. ujar drakula itu sambil tertawa kecil Dan sekarang, aku tahu tenggorokanmu terasa terbakar bukan? Ha! Itu karena kau belum minum darah!
Seluruh perkataan drakula itu membuat Indra terbelalak lebar. Pemuda itu langsung menerjang ke depan dan berusaha meraih kerah jubah si drakula, tapi drakula itu jauh lebih cepat. Dia menangkap lengan Indra dan melempar pemuda itu dengan mudah ke deretan bangku di sampingnya. Tubuh Indra membentur bangku-bangku kayu itu dengan sangat keras. Indra langsung berteriak kesakitan.
Ck..ck..ck Kau tidak seharusnya berlaku kasar pada tuanmu, ujar si drakula itu sambil menggoyangkan telunjuknya di depan wajah pucatnya. Dan kenapa kau masih berusaha melawanku? Tunduklah pada nafsumu dan minumlah sepuasmu di bawah cahaya rembulan ini. Tidakkah kau merasa haus? Puaskanlah dahagamu!
Suara drakula itu sekali lagi membuat kesadaran Indra mengabur sesaat, tapi lama-kelamaan dia semakin mudah melawan pengaruh drakula itu. Tapi makhluk penghisap darah itu benar, leher Indra terasa terbakar dan perih. Seakan-akan ada yang menyalakan api di dalam tenggorokannya. Rasa sakit itu membuat Indra semakin senewen.
Aku tidak akan tunduk padamu! seru Indra sambil berusaha bangkit. Aku tidak akan minum darah manusia! Walaupun itu akan membuatku terbunuh!
Drakula itu menatap Indra dengan kedua matanya yang berwarna merah. Dia baru pertama kali ini bertemu dengan vampir yang dia ciptakan, tapi tidak mau tunduk pada perintahnya. Seumur hidupnya yang begitu panjang, drakula itu selalu berhasil menciptakan pengikut yang selalu setia padanya. Tapi yang satu ini sepertinya berbeda.
Aku kecewa. Rupanya yang satu ini karya gagal, ujar drakula itu sambil menggelengkan kepalanya, dia langsung menunjukkan sebelah tangannya yang kini ditumbuhi kuku tajam. Sayang sekali. Padahal awalnya kukira kau akan menjadi pengikut yang menarik. Kalau sudah begini, kubiarkan hidup juga kau tidak akan berguna. Lebih baik kau kubunuh saja.
Drakula itu mengucapkan kata-kata itu dengan entengnya. Lalu sedetik kemudian, makhluk penghisap darah itu sudah melesat ke arah Indra. Indra hampir tidak sempat melihat gerakannya karena terlalu cepat, tapi berkat refleksnya yang sekarang jauh lebih baik dari manusia biasa, dia memutar tubuhnya dan menghindari cakar si drakula yang tadi mengarah ke jantungnya.
Tanpa pikir panjang, Indra langsung mengerahkan salah satu jurus tendangan yang dia pelajari dari perguruan pencak silatnya. Karena tidak menyangka akan diserang, drakula itu tidak sempat menghindar dan terkena telak tendangan Indra. Tubuh makhluk penghisap darah itu terhempas dan menghantam deretan kursi di podium teratas.
Kurang ajar!! Sekarang aku akan sungguh-sungguh!!!! bentak drakula itu sambil berdiri. Dia sama sekali tidak merasakan sakit akibat serangan Indra dan akibat menghantam kursi kayu.
Drakula itu langsung melesat ke arah Indra. Indra dengan penuh percaya diri berusaha menahan pukulan makhluk itu. Tapi rupanya kekuatan fisiknya berbeda cukup jauh, tubuh Indra langsung terjungkal ke belakang dan jatuh ke atas bangku, 2 tingkat di bawahnya.
Indra berusaha segera bangun tapi belum sempat melakukan apapun, cakar si drakula sudah menghantam perutnya. Cakar sekuat baja itu langsung menembus perut pemuda itu dan membuatnya berteriak kesakitan. Tapi si drakula tidak peduli, dengan kejam, dia mengangkat tubuh Indra. Dalam kondisi cakar yang masih menembus perut pemuda malang itu. Dengan sekali ayunan, dia lalu melemparkan Indra hingga ke pinggiran lapangan bola di stadion itu.
Tubuh pemuda itu berguling-guling sejauh beberapa meter, baru akhirnya berhenti. Rumput di lapangan itu langsung basah oleh darah yang mengalir dari luka di perutnya. Indra nyaris tidak bisa berpikir sama sekali, dia dibutakan oleh rasa sakit yang dideritanya. Tapi anehnya rasa sakit itu perlahan-lahan hilang. Pada saat yang sama luka di perutnya menutup dengan cepat.
Tentu saja si drakula tidak mau berhenti sampai di situ saja. Dia langsung melompat tinggi dan mendarat dengan lembut di dekat Indra.
Sayang sekali kau harus kuhabisi, ujar si drakula itu sambil memandang Indra dengan tatapan jijik. Padahal kalau kau menuruti perintahku, kau bisa jadi pengikut yang sangat baik.
Indra memegangi perutnya yang terluka dan berusaha menahan rasa sakit yang dia derita. Dengan tegas, Indra membalas perkataan drakula itu.
Lebih baik aku mati daripada menjadi pengikutmu! balas Indra dengan tegas.
Drakula itu langsung mengernyitkan wajahnya. Wajahnya yang tadi sebenarnya cukup tampan, langsung berubah menjadi mengerikan. Sambil berseru penuh kemarahan, dia mengayunkan cakarnya ke arah leher Indra. Dia bermaksud memotong kepala Indra dan membuangnya jauh-jauh. Dengan cara ini, seorang penghisap darah yang nyaris abadi, bisa dibunuh tanpa peralatan magis.
Tapi begitu cakarnya hampir menyentuh leher Indra. Tiba-tiba cakar drakula itu seperti membentur sesuatu yang keras. Cakarnya terpantul kembali dan membuat drakula itu nyaris kehilangan keseimbangannya. Dia langsung melompat mundur dan menyadari sebuah tirai tipis transparan telah tercipta di sekitar pemuda itu. Drakula itu terbelalak tidak percaya.
Dinding pembatas? tanyanya pada dirinya sendiri Bagaimana bisa?
Tentu saja bisa.
Tiba-tiba ada suara lain membalas perkataan drakula itu. Dia langsung menoleh dan melihat sesosok pria berambut perak panjang, berdiri tidak jauh darinya. Pria itu tampak seperti pria biasa yang memiliki wajah agak mesum. Tapi tentu drakula itu tahu kalau orang yang ada di dekatnya ini bukan manusia biasa. Aroma yang dikeluarkannya jelas bukan manusia. Aroma ini bahkan bukan aroma yang biasa dikeluarkan oleh makhluk gaib tingkat rendah.
Dewa? ujar drakula itu setengah tidak percaya.
Tepat! balas pria itu sambil berjalan mendekati si drakula tanpa rasa takut. Sudah kuduga ada makhluk gaib tidak tahu aturan yang membuat masalah di kotaku. Tapi tidak kusangka yang ini adalah keturunan langsung dari Vladimir von Dracul sendiri. Siapa namamu?
Drakula itu tampak terkejut ketika mendengar nama leluhurnya disebut. Vladimir von Dracul adalah leluhur dari para drakula dan vampir modern. Ada satu hal yang membedakan antara drakula dan vampir. Makhluk penghisap darah yang mendapat julukan drakula berasal dari keturunan Vlad si drakula. Mereka mampu menciptakan vampir dengan ritual saling menghisap darah. Sementara para vampir adalah julukan umum bagi makhluk-makhluk penghisap darah pada umumnya. Para vampir tidak bisa menciptakan pengikut, dan sebagian besar memiliki kulit yang sensitif terhadap cahaya matahari. Mereka memang bisa berjalan tanpa terbakar jadi abu di bawah sinar matahari, tapi kulit mereka mudah melepuh dan mengalami sun burn. Beberapa malah memiliki mata yang terlalu sensitif, hingga tidak bisa berjalan di bawah sinar matahari tanpa bantuan kacamata UV yang berkualitas tinggi.
Si drakula langsung mendesis ke arah pria yang mengaku Dewa itu. Wajahnya kembali menjadi buruk rupa.
Apa urusannya kau dengan namaku? tanya si drakula dengan suara mendesis yang menakutkan.
Yah, kalau kau tidak mau mengatakannya terserah saja, ujar dewa itu dengan santai. Ngomong-ngomong namaku Yudha Prabowo. Salam kenal.
Tutup mulutmu! bentak drakula itu sambil melesat cepat ke arah sang Dewa.
Dewa itu tampak tenang-tenang saja. Dia bahkan sama sekali tidak berniat menghindar. Tapi begitu cakar si drakula nyaris mencapai jantung dewa bernama Yudha itu, cakarnya kembali membentur dinding pembatas dan terpental. Kali ini si drakula tidak mau berhenti begitu saja, dia terus menerus menyerang dinding pembatas yang melindungi Yudha dengan berbagai serangan. Namun semuanya sia-sia. Dinding itu sama sekali tidak bergeming.
Sudah selesai? tanya Yudha dengan santai, dia lalu meraih sesuatu di balik punggungnya. Kalau begitu giliranku ya.
Sambil berkata demikian, Yudha menarik beberapa lembar kertas kuning yang bertuliskan kata-kata dalam bahasa sanskerta. Pria itu langsung melemparkan kertas-kertas itu ke tubuh si drakula. Drakula itu tidak sempat menghindar, karena gerakan Yudha sangat cepat.
Ketika kertas-kertas itu menyentuh tubuh si drakula, terjadi ledakan-ledakan dahsyat yang melemparkan makhluk itu jauh ke belakang. Drakula itu terhempas dengan keras tapi dengan cepat dia segera bangkit.
Sial! Kenapa kalian diam saja! Serang dia, wahai pengikut-pengikutku!! seru drakula itu.
Kemudian sunyi.
Tidak satupun pengikutnya datang memenuhi panggilannya. Drakula itu terbelalak lebar dan memandang ke sekelilingnya. Dia lalu memandang lurus ke arah podium, tempat para pengikutnya tadi berkumpul. Dengan kedua matanya yang sangat tajam dan mampu melihat menembus kegelapan, dia dengan jelas melihat sisa-sisa pengikutnya. Onggokan pakaian dan debu berkilauan yang berserakan di salah satu tingkat podium penonton tersebut. Drakula itu langsung menyadari kalau semua pengikutnya sudah musnah, kecuali satu orang.
Semua pengikutmu sudah kumusnahkan. Tidak perlu tanya bagaimana caranya, yang pasti sudah tidak ada lagi yang akan datang membantumu, ujar Yudha dengan santai. Menyerah saja. Tidak lama lagi kau juga akan kumusnahkan.
Mendengar perkataan Yudha, drakula itu langsung ketakutan. Baru kali ini dia merasa begitu ketakutan. Drakula itu langsung melompat tinggi ke udara. Sepasang sayap kelelawar langsung muncul di punggungnya dan dengan cepat, dia melesat ke arah luar stadion.
Spoiler for "Part 4.2":
Kenapa kau tidak menyadarinya juga? Kau sudah resmi menjadi salah satu dari kami. Kau sudah menjadi vampir. ujar drakula itu sambil tertawa kecil Dan sekarang, aku tahu tenggorokanmu terasa terbakar bukan? Ha! Itu karena kau belum minum darah!
Seluruh perkataan drakula itu membuat Indra terbelalak lebar. Pemuda itu langsung menerjang ke depan dan berusaha meraih kerah jubah si drakula, tapi drakula itu jauh lebih cepat. Dia menangkap lengan Indra dan melempar pemuda itu dengan mudah ke deretan bangku di sampingnya. Tubuh Indra membentur bangku-bangku kayu itu dengan sangat keras. Indra langsung berteriak kesakitan.
Ck..ck..ck Kau tidak seharusnya berlaku kasar pada tuanmu, ujar si drakula itu sambil menggoyangkan telunjuknya di depan wajah pucatnya. Dan kenapa kau masih berusaha melawanku? Tunduklah pada nafsumu dan minumlah sepuasmu di bawah cahaya rembulan ini. Tidakkah kau merasa haus? Puaskanlah dahagamu!
Suara drakula itu sekali lagi membuat kesadaran Indra mengabur sesaat, tapi lama-kelamaan dia semakin mudah melawan pengaruh drakula itu. Tapi makhluk penghisap darah itu benar, leher Indra terasa terbakar dan perih. Seakan-akan ada yang menyalakan api di dalam tenggorokannya. Rasa sakit itu membuat Indra semakin senewen.
Aku tidak akan tunduk padamu! seru Indra sambil berusaha bangkit. Aku tidak akan minum darah manusia! Walaupun itu akan membuatku terbunuh!
Drakula itu menatap Indra dengan kedua matanya yang berwarna merah. Dia baru pertama kali ini bertemu dengan vampir yang dia ciptakan, tapi tidak mau tunduk pada perintahnya. Seumur hidupnya yang begitu panjang, drakula itu selalu berhasil menciptakan pengikut yang selalu setia padanya. Tapi yang satu ini sepertinya berbeda.
Aku kecewa. Rupanya yang satu ini karya gagal, ujar drakula itu sambil menggelengkan kepalanya, dia langsung menunjukkan sebelah tangannya yang kini ditumbuhi kuku tajam. Sayang sekali. Padahal awalnya kukira kau akan menjadi pengikut yang menarik. Kalau sudah begini, kubiarkan hidup juga kau tidak akan berguna. Lebih baik kau kubunuh saja.
Drakula itu mengucapkan kata-kata itu dengan entengnya. Lalu sedetik kemudian, makhluk penghisap darah itu sudah melesat ke arah Indra. Indra hampir tidak sempat melihat gerakannya karena terlalu cepat, tapi berkat refleksnya yang sekarang jauh lebih baik dari manusia biasa, dia memutar tubuhnya dan menghindari cakar si drakula yang tadi mengarah ke jantungnya.
Tanpa pikir panjang, Indra langsung mengerahkan salah satu jurus tendangan yang dia pelajari dari perguruan pencak silatnya. Karena tidak menyangka akan diserang, drakula itu tidak sempat menghindar dan terkena telak tendangan Indra. Tubuh makhluk penghisap darah itu terhempas dan menghantam deretan kursi di podium teratas.
Kurang ajar!! Sekarang aku akan sungguh-sungguh!!!! bentak drakula itu sambil berdiri. Dia sama sekali tidak merasakan sakit akibat serangan Indra dan akibat menghantam kursi kayu.
Drakula itu langsung melesat ke arah Indra. Indra dengan penuh percaya diri berusaha menahan pukulan makhluk itu. Tapi rupanya kekuatan fisiknya berbeda cukup jauh, tubuh Indra langsung terjungkal ke belakang dan jatuh ke atas bangku, 2 tingkat di bawahnya.
Indra berusaha segera bangun tapi belum sempat melakukan apapun, cakar si drakula sudah menghantam perutnya. Cakar sekuat baja itu langsung menembus perut pemuda itu dan membuatnya berteriak kesakitan. Tapi si drakula tidak peduli, dengan kejam, dia mengangkat tubuh Indra. Dalam kondisi cakar yang masih menembus perut pemuda malang itu. Dengan sekali ayunan, dia lalu melemparkan Indra hingga ke pinggiran lapangan bola di stadion itu.
Tubuh pemuda itu berguling-guling sejauh beberapa meter, baru akhirnya berhenti. Rumput di lapangan itu langsung basah oleh darah yang mengalir dari luka di perutnya. Indra nyaris tidak bisa berpikir sama sekali, dia dibutakan oleh rasa sakit yang dideritanya. Tapi anehnya rasa sakit itu perlahan-lahan hilang. Pada saat yang sama luka di perutnya menutup dengan cepat.
Tentu saja si drakula tidak mau berhenti sampai di situ saja. Dia langsung melompat tinggi dan mendarat dengan lembut di dekat Indra.
Sayang sekali kau harus kuhabisi, ujar si drakula itu sambil memandang Indra dengan tatapan jijik. Padahal kalau kau menuruti perintahku, kau bisa jadi pengikut yang sangat baik.
Indra memegangi perutnya yang terluka dan berusaha menahan rasa sakit yang dia derita. Dengan tegas, Indra membalas perkataan drakula itu.
Lebih baik aku mati daripada menjadi pengikutmu! balas Indra dengan tegas.
Drakula itu langsung mengernyitkan wajahnya. Wajahnya yang tadi sebenarnya cukup tampan, langsung berubah menjadi mengerikan. Sambil berseru penuh kemarahan, dia mengayunkan cakarnya ke arah leher Indra. Dia bermaksud memotong kepala Indra dan membuangnya jauh-jauh. Dengan cara ini, seorang penghisap darah yang nyaris abadi, bisa dibunuh tanpa peralatan magis.
Tapi begitu cakarnya hampir menyentuh leher Indra. Tiba-tiba cakar drakula itu seperti membentur sesuatu yang keras. Cakarnya terpantul kembali dan membuat drakula itu nyaris kehilangan keseimbangannya. Dia langsung melompat mundur dan menyadari sebuah tirai tipis transparan telah tercipta di sekitar pemuda itu. Drakula itu terbelalak tidak percaya.
Dinding pembatas? tanyanya pada dirinya sendiri Bagaimana bisa?
Tentu saja bisa.
Tiba-tiba ada suara lain membalas perkataan drakula itu. Dia langsung menoleh dan melihat sesosok pria berambut perak panjang, berdiri tidak jauh darinya. Pria itu tampak seperti pria biasa yang memiliki wajah agak mesum. Tapi tentu drakula itu tahu kalau orang yang ada di dekatnya ini bukan manusia biasa. Aroma yang dikeluarkannya jelas bukan manusia. Aroma ini bahkan bukan aroma yang biasa dikeluarkan oleh makhluk gaib tingkat rendah.
Dewa? ujar drakula itu setengah tidak percaya.
Tepat! balas pria itu sambil berjalan mendekati si drakula tanpa rasa takut. Sudah kuduga ada makhluk gaib tidak tahu aturan yang membuat masalah di kotaku. Tapi tidak kusangka yang ini adalah keturunan langsung dari Vladimir von Dracul sendiri. Siapa namamu?
Drakula itu tampak terkejut ketika mendengar nama leluhurnya disebut. Vladimir von Dracul adalah leluhur dari para drakula dan vampir modern. Ada satu hal yang membedakan antara drakula dan vampir. Makhluk penghisap darah yang mendapat julukan drakula berasal dari keturunan Vlad si drakula. Mereka mampu menciptakan vampir dengan ritual saling menghisap darah. Sementara para vampir adalah julukan umum bagi makhluk-makhluk penghisap darah pada umumnya. Para vampir tidak bisa menciptakan pengikut, dan sebagian besar memiliki kulit yang sensitif terhadap cahaya matahari. Mereka memang bisa berjalan tanpa terbakar jadi abu di bawah sinar matahari, tapi kulit mereka mudah melepuh dan mengalami sun burn. Beberapa malah memiliki mata yang terlalu sensitif, hingga tidak bisa berjalan di bawah sinar matahari tanpa bantuan kacamata UV yang berkualitas tinggi.
Si drakula langsung mendesis ke arah pria yang mengaku Dewa itu. Wajahnya kembali menjadi buruk rupa.
Apa urusannya kau dengan namaku? tanya si drakula dengan suara mendesis yang menakutkan.
Yah, kalau kau tidak mau mengatakannya terserah saja, ujar dewa itu dengan santai. Ngomong-ngomong namaku Yudha Prabowo. Salam kenal.
Tutup mulutmu! bentak drakula itu sambil melesat cepat ke arah sang Dewa.
Dewa itu tampak tenang-tenang saja. Dia bahkan sama sekali tidak berniat menghindar. Tapi begitu cakar si drakula nyaris mencapai jantung dewa bernama Yudha itu, cakarnya kembali membentur dinding pembatas dan terpental. Kali ini si drakula tidak mau berhenti begitu saja, dia terus menerus menyerang dinding pembatas yang melindungi Yudha dengan berbagai serangan. Namun semuanya sia-sia. Dinding itu sama sekali tidak bergeming.
Sudah selesai? tanya Yudha dengan santai, dia lalu meraih sesuatu di balik punggungnya. Kalau begitu giliranku ya.
Sambil berkata demikian, Yudha menarik beberapa lembar kertas kuning yang bertuliskan kata-kata dalam bahasa sanskerta. Pria itu langsung melemparkan kertas-kertas itu ke tubuh si drakula. Drakula itu tidak sempat menghindar, karena gerakan Yudha sangat cepat.
Ketika kertas-kertas itu menyentuh tubuh si drakula, terjadi ledakan-ledakan dahsyat yang melemparkan makhluk itu jauh ke belakang. Drakula itu terhempas dengan keras tapi dengan cepat dia segera bangkit.
Sial! Kenapa kalian diam saja! Serang dia, wahai pengikut-pengikutku!! seru drakula itu.
Kemudian sunyi.
Tidak satupun pengikutnya datang memenuhi panggilannya. Drakula itu terbelalak lebar dan memandang ke sekelilingnya. Dia lalu memandang lurus ke arah podium, tempat para pengikutnya tadi berkumpul. Dengan kedua matanya yang sangat tajam dan mampu melihat menembus kegelapan, dia dengan jelas melihat sisa-sisa pengikutnya. Onggokan pakaian dan debu berkilauan yang berserakan di salah satu tingkat podium penonton tersebut. Drakula itu langsung menyadari kalau semua pengikutnya sudah musnah, kecuali satu orang.
Semua pengikutmu sudah kumusnahkan. Tidak perlu tanya bagaimana caranya, yang pasti sudah tidak ada lagi yang akan datang membantumu, ujar Yudha dengan santai. Menyerah saja. Tidak lama lagi kau juga akan kumusnahkan.
Mendengar perkataan Yudha, drakula itu langsung ketakutan. Baru kali ini dia merasa begitu ketakutan. Drakula itu langsung melompat tinggi ke udara. Sepasang sayap kelelawar langsung muncul di punggungnya dan dengan cepat, dia melesat ke arah luar stadion.
0
Kutip
Balas