TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.1K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#75
4th Arc: Manusia Abadi
Part 4.2
Biar aku yang buka, ujar Indra sambil berjalan keluar dari ruangan tempatnya duduk, lalu segera menghampiri pintu depan. Tentu saja Maya dan Gembul juga ikut keluar.
Sebelum Indra membuka pintu, Maya sudah menyambar gagang pintu dan membukanya, lalu berseru dengan ramah.
Selamat datang! seru Maya.
Di hadapan gadis itu, berdiri seorang polisi muda yang membawa sebuah tas jinjing. Polisi itu tampak kaget melihat Maya, tapi dia lalu tersenyum lebar.
Selamat pagi, sapa polisi itu sambil memberi hormat pada Maya. Kita bertemu lagi ya. Bagaimana kabarmu?
Maya langsung mengenali siapa polisi itu. Polisi itu adalah polisi yang membantu dirinya, Indra dan Yudha dalam memecahkan masalah pembobolan bank 3 bulan yang lalu. Dia adalah Agus Darsono. Begitu dia mengenali siapa polisi itu, Maya langsung meraih tangannya dan menjabatnya dengan hangat.
Ah! Pak Darsono! seru Maya gembira. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar bapak?
Polisi muda itu tersipu dengan sambutan hangat dari Maya.
Baik-baik saja. Rasanya baru kemarin kita bertemu dan memecahkan masalah aneh di Bank Indonesia itu, balas polisi itu dengan ramah. Kemudian, kalau tidak salah namamu Indra ya?
Indra mengangguk. Pemuda itu juga mengenali siapa polisi itu, karena dialah yang memintanya untuk datang kesini.
Sebaiknya kita masuk. Tidak enak kalau kita berbicara di pintu seperti ini, ujar Indra sambil mempersilahkan pak Darsono untuk masuk.
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di salah satu ruangan santai yang biasa digunakan Yudha untuk menerima tamunya. Kali ini mereka menggunakan ruangan yang ada di lantai 2. Yudha biasa menerima tamunya di ruangan yang berbeda untuk setiap tamu, sehingga di rumahnya, ada 10 ruangan santai yang berbeda.
Seperti biasanya, Maya langsung membuatkan minuman untuk tamunya.
Tidak kusangka apa yang dikatakan orang tentang rumah ini memang benar, ujar pak Darsono sambil memandang ke sekelilingnya. Lokasi rumahnya sulit dijangkau, penampilan rumahnya seperti kastil berhantu yang menyeramkan.
Mendengar ucapan polisi itu, Maya tertawa tertahan sambil menyuguhkan segelas teh untuk polisi itu. Dia juga memiliki pendapat yang sama dengan pak Darsono ketika dia datang ke rumah Yudha untuk pertama kalinya.
Memang seperti itu, balas Indra. Tidak sedikit juga orang yang pulang lagi begitu melihat rumah Yudha.
Pak Darsono tertawa mendengar ucapan Indra. Sambil meminum tehnya, dia memulai pembicaraan serius mengenai kasus pembunuhan misterius di kota Yogyakarta.
Seperti yang sudah kau jelaskan di telpon semalam, aku sudah mencari beberapa data yang berkaitan dengan kasus itu. Walaupun ini memang bukan tugasku, tapi aku berhasil meyakinkan temanku dari bagian penyidikan untuk memberikan beberapa berkas yang berkaitan dengan kasus itu, ujar polisi itu sambil membuka tas jinjing yang dia bawa.
Dia lalu mengambil beberapa berkas yang sudah dia siapkan dan meletakannya diatas meja. Indra dan Maya langsung mengambil beberapa lembar kertas dan membacanya.
Kau bilang mereka pernah terlibat dengan hal-hal gaib karena mereka merupakan klien Yudha, ujar polisi itu. Selain itu, aku mendapatkan informasi menarik. Sebelum mereka terbunuh, mereka sepertinya melakukan semacam ritual ilmu hitam. Beberapa saksi mata melihat mereka bertiga sering mengunjungi kuburan tua untuk melakukan semacam ritual. Selain kesamaan itu, mereka semua dibunuh di tempat yang berbeda-beda. Sayangnya tidak ada jejak dari pelaku sama sekali. Ini membuat polisi kebingungan setengah mati.
Mendengar ucapan polisi itu. Maya langsung mengerti apa yang menyebabkan mereka terbunuh. Ketiga orang itu, entah bersama atau sendiri-sendiri, telah melakukan suatu ritual gaib yang berbahaya. Kemungkinan besar mereka terbunuh oleh makhluk gaib yang mereka panggil, entah sengaja atau tidak sengaja.
Ketika Maya ingin mengatakan sesuatu, pak Darsono keburu mengatakan hal lain yang membuatnya terkejut.
Ini belum disiarkan dalam berita, tapi sudah ada korban keempat yang jatuh tadi malam.
Ucapan polisi itu langsung membuat Indra dan Maya tersentak kaget. Mereka tidak menyangka kalau akan ada korban lagi dalam waktu sesingkat ini. Maya menoleh ke arah Indra, ekspresi wajah pemuda itu tampak menyeramkan karena marah.
Siapa orangnya? Apa dia berkaitan dengan Yudha? tanya Indra dengan nada serius. Maksudku, apakah orang ini pernah mendatangi rumah Yudha?
Polisi itu menghela nafas, lalu menggeleng.
Tidak, balasnya singkat. Korban kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yudha, dan korban diketahui bukan orang yang senang dengan hal-hal gaib. Tapi dia memang kehilangan kepalanya, sama seperti ketiga korban sebelumnya.
Maya kembali berpikir keras. Kalau korban kali ini bukan orang yang berhubungan dengan Yudha, atau hal-hal gaib, kenapa dia bisa terbunuh?
Ketika sedang berpikir, Maya tiba-tiba mendengar Indra mengajukan pertanyaan.
Apa bapak pernah mendengar rumor mengenai manusia berkepala anjing? tanya Indra.
Polisi itu terdiam sejenak. Awalnya Maya mengira kalau pak Darsono tidak pernah mendengar mengenai makhluk itu. Tapi jawaban yang dilontarkan polisi itu tidak terduga.
Pernah, jawab polisi itu. Aku bahkan pernah bertemu langsung dengan makhluk itu ketika sedang jaga malam di salah satu pos polisi di ring-road.
Mendengar jawaban polisi itu, Indra dan Maya langsung saling berpandangan.
Bagaimana ceritanya? tanya Maya.
Yah. Ini terjadi 2 malam yang lalu ketika aku dan temanku berjaga di pos polisi dekat Jalan Kaliurang, ujar Pak Darsono. Malam itu aku dan temanku melihat sesosok orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar deretan pertokoan dekat pos polisi. Aku dan temanku langsung menghampirinya dan bermaksud untuk menanyakan identitas dan alasan kenapa dia berkeliaran di sekitar tempat itu. Ketika kami mendekat, dia langsung membuka tudung yang dia kenakan dan memperlihatkan kepalanya yang merupakan kepala anjing.
Polisi itu berhenti sejenak, sementara Maya dan Indra masih memperhatikan ceritanya dengan serius.
Temanku tentu saja terkejut dan berlari kembali ke pos polisi sambil berteriak setan!!, lanjut pak Darsono. Aku sendiri terkejut dan ketakutan, tapi karena pengalamanku melihat Buto Ijo waktu itu, aku tidak setakut temanku. Ketika aku mendekat, makhluk itu langsung melompat tinggi dan segera menghilang dari pandangan.
Pak Darsono mengakhiri ceritanya dan meminum tehnya.
Memangnya kenapa? tanya polisi itu.
Aku hanya berpikir kalau makhluk itu yang membunuh ketiga korban, jelas Indra. Sangat mungkin mereka tidak sengaja memanggil makhluk itu melalui entah ritual apa yang mereka lakukan. Dan sepertinya makhluk itu sangat tidak bersahabat.
Cih. Kalau memang makhluk itu dipanggil dengan ritual. Kita harus tahu ritual apa yang dilakukan oleh ketiga korban. Kalau tidak akan sulit mengetahui apakah makhluk itu hanya makhluk gaib biasa atau sesuatu yang luar biasa.
Tiba-tiba Gembul berkomentar.
Tentu saja mendengar ucapan kucing itu, pak Darsono langsung terbelalak. Polisi itu nyaris menjatuhkan cangkir teh yang sedang dia pegang, untuk dia segera bisa menguasai dirinya. Maya tersenyum melihat perubahan ekspresi di wajah polisi itu. Reaksi semacam itu wajar saja, maklum, tidak setiap hari orang bisa mendengar ada kucing berbicara.
Mengejutkan saja .jadi kucing ini juga bukan kucing biasa? ujar pak Darsono setelah dia berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Tidak bisa dipercaya .
Gembul memandangi polisi itu, lalu menyeringai.
Kau beruntung. Tidak setiap hari kau bisa melihat kucing yang bisa bicara, balas Gembul dengan nada geli. Aku adalah Dewa Keberuntungan, dan ini hanya wujud sementara. Tapi itu tidak penting. Saat ini kita sebaiknya mendatangi rumah korban untuk mencari petunjuk.
Kurasa itu tidak perlu. Aku sudah mengunjungi rumah korban sebelumnya dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan, ujar pak Darsono.
Tapi polisi itu tidak mengerti mengapa Gembul ingin mendatangi rumah korban. Maya tentu saja paham karena dia pernah diberitahu mengenai kemampuan para makhluk gaib untuk mencium aroma sesama makhluk gaib, dan aroma ini khas untuk setiap makhluk, sehingga tidak ada 2 makhluk gaib yang aromanya sama persis. Maya tahu kalau Gembul ingin mengetahui apakah masih ada aroma makhluk gaib yang tertinggal di rumah korban. Kalau ada, mungkin dia bisa lebih mudah mencari makhluk apa yang telah membunuh mereka.
Spoiler for "Part 4.2":
Biar aku yang buka, ujar Indra sambil berjalan keluar dari ruangan tempatnya duduk, lalu segera menghampiri pintu depan. Tentu saja Maya dan Gembul juga ikut keluar.
Sebelum Indra membuka pintu, Maya sudah menyambar gagang pintu dan membukanya, lalu berseru dengan ramah.
Selamat datang! seru Maya.
Di hadapan gadis itu, berdiri seorang polisi muda yang membawa sebuah tas jinjing. Polisi itu tampak kaget melihat Maya, tapi dia lalu tersenyum lebar.
Selamat pagi, sapa polisi itu sambil memberi hormat pada Maya. Kita bertemu lagi ya. Bagaimana kabarmu?
Maya langsung mengenali siapa polisi itu. Polisi itu adalah polisi yang membantu dirinya, Indra dan Yudha dalam memecahkan masalah pembobolan bank 3 bulan yang lalu. Dia adalah Agus Darsono. Begitu dia mengenali siapa polisi itu, Maya langsung meraih tangannya dan menjabatnya dengan hangat.
Ah! Pak Darsono! seru Maya gembira. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar bapak?
Polisi muda itu tersipu dengan sambutan hangat dari Maya.
Baik-baik saja. Rasanya baru kemarin kita bertemu dan memecahkan masalah aneh di Bank Indonesia itu, balas polisi itu dengan ramah. Kemudian, kalau tidak salah namamu Indra ya?
Indra mengangguk. Pemuda itu juga mengenali siapa polisi itu, karena dialah yang memintanya untuk datang kesini.
Sebaiknya kita masuk. Tidak enak kalau kita berbicara di pintu seperti ini, ujar Indra sambil mempersilahkan pak Darsono untuk masuk.
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di salah satu ruangan santai yang biasa digunakan Yudha untuk menerima tamunya. Kali ini mereka menggunakan ruangan yang ada di lantai 2. Yudha biasa menerima tamunya di ruangan yang berbeda untuk setiap tamu, sehingga di rumahnya, ada 10 ruangan santai yang berbeda.
Seperti biasanya, Maya langsung membuatkan minuman untuk tamunya.
Tidak kusangka apa yang dikatakan orang tentang rumah ini memang benar, ujar pak Darsono sambil memandang ke sekelilingnya. Lokasi rumahnya sulit dijangkau, penampilan rumahnya seperti kastil berhantu yang menyeramkan.
Mendengar ucapan polisi itu, Maya tertawa tertahan sambil menyuguhkan segelas teh untuk polisi itu. Dia juga memiliki pendapat yang sama dengan pak Darsono ketika dia datang ke rumah Yudha untuk pertama kalinya.
Memang seperti itu, balas Indra. Tidak sedikit juga orang yang pulang lagi begitu melihat rumah Yudha.
Pak Darsono tertawa mendengar ucapan Indra. Sambil meminum tehnya, dia memulai pembicaraan serius mengenai kasus pembunuhan misterius di kota Yogyakarta.
Seperti yang sudah kau jelaskan di telpon semalam, aku sudah mencari beberapa data yang berkaitan dengan kasus itu. Walaupun ini memang bukan tugasku, tapi aku berhasil meyakinkan temanku dari bagian penyidikan untuk memberikan beberapa berkas yang berkaitan dengan kasus itu, ujar polisi itu sambil membuka tas jinjing yang dia bawa.
Dia lalu mengambil beberapa berkas yang sudah dia siapkan dan meletakannya diatas meja. Indra dan Maya langsung mengambil beberapa lembar kertas dan membacanya.
Kau bilang mereka pernah terlibat dengan hal-hal gaib karena mereka merupakan klien Yudha, ujar polisi itu. Selain itu, aku mendapatkan informasi menarik. Sebelum mereka terbunuh, mereka sepertinya melakukan semacam ritual ilmu hitam. Beberapa saksi mata melihat mereka bertiga sering mengunjungi kuburan tua untuk melakukan semacam ritual. Selain kesamaan itu, mereka semua dibunuh di tempat yang berbeda-beda. Sayangnya tidak ada jejak dari pelaku sama sekali. Ini membuat polisi kebingungan setengah mati.
Mendengar ucapan polisi itu. Maya langsung mengerti apa yang menyebabkan mereka terbunuh. Ketiga orang itu, entah bersama atau sendiri-sendiri, telah melakukan suatu ritual gaib yang berbahaya. Kemungkinan besar mereka terbunuh oleh makhluk gaib yang mereka panggil, entah sengaja atau tidak sengaja.
Ketika Maya ingin mengatakan sesuatu, pak Darsono keburu mengatakan hal lain yang membuatnya terkejut.
Ini belum disiarkan dalam berita, tapi sudah ada korban keempat yang jatuh tadi malam.
Ucapan polisi itu langsung membuat Indra dan Maya tersentak kaget. Mereka tidak menyangka kalau akan ada korban lagi dalam waktu sesingkat ini. Maya menoleh ke arah Indra, ekspresi wajah pemuda itu tampak menyeramkan karena marah.
Siapa orangnya? Apa dia berkaitan dengan Yudha? tanya Indra dengan nada serius. Maksudku, apakah orang ini pernah mendatangi rumah Yudha?
Polisi itu menghela nafas, lalu menggeleng.
Tidak, balasnya singkat. Korban kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yudha, dan korban diketahui bukan orang yang senang dengan hal-hal gaib. Tapi dia memang kehilangan kepalanya, sama seperti ketiga korban sebelumnya.
Maya kembali berpikir keras. Kalau korban kali ini bukan orang yang berhubungan dengan Yudha, atau hal-hal gaib, kenapa dia bisa terbunuh?
Ketika sedang berpikir, Maya tiba-tiba mendengar Indra mengajukan pertanyaan.
Apa bapak pernah mendengar rumor mengenai manusia berkepala anjing? tanya Indra.
Polisi itu terdiam sejenak. Awalnya Maya mengira kalau pak Darsono tidak pernah mendengar mengenai makhluk itu. Tapi jawaban yang dilontarkan polisi itu tidak terduga.
Pernah, jawab polisi itu. Aku bahkan pernah bertemu langsung dengan makhluk itu ketika sedang jaga malam di salah satu pos polisi di ring-road.
Mendengar jawaban polisi itu, Indra dan Maya langsung saling berpandangan.
Bagaimana ceritanya? tanya Maya.
Yah. Ini terjadi 2 malam yang lalu ketika aku dan temanku berjaga di pos polisi dekat Jalan Kaliurang, ujar Pak Darsono. Malam itu aku dan temanku melihat sesosok orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar deretan pertokoan dekat pos polisi. Aku dan temanku langsung menghampirinya dan bermaksud untuk menanyakan identitas dan alasan kenapa dia berkeliaran di sekitar tempat itu. Ketika kami mendekat, dia langsung membuka tudung yang dia kenakan dan memperlihatkan kepalanya yang merupakan kepala anjing.
Polisi itu berhenti sejenak, sementara Maya dan Indra masih memperhatikan ceritanya dengan serius.
Temanku tentu saja terkejut dan berlari kembali ke pos polisi sambil berteriak setan!!, lanjut pak Darsono. Aku sendiri terkejut dan ketakutan, tapi karena pengalamanku melihat Buto Ijo waktu itu, aku tidak setakut temanku. Ketika aku mendekat, makhluk itu langsung melompat tinggi dan segera menghilang dari pandangan.
Pak Darsono mengakhiri ceritanya dan meminum tehnya.
Memangnya kenapa? tanya polisi itu.
Aku hanya berpikir kalau makhluk itu yang membunuh ketiga korban, jelas Indra. Sangat mungkin mereka tidak sengaja memanggil makhluk itu melalui entah ritual apa yang mereka lakukan. Dan sepertinya makhluk itu sangat tidak bersahabat.
Cih. Kalau memang makhluk itu dipanggil dengan ritual. Kita harus tahu ritual apa yang dilakukan oleh ketiga korban. Kalau tidak akan sulit mengetahui apakah makhluk itu hanya makhluk gaib biasa atau sesuatu yang luar biasa.
Tiba-tiba Gembul berkomentar.
Tentu saja mendengar ucapan kucing itu, pak Darsono langsung terbelalak. Polisi itu nyaris menjatuhkan cangkir teh yang sedang dia pegang, untuk dia segera bisa menguasai dirinya. Maya tersenyum melihat perubahan ekspresi di wajah polisi itu. Reaksi semacam itu wajar saja, maklum, tidak setiap hari orang bisa mendengar ada kucing berbicara.
Mengejutkan saja .jadi kucing ini juga bukan kucing biasa? ujar pak Darsono setelah dia berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Tidak bisa dipercaya .
Gembul memandangi polisi itu, lalu menyeringai.
Kau beruntung. Tidak setiap hari kau bisa melihat kucing yang bisa bicara, balas Gembul dengan nada geli. Aku adalah Dewa Keberuntungan, dan ini hanya wujud sementara. Tapi itu tidak penting. Saat ini kita sebaiknya mendatangi rumah korban untuk mencari petunjuk.
Kurasa itu tidak perlu. Aku sudah mengunjungi rumah korban sebelumnya dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan, ujar pak Darsono.
Tapi polisi itu tidak mengerti mengapa Gembul ingin mendatangi rumah korban. Maya tentu saja paham karena dia pernah diberitahu mengenai kemampuan para makhluk gaib untuk mencium aroma sesama makhluk gaib, dan aroma ini khas untuk setiap makhluk, sehingga tidak ada 2 makhluk gaib yang aromanya sama persis. Maya tahu kalau Gembul ingin mengetahui apakah masih ada aroma makhluk gaib yang tertinggal di rumah korban. Kalau ada, mungkin dia bisa lebih mudah mencari makhluk apa yang telah membunuh mereka.
0
Kutip
Balas