- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#131
“Katakan apa yang menjadi niatmu,”
Raine mencoba untuk tetap tenang dan menatap tajam ke dalam mata pria yang duduk di hadapannya. Max diam sejenak, menatap tak percaya ke arah gadis yang telah ia berikan seluruh hatinya itu. Lalu dia menunduk menatap meja, tersenyum, dan mengetukkan kotak rokoknya secara perlahan.
“Nampaknya, .. apapun yang akan kukatakan tidak akan membuat banyak perbedaan ya.” Max membuka percakapan.
“Kau bahkan tak perlu susah payah datang kemari,” ucap Raine lagi.
“Boleh aku tau mengapa?”
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat kau tiba-tiba menarik kesempatan yang awalnya kau berikan padaku.”
“Kau sungguh ingin tahu jawabannya, Max?”
“Itu akan menyenangkan.”
“Baiklah. No offense. Aku ingin mencintai. Aku tak ingin belajar mencintai. Denganmu, rasanya seperti memungut anak kucing di jalan. Awalnya kau mengasihinya, lama kelamaan membosankan.”
Sesuatu mengencang di dalam dada Max. Retak. Berkeping-keping.
“Sungguhkah? Kau tidak hanya sedang bingung? Karena aku bisa memberimu jarak jika itu yang sebenarnya kau butuhkan.”
“Ayolah. Yang benar saja. Who are you? My dad? You don’t have to care about what I need. You can’t even give me what I want.”
Hati pria itu kian remuk. Serpihannya berhamburan. Dan matanya mulai berkaca.
“Itu benar. Aku bahkan tak tahu apa yang kau mau. Ini terlalu singkat. Seharusnya kau memberi waktu lebih, bukan begitu?” Max masih berusaha dalam kegetirannya, mencoba tersenyum.
“Aku tak lagi berpikir ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik kita usaikan percakapan ini. Bye Max.”
Raine berdiri dan membalikkan badannya hendak melangkah menuju mobil, tetapi Max cepat menahan dengan memegang pergelangan tangannya.
Raine menoleh kepada pria yang tengah menggenggam tangannya itu. Dan ketika itu Max melihat dengan jelas betapa wajah Raine, yang selalu membayang di dalam setiap angannya itu, basah berlinang air mata. Harapannya sedikit membubung lagi melihat itu.
Hening beberapa detik tanpa kata.
“Setidaknya beri aku satu kesempatan lagi Raine, please.”
Max sungguh berharap ada sedikit keajaiban di sisinya malam ini. Ia butuh sedikit saja keajaiban. Dalam hati ia berharap. Namun reaksi Raine sungguh di luar dugaan. Raine menyentakkan tangannya.
“Lepaskan! …. Dan kau berdiri sekarang, aku tak ada lagi keinginan untuk berada disini membicarakan semua omong kosong mu atau apapun itu. Aku tak tertarik!”
Max berdiri. Ia bisa merasakan tubuhnya memanas dan seluruh tubuhnya seperti mengeras. Ia mencoba menahan emosinya yang tiba-tiba membubung.
‘What?!’ hanya itu kata tertahan yang bisa keluar dari bibir pria malang itu.
“Kamu pria bagus. Kamu pria sempurna Max. Cari wanita lain. Karena aku, aku adalah barang rusak! Aku mencintai seseorang dari masa laluku. Aku tidak ada di saat ini. Aku tidak bernafas dan merasakan atau melihat dunia seperti yang orang lain rasakan. Aku stuck di masa lalu! Dan itu juga sebabnya mengapa, di mataku kau sangat biasa. Meskipun kau bisa memindahkan letak bulan dan matahari pun aku takkan kagum. Aku takkan pernah punya alasan atau keinginan untuk bersamamu. Jadi berhenti bersikap naif. You’re pathetic! Bicara kesempatan. Kesempatan apa?! Aku tak pernah punya niat untuk menjadi dewi penyelamat bagi kehidupanmu yang so common. Di mata kamu aku hanyalah pelengkap puzzle. Agar sesuai dengan segala sesuatu yang biasa lainnya di dalam hidupmu. Mengapa kau berpikir aku ingin menjadi bagian dari sesuatu yang biasa?! Picik!” Raine menarik nafas sejenak… mengusap air mata di wajahnya.
‘What?!” Max masih tak percaya. Dunianya terjungkir balik.
“Jadi. Kalau kau ingin mencintai dengan sepenuh hati, menikah, berkeluarga dan segenap angan-angan muluk lainnya, demi Tuhan!, berikan semua itu pada gadis lain, yang menginginkan apa yang kau inginkan. Atau jauh lebih baik lagi. Bangun dari semua mimpimu. Hiduplah! Dan berhenti menjadi seseorang yang sangat biasa! Kau hidup hanya satu sekali. Mengapa mengambil jalan yang ditempuh semua orang? Bila kau terus menjadi ‘pengecut’, aku khawatir kau bahkan tidak akan pernah tahu bahagia itu apa. Kau pernah dan selalu bilang aku 'spesial' untukmu. Tapi kau juga selalu bicara tentang cinta, kesempatan, keluarga dan hal-hal biasa lainnya. Sungguh tidak konsisten. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Kau selalu ingin kebenaran. Inilah kebenaran yang kau inginkan. Bye Max. Have a nice life.”
Raine membalik badan dan benar-benar berjalan meninggalkannya. Max hanya bisa mengamati wanita itu kian menjauh. Mobil yang dikemudikan Fiona dan yang juga dinaiki Raine meninggalkan area tersebut.
Max masih berdiri.
Masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Raine mencoba untuk tetap tenang dan menatap tajam ke dalam mata pria yang duduk di hadapannya. Max diam sejenak, menatap tak percaya ke arah gadis yang telah ia berikan seluruh hatinya itu. Lalu dia menunduk menatap meja, tersenyum, dan mengetukkan kotak rokoknya secara perlahan.
“Nampaknya, .. apapun yang akan kukatakan tidak akan membuat banyak perbedaan ya.” Max membuka percakapan.
“Kau bahkan tak perlu susah payah datang kemari,” ucap Raine lagi.
“Boleh aku tau mengapa?”
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat kau tiba-tiba menarik kesempatan yang awalnya kau berikan padaku.”
“Kau sungguh ingin tahu jawabannya, Max?”
“Itu akan menyenangkan.”
“Baiklah. No offense. Aku ingin mencintai. Aku tak ingin belajar mencintai. Denganmu, rasanya seperti memungut anak kucing di jalan. Awalnya kau mengasihinya, lama kelamaan membosankan.”
Sesuatu mengencang di dalam dada Max. Retak. Berkeping-keping.
“Sungguhkah? Kau tidak hanya sedang bingung? Karena aku bisa memberimu jarak jika itu yang sebenarnya kau butuhkan.”
“Ayolah. Yang benar saja. Who are you? My dad? You don’t have to care about what I need. You can’t even give me what I want.”
Hati pria itu kian remuk. Serpihannya berhamburan. Dan matanya mulai berkaca.
“Itu benar. Aku bahkan tak tahu apa yang kau mau. Ini terlalu singkat. Seharusnya kau memberi waktu lebih, bukan begitu?” Max masih berusaha dalam kegetirannya, mencoba tersenyum.
“Aku tak lagi berpikir ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik kita usaikan percakapan ini. Bye Max.”
Raine berdiri dan membalikkan badannya hendak melangkah menuju mobil, tetapi Max cepat menahan dengan memegang pergelangan tangannya.
Raine menoleh kepada pria yang tengah menggenggam tangannya itu. Dan ketika itu Max melihat dengan jelas betapa wajah Raine, yang selalu membayang di dalam setiap angannya itu, basah berlinang air mata. Harapannya sedikit membubung lagi melihat itu.
Hening beberapa detik tanpa kata.
“Setidaknya beri aku satu kesempatan lagi Raine, please.”
Max sungguh berharap ada sedikit keajaiban di sisinya malam ini. Ia butuh sedikit saja keajaiban. Dalam hati ia berharap. Namun reaksi Raine sungguh di luar dugaan. Raine menyentakkan tangannya.
“Lepaskan! …. Dan kau berdiri sekarang, aku tak ada lagi keinginan untuk berada disini membicarakan semua omong kosong mu atau apapun itu. Aku tak tertarik!”
Max berdiri. Ia bisa merasakan tubuhnya memanas dan seluruh tubuhnya seperti mengeras. Ia mencoba menahan emosinya yang tiba-tiba membubung.
‘What?!’ hanya itu kata tertahan yang bisa keluar dari bibir pria malang itu.
“Kamu pria bagus. Kamu pria sempurna Max. Cari wanita lain. Karena aku, aku adalah barang rusak! Aku mencintai seseorang dari masa laluku. Aku tidak ada di saat ini. Aku tidak bernafas dan merasakan atau melihat dunia seperti yang orang lain rasakan. Aku stuck di masa lalu! Dan itu juga sebabnya mengapa, di mataku kau sangat biasa. Meskipun kau bisa memindahkan letak bulan dan matahari pun aku takkan kagum. Aku takkan pernah punya alasan atau keinginan untuk bersamamu. Jadi berhenti bersikap naif. You’re pathetic! Bicara kesempatan. Kesempatan apa?! Aku tak pernah punya niat untuk menjadi dewi penyelamat bagi kehidupanmu yang so common. Di mata kamu aku hanyalah pelengkap puzzle. Agar sesuai dengan segala sesuatu yang biasa lainnya di dalam hidupmu. Mengapa kau berpikir aku ingin menjadi bagian dari sesuatu yang biasa?! Picik!” Raine menarik nafas sejenak… mengusap air mata di wajahnya.
‘What?!” Max masih tak percaya. Dunianya terjungkir balik.
“Jadi. Kalau kau ingin mencintai dengan sepenuh hati, menikah, berkeluarga dan segenap angan-angan muluk lainnya, demi Tuhan!, berikan semua itu pada gadis lain, yang menginginkan apa yang kau inginkan. Atau jauh lebih baik lagi. Bangun dari semua mimpimu. Hiduplah! Dan berhenti menjadi seseorang yang sangat biasa! Kau hidup hanya satu sekali. Mengapa mengambil jalan yang ditempuh semua orang? Bila kau terus menjadi ‘pengecut’, aku khawatir kau bahkan tidak akan pernah tahu bahagia itu apa. Kau pernah dan selalu bilang aku 'spesial' untukmu. Tapi kau juga selalu bicara tentang cinta, kesempatan, keluarga dan hal-hal biasa lainnya. Sungguh tidak konsisten. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Kau selalu ingin kebenaran. Inilah kebenaran yang kau inginkan. Bye Max. Have a nice life.”
Raine membalik badan dan benar-benar berjalan meninggalkannya. Max hanya bisa mengamati wanita itu kian menjauh. Mobil yang dikemudikan Fiona dan yang juga dinaiki Raine meninggalkan area tersebut.
Max masih berdiri.
Masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Diubah oleh rahan 05-06-2013 23:33
0