- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#135
EPISODE 3: INSIDE OF LOVE (29 SEPTEMBER 2009)
Beberapa menit lewat tengah malam, Max Alfar menutup pagar rumahnya. Mencari kunci pintu depan, menemukannya dan memasukkannya ke lubang kunci. Menutup kembali pintu dengan perlahan karena tak ingin membangunkan mbok Asih yang ia kira pasti sudah tidur sejak tadi. Lunglai ia berjalan dan membuka pintu kulkas, menenggak air dingin langsung dari botolnya.
Setelah itu ia kembali ke depan, dan membaringkan dirinya di sofa panjang ruang tamu, masih dengan mengenakan sepatunya. Ia mencoba berpikir tentang Raine, saat ia masih tersenyum padanya. Lalu kejadian beberapa jam yang lalu kembali membersit di ingatannya. Kata-kata Raine.
“Aku ingin mencintai. Aku tak ingin belajar mencintai.”
“Aku tak pernah punya niat untuk menjadi dewi penyelamat bagi kehidupanmu yang so common.”
“Bangun dari semua mimpimu. Hiduplah! Dan berhenti menjadi seseorang yang sangat biasa!”
Belum pernah ada orang yang berkata seperti itu padanya. Dan saat memang ada orang yang berkata seperti itu ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia memikirkan kembali, dan ada rasa dimana sepertinya semua yang dikatakan Raine itu benar.
Hidupku terlalu biasa, keluh Max. Kuliah, kerja, menikah, kerapihan, kebersihan, keteraturan. Aku tidak punya dunia yang menarik untuk kutawarkan pada Raine. Wajar bila ia melihatku seperti itu. Ia seorang bidadari. Tapi Raine, aku tidak tahu caranya untuk tidak menjadi biasa.
Perlahan badannya gemetar. Lalu, di tengah deras guncangan emosi yang ia rasakan, tangisnya pun berderai tanpa mampu ditahan-tahan lagi. Tak mampu ia membendung senyuman dan cacian Raine yang terus berkelebat silih berganti di benaknya. Ini adalah pria yang merasa telah membangun sebuah menara yang begitu megah dan indah, dan kata tidak dari seorang gadis, membuat menara yang ia bangun hanyalah menjadi onggokan besi tanpa arti. Dan ia terus menangis hingga akhirnya ia jatuh terlelap.
--//--
Di Bandung, Max tengah bergelut dengan perasaannya hingga ia jatuh tertidur. Di Jakarta, dua sahabat, Raine dan Fiona duduk di balkon apartemen, memandang gemerlap cahaya lalu lintas kota yang menciptakan keindahan tersendiri. Angin malam menghembus dengan perlahan, sesekali kencang namun lalu pelan kembali. Raine menyibukkan dirinya dengan Nintendo DS, dan malas-malasan meladeni obrolan Fiona. Fiona sendiri, setelah beberapa kaleng Heineken, mulai terlihat menyipit pandangannya, tetapi ia masih bisa mengendalikan diri sepenuhnya.
“So, what now?” tanya Fiona pada Raine.
‘Apanya yang what now?’ Raine masih acuh dan sibuk dengan permainannya, GTA Chinatown Wars.
‘Iya, aku mau ngucapin selamat, anda baru saja dengan sukses memusnahkan satu lagi peluang pria yang mendekati anda.’
‘Oh? Max? Ya, itu sih sudah game over ya,’ tanpa ekspresi.
Fiona bangun dari duduknya, mendekat ke pinggiran balkon, dan menenggak habis isi kaleng bir ke empatnya, lalu menyalakan sebatang rokok. Upayanya beberapa kali gagal, karena api zipponya tertiup angin.
Melihat itu, Raine bangkit, dan masuk ke dalam ruangan apartemen mereka.
‘Masuk, ayo kita bicara, disini terlalu berangin.’
Raine meletakkan DSnya diatas meja makan, mengambil sepotong sayap ayam dari chicken bucket yang ada di meja. Tak butuh waktu lama, ia melemparkan kembali serpihan tulang-tulang yang sudah bersih. Dan lalu menghapus minyak-minyak di bibirnya dengan tisu, melegakan tenggorokannya dengan segelas air mineral dingin.
Lalu ia berbalik, dan menatap pada Fiona yang ternyata sudah mematikan rokoknya, dan sekarang tertidur dengan posisi tertelungkup di kasur yang digelar di depan televisi.
‘Aku tahu pasti ada sesuatu yang ga beres dengan kamu, Fio. Iya kan? Aku yang lagi ribet sama cowok, kenapa malah jadi kamu yang mellow?’
‘Iya, aku yang mellow, untuk sekarang aku akui itu benar. Aku begini, karena aku ga tau lagi harus gimana untuk melihat persahabatan kita.’
‘Maksud lo?
‘Ya.. aku ga tau lah. Pikir aja sendiri.’
‘Saat ini, gw lagi ga butuh cowok, Fio. Max, hmm.. jangan – jangan lo naksir sama Max ya?’
Fiona tak menjawab tapi ia bangkit dari tidurnya dan berdiri dan menggulung rambutnya ke atas sehingga lehernya terbuka.
‘What if I love you, Raine? What will you do?’
Dan suasana diantara mereka pun menjadi hening. Yang ditanya tak menjawab, malah ke kamar dan mengambil sebuah guling besar dari kamar. Ia tersenyum.
‘Ada sesuatu yang salah dengan perkataanku? Apa kau menganggapnya lucu?’ Fiona bingung.
Raine masih tak menjawab. Perlahan ia letakkan guling yang ia pegang tersebut ke sofa. Lalu berjalan mendekati Fiona. Sekarang ia berdiri persis di hadapan sahabatnya itu. Dengan tenang, kedua tangannya menggenggam kedua tangan sahabatnya. Lalu ia mulai mendekatkan bibirnya, sehingga keduanya bertemu dan memberikan sensasi yang menggetarkan. Fiona merinding. Ia sama sekali tak menduga Raine akan merespon dengan seperti ini. Dan keduanya terus terbuai untuk beberapa detik lamanya. Saling memagut, saling mencari, seolah ada sesuatu dahaga yang hendak dituntaskan.
Lalu setelah beberapa saat Fiona melepaskannya. Kedua tangan mereka masih saling berpaut.
‘You’re really a great kisser, Raine.’
‘Thanks.’
‘So?’ Fiona menanti penuh harap.
‘What?’ Raine bingung.
‘Kau masih belum menjawab pertanyaanku,’ ujar Fiona.
‘Kau tanya apa yang akan kulakukan? If you love me, I will kiss you. Dan aku sudah melakukannya. Apa lagi?’
‘Can we be … a couple?’ Fio masih terus mengejar.
‘What for? We are already a couple. We are friends, aren’t we?’
‘You don’t love me?’
‘Ah, Fio, semua yang kita lakukan selama ini, bukankah itu lebih dari sekedar cinta? Our friendship is beautiful. Don't you think?’
‘You don’t love me.’ Sekarang itu adalah sebuah statement. Bukan lagi sebuah pertanyaan. Dan ia mulai membuang wajahnya yang kusut.
‘Come on! Kok malah pasang tampang bete gitu sih? Aku suka pria, Fio. Dan aku yakin kamu juga sama.’
‘Tidak. Kamu tidak suka pria. Tindakanmu malam ini memperlihatkan bahwa kamu tak terlalu suka dengan pria. Apa yang kurang dari Max coba?’
‘Jangan sebut nama pria malang itu. Ia bahkan tak tahu apa yang ia mau. Kalo kamu suka aku, silakan aku tak akan melarang. You can admire me as much as you want. Aku masih menunggu ‘dia’. Dan kau tahu persis, siapa ‘dia’ yang kumaksud.’
‘It’s not fair. Kamu beri dia seluruh hidup kamu. Kamu tunggu dia dengan seluruh hidup kamu. Tetapi untukku, kau bahkan tak memberiku kesempatan.’
Raine menangkap sedikit nada bersalah diantara rangkaian kata yang ia tangkap sebagai suatu kecemburuan. Pikirannya kembali bergerak, dan ia menyadari sesuatu. Raine pun langsung bergerak ke arah Fio, dan memegang bahu Fio dengan kedua tangannya.
‘Berhenti bermain-main denganku Fio, kau pasti tahu sesuatu kan? Kau melihat ‘dia’? Kau tahu dimana ‘dia’? Beri tahu aku sekarang juga.’ Wajah Raine mendadak berubah serius.
‘Aku melihatnya sekali. Di parkiran kantorku, tapi aku tak yakin itu ‘dia’ atau bukan.’
‘Jangan beri aku harapan Fio, itu ‘dia’ atau bukan?’
‘Ya. Sangat mungkin pria yang kulihat waktu itu adalah Sierra-mu.’
‘Dia seharusnya menjadi milikku’ ucap Raine menerawang.
’12 tahun sudah berlalu dan kau masih terobsesi dengan Sierra? Kau ini benar-benar gila! Kau bahkan tak ingat wajahnya seperti apa?’
‘Aku akan ingat bila aku melihatnya. Seperti kau ingat saat kau melihatnya.’
‘Ya, dia memang benar-benar tampan. What if I like him, Raine?’ tanya Fiona
‘Ah sudah, sudah.. cukup dengan semua if if untuk hari ini, you make us kiss again. Dasar genit.’
‘No. Maybe I really like you,’ keluh Fiona.
‘Yeah, whatever, yang seperti tadi itu cukup setahun sekali saja. Bisa-bisa kita jadi gila kalau nurutin mabukmu. Ayo tidur besok temani aku mencari ‘dia.’
Raine mematikan lampu meninggalkan Fiona tanpa pilihan selain ikut tidur di sampingnya.
Beberapa menit lewat tengah malam, Max Alfar menutup pagar rumahnya. Mencari kunci pintu depan, menemukannya dan memasukkannya ke lubang kunci. Menutup kembali pintu dengan perlahan karena tak ingin membangunkan mbok Asih yang ia kira pasti sudah tidur sejak tadi. Lunglai ia berjalan dan membuka pintu kulkas, menenggak air dingin langsung dari botolnya.
Setelah itu ia kembali ke depan, dan membaringkan dirinya di sofa panjang ruang tamu, masih dengan mengenakan sepatunya. Ia mencoba berpikir tentang Raine, saat ia masih tersenyum padanya. Lalu kejadian beberapa jam yang lalu kembali membersit di ingatannya. Kata-kata Raine.
“Aku ingin mencintai. Aku tak ingin belajar mencintai.”
“Aku tak pernah punya niat untuk menjadi dewi penyelamat bagi kehidupanmu yang so common.”
“Bangun dari semua mimpimu. Hiduplah! Dan berhenti menjadi seseorang yang sangat biasa!”
Belum pernah ada orang yang berkata seperti itu padanya. Dan saat memang ada orang yang berkata seperti itu ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia memikirkan kembali, dan ada rasa dimana sepertinya semua yang dikatakan Raine itu benar.
Hidupku terlalu biasa, keluh Max. Kuliah, kerja, menikah, kerapihan, kebersihan, keteraturan. Aku tidak punya dunia yang menarik untuk kutawarkan pada Raine. Wajar bila ia melihatku seperti itu. Ia seorang bidadari. Tapi Raine, aku tidak tahu caranya untuk tidak menjadi biasa.
Perlahan badannya gemetar. Lalu, di tengah deras guncangan emosi yang ia rasakan, tangisnya pun berderai tanpa mampu ditahan-tahan lagi. Tak mampu ia membendung senyuman dan cacian Raine yang terus berkelebat silih berganti di benaknya. Ini adalah pria yang merasa telah membangun sebuah menara yang begitu megah dan indah, dan kata tidak dari seorang gadis, membuat menara yang ia bangun hanyalah menjadi onggokan besi tanpa arti. Dan ia terus menangis hingga akhirnya ia jatuh terlelap.
--//--
Di Bandung, Max tengah bergelut dengan perasaannya hingga ia jatuh tertidur. Di Jakarta, dua sahabat, Raine dan Fiona duduk di balkon apartemen, memandang gemerlap cahaya lalu lintas kota yang menciptakan keindahan tersendiri. Angin malam menghembus dengan perlahan, sesekali kencang namun lalu pelan kembali. Raine menyibukkan dirinya dengan Nintendo DS, dan malas-malasan meladeni obrolan Fiona. Fiona sendiri, setelah beberapa kaleng Heineken, mulai terlihat menyipit pandangannya, tetapi ia masih bisa mengendalikan diri sepenuhnya.
“So, what now?” tanya Fiona pada Raine.
‘Apanya yang what now?’ Raine masih acuh dan sibuk dengan permainannya, GTA Chinatown Wars.
‘Iya, aku mau ngucapin selamat, anda baru saja dengan sukses memusnahkan satu lagi peluang pria yang mendekati anda.’
‘Oh? Max? Ya, itu sih sudah game over ya,’ tanpa ekspresi.
Fiona bangun dari duduknya, mendekat ke pinggiran balkon, dan menenggak habis isi kaleng bir ke empatnya, lalu menyalakan sebatang rokok. Upayanya beberapa kali gagal, karena api zipponya tertiup angin.
Melihat itu, Raine bangkit, dan masuk ke dalam ruangan apartemen mereka.
‘Masuk, ayo kita bicara, disini terlalu berangin.’
Raine meletakkan DSnya diatas meja makan, mengambil sepotong sayap ayam dari chicken bucket yang ada di meja. Tak butuh waktu lama, ia melemparkan kembali serpihan tulang-tulang yang sudah bersih. Dan lalu menghapus minyak-minyak di bibirnya dengan tisu, melegakan tenggorokannya dengan segelas air mineral dingin.
Lalu ia berbalik, dan menatap pada Fiona yang ternyata sudah mematikan rokoknya, dan sekarang tertidur dengan posisi tertelungkup di kasur yang digelar di depan televisi.
‘Aku tahu pasti ada sesuatu yang ga beres dengan kamu, Fio. Iya kan? Aku yang lagi ribet sama cowok, kenapa malah jadi kamu yang mellow?’
‘Iya, aku yang mellow, untuk sekarang aku akui itu benar. Aku begini, karena aku ga tau lagi harus gimana untuk melihat persahabatan kita.’
‘Maksud lo?
‘Ya.. aku ga tau lah. Pikir aja sendiri.’
‘Saat ini, gw lagi ga butuh cowok, Fio. Max, hmm.. jangan – jangan lo naksir sama Max ya?’
Fiona tak menjawab tapi ia bangkit dari tidurnya dan berdiri dan menggulung rambutnya ke atas sehingga lehernya terbuka.
‘What if I love you, Raine? What will you do?’
Dan suasana diantara mereka pun menjadi hening. Yang ditanya tak menjawab, malah ke kamar dan mengambil sebuah guling besar dari kamar. Ia tersenyum.
‘Ada sesuatu yang salah dengan perkataanku? Apa kau menganggapnya lucu?’ Fiona bingung.
Raine masih tak menjawab. Perlahan ia letakkan guling yang ia pegang tersebut ke sofa. Lalu berjalan mendekati Fiona. Sekarang ia berdiri persis di hadapan sahabatnya itu. Dengan tenang, kedua tangannya menggenggam kedua tangan sahabatnya. Lalu ia mulai mendekatkan bibirnya, sehingga keduanya bertemu dan memberikan sensasi yang menggetarkan. Fiona merinding. Ia sama sekali tak menduga Raine akan merespon dengan seperti ini. Dan keduanya terus terbuai untuk beberapa detik lamanya. Saling memagut, saling mencari, seolah ada sesuatu dahaga yang hendak dituntaskan.
Lalu setelah beberapa saat Fiona melepaskannya. Kedua tangan mereka masih saling berpaut.
‘You’re really a great kisser, Raine.’
‘Thanks.’
‘So?’ Fiona menanti penuh harap.
‘What?’ Raine bingung.
‘Kau masih belum menjawab pertanyaanku,’ ujar Fiona.
‘Kau tanya apa yang akan kulakukan? If you love me, I will kiss you. Dan aku sudah melakukannya. Apa lagi?’
‘Can we be … a couple?’ Fio masih terus mengejar.
‘What for? We are already a couple. We are friends, aren’t we?’
‘You don’t love me?’
‘Ah, Fio, semua yang kita lakukan selama ini, bukankah itu lebih dari sekedar cinta? Our friendship is beautiful. Don't you think?’
‘You don’t love me.’ Sekarang itu adalah sebuah statement. Bukan lagi sebuah pertanyaan. Dan ia mulai membuang wajahnya yang kusut.
‘Come on! Kok malah pasang tampang bete gitu sih? Aku suka pria, Fio. Dan aku yakin kamu juga sama.’
‘Tidak. Kamu tidak suka pria. Tindakanmu malam ini memperlihatkan bahwa kamu tak terlalu suka dengan pria. Apa yang kurang dari Max coba?’
‘Jangan sebut nama pria malang itu. Ia bahkan tak tahu apa yang ia mau. Kalo kamu suka aku, silakan aku tak akan melarang. You can admire me as much as you want. Aku masih menunggu ‘dia’. Dan kau tahu persis, siapa ‘dia’ yang kumaksud.’
‘It’s not fair. Kamu beri dia seluruh hidup kamu. Kamu tunggu dia dengan seluruh hidup kamu. Tetapi untukku, kau bahkan tak memberiku kesempatan.’
Raine menangkap sedikit nada bersalah diantara rangkaian kata yang ia tangkap sebagai suatu kecemburuan. Pikirannya kembali bergerak, dan ia menyadari sesuatu. Raine pun langsung bergerak ke arah Fio, dan memegang bahu Fio dengan kedua tangannya.
‘Berhenti bermain-main denganku Fio, kau pasti tahu sesuatu kan? Kau melihat ‘dia’? Kau tahu dimana ‘dia’? Beri tahu aku sekarang juga.’ Wajah Raine mendadak berubah serius.
‘Aku melihatnya sekali. Di parkiran kantorku, tapi aku tak yakin itu ‘dia’ atau bukan.’
‘Jangan beri aku harapan Fio, itu ‘dia’ atau bukan?’
‘Ya. Sangat mungkin pria yang kulihat waktu itu adalah Sierra-mu.’
‘Dia seharusnya menjadi milikku’ ucap Raine menerawang.
’12 tahun sudah berlalu dan kau masih terobsesi dengan Sierra? Kau ini benar-benar gila! Kau bahkan tak ingat wajahnya seperti apa?’
‘Aku akan ingat bila aku melihatnya. Seperti kau ingat saat kau melihatnya.’
‘Ya, dia memang benar-benar tampan. What if I like him, Raine?’ tanya Fiona
‘Ah sudah, sudah.. cukup dengan semua if if untuk hari ini, you make us kiss again. Dasar genit.’
‘No. Maybe I really like you,’ keluh Fiona.
‘Yeah, whatever, yang seperti tadi itu cukup setahun sekali saja. Bisa-bisa kita jadi gila kalau nurutin mabukmu. Ayo tidur besok temani aku mencari ‘dia.’
Raine mematikan lampu meninggalkan Fiona tanpa pilihan selain ikut tidur di sampingnya.
Diubah oleh rahan 16-12-2014 10:18
0