Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#124
Max masih duduk di depan televisi. Mbok Asih baru saja selesai memasak lauk pauk untuk makan siang. Ia sedang mengeringkan piring-piring yang baru selesai dicuci dengan sebuah serbet. Pukul sepuluh di pagi yang sama.

“Jangan melamun saja pak, enggak bagus.”

“Saya enggak sedang melamun mbok,” Max mencoba mengelak.

“Bapak masih memikirkan nona Raine ya?”

Yang ditanya diam sesaat dan memperhatikan pembantunya yang sedang mencuci piring.

“Bisa tahu gitu gimana caranya mbok?” Max berucap sedikit tersenyum.

“Ya iyalah Pak, namanya orang lagi kasmaran ya yang di pikirkan pasti hanya kekasihnya.”

“Hahaha, si mbok bisa saja. Mana mungkin saya sedang kasmaran. Ini saya sedang patah hati.”

“Hoalaa, patah hati kok ya nonton televisi, orang tuh kalo patah hati kerja Pak.”

Kening Max berkerut bingung, merasakan si Mbok agak enggak nyambung.
“Kok malah kerja mbok?” tanya Max.

“Ya pak, dulu waktu suami saya masih hidup, pernah satu harian penuh itu kerjaannya nyangkul saja di sawah. Saya dikasih tahu sama keluarga saya.”

“Lho memang si mbok kemana?”

“Saya waktu itu ya lagi di Jakarta, mau berangkat jadi TKW di Malaysia. Katanya sih suami saya patah hati karena mau saya tinggal.”

“Ooh, iya ya, pasti suami mbok enggak mau ditinggal.”

Max lalu melihat-lihat tumpukan CD yang ada di rak CD dekat televisi. Melihat koleksi kesayangannya.

“Eh tapi sudah saya enggak jadi ke Malaysia, bulan berikutnya malah suami saya meninggal. Dia itu curang. Gak mau ditinggal, tapi malah ninggalin saya.”

Nada suara Mbok Asih sedikit terisak tertahan. Max melihat ke arah pembantu tua nya itu. Merasa iba. Mbok Asih berhenti sesaat dari mengeringkan wajan dan piring - piring. Mengerjapkan kedua matanya dan berusaha menghapus tetes air matanya dengan serbet yang tadi digunakan untuk melap piring.

“Lho Mbok Asih kok malah nangis?” ucap Max bingung

“Enggak ah, siapa yang nangis, saya cuma keingetan saja Pak. Jengkel saya kalau inget itu jadinya.”

Max yang tak tahu harus berkata apa mengalihkan pandangannya kembali pada tumpukan CD. Mbok Asih pun akhirnya berhasil mengendalikan semburat emosinya dan kembali bekerja dengan tenang.

—//—


““Kamu lahap banget ya makannya biar badan kecil gitu.’ Sierra mengomentari nafsu makan Kikan yang sedang ia suapi nasi dan lauk pauk dari rumah sakit. Kikan sedang sibuk mengunyah nasi yang baru saja masuk mulutnya. Menenggak setengah gelas air putih, sebelum ia mulai merespon ledekan dari pacarnya itu.

“Dimana-mana yang namanya kalau lagi sakit itu makannya harus banyak kak.”

“Apa hubungannya yang sakit kan jari kaki? Kamu makan udah kaya supir truk juga.” Sierra terbahak.

“Supir truk? Gapapa, aku supir truk yang paling cantik di dunia, sampai-sampai kak Sierra naksir sama supir truknya. Iya kan? Iya kan?” Kikan mengucapkannya sembari mengedipkan matanya beberapa kali.

“Idih .. apaan tuh? Mata kamu kenapa? Mau aku panggilin suster ya?” Sierra meletakkan sendok dan piring nasi yang ia pegang ke meja kecil, lalu berpura-pura akan menekan tombol pemanggil suster.

“Iiih nyebelin deh, ini kalo orang cantik itu matanya kaya gini,” ucap Kikan masih mengedipkan matanya sambil menarik dan mengayunkan telapak tangan kiri Sierra yang ada di genggamannya.

Sierra pun duduk kembali. “Tau nggak, itu bahasa gaulnya apa kalo orang matanya kayak gitu?”

“Tau dong, orang cantik tau semua,” ucap Kikan seraya mengangkat dagunya seolah-olah ia sombong.

“Boleh, silakan apa coba kalo memang beneran tau?” Sierra menantang.

“Yang bandnya Mike Shinoda itu kan?” ucap Kikan masih mengerlingkan kedua matanya.

“Loh, kok jadi bandnya Mike Shinoda? Ngaco nih pasti jawabannya.” Sierra mulai tak percaya.

“Itu.. Blinking Park.” Kikan pasang tampang polos.

“Jiaaaaaahh.. Capeeek deeh. Blinking Park.. hahaha, plesetan yaaa? Mau lucu yaa? Lucuu?”

“Lho iya, sekarang kan bahasa pergaulan bahasa Inggris, ngedip itu bahasa Inggrisnya Blinking, bukan begitu?” Kikan tak mau kalah.

“Yang aku maksud tadi itu keliyepan. Itu.”

“Kok keliyepan sih? Darimana munculnya itu kata? Kikan baru denger.”

“Dari kelilipan.”

Kontan Kikan terkikik mendengar kata ‘kelilipan.’

“Bahasa planet mana itu kelilipan,’ ejeknya masih sambil tertawa.

Sierra yang sebal ditertawakan mulai mengelitiki samping perut Kikan, membuat Kikan tertawa makin kencang. Siang yang indah di sebuah rumah sakit. Ketika Cupid menembakkan panah asmaranya, apakah akan ada yang dapat menghindar?
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:31
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.