TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#98
4.5th Arc: Manusia Abadi Part 2
Part 6.1
[Yogyakarta, 20 Juli 2010]
Tempat persembunyian Dullahan rupanya adalah sebuah rumah mewah yang tidak ditempati. Entah apa sebabnya, tapi rumah itu dibiarkan saja tidak ada yang menempati dan tidak terawat, sehingga rumah itu dengan sukses berubah menjadi rumah angker. Halaman rumah itu cukup luas dan sudah ditumbuhi oleh berbagai jenis semak dan tanaman liar lainnya, sehingga pintu depan rumah itu sudah hampir tidak terlihat lagi. Rumahnya sendiri tampak rusak disana-sini karena pengaruh cuaca, dan karena tidak ada yang merawat, rumah itu terlihat seperti sudah berdiri selama beberapa puluh tahun. Meskipun menurut Gembul, rumah itu dibangun 12 tahun yang lalu, dan ditinggalkan sekitar 7 tahun yang lalu.
Rumah itu benar-benar cocok dijadikan tempat persembunyian apapun yang bukan manusia, termasuk binatang liar dan makhluk gaib.
Jadi ksatria tanpa kepala itu bersembunyi disini?
Indra bertanya pada Gembul, kucing putih gemuk yang berdiri dekat kakinya. Kucing itu menjawab tanpa menoleh.
Tidak salah lagi. Beberapa ekor kucing yang kukenal pernah melihat makhluk bukan manusia memasuki tempat ini. Selain itu, aromanya kuat sekali, geram Gembul. Aroma ini sama seperti yang kucium di terminal lama kemarin malam. Tidak salah lagi ini aroma si Dullahan.
Mendengar ucapan Gembul, Indra langsung menghantamkan tinjunya. Sarung tangan khusus miliknya, yang dilengkapi dengan pelat logam berukiran mantra, membuat suara nyaring ketika beradu. Pemuda itu sudah tidak sabar untuk menghajar Dullahan, makhluk gaib yang telah mengambil nyawa 5 orang manusia.
Aku tidak sabar untuk menghajar makhluk itu gerutu Indra, tapi dia tahu kalau dia tidak boleh langsung menerjang masuk tanpa perhitungan. Terlebih karena Gembul sebelumnya sudah memperingatkan kalau selain Dullahan, mungkin ada makhluk gaib lainnya yang bersembunyi di rumah itu.
Usahakan untuk masuk tanpa membuat banyak keributan, ujar Gembul sambil melenggang masuk melewati celah-celah teralis pintu pagar yang terbuat dari besi.
Indra langsung melompat tinggi, meraih bagian puncak dari pagar, lalu dengan satu tangan memutar tubuhnya dan mendarat dengan mulus dikerimbunan semak-semak. Suara gemerisik ketika dia mendarat membuatnya khawatir kalau dia telah memancing perhatian makhluk yang ada di dalam rumah itu. Indra diam sejenak, lalu menarik nafas lega karena tidak terjadi apapun.
Maya, kau lebih baik menunggu diluar, ujar Aul sambil menepuk pundak Maya. Ini mungkin akan sangat berbahaya. Jadi aku tidak mau ambil resiko.
Maya terdiam. Dia sebenarnya tidak mau ditinggalkan begitu saja, tapi ucapan Aul benar sekali. Kali ini mereka menerobos masuk ke dalam daerah kekuasaan lawan, dan tidak ada yang tahu perangkap macam apa yang menunggu di dalam. Walaupun dia ingin mengikuti Indra masuk ke dalam, tapi akal sehatnya juga mencegahnya untuk melakukan perbuatan nekat itu. Terlebih karena saat ini Yudha tidak bersama mereka.
Aul memang tampak sangat sakti, karena dia bisa melumpuhkan Indra dan Gembul, alias Dewa Keberuntungan dengan cukup mudah. Tapi Maya belum tahu sejauh mana manusia berkepala anjing itu bisa menggunakan kesaktiannya untuk melindungi Maya. Akhirnya Maya memutuskan untuk menunggu diluar.
Baiklah, ujar Maya dengan nada kecewa. Aku akan menunggu kalian. Aul, tolong jaga Indra.
Aul mengangguk. Manusia berkepala anjing itu lalu melompat tinggi melewati pagar rumah di depannya, dan mendarat nyaris tanpa suara di tengah kerimbunan semak-semak. Sesaat sosok jangkung Aul masih terlihat, tapi sedektik kemudian dia sudah hilang ditelan kerimbunan semak-semak di depannya.
Maya hanya memandangi halaman depan rumah itu sambil menarik nafas panjang. Meskipun dia tidak bisa terjun langsung ke garis depan, tapi ada satu hal yang bisa dia lakukan.
Sebaiknya aku mulai mendirikan dinding pembatas di sekitar rumah ini. Kuharap dinding yang kubuat cukup kuat gumam gadis itu dalam hati.
Sementara itu, Indra masih bergerak dengan hati-hati menerobos semak belukar yang menghalangi jalannya. Walaupun sudah berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara yang tidak perlu, tapi bunyi gemerisik dedaunan ketika dia berjalan menerobos semak-semak membuatnya semakin tegang. Indra sekarang hampir yakin kalau Dullahan yang bersembunyi di dalam rumah itu sudah menyadari kedatangannya dan bersiap dengan suatu perangkap.
Ini sangat tidak bagus gerutu Indra dalam hati, dia berhenti sejenak untuk mendengarkan suara-suara yang dia anggap mencurigakan.
Di belakangnya, Indra sekilas bisa melihat sosok manusia berkepala anjing yang bergerak nyaris tanpa suara. Sosok itu tidak lain adalah Aul. Melihat Aul tampak tidak mengalami kesulitan ketika berjalan mengendap-endap, Indra jadi iri dengan kemampuan manusia abadi itu.
Mungkin aku harus belajar sedikit cara bergerak tanpa suara seperti itu gumam Indra lagi.
Tapi kemudian, pemuda setengah vampir itu menyadari sesuatu. Di dekatnya ada sesuatu yang lain, dan sesuatu itu bergerak ke arahnya. Awalnya Indra mengira itu adalah Gembul, tapi dengan cepat dia sadar itu sama sekali bukan Dewa Keberuntungan. Apapun itu, yang pasti dia berbahaya.
Dengan gerak refleks, Indra tiarap ke tanah, tepat ketika sebilah pedang bermata lebar, atau Broadsword, membelah semak-semak di sekitarnya. Menyadari dirinya ada dalam bahaya, Indra langsung melancarkan serangan balasan.
Suara dentang logam beradu terdengar nyaring memecah keheningan malam, ketika sepatu botnya yang berlapis logam menghantam targetnya. Sosok misterius itu terlempar ke belakang dan membentur sebatang pohon, tapi dia tidak langsung jatuh. Sosok itu justru langsung berlari maju sambil menghunuskan pedangnya ke arah Indra.
Indra dengan cepat memutar tubuhnya dan menghindari tusukan dari lawannya, dia lalu menghantamkan tinjunya sekuat tenaga ke kepala lawannya. Kilatan cahaya biru terang, diikuti percikan api berhamburan ketika tinju Indra menghantam kepala lawannya, yang tertutup helm logam.
Helm logam khas ksatria abad pertengahan yang dikenakan lawannya itu terlempar dan memperlihatkan leher tanpa kepala. Lawan Indra itu langsung melangkah mundur sambil mengibaskan pedangnya, membuat semak-semak di sekitarnya langsung terpangkas. Sosok itu tidak lain adalah sang Dullahan, ksatria tanpa kepala.
Tubuh makhluk gaib itu terbungkus oleh pakaian perang khas ksatria jaman pertengahan, lengkap dengan pedang panjang bermata lebar yang umumnya disebut sebagai Broadsword. Dullahan itu mengangkat pedangnya ke depan dadanya, membuat gaya khas ksatria abad pertengahan yang sedang bersiap untuk duel dengan lawannya.
Akhirnya muncul juga kau, Dullahan! geram Indra sambil memasang kuda-kuda tae-kwon-do. Perbuatanmu yang telah membunuh 5 orang manusia tidak bersalah harus dihentikan! Dan aku tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan!
Tentu saja Dullahan itu tidak bisa bicara karena dia tidak punya kepala. Ksatria itu langsung melesat maju sambil mengayunkan pedangnya ke arah Indra. Indra tentu saja bisa menghindar, walaupun kecepatan ayunan Dullahan tidak bisa diikuti oleh mata manusia normal. Indra beruntung karena kekuatan vampirnya memberikan dia refleks yang sangat cepat.
Serangan-serangan Dullahan sama sekali tidak berhasil melukai Indra, tapi pemuda itu juga tidak bisa menyerang sembarangan. Kalau dia salah langkah, pedang besar makhluk itu pasti akan melukainya. Selain tidak bersenjata, kondisi medan pertempuran yang berupa kerimbunan semak-semak dan pepohonan membuat Indra tidak bisa menghindar dengan mudah. Beberapa kali dia terpaksa menepis pedang Dullahan dengan pelat logam yang terpasang di sarung tangannya, tapi dia belum bisa melancarkan serangan balasan. Beberapa kali pedang ksatria tanpa kepala itu menggores tangan dan kakinya yang tidak terlindung, ketika Indra berusaha menepis pedang lawannya.
Sial! Ksatria ini tangguh juga! geram Indra sambil mengelak dari satu sabetan pedang si Dullahan. Tanpa senjata, hampir mustahil aku bisa mengalahkannya tanpa terluka parah!
Tapi keberuntungan tampaknya berpihak pada Indra. Dullahan melancarkan satu serangan tusukan, yang berhasil dihindari Indra dengan sempurna. Pedang bermata lebar ksatria itu menancap erat di batang sebuah pohon, dan berkat itu, gerakannya terhenti selama beberapa detik Hanya beberapa detik, tapi bagi Indra itu sudah cukup.
Tidurlah yang nyenyak!!!
Indra berseru sekuat tenaga sambil menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Dengan bertumpu pada satu kaki, Indra memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan berputar, tepat ke arah dada Dullahan yang dilapisi dengan baju logam. Kilatan biru terang disusul suara berdentang nyaring langsung muncul ketika serangan Indra dengan telak mengenai Dullahan. Tubuh ksatria berbaju logam itu terlempar ke belakang, dan menghantam pintu depan rumah hingga jebol. Tubuh ksatria itu terhempas diatas lantai berlapis keramik dengan suara nyaring, sebelum akhirnya berhenti ketika membentur salah satu pilar penyangga bagian dalam rumah angker itu.
Indra memandang ke arah ksatria itu dengan perasaan was-was. Walaupun serangannya tadi berhasil mengenai sasarannya dengan telak, tapi Indra masih belum tahu apakah Dullahan itu akan roboh hanya dengan serangan seperti itu.
Ayolah jangan bangkit lagi jangan bangk sialan!!
Indra mengumpat dalam hati ketika makhluk gaib itu perlahan-lahan berdiri. Rupanya serangan Indra masih belum bisa menaklukannya.
Spoiler for "Part 6.1":
[Yogyakarta, 20 Juli 2010]
Tempat persembunyian Dullahan rupanya adalah sebuah rumah mewah yang tidak ditempati. Entah apa sebabnya, tapi rumah itu dibiarkan saja tidak ada yang menempati dan tidak terawat, sehingga rumah itu dengan sukses berubah menjadi rumah angker. Halaman rumah itu cukup luas dan sudah ditumbuhi oleh berbagai jenis semak dan tanaman liar lainnya, sehingga pintu depan rumah itu sudah hampir tidak terlihat lagi. Rumahnya sendiri tampak rusak disana-sini karena pengaruh cuaca, dan karena tidak ada yang merawat, rumah itu terlihat seperti sudah berdiri selama beberapa puluh tahun. Meskipun menurut Gembul, rumah itu dibangun 12 tahun yang lalu, dan ditinggalkan sekitar 7 tahun yang lalu.
Rumah itu benar-benar cocok dijadikan tempat persembunyian apapun yang bukan manusia, termasuk binatang liar dan makhluk gaib.
Jadi ksatria tanpa kepala itu bersembunyi disini?
Indra bertanya pada Gembul, kucing putih gemuk yang berdiri dekat kakinya. Kucing itu menjawab tanpa menoleh.
Tidak salah lagi. Beberapa ekor kucing yang kukenal pernah melihat makhluk bukan manusia memasuki tempat ini. Selain itu, aromanya kuat sekali, geram Gembul. Aroma ini sama seperti yang kucium di terminal lama kemarin malam. Tidak salah lagi ini aroma si Dullahan.
Mendengar ucapan Gembul, Indra langsung menghantamkan tinjunya. Sarung tangan khusus miliknya, yang dilengkapi dengan pelat logam berukiran mantra, membuat suara nyaring ketika beradu. Pemuda itu sudah tidak sabar untuk menghajar Dullahan, makhluk gaib yang telah mengambil nyawa 5 orang manusia.
Aku tidak sabar untuk menghajar makhluk itu gerutu Indra, tapi dia tahu kalau dia tidak boleh langsung menerjang masuk tanpa perhitungan. Terlebih karena Gembul sebelumnya sudah memperingatkan kalau selain Dullahan, mungkin ada makhluk gaib lainnya yang bersembunyi di rumah itu.
Usahakan untuk masuk tanpa membuat banyak keributan, ujar Gembul sambil melenggang masuk melewati celah-celah teralis pintu pagar yang terbuat dari besi.
Indra langsung melompat tinggi, meraih bagian puncak dari pagar, lalu dengan satu tangan memutar tubuhnya dan mendarat dengan mulus dikerimbunan semak-semak. Suara gemerisik ketika dia mendarat membuatnya khawatir kalau dia telah memancing perhatian makhluk yang ada di dalam rumah itu. Indra diam sejenak, lalu menarik nafas lega karena tidak terjadi apapun.
Maya, kau lebih baik menunggu diluar, ujar Aul sambil menepuk pundak Maya. Ini mungkin akan sangat berbahaya. Jadi aku tidak mau ambil resiko.
Maya terdiam. Dia sebenarnya tidak mau ditinggalkan begitu saja, tapi ucapan Aul benar sekali. Kali ini mereka menerobos masuk ke dalam daerah kekuasaan lawan, dan tidak ada yang tahu perangkap macam apa yang menunggu di dalam. Walaupun dia ingin mengikuti Indra masuk ke dalam, tapi akal sehatnya juga mencegahnya untuk melakukan perbuatan nekat itu. Terlebih karena saat ini Yudha tidak bersama mereka.
Aul memang tampak sangat sakti, karena dia bisa melumpuhkan Indra dan Gembul, alias Dewa Keberuntungan dengan cukup mudah. Tapi Maya belum tahu sejauh mana manusia berkepala anjing itu bisa menggunakan kesaktiannya untuk melindungi Maya. Akhirnya Maya memutuskan untuk menunggu diluar.
Baiklah, ujar Maya dengan nada kecewa. Aku akan menunggu kalian. Aul, tolong jaga Indra.
Aul mengangguk. Manusia berkepala anjing itu lalu melompat tinggi melewati pagar rumah di depannya, dan mendarat nyaris tanpa suara di tengah kerimbunan semak-semak. Sesaat sosok jangkung Aul masih terlihat, tapi sedektik kemudian dia sudah hilang ditelan kerimbunan semak-semak di depannya.
Maya hanya memandangi halaman depan rumah itu sambil menarik nafas panjang. Meskipun dia tidak bisa terjun langsung ke garis depan, tapi ada satu hal yang bisa dia lakukan.
Sebaiknya aku mulai mendirikan dinding pembatas di sekitar rumah ini. Kuharap dinding yang kubuat cukup kuat gumam gadis itu dalam hati.
Sementara itu, Indra masih bergerak dengan hati-hati menerobos semak belukar yang menghalangi jalannya. Walaupun sudah berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara yang tidak perlu, tapi bunyi gemerisik dedaunan ketika dia berjalan menerobos semak-semak membuatnya semakin tegang. Indra sekarang hampir yakin kalau Dullahan yang bersembunyi di dalam rumah itu sudah menyadari kedatangannya dan bersiap dengan suatu perangkap.
Ini sangat tidak bagus gerutu Indra dalam hati, dia berhenti sejenak untuk mendengarkan suara-suara yang dia anggap mencurigakan.
Di belakangnya, Indra sekilas bisa melihat sosok manusia berkepala anjing yang bergerak nyaris tanpa suara. Sosok itu tidak lain adalah Aul. Melihat Aul tampak tidak mengalami kesulitan ketika berjalan mengendap-endap, Indra jadi iri dengan kemampuan manusia abadi itu.
Mungkin aku harus belajar sedikit cara bergerak tanpa suara seperti itu gumam Indra lagi.
Tapi kemudian, pemuda setengah vampir itu menyadari sesuatu. Di dekatnya ada sesuatu yang lain, dan sesuatu itu bergerak ke arahnya. Awalnya Indra mengira itu adalah Gembul, tapi dengan cepat dia sadar itu sama sekali bukan Dewa Keberuntungan. Apapun itu, yang pasti dia berbahaya.
Dengan gerak refleks, Indra tiarap ke tanah, tepat ketika sebilah pedang bermata lebar, atau Broadsword, membelah semak-semak di sekitarnya. Menyadari dirinya ada dalam bahaya, Indra langsung melancarkan serangan balasan.
Suara dentang logam beradu terdengar nyaring memecah keheningan malam, ketika sepatu botnya yang berlapis logam menghantam targetnya. Sosok misterius itu terlempar ke belakang dan membentur sebatang pohon, tapi dia tidak langsung jatuh. Sosok itu justru langsung berlari maju sambil menghunuskan pedangnya ke arah Indra.
Indra dengan cepat memutar tubuhnya dan menghindari tusukan dari lawannya, dia lalu menghantamkan tinjunya sekuat tenaga ke kepala lawannya. Kilatan cahaya biru terang, diikuti percikan api berhamburan ketika tinju Indra menghantam kepala lawannya, yang tertutup helm logam.
Helm logam khas ksatria abad pertengahan yang dikenakan lawannya itu terlempar dan memperlihatkan leher tanpa kepala. Lawan Indra itu langsung melangkah mundur sambil mengibaskan pedangnya, membuat semak-semak di sekitarnya langsung terpangkas. Sosok itu tidak lain adalah sang Dullahan, ksatria tanpa kepala.
Tubuh makhluk gaib itu terbungkus oleh pakaian perang khas ksatria jaman pertengahan, lengkap dengan pedang panjang bermata lebar yang umumnya disebut sebagai Broadsword. Dullahan itu mengangkat pedangnya ke depan dadanya, membuat gaya khas ksatria abad pertengahan yang sedang bersiap untuk duel dengan lawannya.
Akhirnya muncul juga kau, Dullahan! geram Indra sambil memasang kuda-kuda tae-kwon-do. Perbuatanmu yang telah membunuh 5 orang manusia tidak bersalah harus dihentikan! Dan aku tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan!
Tentu saja Dullahan itu tidak bisa bicara karena dia tidak punya kepala. Ksatria itu langsung melesat maju sambil mengayunkan pedangnya ke arah Indra. Indra tentu saja bisa menghindar, walaupun kecepatan ayunan Dullahan tidak bisa diikuti oleh mata manusia normal. Indra beruntung karena kekuatan vampirnya memberikan dia refleks yang sangat cepat.
Serangan-serangan Dullahan sama sekali tidak berhasil melukai Indra, tapi pemuda itu juga tidak bisa menyerang sembarangan. Kalau dia salah langkah, pedang besar makhluk itu pasti akan melukainya. Selain tidak bersenjata, kondisi medan pertempuran yang berupa kerimbunan semak-semak dan pepohonan membuat Indra tidak bisa menghindar dengan mudah. Beberapa kali dia terpaksa menepis pedang Dullahan dengan pelat logam yang terpasang di sarung tangannya, tapi dia belum bisa melancarkan serangan balasan. Beberapa kali pedang ksatria tanpa kepala itu menggores tangan dan kakinya yang tidak terlindung, ketika Indra berusaha menepis pedang lawannya.
Sial! Ksatria ini tangguh juga! geram Indra sambil mengelak dari satu sabetan pedang si Dullahan. Tanpa senjata, hampir mustahil aku bisa mengalahkannya tanpa terluka parah!
Tapi keberuntungan tampaknya berpihak pada Indra. Dullahan melancarkan satu serangan tusukan, yang berhasil dihindari Indra dengan sempurna. Pedang bermata lebar ksatria itu menancap erat di batang sebuah pohon, dan berkat itu, gerakannya terhenti selama beberapa detik Hanya beberapa detik, tapi bagi Indra itu sudah cukup.
Tidurlah yang nyenyak!!!
Indra berseru sekuat tenaga sambil menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Dengan bertumpu pada satu kaki, Indra memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan berputar, tepat ke arah dada Dullahan yang dilapisi dengan baju logam. Kilatan biru terang disusul suara berdentang nyaring langsung muncul ketika serangan Indra dengan telak mengenai Dullahan. Tubuh ksatria berbaju logam itu terlempar ke belakang, dan menghantam pintu depan rumah hingga jebol. Tubuh ksatria itu terhempas diatas lantai berlapis keramik dengan suara nyaring, sebelum akhirnya berhenti ketika membentur salah satu pilar penyangga bagian dalam rumah angker itu.
Indra memandang ke arah ksatria itu dengan perasaan was-was. Walaupun serangannya tadi berhasil mengenai sasarannya dengan telak, tapi Indra masih belum tahu apakah Dullahan itu akan roboh hanya dengan serangan seperti itu.
Ayolah jangan bangkit lagi jangan bangk sialan!!
Indra mengumpat dalam hati ketika makhluk gaib itu perlahan-lahan berdiri. Rupanya serangan Indra masih belum bisa menaklukannya.
0
Kutip
Balas