Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#133
Quote:


mohon maaf yang sebesarnya gan .. kacau berat seminggu ini kehidupan ane ..

--//--


8 malam. Masih di hari yang sama. Lowry sedang berjalan menapaki anak tangga rumah sakit dengan membawa sebuah tas kosong. Mang Udan menunggunya di mobil. Ia terus berjalan melewati beberapa ruangan bangsal, hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar tempat Kikan dirawat. Dan mengetuk pelan pintu tersebut.

Di dalam Sierra sedang membaca majalah dengan asyiknya. Ia tidak mendengar bunyi ketukan tersebut.

‘Kak, ada yang ketuk pintu tuh, pasti Kak Lowry sudah datang.’ Kikan memberitahu Sierra.

‘Oh ya? Biar kulihat sebentar.’

Sierra beranjak dari duduknya menuju pintu. Dan tersenyum lebar ketika melihat bahwa ternyata memang benar Lowry yang datang. Lowry tidak langsung masuk, ia masih berdiri dan tersenyum penuh makna pada sahabatnya itu.

‘Gimana? Apa tuan putrimu sudah bisa pulang?’ tanyanya kemudian.

‘Hm? Ya.. ya, dokter sudah membolehkannya pulang tadi, dan seluruh biaya rumah sakit juga sudah kubayar. Kami memang sedang menunggumu.’

‘Ini tasnya yang kau minta untuk aku bawa,’ sambil menyerahkan tas yang ia bawa.

Dan mereka berdua pun melangkah masuk ke kamar, hingga Kikan bisa melihat mereka berdua.

‘Kak Lowry!’ ucap Kikan senang.

‘Halo Sinderela yang jatuh dari sepeda, apa kabar tuan puteri?’ Lowry menyindir dengan senyum merekah dan tangan terbentang. Mereka pun saling berangkulan sesaat. Sierra sudah sibuk memasukkan beberapa potong pakaian dan piring, gelas, serta roti dan buah ke dalam tas, bersiap-siap untuk pulang dan tidak meninggalkan suatu apapun di rumah sakit. Lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengambil sikat gigi.

‘Baik dong! Kata dokter Kikan sudah boleh pulang, berarti sudah oke kan?’

‘Apanya yang oke? Kaki masih kelilit perban kaya gitu dibilang oke. Sierra pulang. Kikan disini aja sendirian, gimana?’

Dan Kikan pun tidak menjawab. Hanya memonyongkan bibirnya dan memasang tampang gusar yang membuat Lowry tertawa pelan.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Sierra memberikan tas itu kepada Lowry.

‘Aku mau kasih tahu perawatnya sebentar, sekalian mau pinjam kursi roda.’

Lowry pun menerima tas tersebut, tapi karena dirasa berat, ia letakkan tas tersebut di atas kursi. Sedangkan Kikan yang tadi masih dalam posisi terbaring, sekarang sudah duduk di bibir ranjang, bagian kakinya yang sedikit retak masih dalam balutan perban. Ranjang itu agak tinggi, jadi ia duduk dengan agak menggantung. Di luar, Sierra bercakap-cakap dengan beberapa orang perawat. Menunggu sebentar, seorang perawat membawakannya kursi roda lipat. Sierra pun kembali ke kamar dengan kursi roda tersebut, dan perawat tadi mengikutinya.

‘Nona Kikan sudah mau pulang ya?’ tanya si perawat ramah.

‘Iya suster.’

Sierra menjajarkan kursi roda di pinggir kasur dan menahan beban tubuh Kikan di bawah kedua lengannya saat Kikan berpindah dari kasur ke kursi roda.

‘Selamat jalan, Nona Kikan. Kami doakan segera pulih ya.’

‘Terimakasih.’

Sierra pun menjabat tangan si perawat, ‘Terimakasih banyak atas bantuannya suster.’

‘Sama-sama Pak.’

Dan mereka pun bersiap meninggalkan rumah sakit tersebut. Sierra mendorong Kikan yang duduk di kursi roda, sementara Lowry berjalan seirama dengan membawa tas penuh isi. Bila tadi Lowry naik lewat tangga seorang diri, sekarang, karena menggunakan kursi roda, mereka turun dengan menggunakan lift. Tak berapa lama, mereka pun sampai di pintu mobil. Seorang perawat pria baru saja meninggalkan mereka setelah mengambil kembali kursi roda yang tadi digunakan Kikan. Kikan dan Sierra duduk di belakang, sedangkan Lowry duduk di depan. Mang Udan menutup bagasi setelah memasukkan tas bawaan mereka, dan di bagasi tersebut juga terdapat sebuah crutches untuk membantu Kikan berjalan yang tadi dibeli Lowry di sebuah toko alat kesehatan.
Mobil pun melaju pelan membawa mereka. Mang Udan mengemudi dengan sangat hati-hati, karena ia tidak ingin ada gerak kejut yang tak diinginkan.

‘Yeeyy, akhirnya pulang juga…’ Kikan nampak riang membuka suara.

‘Lowry mengamati Kikan dan Sierra dari kaca tengah, lalu menjawab, ‘Ah, senang bukan karena pulang, tapi karena bakal serumah dengan gw kan?’

Mendengar itu, wajah Kikan tersipu malu.

‘Kok tau sih?’ katanya lugu.

Sekarang gantian Sierra yang mesam-mesem enggak jelas.

‘Udah Kikan, si Lowry mah jangan diladenin. Tambah jadi, nanti dia.’ Sierra enggan dijadikan bahan lelucon, menghentikan percakapan Lowry dan Kikan sebelum terlanjur jauh.

‘Haha, gw pasang lagu aja deh ya, biar nggak sepi-sepi amat gitu.’

Setelah berkata demikian, Lowry pun menyentuh tombol radio di mobilnya. Setelah chit-chat tak jelas, di ruangan kabin mobil itu pun terdengar denting gitar akustik, disusul vokal Thom Yorke yang mengalun dengan sangat jernih, menyanyikan Fake Plastic Tree. Perjalanan mereka menjadi tambah indah, meskipun bagi Sierra, ia merasa Thom sedang mengingatkannya untuk tidak terus tenggelam dalam rasa cinta yang palsu.

She looks like the real thing.
She tastes like the real thing,
My fake plastic love.


--//--

Dan, begitu pun di antara deru jalanan yang kencang terdengar, karena kaca jendela dibuka, Max pun mendengarkan lagu tersebut dari radionya. Ia tengah dalam perjalanan pulang ke Bandung. Meninggalkan Jakarta. Dalam malam terpahit yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Thom Yorke menemani dan membius. Ia tak pernah merasa semalang ini sebelumnya.

But I can't help the feeling.
I could blow through the ceiling.
If I just turn and run.


--//--


Di tempat lain, di kabin mobil Fiona, ia dan Raine pun mendengarkan lagu yang sama. Raine tak menyadari Fiona yang sesekali menatapnya. Hatinya masih dipenuhi emosi. Sedangkan hati Fiona, teriris, mencuri pandang ke arah Raine saat lagu itu berdendang. Tak ada yang tahu tentang apa. Fiona turut bersenandung bersama Thom dalam hatinya.

If I could be who you wanted
If I could be who you wanted ... all the time..
Diubah oleh rahan 05-06-2013 23:34
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.