Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#134
Mobil yang sedang dikendarai oleh Mang Udan memasuki area kompleks mereka. Petugas keamanan setempat menghentikan dan memeriksa dengan sedikit melirik kaca jendela yang dibuka Mang Udan.

“Wah, si Eneng.. Udah sembuh Neng?”

Yang dipanggil sama pak Satpam kaget dan bangun dari tidur rebahnya di dada Sierra.

“Wah udah Pak. Makasih udah nanyain.” Lalu nyengir selebar - lebarnya.

Pak Satpam senang idola kompleksnya sudah pulang. Ia pun turut tersenyum.

“Pak, sepeda saya gimana pak, aman?” Sierra giliran buka suara.

“Aman, Bos.” Pak Satpam menunjuk ke arah pos, ada dua sepeda yang diikatkan ke besi persis di sebelah pos tersebut.

Lalu Mang Udan pun mengangkat tangannya tanda permisi dengan Satpam tersebut, dan kembali menginjak gas, rumah Lowry dan Sierra sudah tak berapa jauh lagi.

Dan beberapa menit kemudian, sampailah mereka di rumah tak berpagar itu. Rombongan tersebut mulai turun satu persatu dari mobil. Dan terdengar suara pintu-pintu yang dibanting menutup.

Kikan menggunakan crutchesnya berjalan dengan hati-hati sambil mengangkat sebelah kakinya. Untuk beberapa saat ia akan menetap di rumah Lowry dan Sierra. Kikan memilih seperti itu karena ia dirumah hanya tinggal sendiri, dan orang tuanya entah kapan akan pulang dari luar negeri. Mang Udan masuk paling belakangan dan mengunci pintu.

Beberapa saat lamanya, mereka mengurus diri mereka masing-masing. Mang Udan disuruh oleh Lowry untuk menggoreng nugget, serta sosis dan daging burger. Lowry mengganti baju dengan yang lebih nyaman dan enak dipakai bersantai di rumah. Sierra pun demikian, dan ia bahkan menyempatkan menunaikan shalat isyanya. Kikan bersih-bersih dengan cuci muka agar segar, sikat gigi, dan kumur-kumur mouthwash, tak lupa berganti baju dengan piyama.

Setelah itu mereka semua berkumpul di ruang tengah, di depan televisi. Itu adalah ruang tengah yang biasa. TV ukuran 42 inch tidak dihidupkan, karpet bulu nyaman yang luas membentang persis di depannya untuk menonton tv sambil tidur-tiduran atau bermain Playstation seperti yang biasa dilakukan oleh Lowry dan Sierra. Masih di area ruang tengah tersebut, terdapat sofa empuk bulat-bulat dan meja kaca panjang yang di bawahnya berserakan berbagai majalah dan koran-koran.

Mang Udan juga sudah selesai memasak, dan makanan cemil-cemilan itu sudah dihidangkan di atas meja kaca tadi, dan tak lupa 2 botol coca cola dingin dikeluarkan dari kulkas.

“Ngumpull,” ucap Sierra senang

Mang Udan hanya tersenyum. Kikan duduk di atas sofa dengan memeluk bantal besar. Yang lain duduk di bawah.

“Nah terus kita ngapain nih sekarang? Ohya mang, nanti kalo mau ngerokok, di teras belakang aja ya, ga enak nih kita lagi ada tamu,” ucap Lowry mengingatkan.

Mang Udan mengangguk.

“Nyanyi aja Low, mumpung ada si Kikan, biar dia jadi backing vocal,” usul Sierra.

“Wah bener tuh bener, ide brilian. Kan, loe nyanyi ya ntar? Awas lo kalo nggak mau nyanyi, gw timpuk pake ulekan cabe tuh kaki,” Lowry menyindir kondisi kaki Kikan.

“Mau gw nyanyi, tapi ada micnya engga? Suara gw merdu nih, bisa lah kalo cuma buat nyaingin Siti Nurhaliza mah..”balas Kikan.

Mendengar nama Siti Nurhaliza yang disebut Sierra dan Lowry langsung pasang tampang ekspresi gubrak. Ekspresi gubrak si Sierra kaya orang kena Skeliosis atau penyakit punggung apa lah itu yang punggungnya melentur membentuk C terbalik, lehernya menjungak sehingga rambutnya terurai ke bawah dan kedua tangannya mencekik leher sendiri, sambil akting kelojotan layaknya ikan mas ga dikasih aer.

Lowry lebih santai ekspresi gubraknya, tangan menempel ke dahi seperti orang sedang mengukur panas kening, dan berkata “cabe deh, udang deh, bakwan deh, tahu deh... Siti Nurhaliza.. wah Sierra, gw baru tau, ternyata elo pacaran sama Kak Ros..”

Mang Udan cengar-cengir saja melihatnya, dan beranjak ke belakang, paling juga mau bikin kopi, dan telponan sama istrinya. Kikan yang parah, dia tertawa ngakak sambil pukul-pukul bantal.

“Kalo gw Kak Ros, elo berdua upin ipinnya...” celoteh Kikan di sela derai tawanya.

Begitu cantik Kikan yang sedang tertawa, membuat Sierra dan Lowry sampai melongo berpandangan. Lowry lalu masuk kamar.

Tak berapa lama, Lowry keluar dari kamar dengan membawa dua gitar akustik, sebuah voice recorder yang ia berikan ke Kikan, dan beberapa majalah lagu lama.

“Nyanyi lagu apa nih?” tanya Kikan.

Sierra dan Lowry berpandangan, mereka masing-masing sudah bersiap dengan gitarnya.

“Lagu wajib!” kata Sierra

“Apa tuh?” tanya Kikan

Lowry membalik-balik salah satu majalah dan meletakkannya di hadapan Kikan. Kikan mengeja judul lagunya “Ko-Song, Pure Saturday?”

“Yuk, mulai ya” kata Sierra.

“Curang, aku kan belum tau lagunya?” keluh Kikan.

“Dengerin aja dulu, nanti baru ikutan.” kata Lowry.

Dan gitar pun mulai dimainkan, Sierra dan Lowry menyanyi bersama. Kikan memperhatikan dan lama-lama mulai ikutan ... Dan malam pun naik perlahan ... Dan itulah indahnya kebersamaan.


--//--


KOSONG - PURE SATURDAY


Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap “kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam
Walau tak pernah ada kesempatan
Terjebak dalam jerat mengikat
Namun tekad nyatakan bebas

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira...
Semua mati dan menghilang
Terlalu pagi temukan arti

Jalan panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa

Temukan diri di dalam dunia tak terkira
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap...pergilah pulang

Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.