TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#72
4th Arc: Manusia Abadi
Part 3
[Yogyakarta, 17 Juli 2010]
Apa?! Kau sedang berada di Kalimantan?! Untuk apa?
Maya mendengar Indra berseru keras kepada Yudha melalui ponselnya. Sekarang mereka berdua sudah berada di mansion milik Yudha, tapi sayangnya pria nyentrik berambut perak panjang itu sedang tidak berada di rumah. Tanpa basa-basi Indra langsung menelpon Yudha. Maya kaget juga begitu mengetahui kalau Yudha rupanya sedang pergi keluar Jawa, tepatnya ke Kalimantan.
Maya baru tahu kalau orang yang meminta bantuan pada Yudha tidak hanya datang dari sekitar Yogyakarta, tapi juga dari luar Yogyakarta, bahkan dari luar pulau Jawa. Sepertinya Dewa yang merangkap jadi paranormal itu cukup terkenal di Indonesia, meskipun tidak pernah ada tayangan televisi yang memberitakan mengenai dirinya.
Tentu saja untuk memenuhi permintaan klienku. Kemarin ada orang yang mengaku dari suku Dayak datang untuk memintaku mengatasi masalah serbuan makhluk gaib di desanya. Karena ini penting dan menarik, aku langsung pergi hari itu juga, balas Yudha melalui ponselnya, suara pria itu bisa terdengar dari speaker ponsel Indra. Memangnya ada apa? Kau terdengar tegang.
Apa kau tidak lihat berita? tanya Indra lagi.
Ha? Ini ditengah hutan. Siaran televisi tidak sampai kesini. Kita bisa berbicara seperti ini karena aku membawa telepon satelit, balas Yudha. Katakan padaku. Pasti ada masalah serius ya?
Indra terdiam sejenak.
Ya. Satu orang lagi klien yang pernah mendatangimu terbunuh tadi malam. Ini sudah yang ketiga dalam sebulan ini, dan sekarang aku yakin ini bukan kebetulan, kata Indra dengan nada serius. Kau harus kembali segera! Ini masalah serius!
Sejenak Yudha diam. Lalu dia berbicara lagi.
Aku tidak bisa meninggalkan tugasku ini seenaknya. Masalah disini juga serius. Aku tidak menyangka kalau serbuan makhluk gaib ini diakibatkan oleh penebangan hutan yang dilakukan masyarakat desa, tempatku berada ini, balas Yudha. Sekarang aku sibuk mengatasi agar tidak terjadi pertempuran antara manusia dan makhluk gaib disini. Karena sudah jatuh korban dari kedua pihak, perundingannya akan sangat sulit sekali. Kalian atasi saja masalah disana.
Tiba-tiba Maya mendekati Indra dan meraih ponsel pemuda itu dari genggamannya. Indra membiarkan Maya mengambil alih pembicaraannya dengan Yudha. Dengan segera, Maya langsung bertanya pada Yudha.
Bagaimana caranya?
Oh. Maya juga disitu ya? ujar Yudha dengan nada sedikit terkejut. Kalian berdua bisa minta bantuan pada polisi. Kalian ingat polisi bernama Agus Darsono yang terlibat di kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo? Hubungi dia dan minta bantuannya untuk menyelidiki kasus ini.
Maya berusaha mengingat-ingat sejenak. Daripada ingatan mengenai ada tidaknya polisi yang membantu dalam kasus itu, dia malah lebih ingat kondisi Indra setelah dihajar oleh Buto Ijo. Sayangnya itu bukan ingatan yang menyenangkan. Tapi kemudian gadis itu ingat. Memang ada seorang polisi yang hingga akhir mendampingi dirinya, Yudha, dan Indra dalam kasus itu. Dan pada akhirnya menangkap si pelaku.
Ya. Aku ingat, ujar Maya, dia lalu menoleh ke arah Indra. Pemuda itu juga mengangguk. Artinya dia juga ingat dengan polisi itu.
Bagus. Minta bantuannya untuk menyelidiki siapa pelakunya. Kalau pelakunya manusia serahkan saja pada pihak kepolisian untuk menanganinya. Tapi kalau pelakunya makhluk gaib, suruh Indra untuk melumpuhkannya. Dia sudah tahu caranya, ujar Yudha lagi. Selain itu, kalau kalian sudah tahu siapa pelakunya minta bantuan Gembul juga untuk menemukan dimana pelakunya bersembunyi. Jaringan informasi para kucing itu sangat akurat, jadi kalian bisa mengandalkannya.
Baiklah. Akan kami lakukan, balas Maya.
Bagus. Kalau begitu kuserahkan masalah ini pada kalian, ujar Yudha. Tapi ingat, kalau masalah ini sudah tidak bisa kalian tangani, tinggalkan saja. Aku akan mengurusnya.
Tenang saja. Kau bisa mengandalkan kami, Maya berbicara dengan penuh keyakinan.
Kalau begitu, sampai nanti. Kabari aku kalau ada perkembangan, ujar Yudha. Setelah itu pria itu memutus sambungan teleponnya.
Maya langsung menoleh ke arah Indra. Temannya itu tentu saja mendengarkan semua percakapannya dengan Yudha. Seperti biasanya, Indra terlihat enggan untuk menyelidiki kasus atau masalah yang diberikan oleh Yudha. Tapi Maya tahu kalau Indra pada akhirnya akan mengerjakan tugasnya dengan serius seperti biasanya. Itu sudah jadi sifat pemuda itu.
Sekarang kita harus bagaimana? tanya Maya pada Indra.
Biasanya Yudha selalu memberikan instruksi dan perintah pada mereka berdua. Tapi tanpa kehadiran pria itu, sekarang Maya dan Indra harus bisa bekerja sama untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis ini. Dan di saat-saat seperti ini, Maya selalu bisa mengandalkan Indra. Pemuda itu sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini.
Yang pertama harus kita lakukan adalah menghubungi pak Darsono, si polisi. Ini urusanku, aku akan menemuinya malam ini juga, ujar Indra sambil menatap ke arah ponselnya. Sementara itu kau harus segera pulang dan menceritakan masalah ini pada Gembul, lalu minta agar dia membantu kita.
Sesuai dugaan Maya, Indra memang bisa diandalkan. Gadis itu tersenyum lebar begitu mendengar Indra menjelaskan apa yang harus dia lakukan.
Serahkan padaku! seru Maya bersemangat. Gembul pasti bersedia membantuku dengan senang hati.
Bagus. Besok datanglah lagi kesini bersama Gembul, setelah itu kita akan ke kantor polisi. Sekarang sebaiknya kau pulang, ujar Indra sambil membuka pintu depan rumah Yudha. Biar kuantar kau sampai ke jalan.
Maya menangguk dan mengambil tasnya, lalu berjalan bersama Indra menyusuri jalan kecil berbatu-batu dan tidak rata yang mengarah ke jalan utama. Saat mereka berjalan, tidak ada yang berbicara. Keduanya hanya terdiam. Suasana ini membuat Maya semakin tidak nyaman, hawa seram yang ditimbulkan dari hutan gelap di malam hari ini sudah cukup membuatnya merasa sedikit takut. Meskipun saat ini dia membawa sebuah senter dan ditemani oleh Indra.
Indra.
Akhirnya Maya membuka mulutnya lagi.
A...apa?
Indra membalas perkataannya dengan nada yang terdengar agak aneh. Dia terdengar gugup.
Berjalan berdua seperti ini membuat kita berdua terlihat seperti sepasang kekasih ya.
Begitu Maya selesai mengucapkan kalimat itu, Indra tiba-tiba saja tersandung oleh sebuah batu yang cukup besar. Pemuda itu jatuh tersungkur dengan wajah membentur tanah duluan. Maya terkejut dan langsung menghampiri pemuda itu, berusaha membantunya berdiri.
Gadis itu heran bagaimana bisa seorang setengah vampir, yang bisa melihat menembus kegelapan, bisa tersandung oleh batu yang jelas-jelas bisa dia lihat. Maya tentu belum sadar kalau perkataannya tadi membuat jantung Indra nyaris lompat keluar dari mulutnya.
Kau tidak apa-apa? tanya Maya sambil mengulurkan tangannya.
Indra mengabaikan Maya dan berdiri sendiri, lalu menepuk-nepuk baju dan celananya yang kotor. Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya, seakan-akan dia marah dengan perkataan yang diucapkan Maya tadi. Walau sesungguhnya dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Tidak.....tidak apa-apa... balas Indra dengan suara agak bergetar.
Bisa-bisanya kau tersandung batu sebesar ini, ujar Maya sambi tertawa, gadis itu menepuk batu yang membuat Indra tersandung. Apa kau tidak melihatnya waktu berjalan tadi?
Indra menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi pemuda itu, Maya menghela nafasnya. Kadang-kadang Indra juga bisa bertingkah konyol. Beberapa kali bahkan Maya secara refleks memukul atau menendang Indra, karena secara tidak sengaja melakukan hal yang agak mesum padanya. Walaupun kasar, tapi Indra terlihat tidak pernah marah dan mempermasalahkan tindakan kasar Maya.
Kau ini vampir atau bukan? Kau kan bisa melihat dalam kegelapan, kenapa batu sebesar ini tidak bisa kau lihat? goda Maya sambil menepuk bahu Indra.
Pemuda itu langsung merengut. Untung saja saat ini gelap dan Maya jelas tidak bisa melihat dalam kegelapan.
Ini gara-gara perkataanmu itu....gerutu pemuda itu dalam hati.
Ingat ya, aku ini memang bukan vampir. Aku setengah vampir, balas Indra sambil mulai berjalan. Aku memang bisa melihat dalam gelap, tapi bukan berarti aku tidak bisa tersandung kan?
Ucapan Indra memang masuk akal, tapi tetap saja hal itu lucu bagi Maya. Gadis itu tertawa kecil untuk beberapa saat, kemudian kembali berjalan mengikuti Indra. Indra memang kadang-kadang bersikap konyol, mesum, dan mudah marah, tapi Maya tahu kalau pemuda itu selalu bisa diandalkan dalam situasi darurat.
Kita sudah sampai.
Ucapan Indra membuat lamunan Maya buyar. Tanpa sadar, dia sudah berjalan mengikuti Indra ke pinggir jalan utama. Maya melihat kalau sebuah taksi juga sudah dihentikan oleh Indra.
Sampai jumpa lagi besok, ujar Indra sambil berbalik dan berjalan ke arah garasi, yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
Baiklah. Sampai jumpa besok, ujar Maya sambil tersenyum, dia lalu naik ke taksi yang sudah berhenti di pinggir jalan.
Maya sama sekali tidak tahu kalau senyumannya itu membuat wajah Indra merah padam. Untung penerangan jalan itu hanya sekedarnya, sehingga wajah pemuda itu tidak terlihat dengan jelas.
__________________________________________________ _
Spoiler for "Part 3":
[Yogyakarta, 17 Juli 2010]
Apa?! Kau sedang berada di Kalimantan?! Untuk apa?
Maya mendengar Indra berseru keras kepada Yudha melalui ponselnya. Sekarang mereka berdua sudah berada di mansion milik Yudha, tapi sayangnya pria nyentrik berambut perak panjang itu sedang tidak berada di rumah. Tanpa basa-basi Indra langsung menelpon Yudha. Maya kaget juga begitu mengetahui kalau Yudha rupanya sedang pergi keluar Jawa, tepatnya ke Kalimantan.
Maya baru tahu kalau orang yang meminta bantuan pada Yudha tidak hanya datang dari sekitar Yogyakarta, tapi juga dari luar Yogyakarta, bahkan dari luar pulau Jawa. Sepertinya Dewa yang merangkap jadi paranormal itu cukup terkenal di Indonesia, meskipun tidak pernah ada tayangan televisi yang memberitakan mengenai dirinya.
Tentu saja untuk memenuhi permintaan klienku. Kemarin ada orang yang mengaku dari suku Dayak datang untuk memintaku mengatasi masalah serbuan makhluk gaib di desanya. Karena ini penting dan menarik, aku langsung pergi hari itu juga, balas Yudha melalui ponselnya, suara pria itu bisa terdengar dari speaker ponsel Indra. Memangnya ada apa? Kau terdengar tegang.
Apa kau tidak lihat berita? tanya Indra lagi.
Ha? Ini ditengah hutan. Siaran televisi tidak sampai kesini. Kita bisa berbicara seperti ini karena aku membawa telepon satelit, balas Yudha. Katakan padaku. Pasti ada masalah serius ya?
Indra terdiam sejenak.
Ya. Satu orang lagi klien yang pernah mendatangimu terbunuh tadi malam. Ini sudah yang ketiga dalam sebulan ini, dan sekarang aku yakin ini bukan kebetulan, kata Indra dengan nada serius. Kau harus kembali segera! Ini masalah serius!
Sejenak Yudha diam. Lalu dia berbicara lagi.
Aku tidak bisa meninggalkan tugasku ini seenaknya. Masalah disini juga serius. Aku tidak menyangka kalau serbuan makhluk gaib ini diakibatkan oleh penebangan hutan yang dilakukan masyarakat desa, tempatku berada ini, balas Yudha. Sekarang aku sibuk mengatasi agar tidak terjadi pertempuran antara manusia dan makhluk gaib disini. Karena sudah jatuh korban dari kedua pihak, perundingannya akan sangat sulit sekali. Kalian atasi saja masalah disana.
Tiba-tiba Maya mendekati Indra dan meraih ponsel pemuda itu dari genggamannya. Indra membiarkan Maya mengambil alih pembicaraannya dengan Yudha. Dengan segera, Maya langsung bertanya pada Yudha.
Bagaimana caranya?
Oh. Maya juga disitu ya? ujar Yudha dengan nada sedikit terkejut. Kalian berdua bisa minta bantuan pada polisi. Kalian ingat polisi bernama Agus Darsono yang terlibat di kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo? Hubungi dia dan minta bantuannya untuk menyelidiki kasus ini.
Maya berusaha mengingat-ingat sejenak. Daripada ingatan mengenai ada tidaknya polisi yang membantu dalam kasus itu, dia malah lebih ingat kondisi Indra setelah dihajar oleh Buto Ijo. Sayangnya itu bukan ingatan yang menyenangkan. Tapi kemudian gadis itu ingat. Memang ada seorang polisi yang hingga akhir mendampingi dirinya, Yudha, dan Indra dalam kasus itu. Dan pada akhirnya menangkap si pelaku.
Ya. Aku ingat, ujar Maya, dia lalu menoleh ke arah Indra. Pemuda itu juga mengangguk. Artinya dia juga ingat dengan polisi itu.
Bagus. Minta bantuannya untuk menyelidiki siapa pelakunya. Kalau pelakunya manusia serahkan saja pada pihak kepolisian untuk menanganinya. Tapi kalau pelakunya makhluk gaib, suruh Indra untuk melumpuhkannya. Dia sudah tahu caranya, ujar Yudha lagi. Selain itu, kalau kalian sudah tahu siapa pelakunya minta bantuan Gembul juga untuk menemukan dimana pelakunya bersembunyi. Jaringan informasi para kucing itu sangat akurat, jadi kalian bisa mengandalkannya.
Baiklah. Akan kami lakukan, balas Maya.
Bagus. Kalau begitu kuserahkan masalah ini pada kalian, ujar Yudha. Tapi ingat, kalau masalah ini sudah tidak bisa kalian tangani, tinggalkan saja. Aku akan mengurusnya.
Tenang saja. Kau bisa mengandalkan kami, Maya berbicara dengan penuh keyakinan.
Kalau begitu, sampai nanti. Kabari aku kalau ada perkembangan, ujar Yudha. Setelah itu pria itu memutus sambungan teleponnya.
Maya langsung menoleh ke arah Indra. Temannya itu tentu saja mendengarkan semua percakapannya dengan Yudha. Seperti biasanya, Indra terlihat enggan untuk menyelidiki kasus atau masalah yang diberikan oleh Yudha. Tapi Maya tahu kalau Indra pada akhirnya akan mengerjakan tugasnya dengan serius seperti biasanya. Itu sudah jadi sifat pemuda itu.
Sekarang kita harus bagaimana? tanya Maya pada Indra.
Biasanya Yudha selalu memberikan instruksi dan perintah pada mereka berdua. Tapi tanpa kehadiran pria itu, sekarang Maya dan Indra harus bisa bekerja sama untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis ini. Dan di saat-saat seperti ini, Maya selalu bisa mengandalkan Indra. Pemuda itu sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini.
Yang pertama harus kita lakukan adalah menghubungi pak Darsono, si polisi. Ini urusanku, aku akan menemuinya malam ini juga, ujar Indra sambil menatap ke arah ponselnya. Sementara itu kau harus segera pulang dan menceritakan masalah ini pada Gembul, lalu minta agar dia membantu kita.
Sesuai dugaan Maya, Indra memang bisa diandalkan. Gadis itu tersenyum lebar begitu mendengar Indra menjelaskan apa yang harus dia lakukan.
Serahkan padaku! seru Maya bersemangat. Gembul pasti bersedia membantuku dengan senang hati.
Bagus. Besok datanglah lagi kesini bersama Gembul, setelah itu kita akan ke kantor polisi. Sekarang sebaiknya kau pulang, ujar Indra sambil membuka pintu depan rumah Yudha. Biar kuantar kau sampai ke jalan.
Maya menangguk dan mengambil tasnya, lalu berjalan bersama Indra menyusuri jalan kecil berbatu-batu dan tidak rata yang mengarah ke jalan utama. Saat mereka berjalan, tidak ada yang berbicara. Keduanya hanya terdiam. Suasana ini membuat Maya semakin tidak nyaman, hawa seram yang ditimbulkan dari hutan gelap di malam hari ini sudah cukup membuatnya merasa sedikit takut. Meskipun saat ini dia membawa sebuah senter dan ditemani oleh Indra.
Indra.
Akhirnya Maya membuka mulutnya lagi.
A...apa?
Indra membalas perkataannya dengan nada yang terdengar agak aneh. Dia terdengar gugup.
Berjalan berdua seperti ini membuat kita berdua terlihat seperti sepasang kekasih ya.
Begitu Maya selesai mengucapkan kalimat itu, Indra tiba-tiba saja tersandung oleh sebuah batu yang cukup besar. Pemuda itu jatuh tersungkur dengan wajah membentur tanah duluan. Maya terkejut dan langsung menghampiri pemuda itu, berusaha membantunya berdiri.
Gadis itu heran bagaimana bisa seorang setengah vampir, yang bisa melihat menembus kegelapan, bisa tersandung oleh batu yang jelas-jelas bisa dia lihat. Maya tentu belum sadar kalau perkataannya tadi membuat jantung Indra nyaris lompat keluar dari mulutnya.
Kau tidak apa-apa? tanya Maya sambil mengulurkan tangannya.
Indra mengabaikan Maya dan berdiri sendiri, lalu menepuk-nepuk baju dan celananya yang kotor. Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya, seakan-akan dia marah dengan perkataan yang diucapkan Maya tadi. Walau sesungguhnya dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Tidak.....tidak apa-apa... balas Indra dengan suara agak bergetar.
Bisa-bisanya kau tersandung batu sebesar ini, ujar Maya sambi tertawa, gadis itu menepuk batu yang membuat Indra tersandung. Apa kau tidak melihatnya waktu berjalan tadi?
Indra menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi pemuda itu, Maya menghela nafasnya. Kadang-kadang Indra juga bisa bertingkah konyol. Beberapa kali bahkan Maya secara refleks memukul atau menendang Indra, karena secara tidak sengaja melakukan hal yang agak mesum padanya. Walaupun kasar, tapi Indra terlihat tidak pernah marah dan mempermasalahkan tindakan kasar Maya.
Kau ini vampir atau bukan? Kau kan bisa melihat dalam kegelapan, kenapa batu sebesar ini tidak bisa kau lihat? goda Maya sambil menepuk bahu Indra.
Pemuda itu langsung merengut. Untung saja saat ini gelap dan Maya jelas tidak bisa melihat dalam kegelapan.
Ini gara-gara perkataanmu itu....gerutu pemuda itu dalam hati.
Ingat ya, aku ini memang bukan vampir. Aku setengah vampir, balas Indra sambil mulai berjalan. Aku memang bisa melihat dalam gelap, tapi bukan berarti aku tidak bisa tersandung kan?
Ucapan Indra memang masuk akal, tapi tetap saja hal itu lucu bagi Maya. Gadis itu tertawa kecil untuk beberapa saat, kemudian kembali berjalan mengikuti Indra. Indra memang kadang-kadang bersikap konyol, mesum, dan mudah marah, tapi Maya tahu kalau pemuda itu selalu bisa diandalkan dalam situasi darurat.
Kita sudah sampai.
Ucapan Indra membuat lamunan Maya buyar. Tanpa sadar, dia sudah berjalan mengikuti Indra ke pinggir jalan utama. Maya melihat kalau sebuah taksi juga sudah dihentikan oleh Indra.
Sampai jumpa lagi besok, ujar Indra sambil berbalik dan berjalan ke arah garasi, yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
Baiklah. Sampai jumpa besok, ujar Maya sambil tersenyum, dia lalu naik ke taksi yang sudah berhenti di pinggir jalan.
Maya sama sekali tidak tahu kalau senyumannya itu membuat wajah Indra merah padam. Untung penerangan jalan itu hanya sekedarnya, sehingga wajah pemuda itu tidak terlihat dengan jelas.
__________________________________________________ _
0
Kutip
Balas