- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#130
Quote:
enjoy please, ditunggu komennya ...

--//--
Malam hari. Pukul 7.20 Di sebuah area makan dan lapangan parkir yang luas di depan gedung Bank Mega/Trans TV. Max Alfar menunggu Raine dengan penuh cemas. Max duduk di salah satu tempat makan yang sepi di pusat jajanan tersebut. Hanya ditemani teh botol di atas meja dan sebatang rokok ditangan. Sesekali ia melihat ke telpon genggamnya. Membuka kembali sent message, memastikan bahwa pesannya tadi sudah terkirim.
:Aku ke Jakarta. Akan tiba di depan bank Mega jam 7. Tempat waktu itu. Kita harus bicara, Raine.
Dan balasan dari Raine sama sekali tidak membuatnya tenang.
: Akan datang. Tunggu saja.
Sekarang sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu yang ditentukan tapi orang yang ditunggu tidak juga kunjung terlihat keberadaannya. Ya. Perasaan semacam ini yang benar-benar mencekam secara perlahan. Waktu seakan berputar sangat lambat. Dan setiap detiknya sangatlah menyebalkan.
--//--
7.05. Malam hari. Di lapangan parkir dekat area makan tempat janji bertemu dengan Max. Raine dan Fiona sedang duduk memperhatikan Max dari kejauhan dari dalam mobil Avanza milik Fiona. Mereka baru saja tiba di situ.
‘Kau yakin, yang itu orangnya?’ ucap Fiona
‘Iya. Tak mungkin salah. Itu pacarku.’ Raine menjawab datar.
‘Lalu, apa yang kau tunggu? Temuilah dia dan bicara baik-baik. Dia sepertinya seorang yang menyenangkan.’
‘Entahlah.’
‘Apa yang salah dengannya?’ kejar Fio.
‘Nothing. Aku hanya tak suka. Dia terlalu sempurna untukku,’ masih dengan nada acuh tak acuhnya Raine menjawab.
‘Ok. Seorang pria. Baik. Punya pekerjaan. Mapan. Menyayangi kamu apa adanya. What more can you really ask from a man?’ Fio mulai terdengar kesal.
‘Damn it, Fio. Stop judging me! Kamu membuat aku terdengar egois! Dan yang lebih buruk lagi, kamu pikir kamu tahu segalanya. Ini hubungan tanpa rasa, tidak ada apapun untukku di dalamnya. Nil. Nothing. Jadi sebelum kau memaksa sahabatmu untuk membunuh mati perasaannya dalam hubungan tanpa arti, pikir lagi. Semua tidak seperti yang terlihat. You can’t just be with someone who likes you!’
‘Kalau memang tidak ada rasa. Katakan dari awal! Kenapa sudah beberapa saat jalan baru berubah pikiran? Kalau kamu tidak bisa menimbang perasaan orang lain, itu bisa dikategorikan sebagai egois. Dan karena aku sahabatmu, aku selalu punya hak untuk menilai kamu kapanpun aku mau. Kapanpun aku pikir kamu mulai melakukan sesuatu yang tidak fair terhadap orang lain.’
‘Apanya yang tidak adil? Aku memberinya kesempatan untuk memberiku ‘kesan’, justru yang tidak adil itu kalau aku tolak dia mentah-mentah sejak awal, tanpa memberinya kesempatan sama sekali.’
‘Baiklah. Kalau pola pikirmu memang seperti itu! Sekarang, yang tersisa tinggallah satu hal saja. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Buka pintu, pergi keluar, temui dia, katakan tidak sampai disini, dan hentikan semuanya, dan tidak juga berteman. Kau tahu, itu hanya akan membunuhnya.’
‘Tidakkah ia terlihat sedikit uring-uringan? Aku khawatir ia tidak menerimanya dengan baik.’
‘Ya, mungkin kau harus tunggu beberapa menit lagi,’ Fio menyetujui.
Dan Raine pun akhirnya memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi. Dari dalam mobil itu mereka mengamati Max.
Mereka semua sedang menunggu.
--//--
7.22. Raine keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju meja dimana Max sedang menantinya. Setiap langkah ia mendekat dirasakan oleh Max seperti palu godam yang menghantam di dalam dadanya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang begitu diagungkannya tetapi sekaligus pada saat bersamaan membakar dan mengiris rasa di dalam hatinya. Menatap Raine malam itu, bagaikan salju dan api yang berkecamuk dalam diri Max. Ia ingin mengamuk, melampiaskan amarah sebagaimana haknya karena menjadi pasangan yang tak dianggap. Namun di satu sisi lain dalam hatinya, Max selalu sadar dan mengerti bahwa ia menghamba dan bertekuk lutut di hadapan Raine, ratu penguasa hatinya. Kepadanyalah ia akan menuruti segala perintah dan keinginan. Meski harus memetik bintang atau menghunus pedang. Wanita ini, telah membuat ia tak berdaya dari tatapan pertama. Dan malam ini, setelah berjumpa seperti ini, sedekat ini, dengan kehadiran bidadari itu hanya beberapa meter dari sisinya, melangkah ke arahnya, debar jantung Max kian cepat, lidahnya menjadi kelu, seakan tak ada kata yang ingin ia ucapkan, selain maaf. Dan itulah kata pertama yang keluar dari bibirnya saat Raine duduk persis di hadapannya.
‘Maafkan aku, Raine.’
--//--
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:38
0
