TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.1K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#58
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 5.2
Minggir bocah! seru pria kekar itu, tapi kemudian dia menyadari kalau pemuda di depannya itu bukan pemuda biasa. Karena seorang pemuda ABG biasa tidak akan bisa menahan pukulannya. Kemudian, pria yang merupakan jelmaan siluman macan itu mencium aroma yang sangat dia kenal dan dia benci.
Penghisap darah! bentak pria itu sambil menarik tinjunya dengan paksa. Jadi serendah inikah kau sudah jatuh? Kau bahkan memiliki seorang pengawal dari ras penghisap darah yang menjijikkan ini?!!
Oi! Jangan seenaknya menghinaku seperti itu! balas Indra, dia merasa tersinggung karena pria itu menyebut dirinya menjijikkan.
Cih! pria itu meludah lagi. Kalian memang orang-orang yang menyebalkan! Dengan ini keputusanku sudah bulat! Kalian tidak akan kubiarkan mendekati pangeran sebelum kalian melangkahi mayatku!
Sambil berkata demikian, pelan-pelan tubuhnya berubah. Bulu-bulu berwarna kuning keemasan dan dilengkapi dengan totol-totol berwarna hitam muncul di sekujur tubuhnya. Sementara wajahnya langsung berubah benar-benar menjadi seperti seekor macan, lengkap dengan kumisnya. Kedua tangan dan kakinya langsung berubah menjadi kaki macan, kemudian kuku-kuku tebal dan tajam bermunculan. Terakhir, ekor panjang muncul di belakang pria itu. Sekarang, dia sudah berubah menjadi seekor macan yang berdiri tegak dengan 2 kaki, dan jelas terlihat sangat buas dan marah.
Ba...bagaimana ini Yudha?! seru Indra panik sambil berjalan mundur.
Tapi Yudha tetap santai dan menepuk bahunya, kemudian berkata Mudah saja. Buat dia pingsan, lalu kita bisa melangkahi tubuhnya dan bertemu dengan si pangeran.
Oi! seru Indra jengkel dalam hati. Dia tahu ucapan Yudha akan memperburuk keadaan. Dan dia benar.
Siluman macan itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Yudha.
Kalian pikir bisa mengalahkanku!? Aku yang merupakan Pengawal Elit dari Kerajaan Siluman Macan ?! serunya dengan suara yang lebih mirip seperti raungan macan. Jangan bercanda!!!
Siluman itu lalu mengayunkan cakarnya ke arah Indra. Pemuda itu langsung melompat ke samping untuk menghindari cakar itu. Tapi rupanya itu yang diharapkan si siluman macan. Siluman itu melakukan tendangan berputar, bermaksud untuk melemparkan lawannya ke dinding rumah di dekatnya. Tapi rupanya dia salah karena mengira kalau lawannya itu mudah dikalahkan. Dengan gesit, Indra melompat dan menghindari serangan si siluman macan, lalu berputar di udara dan menendang.
Tendangan Indra mengenai kepala si siluman macan, tapi siluman macan itu cukup cepat. Dengan segera dia bergerak ke samping untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Dia lalu memegangi pipinya yang tadi terkena tendangan Indra.
Boleh juga kau, bocah! geram siluman itu sambil memamerkan gigi-giginya yang tajam dan runcing.
Indra. Kita tidak bisa lama-lama disini! seru Yudha sambil melemparkan sebuah bungkusan ke arah Indra. Pakai itu supaya lebih cepat!
Indra menangkap bungkusan itu dan buru-buru membukanya, lalu memakai sarung tangan dan sepatu bot khusus miliknya. Setelah selesai, dia berdiri dan menghantamkan kedua tinjunya.
Apa kau pikir bisa mengalahkanku hanya karena kau memakai sarung tangan dan sepatu bot itu? ejek si siluman macan sambil memamerkan kuku-kukunya yang setajam silet.
Indra mencibir. Siluman itu sama sekali tidak tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh sarung tangan dan sepatu botnya. Dan sebentar lagi siluman itu akan segera tahu. Indra langsung mengambil kuda-kuda. Kali ini dia bermaksud menggunakan aliran bela diri yang paling dia kuasai, pencak silat. Selama ini dia lebih banyak menggunakan aliran tae kwon do, karena dengan tendangan, dia lebih mudah menguasai jarak dan timing untuk menyerang. Kali ini dia akan bertarung dalam jarak yang lebih dekat.
Tapi sebelum dia sempat dia melakukan apapun, tiba-tiba sesosok pemuda berpakaian seperti anak punk berjalan keluar dari sebuah gang. Pemuda itu terdiam begitu melihat sosok si siluman macan dan Indra yang sedang memasang kuda-kuda. Anehnya, begitu melihat sosok itu, si siluman macan langsung berbalik dan berlutut.
Oi. Apa yang sedang kau lakukan disini? tanya pemuda itu. Sudah kubilang kau tidak boleh menggunakan wujud silumanmu sembarangan. Kalau ada yang lihat kita bisa repot! Dasar bodoh!
Ampun paduka pangeran! seru siluman itu, masih sambil berlutut dan menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah pemuda di depannya. Hamba hanya berusaha mengusir orang-orang ini. Mereka orang-orang jahat yang bermaksud untuk mencelakakan paduka.
Pemuda itu lalu memandang ke arah Indra dan Yudha bergantian. Lalu tersenyum sinis. Senyumnya membuat wajahnya terlihat menyebalkan bagi Indra. Pemuda itu memiliki wajah yang terkesan garang dan selalu tampak seperti orang marah, dengan kulit sawo matang. Rambutnya pirang acak-acakan dan kedua matanya berwarna kuning keemasan, dengan pupil sempit seperti kucing. Jelas sudah kalau dia bukan manusia. Dia tidak lain adalah Raden Setyo Pamungkas, ahli waris dari Kerajaan Siluman Macan di Lereng Selatan Merapi. Tapi penampilannya sama sekali tidak mirip seorang pangeran. Dia malah berpakaian punk, dengan jaket kulit yang dihiasi ornamen-ornamen kecil yang terbuat dari logam, lengkap dengan rantai-rantai logam yang menjuntai di beberapa bagian di baju dan celananya. Penampilannya jauh lebih mirip seorang preman daripada seorang pangeran.
Aku sudah dengar. Katanya ayahku mengirimkan orang yang tangguh untuk membawaku pulang ya? ujar pangeran itu sambil berjalan mendekati Indra. Tapi tidak kusangka dia mengirim pria berwajah mesum, dan bocah penghisap darah ini.
Wah. Kalau kau sudah tahu soal itu. Kenapa kita tidak langsung bicara saja disini? balas Yudha dengan santai, dia lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dan kuharap kau mau mendengarkan apa yang akan kukatakan.
Pemuda itu tertawa dengan nada menghina begitu mendengar ucapan Yudha. Dia lalu memandang ke arah pengawal pribadinya yang masih berlutut di tengah jalan.
Boleh saja. Tapi sepertinya pengawalku ini sangat tidak suka kalau kalian berbicara denganku, ujar Setyo, sang pangeran dengan nada merendahkan. Aku baru akan mendengarkan ucapan kalian kalau kalian bisa mengalahkannya.
Paduka?
Si siluman langsung bertanya, tapi kemudian dia ingat statusnya dan kembali menunduk.
Kenapa Jaka? Apa kau takut dengan mereka? balas si pangeran.
Tentu tidak! Hamba sama sekali tidak takut! tegas siluman yang bernama Jaka itu. Hamba bahkan yakin kalau hamba bisa mengalahkan mereka!
Kalau begitu buktikan, ujar Setyo sambil berjalan mundur dan bersandar di dinding rumah di dekatnya. Kalahkan mereka.
Siluman macan itu langsung bangkit. Wajahnya menyiratkan kegembiraan sekaligus hasrat membunuh yang besar.
Jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh kalian, aku hanya akan membuat kalian dikirim ke rumah sakit saja, geram Jaka sambil menegangkan otot-ototnya.
Indra. Jangan bunuh dia. Buat dia pingsan saja.
Yudha membalas ucapan siluman macan itu dengan berseru pada Indra. Indra langsung mengangguk, karena sejak awal itu adalah maksudnya. Dia tidak akan membunuh siluman itu karena siluman itu belum melukai, atau membunuh manusia.
Kemudian keduanya mulai bertarung. Sementara Indra dan Jaka bertarung, Yudha berjalan mendekati Setyo. Lalu dengan santainya menyapa pangeran itu.
Lama sekali kita tidak berjumpa Pangeran Pamungkas, sapa Yudha dengan akrab. Bagaimana kabarmu?
Pangeran itu memalingkan wajahnya dan berkata dengan nada jengkel.
Jangan bersikap sok akrab. Sikapmu membuatku ingin muntah!
Yudha mengangkat bahunya, lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara. Pria itu sesekali melihat ke belakang, ke arah Indra dan Jaka yang masih bertarung dengan sengit.
Kau tidak berubah sama sekali. Ngomong-ngomong, macan yang beberapa kali tersorot kamera dan dikabarkan berkeliaran di beberapa lokasi di Yogyakarta itu, apakah itu kau? tanya Yudha.
Benar. Memangnya kenapa? Aku bangga dengan wujud macanku dan sering berkeliaran dengan wujud itu, balas si pangeran. Manusia saja yang terlalu berlebihan dan ketakutan begitu melihat wujudku.
Yudha menghela nafasnya. Pangeran yang satu ini memang dia kenal sebagai sosok yang keras kepala, sombong dan penuh harga diri. Jadi dia sama sekali tidak peduli kalau dirinya terlihat saat menggunakan wujud macannya. Hanya saja perbuatannya itu membuat masyarakat Yogyakarta menjadi panik. Sebagai Dewa yang bertugas melindungi kota Yogyakarta, Yudha punya kewajiban untuk menghentikan perbuatan pangeran itu. Dan tentu saja, memulangkannya kembali ke kerajaannya, seperti yang diminta si patih kerajaan macan.
Tentu saja penduduk kota ini akan merasa bingung, takut, dan penasaran begitu melihat seekor macan seenaknya berkeliaran di tengah kota, balas Yudha sambil membuang puntung rokoknya ke jalan. Selain itu, ayahmu khawatir karena kau tiba-tiba saja kabur dari kerajaan.
Begitu mendengar ucapan Yudha. Pangeran itu mendengus kesal.
Bohong. Ayah sama sekali tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada kerajaannya, balas Raden Setyo dengan nada jengkel, sambil menghantamkan tinjunya ke tembok tempatnya bersandar. Pertunangan ini juga bukan atas kemauanku. Tapi karena ayah ingin hubungan baiknya dengan Kerajaan Siluman Macan di Merbabu tetap terjaga! Ini hanya berkaitan dengan politik. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan perasaanku!
Spoiler for "Part 5.2":
Minggir bocah! seru pria kekar itu, tapi kemudian dia menyadari kalau pemuda di depannya itu bukan pemuda biasa. Karena seorang pemuda ABG biasa tidak akan bisa menahan pukulannya. Kemudian, pria yang merupakan jelmaan siluman macan itu mencium aroma yang sangat dia kenal dan dia benci.
Penghisap darah! bentak pria itu sambil menarik tinjunya dengan paksa. Jadi serendah inikah kau sudah jatuh? Kau bahkan memiliki seorang pengawal dari ras penghisap darah yang menjijikkan ini?!!
Oi! Jangan seenaknya menghinaku seperti itu! balas Indra, dia merasa tersinggung karena pria itu menyebut dirinya menjijikkan.
Cih! pria itu meludah lagi. Kalian memang orang-orang yang menyebalkan! Dengan ini keputusanku sudah bulat! Kalian tidak akan kubiarkan mendekati pangeran sebelum kalian melangkahi mayatku!
Sambil berkata demikian, pelan-pelan tubuhnya berubah. Bulu-bulu berwarna kuning keemasan dan dilengkapi dengan totol-totol berwarna hitam muncul di sekujur tubuhnya. Sementara wajahnya langsung berubah benar-benar menjadi seperti seekor macan, lengkap dengan kumisnya. Kedua tangan dan kakinya langsung berubah menjadi kaki macan, kemudian kuku-kuku tebal dan tajam bermunculan. Terakhir, ekor panjang muncul di belakang pria itu. Sekarang, dia sudah berubah menjadi seekor macan yang berdiri tegak dengan 2 kaki, dan jelas terlihat sangat buas dan marah.
Ba...bagaimana ini Yudha?! seru Indra panik sambil berjalan mundur.
Tapi Yudha tetap santai dan menepuk bahunya, kemudian berkata Mudah saja. Buat dia pingsan, lalu kita bisa melangkahi tubuhnya dan bertemu dengan si pangeran.
Oi! seru Indra jengkel dalam hati. Dia tahu ucapan Yudha akan memperburuk keadaan. Dan dia benar.
Siluman macan itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Yudha.
Kalian pikir bisa mengalahkanku!? Aku yang merupakan Pengawal Elit dari Kerajaan Siluman Macan ?! serunya dengan suara yang lebih mirip seperti raungan macan. Jangan bercanda!!!
Siluman itu lalu mengayunkan cakarnya ke arah Indra. Pemuda itu langsung melompat ke samping untuk menghindari cakar itu. Tapi rupanya itu yang diharapkan si siluman macan. Siluman itu melakukan tendangan berputar, bermaksud untuk melemparkan lawannya ke dinding rumah di dekatnya. Tapi rupanya dia salah karena mengira kalau lawannya itu mudah dikalahkan. Dengan gesit, Indra melompat dan menghindari serangan si siluman macan, lalu berputar di udara dan menendang.
Tendangan Indra mengenai kepala si siluman macan, tapi siluman macan itu cukup cepat. Dengan segera dia bergerak ke samping untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Dia lalu memegangi pipinya yang tadi terkena tendangan Indra.
Boleh juga kau, bocah! geram siluman itu sambil memamerkan gigi-giginya yang tajam dan runcing.
Indra. Kita tidak bisa lama-lama disini! seru Yudha sambil melemparkan sebuah bungkusan ke arah Indra. Pakai itu supaya lebih cepat!
Indra menangkap bungkusan itu dan buru-buru membukanya, lalu memakai sarung tangan dan sepatu bot khusus miliknya. Setelah selesai, dia berdiri dan menghantamkan kedua tinjunya.
Apa kau pikir bisa mengalahkanku hanya karena kau memakai sarung tangan dan sepatu bot itu? ejek si siluman macan sambil memamerkan kuku-kukunya yang setajam silet.
Indra mencibir. Siluman itu sama sekali tidak tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh sarung tangan dan sepatu botnya. Dan sebentar lagi siluman itu akan segera tahu. Indra langsung mengambil kuda-kuda. Kali ini dia bermaksud menggunakan aliran bela diri yang paling dia kuasai, pencak silat. Selama ini dia lebih banyak menggunakan aliran tae kwon do, karena dengan tendangan, dia lebih mudah menguasai jarak dan timing untuk menyerang. Kali ini dia akan bertarung dalam jarak yang lebih dekat.
Tapi sebelum dia sempat dia melakukan apapun, tiba-tiba sesosok pemuda berpakaian seperti anak punk berjalan keluar dari sebuah gang. Pemuda itu terdiam begitu melihat sosok si siluman macan dan Indra yang sedang memasang kuda-kuda. Anehnya, begitu melihat sosok itu, si siluman macan langsung berbalik dan berlutut.
Oi. Apa yang sedang kau lakukan disini? tanya pemuda itu. Sudah kubilang kau tidak boleh menggunakan wujud silumanmu sembarangan. Kalau ada yang lihat kita bisa repot! Dasar bodoh!
Ampun paduka pangeran! seru siluman itu, masih sambil berlutut dan menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah pemuda di depannya. Hamba hanya berusaha mengusir orang-orang ini. Mereka orang-orang jahat yang bermaksud untuk mencelakakan paduka.
Pemuda itu lalu memandang ke arah Indra dan Yudha bergantian. Lalu tersenyum sinis. Senyumnya membuat wajahnya terlihat menyebalkan bagi Indra. Pemuda itu memiliki wajah yang terkesan garang dan selalu tampak seperti orang marah, dengan kulit sawo matang. Rambutnya pirang acak-acakan dan kedua matanya berwarna kuning keemasan, dengan pupil sempit seperti kucing. Jelas sudah kalau dia bukan manusia. Dia tidak lain adalah Raden Setyo Pamungkas, ahli waris dari Kerajaan Siluman Macan di Lereng Selatan Merapi. Tapi penampilannya sama sekali tidak mirip seorang pangeran. Dia malah berpakaian punk, dengan jaket kulit yang dihiasi ornamen-ornamen kecil yang terbuat dari logam, lengkap dengan rantai-rantai logam yang menjuntai di beberapa bagian di baju dan celananya. Penampilannya jauh lebih mirip seorang preman daripada seorang pangeran.
Aku sudah dengar. Katanya ayahku mengirimkan orang yang tangguh untuk membawaku pulang ya? ujar pangeran itu sambil berjalan mendekati Indra. Tapi tidak kusangka dia mengirim pria berwajah mesum, dan bocah penghisap darah ini.
Wah. Kalau kau sudah tahu soal itu. Kenapa kita tidak langsung bicara saja disini? balas Yudha dengan santai, dia lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dan kuharap kau mau mendengarkan apa yang akan kukatakan.
Pemuda itu tertawa dengan nada menghina begitu mendengar ucapan Yudha. Dia lalu memandang ke arah pengawal pribadinya yang masih berlutut di tengah jalan.
Boleh saja. Tapi sepertinya pengawalku ini sangat tidak suka kalau kalian berbicara denganku, ujar Setyo, sang pangeran dengan nada merendahkan. Aku baru akan mendengarkan ucapan kalian kalau kalian bisa mengalahkannya.
Paduka?
Si siluman langsung bertanya, tapi kemudian dia ingat statusnya dan kembali menunduk.
Kenapa Jaka? Apa kau takut dengan mereka? balas si pangeran.
Tentu tidak! Hamba sama sekali tidak takut! tegas siluman yang bernama Jaka itu. Hamba bahkan yakin kalau hamba bisa mengalahkan mereka!
Kalau begitu buktikan, ujar Setyo sambil berjalan mundur dan bersandar di dinding rumah di dekatnya. Kalahkan mereka.
Siluman macan itu langsung bangkit. Wajahnya menyiratkan kegembiraan sekaligus hasrat membunuh yang besar.
Jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh kalian, aku hanya akan membuat kalian dikirim ke rumah sakit saja, geram Jaka sambil menegangkan otot-ototnya.
Indra. Jangan bunuh dia. Buat dia pingsan saja.
Yudha membalas ucapan siluman macan itu dengan berseru pada Indra. Indra langsung mengangguk, karena sejak awal itu adalah maksudnya. Dia tidak akan membunuh siluman itu karena siluman itu belum melukai, atau membunuh manusia.
Kemudian keduanya mulai bertarung. Sementara Indra dan Jaka bertarung, Yudha berjalan mendekati Setyo. Lalu dengan santainya menyapa pangeran itu.
Lama sekali kita tidak berjumpa Pangeran Pamungkas, sapa Yudha dengan akrab. Bagaimana kabarmu?
Pangeran itu memalingkan wajahnya dan berkata dengan nada jengkel.
Jangan bersikap sok akrab. Sikapmu membuatku ingin muntah!
Yudha mengangkat bahunya, lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara. Pria itu sesekali melihat ke belakang, ke arah Indra dan Jaka yang masih bertarung dengan sengit.
Kau tidak berubah sama sekali. Ngomong-ngomong, macan yang beberapa kali tersorot kamera dan dikabarkan berkeliaran di beberapa lokasi di Yogyakarta itu, apakah itu kau? tanya Yudha.
Benar. Memangnya kenapa? Aku bangga dengan wujud macanku dan sering berkeliaran dengan wujud itu, balas si pangeran. Manusia saja yang terlalu berlebihan dan ketakutan begitu melihat wujudku.
Yudha menghela nafasnya. Pangeran yang satu ini memang dia kenal sebagai sosok yang keras kepala, sombong dan penuh harga diri. Jadi dia sama sekali tidak peduli kalau dirinya terlihat saat menggunakan wujud macannya. Hanya saja perbuatannya itu membuat masyarakat Yogyakarta menjadi panik. Sebagai Dewa yang bertugas melindungi kota Yogyakarta, Yudha punya kewajiban untuk menghentikan perbuatan pangeran itu. Dan tentu saja, memulangkannya kembali ke kerajaannya, seperti yang diminta si patih kerajaan macan.
Tentu saja penduduk kota ini akan merasa bingung, takut, dan penasaran begitu melihat seekor macan seenaknya berkeliaran di tengah kota, balas Yudha sambil membuang puntung rokoknya ke jalan. Selain itu, ayahmu khawatir karena kau tiba-tiba saja kabur dari kerajaan.
Begitu mendengar ucapan Yudha. Pangeran itu mendengus kesal.
Bohong. Ayah sama sekali tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada kerajaannya, balas Raden Setyo dengan nada jengkel, sambil menghantamkan tinjunya ke tembok tempatnya bersandar. Pertunangan ini juga bukan atas kemauanku. Tapi karena ayah ingin hubungan baiknya dengan Kerajaan Siluman Macan di Merbabu tetap terjaga! Ini hanya berkaitan dengan politik. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan perasaanku!
0
Kutip
Balas