Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#127
Masih siang yang sama. Lowry sedang dalam perjalanan pulang dari bandara. Ia duduk di belakang sedangkan Mang Udan menjadi supir. Honda Jazz merah milik Lowry melaju dengan tenang. Lagu dan iklan dengan volume suara kecil silih berganti dari radio yang sedang diputar.

“Mang Udan, nanti mampir ke kantor ibu sebentar ya?”

“Loh, kok ke kantor den, bukannya ini hari Minggu? Memangnya ada yang kerja den?”

“Oh iya ya. Ya sudah enggak usah. Biar Lowry telpon saja.”

Lalu Lowry pun mengeluarkan telpon genggam dari saku celananya. Tapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk menelpon ibunya. Ia berpikir bahwa masalah Ayako ini terlalu penting untuk dibicarakan melalui telepon. Setelah percakapan dengan ayahnya kemarin, entah mengapa Lowry sedikit merasa ada yang berubah dari perasaannya terhadap ayahnya.

Selama ini ia selalu merasa bahwa ibunya adalah perempuan muda, yang rapuh dan sangat tersakiti ketika perceraian itu terjadi. Selama ini ia selalu mengira bahwa ayahnya adalah penjahat kelas tengik yang bisanya hanya mencampakkan wanita. Lowry selalu berpikir bahwa dirinya adalah ksatria yang memiliki tugas suci untuk menjaga hati ibunya dari tangan pria-pria lain yang hanya akan menyakiti. Tak pernah ia sedikitpun terbersit bahwa mungkin ibunya memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga baru dengan lelaki lain. Tak pernah ia memikirkan kemungkinan bahwa sebenarnya keputusan ibunya untuk tidak menikah lagi adalah keputusan yang diambil karena memikirkan perasaan Lowry. Tak pernah ia berpikir bahwa ia adalah penghalang kebahagiaan ibunya, secara tidak langsung. Hingga kemarin malam.

Sekarang Lowry tersadar, betapa naif dirinya selama ini. Bukankah setiap wanita menginginkan sentuhan belaian kasih sayang dari pria yang tulus mengasihinya. Bukankah selama ini tak terhitung jumlahnya pria-pria yang mencoba untuk mendekati ibunya? Dan pria-pria tersebut bukanlah pria sembarangan. ia tahu betul hal itu karena ibunya adalah seorang eksekutif yang sangat tinggi kelas pergaulannya. Ah, tiba-tiba saja sejuta rasa penyesalan membendung tak terbuncah di dalam hati dan pikiran Lowry. Jiwanya menjadi gelisah.

Apakah selama ini, aku telah membuat kesalahan yang fatal?
Apakah selama ini, akulah yang bersikap egois?
Apakah selama ini, akulah yang sebenarnya butuh untuk dilindungi?

Dan pertanyaan-pertanyaan itu terus menyudutkannya selama perjalanan pulang.

-//-


Masih di siang hari yang sama. Raine tengah asyik menjilati mangkok es krimnya. Ia sedang menghabiskan es krim tiga rasa berukuran 1 liter yang baru saja dibelinya tadi pagi. Duduk sambil mengangkat kaki di sofa menghadap ke televisi seolah itu adalah rumahnya sendiri. Ya, hubungan antara Raine dan Fiona memang benar-benar dekat. Mereka sudah serupa saudara kandung karena sejak kecil keduanya selalu dibesarkan bersama-sama. Mereka bersahabat sejak SD kelas satu hingga akhirnya keduanya sama-sama lulus dari fakultas komunikasi sebuah universitas negeri di kota Bandung.

Jauh di lubuk hatinya Raine tengah bingung dan gelisah karena ia merasa hidupnya bagai terombang-ambing tak tentu arah. Memasuki usianya yang ke 25, pertanyaan-pertanyaan serius tentang masa depan yang selama ini selalu diabaikannya, sekarang pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mengusik tidurnya. Hatinya sering berucap, bertanya, “Dimana belahan jiwaku, Raine?” Dan Raine tak tahu harus menjawab apa. Kadang, ditengah kepanikannya atas serangan pertanyaan tersebut, ia menggumam dalam tidurnya, “Aku bahkan tak tahu harus mencari siapa. Ia yang pernah memilikimu telah lama menghilang...Dan aku tak tahu harus mencari kemana.”

Ya, Raine yang selama ini selalu terlihat sebagai wanita yang cerdas dan selalu mendapatkan apa yang ia mau, ternyata memiliki satu lubang besar di dalam hatinya. Lubang yang telah lama menganga. Ada cerita tentang seorang pria disana. Dan Fiona tahu semua tentang pria tersebut. Mungkin, itulah sebabnya saat ini ia melarikan diri dan bersarang di kediaman sahabatnya itu. Selain sahabat terdekatnya, Fiona jugalah satu-satunya orang yang tahu akan kisah yang ada di dalam hatinya. Namun saat ini, Fiona tidak sekalipun pernah menanyakan apa yang membuatnya gundah. Ya, Fiona diam seolah-olah ia tahu apa yang sebenarnya memenuhi benak Raine dan enggan membicarakannya. Raine pun sedikit memendam curiga terhadap sahabatnya itu.

Ada apa Fio?

Saat angan-angannya melayang jauh seperti itu, sendok es krim ditangannya sudah menyentuh dasar kotak, dan tidak ada lagi yang bisa disentuh. Raine melirik ke dalam kotak itu. Memastikan dengan sebal. Lalu melemparkan kotak itu ke kotak sampah. Masuk sempurna. Raine berbaring di sofa, dan menjilati sendok yang masih ada di genggaman tangan kanannya.

—//—

Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:33
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.