- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#140
Kikan tak pernah terlelap malam itu. Dia terjaga. Tak terbayangkan rasa kecewa di hatinya karena Sierra tak menemaninya tidur malam itu. Ia merasa rendah. Seorang wanita yang tidur di rumah pria, tak mungkin mengharapkannya untuk terlelap begitu saja. Ada perasaan mendebarkan yang Kikan rasakan malam itu. Ia mendengar semua percakapan Sierra dan Lowry dengan jelas dari dalam kamar.
Lalu, ketika mereka beralih ke Studio mini, Kikan keluar dari kamarnya. Dan, entah beruntung atau tidak, tak seorang pun antara Lowry dan Sierra yang menyadari bahwa mereka tidak menutup rapat pintu ruang kedap tersebut. Dan, mereka juga tidak melihat Kikan yang menguping pembicaraan mereka di luar.
Saat Lowry akan keluar dari ruangan kedap tersebut, Kikan bersembunyi di antara kursi-kursi teras belakang. Lowry pun tak pernah menoleh ke belakang dan langsung masuk kamar. Adapun Sierra, ia masih tetap diam di ruangan itu beberapa saat lamanya, dan saat inilah Kikan masuk kembali ke kamarnya.
Dengan pemahaman akan perasaan Sierra padanya. Ia duduk tanpa di temani cahaya di kasur di kamar Sierra. Dengan selimut ia tutupkan ke tubuhnya, karena ruangan itu cukup sejuk karena AC telah menyala cukup lama, perlahan air matanya berderai. Semua yang baru saja didengarnya membuatnya yakin apa yang telah ia rasakan janggal selama ini. Sierra terlalu baik untuknya. Kehadiran Sierra dalam hidupnya, yang sangat ia banggakan, sejak orang tuanya memutuskan untuk pergi ke luar negeri, meninggalkan Kikan seorang diri di Jakarta, di kompleks perumahan tersebut.
Tak sulit bagi Kikan untuk terus mengingat perjumpaan pertamanya dengan duo Sierra dan Lowry. Dan malam itu, di sela derai air matanya, ia kembali mengingat hari itu. Hari dimana, Sierra dan Lowry membagikan penganan kecil pertanda baru pindah rumah. Sesuatu hal yang sudah banyak dilupakan orang saat ini. Ya, Sierra dan Lowry saat itu baru menempati rumah mereka di kompleks tersebut. Dan mereka pun membagi-bagikan kue kue kering kepada beberapa orang tetangga, sebagai basa-basi penanda sopan santun bertetangga. Dan ketika Kikan membuka pintu, ia tak pernah lupa betapa kikuknya Lowry hari itu, sedangkan Sierra dengan gaya coolnya bahkan tak berkata sepatah kata pun.
“Anu ... maaf, ini .. ehmm .. kami mengganggu. Saya .. Saya Lowry dan ini sahabat saya Sierra ..” seraya memberikan sebuah plastik berisikan dua toples kue kering. “Kami baru pindah ke blok E nomer 9.”
“Oh yang di belakang ya..” ujar Kikan ramah.
“Iya .. di Cendrawasih, di belakang, boleh main kapan-kapan, ehm mbak namanya siapa, kalo boleh tau?”
“Aku Kikan, makasih yaa kuenya, nanti aku main-main deh kapan-kapan.”
Lowry tersenyum dengan senang dan memohon diri. Tapi yang Kikan perhatikan justru pria pendiam yang hanya berdiri membelakangi mereka. Sierra sama sekali berbeda dengan Lowry. Itu kesan pertama yang Kikan rasakan. Sierra terkesan misterius, cool dan sulit untuk ditebak.
Kikan sekarang merasa dirinya di tengah dilema. Ia tahu apa yang semestinya ia tidak tahu. Sungguh tak mudah menanggung beban itu. Dan ia tak punya tempat berbagi beban itu. Selama ini Sierra lah tempatnya berbagi suka dan duka, tapi sekarang ia tak mungkin menceritakan semua ini kepada orang yang memiliki rahasia tersebut.
Sierra tak pernah mencintainya. Sierra cuma sayang padanya. Bila aku tak mendengarnya mungkin aku takkan terluka, pikir Kikan setengah menyesali perbuatannya sendiri, mencuri dengar percakapan orang.
Sumpah. Gua ga ada rasa. Lagi, kalimat yang Sierra ucapkan itu mengiang kembali dan menusuk hati Kikan.
Sumpah. Gua ga ada rasa. Kikan pun menjambak rambutnya sendiri, dengan susah payah menahan agar suara isak tangisnya tidak sampai terdengar keluar. Menggigit bibirnya sekuat tenaga. Tangannya mengepal memukul-mukul bantal tebal, karena geram, kecewa, dan sedih yang berkecamuk di hatinya.
Ia menangis hingga akhirnya jatuh tertidur.
Lalu, ketika mereka beralih ke Studio mini, Kikan keluar dari kamarnya. Dan, entah beruntung atau tidak, tak seorang pun antara Lowry dan Sierra yang menyadari bahwa mereka tidak menutup rapat pintu ruang kedap tersebut. Dan, mereka juga tidak melihat Kikan yang menguping pembicaraan mereka di luar.
Saat Lowry akan keluar dari ruangan kedap tersebut, Kikan bersembunyi di antara kursi-kursi teras belakang. Lowry pun tak pernah menoleh ke belakang dan langsung masuk kamar. Adapun Sierra, ia masih tetap diam di ruangan itu beberapa saat lamanya, dan saat inilah Kikan masuk kembali ke kamarnya.
Dengan pemahaman akan perasaan Sierra padanya. Ia duduk tanpa di temani cahaya di kasur di kamar Sierra. Dengan selimut ia tutupkan ke tubuhnya, karena ruangan itu cukup sejuk karena AC telah menyala cukup lama, perlahan air matanya berderai. Semua yang baru saja didengarnya membuatnya yakin apa yang telah ia rasakan janggal selama ini. Sierra terlalu baik untuknya. Kehadiran Sierra dalam hidupnya, yang sangat ia banggakan, sejak orang tuanya memutuskan untuk pergi ke luar negeri, meninggalkan Kikan seorang diri di Jakarta, di kompleks perumahan tersebut.
Tak sulit bagi Kikan untuk terus mengingat perjumpaan pertamanya dengan duo Sierra dan Lowry. Dan malam itu, di sela derai air matanya, ia kembali mengingat hari itu. Hari dimana, Sierra dan Lowry membagikan penganan kecil pertanda baru pindah rumah. Sesuatu hal yang sudah banyak dilupakan orang saat ini. Ya, Sierra dan Lowry saat itu baru menempati rumah mereka di kompleks tersebut. Dan mereka pun membagi-bagikan kue kue kering kepada beberapa orang tetangga, sebagai basa-basi penanda sopan santun bertetangga. Dan ketika Kikan membuka pintu, ia tak pernah lupa betapa kikuknya Lowry hari itu, sedangkan Sierra dengan gaya coolnya bahkan tak berkata sepatah kata pun.
“Anu ... maaf, ini .. ehmm .. kami mengganggu. Saya .. Saya Lowry dan ini sahabat saya Sierra ..” seraya memberikan sebuah plastik berisikan dua toples kue kering. “Kami baru pindah ke blok E nomer 9.”
“Oh yang di belakang ya..” ujar Kikan ramah.
“Iya .. di Cendrawasih, di belakang, boleh main kapan-kapan, ehm mbak namanya siapa, kalo boleh tau?”
“Aku Kikan, makasih yaa kuenya, nanti aku main-main deh kapan-kapan.”
Lowry tersenyum dengan senang dan memohon diri. Tapi yang Kikan perhatikan justru pria pendiam yang hanya berdiri membelakangi mereka. Sierra sama sekali berbeda dengan Lowry. Itu kesan pertama yang Kikan rasakan. Sierra terkesan misterius, cool dan sulit untuk ditebak.
Kikan sekarang merasa dirinya di tengah dilema. Ia tahu apa yang semestinya ia tidak tahu. Sungguh tak mudah menanggung beban itu. Dan ia tak punya tempat berbagi beban itu. Selama ini Sierra lah tempatnya berbagi suka dan duka, tapi sekarang ia tak mungkin menceritakan semua ini kepada orang yang memiliki rahasia tersebut.
Sierra tak pernah mencintainya. Sierra cuma sayang padanya. Bila aku tak mendengarnya mungkin aku takkan terluka, pikir Kikan setengah menyesali perbuatannya sendiri, mencuri dengar percakapan orang.
Sumpah. Gua ga ada rasa. Lagi, kalimat yang Sierra ucapkan itu mengiang kembali dan menusuk hati Kikan.
Sumpah. Gua ga ada rasa. Kikan pun menjambak rambutnya sendiri, dengan susah payah menahan agar suara isak tangisnya tidak sampai terdengar keluar. Menggigit bibirnya sekuat tenaga. Tangannya mengepal memukul-mukul bantal tebal, karena geram, kecewa, dan sedih yang berkecamuk di hatinya.
Ia menangis hingga akhirnya jatuh tertidur.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:44
0