TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
6.9K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#47
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 3.1
[Yogyakarta, 08 Juni 2010]
Indra! Yudha!
Maya langsung berlari menyambut kedatangan kedua orang itu. Saat ini Maya sedang berada di sebuah perkampungan penduduk yang tinggal di lereng Selatan Merapi. Penduduk kampung inilah yang diteror oleh Wewe Gombel dan meminta bantuan pada Yudha.
Indra langsung melambaikan tangannya ke arah Maya. Tapi dia lalu menyadari ada yang aneh. Ekspresi wajah gadis itu sama sekali tidak tampak gembira atau lega, dia justru terlihat tegang.
Ada apa? Kau tampak tegang sekali, tanya Indra segera setelah Maya menghampirinya.
Gadis itu langsung memandang ke arah Yudha.
Uhm....ada orang yang mencarimu Yudha... ujar Maya dengan nada ragu-ragu. Katanya mereka ada urusan penting denganmu. Saat ini mereka sedang menunggu di rumah kepala desa. Tapi yang pasti....mereka sepertinya bukan manusia.
Mendengar ucapan Maya, Yudha dan Indra langsung mempercepat langkah mereka dan berjalan menuju ke rumah kepala desa.
Di depan rumah kepala desa, sudah berdiri 4 orang pria bertampang serius. Mereka semua mengenakan pakaian adat keraton dan terlihat persis seperti para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Bedanya, mereka masing-masing membawa sebilah tombak dengan mata tombak yang berbentuk seperti keris. Pakaian mereka sudah cukup mencolok dan tentu saja mengundang perhatian warga, tapi tidak satupun dari warga kampung itu yang berani mengusik kelompok orang itu.
Tapi dengan santai, Yudha berjalan menghampiri keempat orang itu. Dan anehnya, keempat orang itu langsung berjalan mundur dan memberi jalan pada Yudha. Mereka lalu membungkuk dengan gaya jawa, sambil mempersilahkan Yudha masuk ke dalam rumah kepala desa. Gerak-gerik mereka pesis seperti Abdi Dalem Keraton yang mempersilahkan seorang tamu penting Keraton untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Indra dan Maya berjalan mengkikuti Yudha dan ikut masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruang tamu itu, sudah duduk seorang pria berpakaian ala keluarga Keraton dan mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang patih. Jelas pria ini memiliki kedudukan lebih tinggi dari 4 pria yang berjaga di depan rumah. Pria itu duduk santai dengan ditemani seorang pria yang berpakaian sama seperti empat orang yang berjaga di luar rumah. Di depan pria itu, tampak duduk pak kepala desa. Kepala desa itu terlihat sangat pucat sehingga dia terlihat seperti mayat hidup. Tapi begitu melihat Yudha, wajah kepala desa itu langsung terlihat lebih cerah.
P...pak Yudha! Syukurlah anda sudah kembali, seru kepala desa itu dengan gembira ketika melihat Yudha memasuki ruang tamunya.
Ya. Wewe Gombel itu sudah kumusnahkan. Desa ini akan aman untuk saat ini. Tapi aku tidak bisa menjamin apakah akan ada gangguan lagi di desa ini, ujar Yudha sambil duduk di sofa yang masih kosong. Dia lalu memandang ke arah pria yang berpakaian seperti patih.
Nah. Sekarang bisa anda ceritakan kenapa anda, yang seorang patih dari Kerajaan Siluman Macan, penguasa Lereng Selatan Merapi, datang menemuiku? tanya Yudha dengan santai.
Mendengar ucapan Yudha, si kepala desa langsung ketakutan. Wajahnya kembali memucat. Sementara Indra dan Maya tampak terkejut. Tapi mereka sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini, jadi mereka tidak tampak takut.
Tapi waktunya tepat sekali. Aku sekalian saja akan melayangkan protes ke Prabu Sanjaya, berkaitan dengan teror Wewe Gombel di desa ini, yang seharusnya masih masuk teritori kerajaannya, ujar Yudha lagi tanpa menunggu jawaban dari patih itu. Seharusnya dia bisa mengendalikan makhluk-makhluk gaib yang tinggal di sekitar wilayah kerajaannya. Apa dia sudah lupa tugasnya sebagai Dewa yang menjaga kedamaian wilayah Lereng Selatan Merapi?
Ucapan Yudha jelas-jelas menyinggung perasaan si patih. Tapi patih itu diam saja. Sebaliknya, orang yang duduk di samping patih itu langsung berdiri dan terlihat marah. Kedua mata pria itu langsung berubah menjadi warna kuning keemasan, dengan pupil sempit seperti kucing. Sementara kedua tangannya langsung berubah menjadi cakar tajam dan wajahnya langsung berubah mirip seperti seekor macan.
Lancang!!! Beraninya kau menghina Paduka Raja!!! geram pria itu.
Tapi si patih sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Yudha, dia langsung merentangkan tangannya dan menahan tubuh pendampingnya.
Tahan! Jaga sikapmu di depan orang ini. Kita tidak datang untuk mengadakan pertumpahan darah. Kita justru datang untuk meminta bantuan, ujar patih itu dengan lembut, namun tegas. Kalau kau sudah tenang, baru kita bisa melanjutkan lagi pembicaraan ini.
Pria yang rupanya memang siluman macan itu, perlahan-lahan mengubah wujudnya lagi, lalu duduk diam sambil memandang ke bawah. Sepertinya dia merasa malu sekali karena sudah bertindak tidak sopan di hadapan seorang patih dan tamunya.
Maafkan atas kelancangan bawahan saya ini. Dia ini masih muda dan masih harus banyak belajar, terutama mengenai tata krama dan cara mengendalikan emosi, ujar si patih meminta maaf. Semoga anda tidak keberatan untuk memaafkan perbuatannya.
Yudha tersenyum melihat reaksi si patih. Dia sudah menduga kalau patih yang dikirim oleh Prabu Sanjaya, adalah orang yang pandai mengatur emosinya. Prabu itu tentu saja sudah tahu seperti apa sifat Yudha, karena keduanya sudah saling kenal cukup lama.
Tentu saja tidak. Anak muda biasanya memang sangat bersemangat, ujar Yudha sambil tersenyum dan memandang sekilas ke arah Maya dan Indra, dia lalu kembali memandang ke arah si patih. Oke. Bercandanya sudah cukup. Sekarang saatnya serius.
Patih itu mengangguk. Dia sudah paham apa maksud Yudha.
Kalau begitu saya akan langsung saja. Saya tahu anda tidak suka basa-basi, ujar si patih sambil memandang tajam ke arah Yudha. Kami butuh bantuan.
Indra terkejut begitu mendengar ucapan si patih. Indra pernah dengar dari Yudha, kalau di sekitar Yogyakarta terdapat beberapa kerajaan siluman. Satu diantaranya yang punya pengaruh paling besar di Keraton Yogyakarta adalah Kerajaan Siluman Macan di Lereng Selatan Merapi. Tapi dia tidak menyangka kalau kerajan itu akan minta bantuan pada Yudha. Indra langsung menelan ludahnya.
Ini pasti masalah serius....gumamnya dalam hati. Masalahnya, dia pasti yang akan turun tangan di garis depan seandainya ini memang masalah yang sangat serius, seperti yang ada dalam pikirannya.
Hoo? Ada apa? Kenapa Kerajaan Siluman Macan yang perkasa ingin minta bantuan pada mantan Dewa sepertiku? balas Yudha.
Mendengar ucapan Yudha, Maya langsung memandang ke arah Indra. Setahu gadis itu, Yudha adalah seorang Dewa. Tapi kenapa dia memanggil dirinya sendiri sebagai mantan Dewa. Indra langsung paham maksud Maya, tapi dia lalu mengacungkan telunjuknya dan menempelkannya di bibir. Dia ingin menjelaskan soal itu, tapi saat ini bukan saat yang tepat. Maya langsung memahami situasinya dan akhirnya diam saja.
Karena ini adalah sesuatu yang tidak bisa kami tangani, ujar patih itu lagi sambil terus menatap Yudha. Apa anda kenal dengan putra Paduka Raja, Raden Setyo Pamungkas?
Ah. Tentu saja aku ingat anak nakal itu, jawab Yudha sambil seperti biasa, mengambil sebatang rokok dari sakunya. Lalu apa yang diperbuat anak itu?
Si patih sepertinya ragu-ragu untuk menceritakan masalah yang dihadapi kerajaannya di depan begitu banyak orang. Apalagi, di depan manusia. Yudha menyadari hal itu, tapi dia bersikap cuek dan memaksa patih itu untuk menceritakan masalahnya.
Aku tahu kau ragu karena ini menyangkut masalah kerajaanmu. Tapi kalau kau tidak menceritakannya sekarang, aku tidak bisa membantumu, desak Yudha. Bagaimana?
Si patih itu mendesah lalu menceritakan masalahnya.
Pangeran melarikan diri sejak 2 hari yang lalu. Beliau sepertinya pergi ke kota Yogyakarta dan akhirnya bersembunyi dari kejaran kami. Beberapa kali kami mengirim utusan untuk mengajaknya kembali ke istana, tapi mereka selalu dikalahkan oleh pangeran, ujar si patih kerajaan siluman macan itu sambil mengatupkan kedua tangannya. Bagaimanapun pangeran adalah satu-satunya pewaris tahta kerajaan kami. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, kami akan sangat kerepotan, dan tentu saja Baginda Prabu Sanjaya akan sangat kehilangan.
Indra memandang ke arah patih itu. Patih itu memang sekilas terlihat tenang, tapi Indra dapat menangkap kegelisahan patih itu ketika dia sedang menceritakan mengenai masalah yang dialami kerajaannya.
Pangeran itu, kenapa dia melarikan diri dari istana?
Tiba-tiba saja Maya bertanya. Pertanyaannya membuat mata semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung tertuju ke arahnya. Gadis itu langsung salah tingkah karena bingung.
Ke..kenapa kalian tiba-tiba memandangku seperti ini? tanya gadis kebingungan. Tapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu masih terdiam.
Lalu Yudha tertawa terbahak-bahak. Pertanyaan Maya sama persis dengan pertanyaan yang baru saja akan dia lontarkan tadi. Tapi bukan pertanyaan Maya yang membuatnya tertawa, tapi reaksi orang-orang yang ada di dalam ruang tamu kepala desa. Sedari tadi mereka bersikap seakan-akan selain Yudha dan si patih kerajaan, tidak ada yang pantas bicara. Tapi Maya dengan cueknya langsung menyela pembicaraan antara Yudha dan patih itu dengan sebuah pertanyaan.
Ada yang lucu tuan Prabowo? tanya si patih heran.
Ah...tidak. Lupakan saja, jawab Yudha sambil menyalakan rokoknya. Nah pertanyaanku dan Maya sama. Jadi jawab saja pertanyaan gadis itu.
Si patih memandang sekilas ke arah Maya. Lalu kembali menatap ke arah Yudha.
Ini memang memalukan. Tapi ini harus diceritakan, ujar si patih. Pangeran kabur dari pertunangan.
Spoiler for "Part 3.2":
[Yogyakarta, 08 Juni 2010]
Indra! Yudha!
Maya langsung berlari menyambut kedatangan kedua orang itu. Saat ini Maya sedang berada di sebuah perkampungan penduduk yang tinggal di lereng Selatan Merapi. Penduduk kampung inilah yang diteror oleh Wewe Gombel dan meminta bantuan pada Yudha.
Indra langsung melambaikan tangannya ke arah Maya. Tapi dia lalu menyadari ada yang aneh. Ekspresi wajah gadis itu sama sekali tidak tampak gembira atau lega, dia justru terlihat tegang.
Ada apa? Kau tampak tegang sekali, tanya Indra segera setelah Maya menghampirinya.
Gadis itu langsung memandang ke arah Yudha.
Uhm....ada orang yang mencarimu Yudha... ujar Maya dengan nada ragu-ragu. Katanya mereka ada urusan penting denganmu. Saat ini mereka sedang menunggu di rumah kepala desa. Tapi yang pasti....mereka sepertinya bukan manusia.
Mendengar ucapan Maya, Yudha dan Indra langsung mempercepat langkah mereka dan berjalan menuju ke rumah kepala desa.
Di depan rumah kepala desa, sudah berdiri 4 orang pria bertampang serius. Mereka semua mengenakan pakaian adat keraton dan terlihat persis seperti para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Bedanya, mereka masing-masing membawa sebilah tombak dengan mata tombak yang berbentuk seperti keris. Pakaian mereka sudah cukup mencolok dan tentu saja mengundang perhatian warga, tapi tidak satupun dari warga kampung itu yang berani mengusik kelompok orang itu.
Tapi dengan santai, Yudha berjalan menghampiri keempat orang itu. Dan anehnya, keempat orang itu langsung berjalan mundur dan memberi jalan pada Yudha. Mereka lalu membungkuk dengan gaya jawa, sambil mempersilahkan Yudha masuk ke dalam rumah kepala desa. Gerak-gerik mereka pesis seperti Abdi Dalem Keraton yang mempersilahkan seorang tamu penting Keraton untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Indra dan Maya berjalan mengkikuti Yudha dan ikut masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruang tamu itu, sudah duduk seorang pria berpakaian ala keluarga Keraton dan mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang patih. Jelas pria ini memiliki kedudukan lebih tinggi dari 4 pria yang berjaga di depan rumah. Pria itu duduk santai dengan ditemani seorang pria yang berpakaian sama seperti empat orang yang berjaga di luar rumah. Di depan pria itu, tampak duduk pak kepala desa. Kepala desa itu terlihat sangat pucat sehingga dia terlihat seperti mayat hidup. Tapi begitu melihat Yudha, wajah kepala desa itu langsung terlihat lebih cerah.
P...pak Yudha! Syukurlah anda sudah kembali, seru kepala desa itu dengan gembira ketika melihat Yudha memasuki ruang tamunya.
Ya. Wewe Gombel itu sudah kumusnahkan. Desa ini akan aman untuk saat ini. Tapi aku tidak bisa menjamin apakah akan ada gangguan lagi di desa ini, ujar Yudha sambil duduk di sofa yang masih kosong. Dia lalu memandang ke arah pria yang berpakaian seperti patih.
Nah. Sekarang bisa anda ceritakan kenapa anda, yang seorang patih dari Kerajaan Siluman Macan, penguasa Lereng Selatan Merapi, datang menemuiku? tanya Yudha dengan santai.
Mendengar ucapan Yudha, si kepala desa langsung ketakutan. Wajahnya kembali memucat. Sementara Indra dan Maya tampak terkejut. Tapi mereka sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini, jadi mereka tidak tampak takut.
Tapi waktunya tepat sekali. Aku sekalian saja akan melayangkan protes ke Prabu Sanjaya, berkaitan dengan teror Wewe Gombel di desa ini, yang seharusnya masih masuk teritori kerajaannya, ujar Yudha lagi tanpa menunggu jawaban dari patih itu. Seharusnya dia bisa mengendalikan makhluk-makhluk gaib yang tinggal di sekitar wilayah kerajaannya. Apa dia sudah lupa tugasnya sebagai Dewa yang menjaga kedamaian wilayah Lereng Selatan Merapi?
Ucapan Yudha jelas-jelas menyinggung perasaan si patih. Tapi patih itu diam saja. Sebaliknya, orang yang duduk di samping patih itu langsung berdiri dan terlihat marah. Kedua mata pria itu langsung berubah menjadi warna kuning keemasan, dengan pupil sempit seperti kucing. Sementara kedua tangannya langsung berubah menjadi cakar tajam dan wajahnya langsung berubah mirip seperti seekor macan.
Lancang!!! Beraninya kau menghina Paduka Raja!!! geram pria itu.
Tapi si patih sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Yudha, dia langsung merentangkan tangannya dan menahan tubuh pendampingnya.
Tahan! Jaga sikapmu di depan orang ini. Kita tidak datang untuk mengadakan pertumpahan darah. Kita justru datang untuk meminta bantuan, ujar patih itu dengan lembut, namun tegas. Kalau kau sudah tenang, baru kita bisa melanjutkan lagi pembicaraan ini.
Pria yang rupanya memang siluman macan itu, perlahan-lahan mengubah wujudnya lagi, lalu duduk diam sambil memandang ke bawah. Sepertinya dia merasa malu sekali karena sudah bertindak tidak sopan di hadapan seorang patih dan tamunya.
Maafkan atas kelancangan bawahan saya ini. Dia ini masih muda dan masih harus banyak belajar, terutama mengenai tata krama dan cara mengendalikan emosi, ujar si patih meminta maaf. Semoga anda tidak keberatan untuk memaafkan perbuatannya.
Yudha tersenyum melihat reaksi si patih. Dia sudah menduga kalau patih yang dikirim oleh Prabu Sanjaya, adalah orang yang pandai mengatur emosinya. Prabu itu tentu saja sudah tahu seperti apa sifat Yudha, karena keduanya sudah saling kenal cukup lama.
Tentu saja tidak. Anak muda biasanya memang sangat bersemangat, ujar Yudha sambil tersenyum dan memandang sekilas ke arah Maya dan Indra, dia lalu kembali memandang ke arah si patih. Oke. Bercandanya sudah cukup. Sekarang saatnya serius.
Patih itu mengangguk. Dia sudah paham apa maksud Yudha.
Kalau begitu saya akan langsung saja. Saya tahu anda tidak suka basa-basi, ujar si patih sambil memandang tajam ke arah Yudha. Kami butuh bantuan.
Indra terkejut begitu mendengar ucapan si patih. Indra pernah dengar dari Yudha, kalau di sekitar Yogyakarta terdapat beberapa kerajaan siluman. Satu diantaranya yang punya pengaruh paling besar di Keraton Yogyakarta adalah Kerajaan Siluman Macan di Lereng Selatan Merapi. Tapi dia tidak menyangka kalau kerajan itu akan minta bantuan pada Yudha. Indra langsung menelan ludahnya.
Ini pasti masalah serius....gumamnya dalam hati. Masalahnya, dia pasti yang akan turun tangan di garis depan seandainya ini memang masalah yang sangat serius, seperti yang ada dalam pikirannya.
Hoo? Ada apa? Kenapa Kerajaan Siluman Macan yang perkasa ingin minta bantuan pada mantan Dewa sepertiku? balas Yudha.
Mendengar ucapan Yudha, Maya langsung memandang ke arah Indra. Setahu gadis itu, Yudha adalah seorang Dewa. Tapi kenapa dia memanggil dirinya sendiri sebagai mantan Dewa. Indra langsung paham maksud Maya, tapi dia lalu mengacungkan telunjuknya dan menempelkannya di bibir. Dia ingin menjelaskan soal itu, tapi saat ini bukan saat yang tepat. Maya langsung memahami situasinya dan akhirnya diam saja.
Karena ini adalah sesuatu yang tidak bisa kami tangani, ujar patih itu lagi sambil terus menatap Yudha. Apa anda kenal dengan putra Paduka Raja, Raden Setyo Pamungkas?
Ah. Tentu saja aku ingat anak nakal itu, jawab Yudha sambil seperti biasa, mengambil sebatang rokok dari sakunya. Lalu apa yang diperbuat anak itu?
Si patih sepertinya ragu-ragu untuk menceritakan masalah yang dihadapi kerajaannya di depan begitu banyak orang. Apalagi, di depan manusia. Yudha menyadari hal itu, tapi dia bersikap cuek dan memaksa patih itu untuk menceritakan masalahnya.
Aku tahu kau ragu karena ini menyangkut masalah kerajaanmu. Tapi kalau kau tidak menceritakannya sekarang, aku tidak bisa membantumu, desak Yudha. Bagaimana?
Si patih itu mendesah lalu menceritakan masalahnya.
Pangeran melarikan diri sejak 2 hari yang lalu. Beliau sepertinya pergi ke kota Yogyakarta dan akhirnya bersembunyi dari kejaran kami. Beberapa kali kami mengirim utusan untuk mengajaknya kembali ke istana, tapi mereka selalu dikalahkan oleh pangeran, ujar si patih kerajaan siluman macan itu sambil mengatupkan kedua tangannya. Bagaimanapun pangeran adalah satu-satunya pewaris tahta kerajaan kami. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, kami akan sangat kerepotan, dan tentu saja Baginda Prabu Sanjaya akan sangat kehilangan.
Indra memandang ke arah patih itu. Patih itu memang sekilas terlihat tenang, tapi Indra dapat menangkap kegelisahan patih itu ketika dia sedang menceritakan mengenai masalah yang dialami kerajaannya.
Pangeran itu, kenapa dia melarikan diri dari istana?
Tiba-tiba saja Maya bertanya. Pertanyaannya membuat mata semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung tertuju ke arahnya. Gadis itu langsung salah tingkah karena bingung.
Ke..kenapa kalian tiba-tiba memandangku seperti ini? tanya gadis kebingungan. Tapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu masih terdiam.
Lalu Yudha tertawa terbahak-bahak. Pertanyaan Maya sama persis dengan pertanyaan yang baru saja akan dia lontarkan tadi. Tapi bukan pertanyaan Maya yang membuatnya tertawa, tapi reaksi orang-orang yang ada di dalam ruang tamu kepala desa. Sedari tadi mereka bersikap seakan-akan selain Yudha dan si patih kerajaan, tidak ada yang pantas bicara. Tapi Maya dengan cueknya langsung menyela pembicaraan antara Yudha dan patih itu dengan sebuah pertanyaan.
Ada yang lucu tuan Prabowo? tanya si patih heran.
Ah...tidak. Lupakan saja, jawab Yudha sambil menyalakan rokoknya. Nah pertanyaanku dan Maya sama. Jadi jawab saja pertanyaan gadis itu.
Si patih memandang sekilas ke arah Maya. Lalu kembali menatap ke arah Yudha.
Ini memang memalukan. Tapi ini harus diceritakan, ujar si patih. Pangeran kabur dari pertunangan.
0
Kutip
Balas