TS
MaxMarcel
Maximilians SongFic Collection
Thread ini merupakan wadah kumpulan-kumpulan Song Fic yang akan saya ciptakan. Mungkin kurang tepat bila dikatakan saya menciptakan fic ini, karena saya hanya sekedar menuangkan lagu-lagu ini ke dalam bentuk narasi.
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
0
2.9K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
MaxMarcel
#20
Dread Order
Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer
Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer
Spoiler for "Dread Order":
\tSuara siul rendah mengalun di udara dengan pelan. Mendengar siul pilu itu, wajah-wajah yang penuh keputusasaan meringkuk dengan takut di dalam lubang kematian mereka. Tidak ada dari mereka yang tahu kapan takdir akan menghantam, mereka hanya dapat menunggu. Menunggu hingga suara siul tersebut berubah menjadi raungan yang mengguncang tanah, mengirimkan ribuan serpihan logam dan tekanan ke segala arah.
\tInilah nasib mereka. Terjebak dalam pertempuran, tertutup dari jalur bantuan, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Mereka hanya dapat duduk manis di dalam lubang parit mereka sementara artileri terus menghujani mereka.
\tBerlindung! Mereka datang! terdengar sebuah teriakan yang membuat semua orang makin meringkuk dan berusaha mencium tanah sedekat mungkin.
\t
Sebuah suara menggelegar dan bumi yang berguncang menandakan awalnya, awal dari suatu siklus yang tidak akan pernah berakhir. Setiap orang di dalam parit ini dapat merasakan suara menusuk yang tidak pernah berkurang ataupun berakhir. Mereka hanya dapat menekan telinga mereka sekeras mungkin dan meneriakkan berbagai hal di tengah kegilaan.
\tSementara semua itu berjalan aku hanya dapat duduk diam dengan lutut tertekuk. Aku sama sekali tidak berusaha untuk mengusir ataupun meredam suara ledakan artileri yang merayap di seluruh ladang, aku tidak berusaha untuk meringkuk lebih dalam dan mencari keamanan. Aku sudah merasa pasrah. Tidak, ini bukan perasaan pasrah yang menyenangkan. Ini merupakan perasaan pasrah yang penuh keletihan emosional.
\tAku dapat melihat ke langit yang diselimuti awan badai ini. Aku dapat melihat tubuh-tubuh yang melayang tinggi ke udara, tercabik-cabik oleh meriam 60cm howitzer. Salah satu dari tubuh itu mendarat di depan paritku, tersaangkut di tengah-tengah barisan kawat duri. Wajahnya jelas-jelas mengatakan bahwa ia sama sekali tidak melihat hal ini akan terjadi.
\tCepat atau lambat kau akan bergabung dengan mayat-mayat yang menatap kosong di ladang ini. Siapa yang hidup berdampingan dengan kaum yang terbantai suatu saat akan bergabung dalam barisan mereka. Itulah kata-kata yang ada di benakku ketika mengingat betapa penuhnya ladang ini dengan mayat.
\tAku mengintip ke belakang dan dapat melihat dengan baik batu nisan kami. Bendera yang berkibar dengan tinggi di tengah hujan besi ini telah menjadi penanda kuburan massal kami.
\tInfantri! Mereka datang! Kembali ke posisi menembak!
\tTampaknya suara teriakan tersebut tidak membuat semua orang kembali pada kenyataan saat ini. Aku masih dapat melihat tentara muda yang tetap meringkuk di atas air seninya sendiri sambil menggumamkan hal-hal yang abstrak.
\tCarl, ambil senapan mesinnya! Cepat mereka mendekat! seorang tentara mengingatkanku pada situasi yang terjadi. Ia menarik kerahku dan menunjuk ke senapan mesin tanpa penembak di sudut parit.
\tAku mengangguk singkat dan berlari ke arah senapan mesin itu. Sebelum aku menyadari bagaimana semuanya terjadi, aku sudah menembaki gelombang manusia tanpa akhir yang berlari ke arahku. Aku mengarahkan moncong senapan mesin itu ke setiap wajah tidak dikenal yang mencoba menyerangku.
\tPada satu waktu, peluru senapan mesinku macet, dalam sekejap puluhan bayonet langsung menghujani parit-parit pertahanan. Rekan seperjuangan yang berada di sampingku langsung disergap. Seorang tentara musuh melompat ke arahnya dan menikamnya dengan bayonet. Ia berusaha berteriak, tapi darahnya sendiri telah mencekik suaranya.
\tAku ingat bagaimana aku bergumul dalam kubangan darah, berusaha untuk bertahan hidup dari tentara yang mencoba menusukku. Tidak ada pacuan adrenalin, yang ada hanyalah kebingungan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku sudah kembali terduduk di paritku. Kali ini tanah sudah benar-benar basah dengan darah dan wajah-wajah murung di dalam parit ini semakin menipis.
***
\tSebuah suara peluit membuatku terjaga. Hari masih belum sepenuhnya terbangun, kabut pagi mengantung rendah di atmosfer. Aku dapat mendengar teriakan-teriakan kasar dari petugas militer di berbagai tempat. Mereka menginginkan serangan balasan. Mereka ingin kita meninggalkan lubang kita dan melangkah ke ladang terbuka.
\tMaju! Keluar dari lubang kotoran kalian! Sekarang saatnya mendorong musuh!
\tTidak aku tidak mau mati! Kita tidak punya kesempatan! Kita akan dibantai!
\tAku dapat mendengar rengekan dari tentara-tentara yang masih muda ketika berhadapan dengan perintah atasan. Apa yang akan terjadi selanjutnya sudah jelas, sebuah suara tembakan menghentikan rengekannya.
\tCepat keluar dan maju! Atau aku akan melempar granat ke dalam lubang kalian yang bau kotoran!
\tTidak ada pilihan lain. Kami benar-benar dipaksa.
\tDalam waktu singkat aku sudah menemukan diriku kembali meringkuk. Ribuan tentara kembali meringkuk di hadapan formasi senapan mesin yang terus melontarkan timah panas ke arah kami.
\tTerus maju! Musuh ada di hadapan kalian! Tunggu apalagi, serang!
\tWalaupun dalam keadaan seperti ini kami terus dipaksa untuk maju. Dengan jelas aku dapat melihat orang-orang yang bangkit untuk menyerang. Mereka keluar dari lindungan alam dan dalam hitungan sepersekian detik tubuh mereka langsung tercabik-cabik oleh senapan mesin musuh.
\tCepat atau lambat aku pasti mati di sini, itulah satu-satunya pikiranku. Mengikuti rekan-rekanku yang bodoh dan tidak mempunyai harapan, aku juga melompat keluar.
\tAku menatap langsung ke tujuanku. Sebuah bukit yang dipenuhi dengan bunker dan lubang pertahanan, dimana setiap senti bukit tersebut memuntahkan peluru ke arahku.
\tTanpa ada sedikitpun perasaan manusia, aku berlari ke arah bukit itu. Aku dapat mendengar desing peluru yang diikuti tubuh-tubuh berjatuhan. Semua itu tidak penting, aku hanya tahu untuk menatap lekat-lekat tujuanku dan terus berlari.
\tTerus berlari tanpa memperhatikan apapun. Terus berlari hingga kakiku menginjak sebuah benda logam. Diikuti suara klik kecil, tubuhku terpental tinggi ke langit. Dengan beberapa tembakan yang tepat, maka aku tidak lebih dari serpihan daging di langit.
\tDalam sepersekian detik sisa hidupku, sebuah pikiran melintas.
\tMereka yang gugur akan mati dengan sia-sia, tidak lebih dari statistik di meja rapat. Pejuang yang mati, petugas yang mati, benteng yang hancur, tidak ada perubahan, seluruh hal itu akan digantikan dengan yang baru. Disatukan oleh satu kepentingan, orang-orang akan terus masuk dalam barisan, mesin perang akan terus berputar, kegilaan akan menular, pertumpahan darah akan terus berlipat ganda, hal ini akan terus berulang dan berulang, tanpa akhir. Inilah perang.
Spoiler for "Forgotten Dead":
Encircled, cut off from reinforcement
At all costs you must hold the line
Living among the slain with the knowledge
You could join them at any time
The enemy advances without number
Signaled by a creeping barrage
The attack goes on for weeks and weeks
The trenches awash with blood
Gunning down the enemy, each one without a face
What once were fields of green are now endless fields of graves
Forgotten
Forgotten
FORGOTTEN DEAD
MARCH!
Your comrade rises up to fire, you watch in horror as he falls
The life drained away from his body through the hole in his skull
Gunning down the enemy
Send them to their graves
The ways of man will never change
The fallen die in vain
Forgotten
Forgotten
DEAD! DEAD! DEAD!
The whistle blows, you are forced to advance into oncoming machine gun fire
Caught in the blast as the mines detonate, lifeless bodies hang from barbed wire
Stabbed through the gut by a bayonet, blood chokes your scream
Another dying sould is laid upon the altar of mankind's greed
Forgotten DEAD!
At all costs you must hold the line
Living among the slain with the knowledge
You could join them at any time
The enemy advances without number
Signaled by a creeping barrage
The attack goes on for weeks and weeks
The trenches awash with blood
Gunning down the enemy, each one without a face
What once were fields of green are now endless fields of graves
Forgotten
Forgotten
FORGOTTEN DEAD
MARCH!
Your comrade rises up to fire, you watch in horror as he falls
The life drained away from his body through the hole in his skull
Gunning down the enemy
Send them to their graves
The ways of man will never change
The fallen die in vain
Forgotten
Forgotten
DEAD! DEAD! DEAD!
The whistle blows, you are forced to advance into oncoming machine gun fire
Caught in the blast as the mines detonate, lifeless bodies hang from barbed wire
Stabbed through the gut by a bayonet, blood chokes your scream
Another dying sould is laid upon the altar of mankind's greed
Forgotten DEAD!
0
Kutip
Balas