TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.2K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#45
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 2
[Yogyakarta, 08 Juni 2010]
Indra! Jangan diam saja! Kejar terus makhluk itu!!
Yudha berseru memerintah sambil berlari mengejar Indra. Pria berambut perak itu tampak kesulitan untuk bergerak diantara pepohonan dan rimbunnya semak-semak di hutan lereng Merapi. Tapi Indra berbeda. Sedari tadi pemuda itu terus melompat dari satu pohon ke pohon lain, persis seperti seekor tupai atau monyet. Dengan cekatan, dia berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan cepat. Nyaris tanpa berhenti sama sekali.
Jangan seenaknya memerintah! gerutu Indra dalam hati. Tapi dia masih saja berusaha mengejar buruannya. Walaupun sambil menggerutu, Indra tetap akan melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Terlebih karena kali ini dia yang mengejar makhluk gaib, bukan dikejar oleh makhluk gaib.
Pekerjaan yang dimaksudkan oleh Yudha dalam pesan singkatnya tadi siang, tentu saja berkaitan dengan makhluk gaib. Kali ini dengan seekor wewe gombel. Makhluk gaib berwujud wanita berambut panjang, berwajah buruk, dan berpayudara raksasa itu sudah meneror sebuah perkampungan di lereng Selatan Merapi. Bukan hanya itu, makhluk itu sudah memakan 2 orang anak, dan melukai 6 orang dewasa di kampung tersebut. Sehingga kali ini, walaupun tidak diminta oleh Yudha, Indra pasti akan memburu makhluk buas itu.
Tapi memburu makhluk itu rupanya tidak semudah yang diduga Indra. Makhluk gaib bernama Wewe Gombel ini memiliki wujud astral dan wujud fisik, dan saat ini makhluk itu sedang berusaha lari dari kejaran Indra dengan menggunakan wujud astralnya.
Ini sangat menyulitkan Indra karena dalam wujud astral, makhluk gaib itu bebas menembus benda apapun, termasuk pepohonan yang tumbuh cukup rapat di hutan lereng Merapi. Sialnya lagi, makhluk gaib itu bisa terbang, walaupun dia tidak bisa terbang lebih tinggi dari puncak pepohonan tertinggi di hutan Merapi. Namun ini sudah membuat pekerjaan mengejar makhluk itu menjadi semakin sulit dan sangat menantang.
Indra! Kalau lamban nanti kau akan kehilangan makhluk itu! Lari lebih cepat!
Indra mendengar Yudha berseru dari belakang. Pemuda itu semakin jengkel. Bukan maksudnya untuk memperlambat kecepatannya, tapi mengejar seekor makhluk gaib yang bisa menembus benda di tengah kerumbunan hutan, tentu bukan pekerjaan yang mudah. Tapi akhirnya kesempatan untuk menangkap mahkluk itu tiba juga.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Wewe Gombel itu mengerem laju terbangnya. Kesempatan ini tentu saja tidak di sia-siakan oleh Indra. Pemuda itu langsung menjejakkan kakinya sekuat tenaga ke sebuah pohon yang menjadi pijakannya. Dia lalu melesat cepat ke arah makhluk gaiib itu.
Sambil berputar di udara, Indra melayangkan tendangan terbang andalannya. Wewe Gombel itu tidak sempat berbuat apapun ketika tendangan Indra telak mengenai tubuhnya. Makhluk gaib itu menjerit kesakitan dan berputar di udara ketika tendangan Indra menghantam tubuhnya. Kilatan cahaya biru terang muncul ketika sepatu bot khusus milik Indra, bersentuhan dengan tubuh makhluk gaib itu.
Dengan cepat, Indra mendarat sejenak di batang sebuah pohon, sebelum menendang pohon itu sekuat tenaga dan membuat tubuhnya terbang sekali lagi ke arah Wewe Gombel itu. Kali ini Indra langsung berputar dan mengangkat tinggi-tinggi kakinya, bersiap melakukan tendangan cangkul.
Rasakan ini! seru Indra sambil mengayunkan kakinya sekuat tenaga ke arah Wewe Gombel di bawahnya.
Kilatan cahaya biru terang berpendar sesaat, kemudian tubuh si Wewe Gombel itu terhempas ke tanah dengan keras. Tentu saja disertai jerit kesakitan dari makhluk gaib itu.
Melihat Indra sudah berhasil menghentikan makhluk gaib itu, Yudha langsung berseru puas.
Bagus sekali! seru pria itu.
Dia langsung meraih 4 buah pasak kecil yang saling terhubung dengan benang tipis yang terbuat dari perak. Di masing-masing pasak tersebut, terukir kalimat mantra dalam bahasa jawa kuno, yang diukir melingkar di sepanjang pasak itu.
Sebelum Wewe Gombel yang terbaring di tanah sanggup bangkit, Yudha melemparkan keempat pasaknya ke arah makhluk gaib itu. Pasak itu langsung membenamkan diri dalam-dalam ke tanah. Sementara benang peraknya langsung menjerat tubuh si Wewe Gombel dan membuatnya terbaring tidak berdaya di lantai hutan. Makhluk gaib itu tentu saja berusaha memberontak dan melepaskan diri. Tapi semua usahanya percuma. Pasak kecil itu secara gaib tidak dapat dilepaskan sekali dia tertancap di tanah, dan benang peraknya, walaupun tipis, tapi sangat kuat.
Nah sekarang kau tidak bisa lari lagi, ujar Yudha sambil mendekati makhluk gaib itu.
Wewe Gombel itu langsung berseru dengan suara parau dan dengan bahasa yang hanya terdengar seperti geraman dan dengusan. Tapi sepertinya Yudha bisa memahami apa yang dikatakan makhluk itu.
Wah. Melepaskanmu? ujar Yudha. Tidak bisa begitu, kau sudah memakan 2 orang anak, dan melukai 6 orang dewasa. Kau tidak bisa kuampuni lagi.
Wewe Gombel itu sekali lagi berbicara dengan bahasanya yang aneh dan tidak jelas.
Tidak bisa. Kalau kau kulepaskan, tidak peduli seperti apa sumpahmu, kau pasti akan memburu manusia lagi, balas Yudha dengan nada dingin. Sekali makhluk gaib merasakan darah dan daging manusia, dia pasti akan ketagihan. Karena bagi kalian, darah dan daging manusia itu seperti candu.
Wewe Gombel itu berbicara lagi. Tapi kali ini Yudha sama sekali mengabaikan apapun yang dikatakan oleh makhluk gaib itu. Pria itu menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan lengan kanannya. Sesaat, tampaknya tidak terjadi apa-apa, kemudian sekumpulan tato yang membentuk pola geometris yang aneh menyebar di seluruh lengan kanannya. Tato itu menyebar mulai dari bahu hingga ke ujung jarinya.
Kemudian, Yudha mengangkat tangannya tinggi-tinggi, pada saat yang bersamaan semua tato di lengan kanannya itu menyala dengan warna merah terang.
Melihat itu, Wewe Gombel yang terpaku di tanah langsung menjerit ketakutan. Sepertinya makhluk gaib itu tahu apa yang akan dilakukan oleh Yudha. Tapi tanpa menghiraukan jeritan makhluk gaib itu, Yudha menempelkan tangan kanannya ke dahi makhluk itu.
Sayang sekali. Kalau saja kau tidak bertindak buas seperti ini, kau pasti tidak perlu berhadapan denganku, ujar Yudha sambil memejamkan matanya.
Setelah mengatakan itu, warna tato di lengan kanan Yudha kembali menjadi berwarna hitam. Namun pada saat yang sama, tubuh si Wewe Gombel perlahan-lahan terurai menjadi serpihan cahaya. Serpihan-serpihan cahaya itu perlahan-lahan berputar di sekeliling lengan kanan Yudha, sebelum akhirnya terserap masuk ke tangan kanan pria itu.
Myth Eater gumam Indra dalam hati.
Ini memang bukan pertama kalinya Indra melihat kekuatan asli Yudha, Myth Eater. Tapi setiap kali dia melihatnya, Indra selalu merinding. Mengingat dia dulu juga hampir jadi korban kekuatan mengerikan milik Dewa itu. Tidak ada makhluk gaib yang bisa bertahan sekali Yudha menggunakan kekuatannya itu, kecuali sesama Dewa. Sepertinya kekuatan Myth Eater sama sekali tidak berguna bila digunakan melawan Dewa. Tapi selama ini Indra belum pernah melihat Yudha berhadapan dengan Dewa lain, kecuali Dewa Keberuntungan yang 2 bulan lalu, merasuki tubuh Maya.
Nah, pekerjaan kita disini sudah selesai, ujar Yudha sambil meregangkan tubuhnya, kejar-kejaran dengan makhluk gaib di tengah hutan lebat memang sangat melelahkan. Sekarang saatnya kita kembali ke desa, lalu kita pulang. Tidak kuduga pekerjaan ini akan melelahkan sekali....
Indra mengangguk menyetujui. Dia juga lelah. Berlari diantara pepohonan dan semak-semak, dan melompat-lompat diantara dahan-dahan pohon di tengah hutan selama lebih dari 3 jam memang bukan pekerjaan yang mudah. Dan tentu saja pekerjaan itu mustahil dilakukan kalau Indra adalah manusia biasa.
Aku setuju. Setelah ini aku mau tidur yang nyenyak... ujar Indra sambil berjalan mengikuti Yudha.
Yap. Tugas sudah selesai. Saatnya pulang, makan, lalu tidur....gumam Indra dalam hati.
__________________________________________________ _
Spoiler for "Part 2":
[Yogyakarta, 08 Juni 2010]
Indra! Jangan diam saja! Kejar terus makhluk itu!!
Yudha berseru memerintah sambil berlari mengejar Indra. Pria berambut perak itu tampak kesulitan untuk bergerak diantara pepohonan dan rimbunnya semak-semak di hutan lereng Merapi. Tapi Indra berbeda. Sedari tadi pemuda itu terus melompat dari satu pohon ke pohon lain, persis seperti seekor tupai atau monyet. Dengan cekatan, dia berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan cepat. Nyaris tanpa berhenti sama sekali.
Jangan seenaknya memerintah! gerutu Indra dalam hati. Tapi dia masih saja berusaha mengejar buruannya. Walaupun sambil menggerutu, Indra tetap akan melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Terlebih karena kali ini dia yang mengejar makhluk gaib, bukan dikejar oleh makhluk gaib.
Pekerjaan yang dimaksudkan oleh Yudha dalam pesan singkatnya tadi siang, tentu saja berkaitan dengan makhluk gaib. Kali ini dengan seekor wewe gombel. Makhluk gaib berwujud wanita berambut panjang, berwajah buruk, dan berpayudara raksasa itu sudah meneror sebuah perkampungan di lereng Selatan Merapi. Bukan hanya itu, makhluk itu sudah memakan 2 orang anak, dan melukai 6 orang dewasa di kampung tersebut. Sehingga kali ini, walaupun tidak diminta oleh Yudha, Indra pasti akan memburu makhluk buas itu.
Tapi memburu makhluk itu rupanya tidak semudah yang diduga Indra. Makhluk gaib bernama Wewe Gombel ini memiliki wujud astral dan wujud fisik, dan saat ini makhluk itu sedang berusaha lari dari kejaran Indra dengan menggunakan wujud astralnya.
Ini sangat menyulitkan Indra karena dalam wujud astral, makhluk gaib itu bebas menembus benda apapun, termasuk pepohonan yang tumbuh cukup rapat di hutan lereng Merapi. Sialnya lagi, makhluk gaib itu bisa terbang, walaupun dia tidak bisa terbang lebih tinggi dari puncak pepohonan tertinggi di hutan Merapi. Namun ini sudah membuat pekerjaan mengejar makhluk itu menjadi semakin sulit dan sangat menantang.
Indra! Kalau lamban nanti kau akan kehilangan makhluk itu! Lari lebih cepat!
Indra mendengar Yudha berseru dari belakang. Pemuda itu semakin jengkel. Bukan maksudnya untuk memperlambat kecepatannya, tapi mengejar seekor makhluk gaib yang bisa menembus benda di tengah kerumbunan hutan, tentu bukan pekerjaan yang mudah. Tapi akhirnya kesempatan untuk menangkap mahkluk itu tiba juga.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Wewe Gombel itu mengerem laju terbangnya. Kesempatan ini tentu saja tidak di sia-siakan oleh Indra. Pemuda itu langsung menjejakkan kakinya sekuat tenaga ke sebuah pohon yang menjadi pijakannya. Dia lalu melesat cepat ke arah makhluk gaiib itu.
Sambil berputar di udara, Indra melayangkan tendangan terbang andalannya. Wewe Gombel itu tidak sempat berbuat apapun ketika tendangan Indra telak mengenai tubuhnya. Makhluk gaib itu menjerit kesakitan dan berputar di udara ketika tendangan Indra menghantam tubuhnya. Kilatan cahaya biru terang muncul ketika sepatu bot khusus milik Indra, bersentuhan dengan tubuh makhluk gaib itu.
Dengan cepat, Indra mendarat sejenak di batang sebuah pohon, sebelum menendang pohon itu sekuat tenaga dan membuat tubuhnya terbang sekali lagi ke arah Wewe Gombel itu. Kali ini Indra langsung berputar dan mengangkat tinggi-tinggi kakinya, bersiap melakukan tendangan cangkul.
Rasakan ini! seru Indra sambil mengayunkan kakinya sekuat tenaga ke arah Wewe Gombel di bawahnya.
Kilatan cahaya biru terang berpendar sesaat, kemudian tubuh si Wewe Gombel itu terhempas ke tanah dengan keras. Tentu saja disertai jerit kesakitan dari makhluk gaib itu.
Melihat Indra sudah berhasil menghentikan makhluk gaib itu, Yudha langsung berseru puas.
Bagus sekali! seru pria itu.
Dia langsung meraih 4 buah pasak kecil yang saling terhubung dengan benang tipis yang terbuat dari perak. Di masing-masing pasak tersebut, terukir kalimat mantra dalam bahasa jawa kuno, yang diukir melingkar di sepanjang pasak itu.
Sebelum Wewe Gombel yang terbaring di tanah sanggup bangkit, Yudha melemparkan keempat pasaknya ke arah makhluk gaib itu. Pasak itu langsung membenamkan diri dalam-dalam ke tanah. Sementara benang peraknya langsung menjerat tubuh si Wewe Gombel dan membuatnya terbaring tidak berdaya di lantai hutan. Makhluk gaib itu tentu saja berusaha memberontak dan melepaskan diri. Tapi semua usahanya percuma. Pasak kecil itu secara gaib tidak dapat dilepaskan sekali dia tertancap di tanah, dan benang peraknya, walaupun tipis, tapi sangat kuat.
Nah sekarang kau tidak bisa lari lagi, ujar Yudha sambil mendekati makhluk gaib itu.
Wewe Gombel itu langsung berseru dengan suara parau dan dengan bahasa yang hanya terdengar seperti geraman dan dengusan. Tapi sepertinya Yudha bisa memahami apa yang dikatakan makhluk itu.
Wah. Melepaskanmu? ujar Yudha. Tidak bisa begitu, kau sudah memakan 2 orang anak, dan melukai 6 orang dewasa. Kau tidak bisa kuampuni lagi.
Wewe Gombel itu sekali lagi berbicara dengan bahasanya yang aneh dan tidak jelas.
Tidak bisa. Kalau kau kulepaskan, tidak peduli seperti apa sumpahmu, kau pasti akan memburu manusia lagi, balas Yudha dengan nada dingin. Sekali makhluk gaib merasakan darah dan daging manusia, dia pasti akan ketagihan. Karena bagi kalian, darah dan daging manusia itu seperti candu.
Wewe Gombel itu berbicara lagi. Tapi kali ini Yudha sama sekali mengabaikan apapun yang dikatakan oleh makhluk gaib itu. Pria itu menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan lengan kanannya. Sesaat, tampaknya tidak terjadi apa-apa, kemudian sekumpulan tato yang membentuk pola geometris yang aneh menyebar di seluruh lengan kanannya. Tato itu menyebar mulai dari bahu hingga ke ujung jarinya.
Kemudian, Yudha mengangkat tangannya tinggi-tinggi, pada saat yang bersamaan semua tato di lengan kanannya itu menyala dengan warna merah terang.
Melihat itu, Wewe Gombel yang terpaku di tanah langsung menjerit ketakutan. Sepertinya makhluk gaib itu tahu apa yang akan dilakukan oleh Yudha. Tapi tanpa menghiraukan jeritan makhluk gaib itu, Yudha menempelkan tangan kanannya ke dahi makhluk itu.
Sayang sekali. Kalau saja kau tidak bertindak buas seperti ini, kau pasti tidak perlu berhadapan denganku, ujar Yudha sambil memejamkan matanya.
Setelah mengatakan itu, warna tato di lengan kanan Yudha kembali menjadi berwarna hitam. Namun pada saat yang sama, tubuh si Wewe Gombel perlahan-lahan terurai menjadi serpihan cahaya. Serpihan-serpihan cahaya itu perlahan-lahan berputar di sekeliling lengan kanan Yudha, sebelum akhirnya terserap masuk ke tangan kanan pria itu.
Myth Eater gumam Indra dalam hati.
Ini memang bukan pertama kalinya Indra melihat kekuatan asli Yudha, Myth Eater. Tapi setiap kali dia melihatnya, Indra selalu merinding. Mengingat dia dulu juga hampir jadi korban kekuatan mengerikan milik Dewa itu. Tidak ada makhluk gaib yang bisa bertahan sekali Yudha menggunakan kekuatannya itu, kecuali sesama Dewa. Sepertinya kekuatan Myth Eater sama sekali tidak berguna bila digunakan melawan Dewa. Tapi selama ini Indra belum pernah melihat Yudha berhadapan dengan Dewa lain, kecuali Dewa Keberuntungan yang 2 bulan lalu, merasuki tubuh Maya.
Nah, pekerjaan kita disini sudah selesai, ujar Yudha sambil meregangkan tubuhnya, kejar-kejaran dengan makhluk gaib di tengah hutan lebat memang sangat melelahkan. Sekarang saatnya kita kembali ke desa, lalu kita pulang. Tidak kuduga pekerjaan ini akan melelahkan sekali....
Indra mengangguk menyetujui. Dia juga lelah. Berlari diantara pepohonan dan semak-semak, dan melompat-lompat diantara dahan-dahan pohon di tengah hutan selama lebih dari 3 jam memang bukan pekerjaan yang mudah. Dan tentu saja pekerjaan itu mustahil dilakukan kalau Indra adalah manusia biasa.
Aku setuju. Setelah ini aku mau tidur yang nyenyak... ujar Indra sambil berjalan mengikuti Yudha.
Yap. Tugas sudah selesai. Saatnya pulang, makan, lalu tidur....gumam Indra dalam hati.
__________________________________________________ _
0
Kutip
Balas