- Beranda
- The Lounge
Penggambaran Gerwani Sebagai Kumpulan Pembunuh Dan Setan (Fitnah dan Fakta Penghancur
...
TS
abyanara
Penggambaran Gerwani Sebagai Kumpulan Pembunuh Dan Setan (Fitnah dan Fakta Penghancur
karena besok itu peringatan G30SPKI jadi ane buat trit tentang ini, walopun emang rada kontroversial
Quote:
melihat mangsanya datang, anggota pr dan gerwani yang sudah diindoktrinasi dengan kebencian dan kedengkian berteriak-teriak histeris. Sambil menari-nari, mengelilingi para pahlawan revolusi itu, anggota-anggota gerwani dan pemuda rakyat, bti, sobsi dan lain-lain menyanyikan lagu-lagu revolusioner ciptaan komponis-komponis lekra, antara lain lagu-lagu "ganyang kabir", "ganyang 3 setan kota" ciptaan soebroto k atmodjo dan lagu pop yang sedang menjadi top hits pada waktu itu, "genjer-genjer".
Untuk memanaskan suasana, banyak di antara anggota pr dan gerwani itu bahkan menari tanpa busana. Itulah apa yang mereka namakan "pesta harum bunga". Pesta harum bunga seperti ini memang sudah beberapa malam mereka lakukan dalam rangka mengakhiri masa latihan. Pada saat-saat itu batas-batas moral dianggap tidak ada lagi. Hubungan seks secara liar di antara para anggota pr dan gerwani memang sengaja dibiarkan oleh pimpinan latihan kemiliteran, untuk memberi semangat. Seorang dokter bersama dokter ceropeboka telah memberikan suntikan-suntikan yang diduga berisi obat perangsang.
.
Anggota-anggota pr, gerwani dan anggota-anggota ormas pki lainnya yang sudah kemasukan setan itu kemudian diperintahkan untuk menyiksa para tawanan tersebut, sebelum diselesaikan. Nyonya jamilah yang baru berumur 17 tahu itu mengisahkan bahwa mula-mula sukarelawan-sukarelawan memukuli para korbvan yang berteriak-teriak kesakitan. Kemudian disusul sukarelawati-sukarelawati gerwani dan pr beraksi. Mereka yang sudah kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya itu menusuk-nusukkan pisau ke tubuh para korban. Bahkan para korban yang sudah tak berpakaian itu dipotong kemaluannya dengan silet dan dimasukkan ke mulut. Ada 100 orang lebih sukarelawati yang melakukan penyiksaan di luar batas kemanusiaan itu sebelum para korban diseret ke tepi sebuah sumur tua.
Quote:
berita yang dimuat angkatan bersenjata dan berita yudha yang kemudian dikutip berbagai suratkabar, dengan sejumlah tambahan seperti mata dicungkil dan lain-lain, tersebut betul-betul membuat pembaca mual, marah, sekaligus bergidik.2 tak ada yang bisa membayangkan bahwa ada manusia yang bias berbuat kejam di luar batas kemanusian seperti itu. Banyak di antara mereka yang membayangkan para perempuan pelaku kekejaman itu bukan manusia. Mereka lebih mirip sebagai setan perempuan yang jahat, kuntilanak (sundel bolong).3 apalagi belakangan, ditambah dengan pemberitaan tentang meninggalnya ade irma nasution akibat berondongan peluru para pembunuh yang menyasar pimpinan angkatan darat, jendral ah nasution.
Mayjen soeharto, menanggapi berita tersebut dengan menyatakan, "jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala, betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan gerakan 30 september."4
antara fakta dan fiksi
yang jadi pertanyaan, betulkah cerita itu sebuah fakta? Apa bukan sekadar fiksi "ajaib" dari sebuah imajinasi yang hebat? Yang jelas, dari sisi jurnalistik, berita tersebut bukan hanya meragukan, tapi sulit untuk dipertanggungjawabkan.5
sejumlah kalangan menyatakan cerita tersebut lebih merupakan sebuah fiksi yang sengaja dihadirkan untuk memberi nuansa teror, sekaligus melegalisasi terror yang lebih kejam terhadap mereka yang dituduh bertanggungjawab atas pembunuhan para "pahlawan revolusi". Dalam hal ini, sejumlah kalangan mensinyalir, agen intelijen amerika (cia) terlibat.6
kampanye atas kekejaman itu bukan saja dibuat atas dasar kebohongan dan cerita rekaan semata, tapi memang sengaja dirancang untuk menyulut kemarahan umum terhadap kaum komunis dan sekaligus menyiapkan panggung pembunuhan besar-besaran dengan alasan "dendam rakyat".7
gelombang pembunuhan massal yang 'konon" merupakan aksi balas dendam "rakyat" terhadap kelompok komunis yang terjadi pada 1965-1967 sendiri sebetulnya lebih merupakan sebuah hasil manipulasi kebenaran. Sebab, faktanya operasi ini dilakukan oleh pasukan elit angkatan darat yang melakukan gelombang "pergerakan" dari arah jawa barat ke bali. Pasukan yang dipimpin langsung oleh sarwo edhi ini dalam melakukan operasinya dengan mengerahkan para pemuda setempat. Ada banyak kesaksian yang menceritakan bagaimana operasi pembersihan ini dilakukan secara brutal, tanpa mengindahkan hokum dan penghormatan hak asasi, dan lebih merupakan aksi balas dendam yang tak jelas juntrungannya.8
fiksi soal kekejaman yang dijadikan fakta itu bertahan puluhan tahun lamanya dan dikutip berulang-ulang oleh para wartawan dan kalangan sejarawan.9 fakta dan fiksi jelas dua hal yang berbeda. Fakta asli sebetulnya bisa diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis terhadap jenasah 6 jendral dan seorang perwira yang dikubur di lubang buaya di kawasan halim. Namun fakta ini sepertinya secara sengaja disembunyikan rapat-rapat. Baru pada 1987, seorang indolog dari universitas cornell, ben anderson, mengungkapnya dan menimbulkan kehebohan.10
dari hasil visum tim dokter yang diketuai brigjen tni dr roebiono kertapati didapati bahwa cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota gerwani merupakan isapan jempol belaka. Kelamin semua jenasah utuh. Malah ada sebuah jenasah yang kelaminnya belum disunat. Diduga karena almarhum memang beragama kristen. Tentang bola mata yang copot, hal itu dikarenakan saat dicemplungkan ke sumur posisinya adalah kepala terlebih dulu.
Tim dokter yang memeriksa keadaan jenasah merasa ketakutan dfengan adanya tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis para jendral yang sama sekali tak terbukti. Mereka mengaku menemui kesulitan dengan penyusunan laporan akhir otopsi, sebab berita yang dilansir media massa dan kemudian berkembang di masyarakat sudah terlanjur misleading.11
fitnah gerwani dan lubang buaya
menurut sakia, yang menurut saya berhasil melacak dan merekonstruksi seluruh bangunan fiksi atas kekejaman perempuan anggota gerwani di lubang buaya, ada unsur ideologis, yaitu terjadinya sebuah amuk ideologis. Di mana para perempuan pelakunya adalah kelompok komunis yang murtad. Mereka, yang konon, dengan bertelanjang menari-nari dan memotong-motong zakar para jendral itu sudah keluar dari model stereotip perempuan indonesia yang normal, "yang baik dan benar".
Namun demikian, dalam penelusurannya, saskia menyimpulkan bahwa sebagai organisasi gerwani tidak terlibat dalam putsch. Memang benar pada saat-saat itu gerwani sudah sangat dekat dengan pki,12 hingga ada garis komando langsung antara pimpinan pki dan perseorangan anggota gerwani, khususnya melalui para anggota pki di dalam gerwani. Keberadaan sejumlah anggota gerwani di kompleks halim (lubang buaya) saat itu lebih dikarenakan adanya latihah para sukarelawan untuk mempersiapkan peningkatan konfrontasi dengan negara "boneka" inggris, malaysia. Mereka adalah bagian dari 21 juta sukarelawan terdaftar di seluruh indonesia yang memenuhi "panggilan dwikora" sebagaimana dikeluarkan presiden soekarno.13 sebagian dari mereka lebih banyak mengurusi dapur umum.
Gerwani sendiri mempunyai tempat latihan di cipete jakarta selatan. Di sana sekitar 50 pemudi dilatih, dalam rangka program pendidikan resmi yang diselenggarakan front nasional, yaitu pendidikan kader revolusi (pekarev). Juga sejumlah organisasi perempuan lain mempunyai tempat latihan masing-masing.
Tempat latihan lubang buaya itu sendiri baru diadakan mulai musim kemarau 1965. Mayor udara suyono memberikan latihan bagi pemuda-pemudi sukarelawan kampanye malaysia itu. Sekurang-kurangnya mulai juli 1965 para anggota pki, pemuda rakyat, sobsi, bti, gerwani telah mengikuti latihan di sana secara bergelombang. Tempat latihan tersebut tidak hanya digunakan untuk sukarelawan dari keluarga komunis, karena sesudah 1 oktober juga para pemuda nu diharapkan akan datang dan mengikuti latihan di tempat itu.14
selain sejumlah perempuan anggota gerwani, juga perempuan dan pemudi dari organisasi lain berada di halim. Mereka itu para sukarelawati dan para istri prajurit dari divisi cakrabirawa, ada yang anggota biasa gerwani dan ada pula yang bukan anggota sama sekali. Sedangkan sukarelawati tersebut terdiri dari para pemudi remaja berumur 13 sampai 16 tahun, yang telah dilatih kemiliteran dalam rangka kampanye dwikora.
Pada malam 30 september sekitar 70 perempuan, sebagian besar pemudi-pemudi dari pemuda rakyat, selebihnya dari sobsi dan bti serta beberapa lagi dari gerwani, termasuk juga beberapa istri prajurit cakrabirawa dikumpulkan di lubang buaya. Apa yang mereka lakukan?
Mayjen soeharto, menanggapi berita tersebut dengan menyatakan, "jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala, betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan gerakan 30 september."4
antara fakta dan fiksi
yang jadi pertanyaan, betulkah cerita itu sebuah fakta? Apa bukan sekadar fiksi "ajaib" dari sebuah imajinasi yang hebat? Yang jelas, dari sisi jurnalistik, berita tersebut bukan hanya meragukan, tapi sulit untuk dipertanggungjawabkan.5
sejumlah kalangan menyatakan cerita tersebut lebih merupakan sebuah fiksi yang sengaja dihadirkan untuk memberi nuansa teror, sekaligus melegalisasi terror yang lebih kejam terhadap mereka yang dituduh bertanggungjawab atas pembunuhan para "pahlawan revolusi". Dalam hal ini, sejumlah kalangan mensinyalir, agen intelijen amerika (cia) terlibat.6
kampanye atas kekejaman itu bukan saja dibuat atas dasar kebohongan dan cerita rekaan semata, tapi memang sengaja dirancang untuk menyulut kemarahan umum terhadap kaum komunis dan sekaligus menyiapkan panggung pembunuhan besar-besaran dengan alasan "dendam rakyat".7
gelombang pembunuhan massal yang 'konon" merupakan aksi balas dendam "rakyat" terhadap kelompok komunis yang terjadi pada 1965-1967 sendiri sebetulnya lebih merupakan sebuah hasil manipulasi kebenaran. Sebab, faktanya operasi ini dilakukan oleh pasukan elit angkatan darat yang melakukan gelombang "pergerakan" dari arah jawa barat ke bali. Pasukan yang dipimpin langsung oleh sarwo edhi ini dalam melakukan operasinya dengan mengerahkan para pemuda setempat. Ada banyak kesaksian yang menceritakan bagaimana operasi pembersihan ini dilakukan secara brutal, tanpa mengindahkan hokum dan penghormatan hak asasi, dan lebih merupakan aksi balas dendam yang tak jelas juntrungannya.8
fiksi soal kekejaman yang dijadikan fakta itu bertahan puluhan tahun lamanya dan dikutip berulang-ulang oleh para wartawan dan kalangan sejarawan.9 fakta dan fiksi jelas dua hal yang berbeda. Fakta asli sebetulnya bisa diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis terhadap jenasah 6 jendral dan seorang perwira yang dikubur di lubang buaya di kawasan halim. Namun fakta ini sepertinya secara sengaja disembunyikan rapat-rapat. Baru pada 1987, seorang indolog dari universitas cornell, ben anderson, mengungkapnya dan menimbulkan kehebohan.10
dari hasil visum tim dokter yang diketuai brigjen tni dr roebiono kertapati didapati bahwa cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota gerwani merupakan isapan jempol belaka. Kelamin semua jenasah utuh. Malah ada sebuah jenasah yang kelaminnya belum disunat. Diduga karena almarhum memang beragama kristen. Tentang bola mata yang copot, hal itu dikarenakan saat dicemplungkan ke sumur posisinya adalah kepala terlebih dulu.
Tim dokter yang memeriksa keadaan jenasah merasa ketakutan dfengan adanya tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis para jendral yang sama sekali tak terbukti. Mereka mengaku menemui kesulitan dengan penyusunan laporan akhir otopsi, sebab berita yang dilansir media massa dan kemudian berkembang di masyarakat sudah terlanjur misleading.11
fitnah gerwani dan lubang buaya
menurut sakia, yang menurut saya berhasil melacak dan merekonstruksi seluruh bangunan fiksi atas kekejaman perempuan anggota gerwani di lubang buaya, ada unsur ideologis, yaitu terjadinya sebuah amuk ideologis. Di mana para perempuan pelakunya adalah kelompok komunis yang murtad. Mereka, yang konon, dengan bertelanjang menari-nari dan memotong-motong zakar para jendral itu sudah keluar dari model stereotip perempuan indonesia yang normal, "yang baik dan benar".
Namun demikian, dalam penelusurannya, saskia menyimpulkan bahwa sebagai organisasi gerwani tidak terlibat dalam putsch. Memang benar pada saat-saat itu gerwani sudah sangat dekat dengan pki,12 hingga ada garis komando langsung antara pimpinan pki dan perseorangan anggota gerwani, khususnya melalui para anggota pki di dalam gerwani. Keberadaan sejumlah anggota gerwani di kompleks halim (lubang buaya) saat itu lebih dikarenakan adanya latihah para sukarelawan untuk mempersiapkan peningkatan konfrontasi dengan negara "boneka" inggris, malaysia. Mereka adalah bagian dari 21 juta sukarelawan terdaftar di seluruh indonesia yang memenuhi "panggilan dwikora" sebagaimana dikeluarkan presiden soekarno.13 sebagian dari mereka lebih banyak mengurusi dapur umum.
Gerwani sendiri mempunyai tempat latihan di cipete jakarta selatan. Di sana sekitar 50 pemudi dilatih, dalam rangka program pendidikan resmi yang diselenggarakan front nasional, yaitu pendidikan kader revolusi (pekarev). Juga sejumlah organisasi perempuan lain mempunyai tempat latihan masing-masing.
Tempat latihan lubang buaya itu sendiri baru diadakan mulai musim kemarau 1965. Mayor udara suyono memberikan latihan bagi pemuda-pemudi sukarelawan kampanye malaysia itu. Sekurang-kurangnya mulai juli 1965 para anggota pki, pemuda rakyat, sobsi, bti, gerwani telah mengikuti latihan di sana secara bergelombang. Tempat latihan tersebut tidak hanya digunakan untuk sukarelawan dari keluarga komunis, karena sesudah 1 oktober juga para pemuda nu diharapkan akan datang dan mengikuti latihan di tempat itu.14
selain sejumlah perempuan anggota gerwani, juga perempuan dan pemudi dari organisasi lain berada di halim. Mereka itu para sukarelawati dan para istri prajurit dari divisi cakrabirawa, ada yang anggota biasa gerwani dan ada pula yang bukan anggota sama sekali. Sedangkan sukarelawati tersebut terdiri dari para pemudi remaja berumur 13 sampai 16 tahun, yang telah dilatih kemiliteran dalam rangka kampanye dwikora.
Pada malam 30 september sekitar 70 perempuan, sebagian besar pemudi-pemudi dari pemuda rakyat, selebihnya dari sobsi dan bti serta beberapa lagi dari gerwani, termasuk juga beberapa istri prajurit cakrabirawa dikumpulkan di lubang buaya. Apa yang mereka lakukan?
Quote:
Quote:
trit lainnya yang berkaitan dengan hal g30spki
Quote:
makasih yang udah baca dan komen, silahkan di
bila berkenan 
bila berkenan 
jangan biarkan peristiwa semacam itu terulang kembali. Cukup sudah tetes darahdan air mata membasahi bumi pertiwi .
tien212700 memberi reputasi
1
33K
Kutip
30
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
abyanara
#1
lanjutan
Berikut saya kutip pengakuan salah seorang istri Cakrabirawa yang pernah hadir di sana sebagaimana diucapkan pada Saskia,
Quote:
Beberapa hari sebelum kup saya dijemput untuk melakukan pekerjaan ekstra di Halim. Ia tidak berterus terang, apa pekerjaan itu. Tapi seperti biasa, saya mengikutinya saja. Begitu sampai di sana, saya diminta menjahit pita warna-warni pada pakaian-pakaian seragam, sebagai pembeda antara kawan dan lawan. Pekerjaan itu banyak sekali, sehingga kami mengerjakannya sampai larut malam. Karena itu pada pagi hari 1 Oktober saya tidur nyenyak sekali, sampai kami terbangun oleh bunyi tembakan-tembakan. Di luar masih gelap, dan kami semua menjadi ketakutan. Kami lari ke lapangan, di sana kami melihat beberapa tentara menggiring jendral-jendral culikan mereka. Suasananya ramai sekali. Karena mereka terus-menerus meneriakkan "kabir" pada jendral-jendral itu. Kata yang biasa saja sebenarnya, karena kami sudah selalu mengucapkannya. Jendral-jendral itu dipukuli, dan akhirnya mereka ditembak mati, dan dimasukkan ke dalam sumur. Begitu marah para tentara itu, sehingga peluru dihamburkan ke tubuh korban, walau pun mereka sudah mati. Kemudian, dengan ketakutan, baru kami pun pergi ke sumur.
Belakangan mereka menyiarkan cerita-cerita tentang tari-tarian, perbuatan seks yang tidak normal, memotong kemaluan. Semuanya itu sama sekali bohong. Jendral-jendral itu sangat ketakutan, sehingga berdiri saja mereka tidak bisa! Tapi pemudi-pemudi sukarelawan itu juga ketakutan. Mereka bersembunyi berdesak-desakan di sudut!
Saya tidak tahu harus berbuat apa, sesudah tentara-tentara itu pergi. Akhirnya beberapa di antara kami pergi ke kantor Gerwani, ada lagi yang lari pulang dan menyembunyikan seragam mereka. Saya juga melarikan diri, tapi beberapa minggu kemudian tertangkap, dan disiksa luar biasa. Lima kali mereka terpaksa membawa saya ke rumah sakit. Dua tahun sesudah itu sebagian tubuh saya menjadi lumpuh. Tapi saya tidak membuka mulut untuk mereka. Tidak satu nama pun saya sebut di depan mereka. Sesudah mereka menyiksa saya yang pertama kali, saya minta mereka lipstik, bedak dan sikat gigi. Kalau mereka tidak memberinya, saya bilang, saya tidak mau melihat mereka lagi. Beberapa wanita dan gadis-gadis tahanan itu mengatakan pengakuan apa saja yang mereka minta. Saya tidak. Itu sebabnya saya tidak pernah dibawa ke pengadilan. Karena kalau dibawa ke pengadilan, semua kebohongan mereka akan terbantah. Tapi gadis-gadis itu memang disiksa luar biasa. Empat di antaranya mereka rudapaksa. Semuanya disabeti, botol dimasukkan ke liang vagina dengan kekerasan. Umumnya kami ditahan empat belas tahun tanpa pernah diadili.
Belakangan mereka menyiarkan cerita-cerita tentang tari-tarian, perbuatan seks yang tidak normal, memotong kemaluan. Semuanya itu sama sekali bohong. Jendral-jendral itu sangat ketakutan, sehingga berdiri saja mereka tidak bisa! Tapi pemudi-pemudi sukarelawan itu juga ketakutan. Mereka bersembunyi berdesak-desakan di sudut!
Saya tidak tahu harus berbuat apa, sesudah tentara-tentara itu pergi. Akhirnya beberapa di antara kami pergi ke kantor Gerwani, ada lagi yang lari pulang dan menyembunyikan seragam mereka. Saya juga melarikan diri, tapi beberapa minggu kemudian tertangkap, dan disiksa luar biasa. Lima kali mereka terpaksa membawa saya ke rumah sakit. Dua tahun sesudah itu sebagian tubuh saya menjadi lumpuh. Tapi saya tidak membuka mulut untuk mereka. Tidak satu nama pun saya sebut di depan mereka. Sesudah mereka menyiksa saya yang pertama kali, saya minta mereka lipstik, bedak dan sikat gigi. Kalau mereka tidak memberinya, saya bilang, saya tidak mau melihat mereka lagi. Beberapa wanita dan gadis-gadis tahanan itu mengatakan pengakuan apa saja yang mereka minta. Saya tidak. Itu sebabnya saya tidak pernah dibawa ke pengadilan. Karena kalau dibawa ke pengadilan, semua kebohongan mereka akan terbantah. Tapi gadis-gadis itu memang disiksa luar biasa. Empat di antaranya mereka rudapaksa. Semuanya disabeti, botol dimasukkan ke liang vagina dengan kekerasan. Umumnya kami ditahan empat belas tahun tanpa pernah diadili.
Pengakuan menarik lainnya diberikan seorang mantan anggota Gerwani pada Saskia,
Quote:
Pertama-tama kami mendengar bahwa telah terjadi sesuatu, melalui siaran radio kira-kira jam 11 pagi tanggal 1 Oktober. Saya menjadi sangat takut. Kami diharuskan tinggal menjaga kantor, tapi di jalan banyak tentara lalu lalang. Dan dari kejauhan terdengar suara-suara tembakan. Saya bermaksud pergi dari kantor. Lama-lama kami mendengar sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Tapi baru mulai tanggal 10 Oktober pemerintah melakukan pembersihan terhadap kami. Gerombolan pemuda merampok rumah-rumah, menggelandang orang-orang Gerwani dan PKI dari rumah mereka, menyiksa mereka, dan membunuhi mereka. Melalui radio kisah-kisah mengerikan tentang penyiksaan seksual [terhadap jendral-jendral] disiar-siarkan. Koran-koran sarat dengan fitnah, khususnya koran Angkatan Darat Berita Yudha, Api dan koran-koran Islam. Bagaimana mungkin cerita-cerita ini dianggap benar?
Sebelum masuk Gerwani saya belajar hukum. ... Ketika teman-teman saya dulu, sekarang sudah menjadi ahli-ahli hukum terkenal, mengunjungi saya di penjara, mereka bertanya: "Bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan pemudi-pemudi dan para jendral itu di Lubang Buaya?" Saya menjawab: "Kalian kan pernah belajar hukum? Kalau sekiranya mereka dapat membuktikannya, apa kalian pikir mereka akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa gadis-gadis itu ke muka pengadilan? Alangkah bagusnya propaganda mereka itu!"
Sebelum masuk Gerwani saya belajar hukum. ... Ketika teman-teman saya dulu, sekarang sudah menjadi ahli-ahli hukum terkenal, mengunjungi saya di penjara, mereka bertanya: "Bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan pemudi-pemudi dan para jendral itu di Lubang Buaya?" Saya menjawab: "Kalian kan pernah belajar hukum? Kalau sekiranya mereka dapat membuktikannya, apa kalian pikir mereka akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa gadis-gadis itu ke muka pengadilan? Alangkah bagusnya propaganda mereka itu!"
Quote:
Kebingungan memang melanda orang-orang yang dengan cepat sekali disudutkan sebagai "orang yang terlibat" atau "pelaku" Peristiwa Lubang Buaya. Mereka yang pada tahun-tahun 1965 merasa dekat dengan ide Manipol Presiden Soekarno tiba-tiba menjumpai dirinya sebagai seorang komunis "sejati". Sebuah predikat yang sekonyong-konyong berarti sebagai manusia anti-Tuhan, berbahaya, pembunuh, keji dan sebaginya. Banyak di antara mereka yang membayangkan bakal terulangnya kembali sejarah "pemutar-balikan" fakta Peristiwa Madiun 1948.15
Sementara itu, pihak Angkatan Darat dengan bersusah payah akhirnya berhasil menyusun seluruh mozaik fiksi yang hendak dibangun. Saksi-saksi "dikutip", dan foto-foto dicetak di koran-koran. Siaran tv dan radio sengaja disusun guna mengungkapkan kengerian yang konon terjadi di Lubang Buaya. Namun, para saksi mata menyatakan semuanya itu adalah hasil rekayasa.
Seorang sukarelawati yang hadir di Lubang Buaya bercerita, "Ketika itu umur saya enam belas tahun, dan saya anggota Pemuda Rakyat. Saya pernah ikut latihan di Cipete, dan berkali-kali mengikuti latihan Dwikora. Sehingga waktu diminta untuk ikut ke Lubang Buaya, tentu saja saya berangkat. Saya melihat bagaimana tentara-tentara itu membunuh jendral-jendral, dan kemudian saya lari pulang. Pagi-pagi jam sembilan saya ditangkap, dan ditahan dua minggu. Saya dipukuli dan diinterogasi. Mereka memaksa kami membuka pakaian, dan menari-nari telanjang di depan mereka, sementara yang lain mengambil foto kami. Lalu foto-foto itu disiarkan. Tak lama kemudian saya ditangkap lagi, dan dilepas lagi. Seluruhnya saya pernah lima kali ditangkap dan dilepas, sebelum akhirnya mereka putuskan untuk memenjarakan saya. Itu waktu permulaan November 1965. Dan saya dilepas bulan Desember 1982."16
Seperti halnya sukarelawati lainnya, gadis tersebut disiksa luar biasa selama di penjara Bukit Duri bersama-sama dengan gadis-gadis sesamanya. Sejumlah anggota Gerwani yang sudah lebih tua berusaha melindungi anak-anak itu. Tapi akibatnya, mereka lalu dipindah ke tempat lain, di sana diinterogasi dan dikembalikan ke Bukit Duri sesudah dipukuli dan luka-luka memar.17
Beberapa orang yang juga mempunyai kesaksian tentang para gadis tahanan yang ditelanjangi, diambil potret mereka, dan kemudian disiarkan seakan-akan diambil di Lubang Buaya. Tapi bukan begitu saja cara mereka menyusun dan menyiarkan kabar bohong. Berbagai cerita lain disiarkan, sejumlah kesaksian lain pun dipalsukan. Hanya sesudah tahanan-tahanan Gerwani itu dibebaskan, mereka yang masih hidup bisa mengumpulkan berbagai cerita yang didengar dari sesama perempuan tahanan. Dari semuanya itu bisa diketahui, bagaimana pihak militer menyusun "kesaksian" yang mereka gunakan untuk mendukung kampanye teror mereka.
Cerita fiksi kekejaman Gerwani kian lengkap ketika pihak militer mendengar ada 3 perempuan dewasa ikut di Lubang Buaya, yaitu Saina, Emmy dan Atikah. Agen intelijen dan militer segera melakukan pengejaran. Kebetulan di kawasan Halim, sebagaimana umumnya pangkalan militer, ada banyak tempat pramuriaan. Di tempat tersebut, ada dua orang yang bernama Saina dan Emmy. Dua perempuan ini ditangkap dan disiksa hebat. Para pramuria ini tidak segera dibebaskan. Sementara itu Atikah pun tidak pernah tertangkap, ia mengganti namanya dengan Jamilah. Tapi Angkatan Darat tahu, Atikah alias Jamilah ini berasal dari daerah Senen. Pengejaran intensif mulai dilakukan di sana, sampai mereka berhasil menangkap dua perempuan, seorang Atikah dan seorang Jamilah. Keduanya disiksa hebat. "Jamilah", "Saina", dan "Emmy" ternyata menjadi sangat berjasa buat tentara dalam membangun plot fiksi kekejaman anggota Gerwani.
pramuria Emmy dibebaskan dari blok tahanan kriminil Bukit Duri pada Agustus 1965. Hukuman itu sendiri dijalaninya atas dasar tuduhan melacur. Sesudah dibebaskan ia segera kembali ke pekerjaannya di Halim. Pada Oktober 1965 ia kembali lagi dimasukkan ke Bukit Duri, tetapi kali ini di blok tahanan politik. Ia buta huruf dan belum pernah mendengar apa pun tentang Gerwani. Ia disiksa hebat. Tapi akhirnya kepadanya dijanjikan akan dibebaskan dan diberi uang sebanyak satu juta dua ratus ribu rupiah, yang baginya terdengar mustahil, jika ia mau menandatangani sebuah surat pernyataan. Ia tidak tahu tentang apa pernyataaan itu, tetapi ia merasa lega karena penyiksaan berhenti, dan surat itu pun ditandatanganinya.
Ternyata surat itu berupa pernyataan, bahwa dirinya sebagai Ketua Gerwani cabang Jakarta dan telah ikut ambil bagian dalam penyiksaan kelamin terhadap para jendral di Lubang Buaya. Mereka memberinya uang dua ratus rupiah, dan sisanya konon akan mereka bayar pada saatnya di kemudian hari. Sebanyak dua juta rupiah uang itu, masih mereka utang kepadanya. Ia baru dibebaskan pada 1979. Di penjara ia diajar membaca dan menulis oleh para tahanan Gerwani, dan juga diberi penjelasan tentang Gerwani.18
Fakta penyiksaan dalam rangka mengangun "fiksi" kekejaman itu, menurut sejumlah kalangan, dilakukan dengan cara yang tak kalah kejamnya. Gagang pecut ditusuk-tusukkan ke dalam lubang vagina perempuan yang dipaksa mengaku dirinya sebagai anggota Gerwani yang kejam. Bahkan tali pengikat kerbau diikatkan di lehernya. Ia kemudian ditarik berjalan telanjang di depan para tahanan laki-laki. Sorang narasumber menceritakan tentang tahanan muda-mudi yang dipaksa bersetubuh, sementara itu arus listrik disengatkan ke alat kelamin mereka
Sementara itu, pihak Angkatan Darat dengan bersusah payah akhirnya berhasil menyusun seluruh mozaik fiksi yang hendak dibangun. Saksi-saksi "dikutip", dan foto-foto dicetak di koran-koran. Siaran tv dan radio sengaja disusun guna mengungkapkan kengerian yang konon terjadi di Lubang Buaya. Namun, para saksi mata menyatakan semuanya itu adalah hasil rekayasa.
Seorang sukarelawati yang hadir di Lubang Buaya bercerita, "Ketika itu umur saya enam belas tahun, dan saya anggota Pemuda Rakyat. Saya pernah ikut latihan di Cipete, dan berkali-kali mengikuti latihan Dwikora. Sehingga waktu diminta untuk ikut ke Lubang Buaya, tentu saja saya berangkat. Saya melihat bagaimana tentara-tentara itu membunuh jendral-jendral, dan kemudian saya lari pulang. Pagi-pagi jam sembilan saya ditangkap, dan ditahan dua minggu. Saya dipukuli dan diinterogasi. Mereka memaksa kami membuka pakaian, dan menari-nari telanjang di depan mereka, sementara yang lain mengambil foto kami. Lalu foto-foto itu disiarkan. Tak lama kemudian saya ditangkap lagi, dan dilepas lagi. Seluruhnya saya pernah lima kali ditangkap dan dilepas, sebelum akhirnya mereka putuskan untuk memenjarakan saya. Itu waktu permulaan November 1965. Dan saya dilepas bulan Desember 1982."16
Seperti halnya sukarelawati lainnya, gadis tersebut disiksa luar biasa selama di penjara Bukit Duri bersama-sama dengan gadis-gadis sesamanya. Sejumlah anggota Gerwani yang sudah lebih tua berusaha melindungi anak-anak itu. Tapi akibatnya, mereka lalu dipindah ke tempat lain, di sana diinterogasi dan dikembalikan ke Bukit Duri sesudah dipukuli dan luka-luka memar.17
Beberapa orang yang juga mempunyai kesaksian tentang para gadis tahanan yang ditelanjangi, diambil potret mereka, dan kemudian disiarkan seakan-akan diambil di Lubang Buaya. Tapi bukan begitu saja cara mereka menyusun dan menyiarkan kabar bohong. Berbagai cerita lain disiarkan, sejumlah kesaksian lain pun dipalsukan. Hanya sesudah tahanan-tahanan Gerwani itu dibebaskan, mereka yang masih hidup bisa mengumpulkan berbagai cerita yang didengar dari sesama perempuan tahanan. Dari semuanya itu bisa diketahui, bagaimana pihak militer menyusun "kesaksian" yang mereka gunakan untuk mendukung kampanye teror mereka.
Cerita fiksi kekejaman Gerwani kian lengkap ketika pihak militer mendengar ada 3 perempuan dewasa ikut di Lubang Buaya, yaitu Saina, Emmy dan Atikah. Agen intelijen dan militer segera melakukan pengejaran. Kebetulan di kawasan Halim, sebagaimana umumnya pangkalan militer, ada banyak tempat pramuriaan. Di tempat tersebut, ada dua orang yang bernama Saina dan Emmy. Dua perempuan ini ditangkap dan disiksa hebat. Para pramuria ini tidak segera dibebaskan. Sementara itu Atikah pun tidak pernah tertangkap, ia mengganti namanya dengan Jamilah. Tapi Angkatan Darat tahu, Atikah alias Jamilah ini berasal dari daerah Senen. Pengejaran intensif mulai dilakukan di sana, sampai mereka berhasil menangkap dua perempuan, seorang Atikah dan seorang Jamilah. Keduanya disiksa hebat. "Jamilah", "Saina", dan "Emmy" ternyata menjadi sangat berjasa buat tentara dalam membangun plot fiksi kekejaman anggota Gerwani.
pramuria Emmy dibebaskan dari blok tahanan kriminil Bukit Duri pada Agustus 1965. Hukuman itu sendiri dijalaninya atas dasar tuduhan melacur. Sesudah dibebaskan ia segera kembali ke pekerjaannya di Halim. Pada Oktober 1965 ia kembali lagi dimasukkan ke Bukit Duri, tetapi kali ini di blok tahanan politik. Ia buta huruf dan belum pernah mendengar apa pun tentang Gerwani. Ia disiksa hebat. Tapi akhirnya kepadanya dijanjikan akan dibebaskan dan diberi uang sebanyak satu juta dua ratus ribu rupiah, yang baginya terdengar mustahil, jika ia mau menandatangani sebuah surat pernyataan. Ia tidak tahu tentang apa pernyataaan itu, tetapi ia merasa lega karena penyiksaan berhenti, dan surat itu pun ditandatanganinya.
Ternyata surat itu berupa pernyataan, bahwa dirinya sebagai Ketua Gerwani cabang Jakarta dan telah ikut ambil bagian dalam penyiksaan kelamin terhadap para jendral di Lubang Buaya. Mereka memberinya uang dua ratus rupiah, dan sisanya konon akan mereka bayar pada saatnya di kemudian hari. Sebanyak dua juta rupiah uang itu, masih mereka utang kepadanya. Ia baru dibebaskan pada 1979. Di penjara ia diajar membaca dan menulis oleh para tahanan Gerwani, dan juga diberi penjelasan tentang Gerwani.18
Fakta penyiksaan dalam rangka mengangun "fiksi" kekejaman itu, menurut sejumlah kalangan, dilakukan dengan cara yang tak kalah kejamnya. Gagang pecut ditusuk-tusukkan ke dalam lubang vagina perempuan yang dipaksa mengaku dirinya sebagai anggota Gerwani yang kejam. Bahkan tali pengikat kerbau diikatkan di lehernya. Ia kemudian ditarik berjalan telanjang di depan para tahanan laki-laki. Sorang narasumber menceritakan tentang tahanan muda-mudi yang dipaksa bersetubuh, sementara itu arus listrik disengatkan ke alat kelamin mereka
0
Kutip
Balas