TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.1K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#33
2nd Arc: Manusia, Uang dan Makhluk Gaib
Part 3.2
Bujur sangkar misterius itu tidak lain adalah sebuah border, atau dinding pembatas. Selain memiliki kemampuan yang disebut Myth Eater, mendirikan dinding pembatas yang sangat kuat adalah kemampuan lain yang dimiliki oleh Yudha.
Pria berambut perak itu berdiri di pintu ruang brankas itu sambil memegang beberapa lembar kertas mantra. Di sekelilingnya, tampak beberapa lembar kertas mantra melayang-layang dan tampak berdansa di udara.
Sudah cukup! seru pria itu sambil berkacak pinggang, Buto Ijo itu mundur beberapa langkah ketika melihat Yudha. Seakan-akan makhluk itu sudah mengenal siapa pria berambut perak ini.
Butuh bantuan? tanya Yudha sambil memandang ke arah Indra, yang terbaring tidak berdaya.
Indra tidak bisa menjawab sama sekali. Tapi sebagai gantinya, dia kembali mengacungkan jari tengahnya ke Yudha. Pria berambut perak itu langsung tertawa tertahan.
Oke. Baiklah. Jadi kau memang butuh bantuan, ujar Yudha sambil melangkah maju. Tidurlah. Biar ini kutangani sendiri.
Sambil berkata demikian, Yudha mengangkat lembar-lembar kertas mantra tinggi-tinggi. Kemudian sambil berseru keras, dia melemparkan lembar-lembar kertas mantra itu ke arah lawannya.
Kertas-kertas bertuliskan aksara jawa kuno itu melesat bagaikan peluru ke arah si Buto Ijo. Makhluk raksasa itu berusaha melindungi tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke depan. Kertas-kertas mantra itu langsung menghasilkan ledakan dahsyat ketika bersentuhan dengan kulit si raksasa. Sambil meraung kesakitan, raksasa itu berjalan mundur. Asap tebal berbau menyengat, mengepul dari tangannya yang terbakar akibat ledakan itu. Menyadari kalau lawannya kali ini lebih tangguh, raksasa itu memutuskan untuk melarikan diri.
Buto Ijo itu berlari ke arah lubang di tembok, yang dia buat pada malam sebelumnya, dan merusak papan tripleks yang dipasang untuk menutupi tembok tersebut. Raksasa itu terus berlari hingga dia menghilang dari pandangan.
Melihat lawannya sudah melarikan diri, Yudha menghela nafas lega. Kertas-kertas mantra yang tadi melayang-layang dan menari-nari di sekitarnya, kini kembali ke tangannya. Pria itu menyimpan lembar-lembar kertas mantra itu ke saku celananya, dan berjalan menghampiri Indra.
Di samping Indra, rupanya sudah berdiri Maya. Gadis itu tampak ketakutan, sekaligus merasa mual melihat kondisi tubuh Indra. Dia berdiri terpaku sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, ujar Yudha sambil menepuk bahu Maya, gadis itu tersentak ketika tangan Yudha menyentuh bahunya. Dia lalu memandang ke arah Yudha dengan tatapan sedih.
Tapi....lukanya..... gumam Maya sambil sekilas melirik ke arah Indra yang masih terbaring di lantai.
Luka seperti ini tidak akan membuatnya terbunuh, ujar Yudha sambil mengambil rokok dari sakunya. Coba lihat baik-baik. Kemampuan regenerasinya sudah bekerja. Dalam beberapa jam lagi dia akan sembuh.
Maya menoleh ke arah Indra. Meskipun dia merasa mual karena melihat kondisi tubuh Indra, gadis itu akhirnya menyadari sesuatu. Luka-luka di tubuh Indra perlahan-lahan mulai menutup. Darah yang tadi mengalir seperti sungai kecil, juga sudah berhenti mengalir. Tangan dan kaki Indra yang tadi terpilin dengan sudut yang tidak wajar, juga sudah kembali seperti semula.
Tiba-tiba gadis itu ingat. Indra pernah bilang kalau dirinya bukan manusia, tapi setengah vampir, dan sepertinya vampir memang memiliki kemampuan regenerasi yang sangat hebat. Maya menarik nafas lega karena mengetahui kalau nyawa Indra tidak terancam.
Daripada kau mengkhawatirkan dia, lebih baik kau khawatirkan dia, ujar Yudha sambil menunjuk ke arah sosok lain yang terbaring di lantai. Sosok itu tidak lain adalah si manajer bank.
Pria itu tampaknya pingsan ketika melihat Buto Ijo yang tadi dilawan oleh Indra dan Yudha. Manajer itu rupanya sangat penakut dan mudah sekali panik, sehingga tadi dia langsung pingsan. Polisi yang mengawalnya tadi tampak bersandar ke pintu. Dia tampak shock ketika melihat kalau raksasa dalam mitos jawa itu, benar-benar ada. Saking terkejutnya, dia bahkan lupa kalau dia membawa senjata. Dia sama sekali tidak terpikir untuk melawan makhluk itu tadi.
Pak polisi. Sebaiknya kau bawa dia ke tempat lain, agar manajer ini bisa beristirahat, ujar Yudha sambil berjongkok di samping Indra, dia memandang Indra dengan ekspresi lega. Kalau yang satu ini biarkan saja. Kau tidak perlu menelpon ambulans. Besok pagi dia pasti sudah sembuh...Tapi kau tidak perlu melaporkan apapun pada atasanmu. Rahasiakan saja kejadian ini.
Polisi itu masih tampak shock, dan sekarang dia justru merasa heran karena Yudha memintanya untuk tidak melaporkan serangan yang barusan terjadi pada atasannya.
Pak Yudha. Tapi....
Yudha mengangkat sebelah tangannya.
Kalau kau melaporkan kejadian ini ke atasanmu, dia akan menerjunkan lebih banyak personel ke tempat ini, ujar Yudha dengan nada tegas. Dan itu akan menyebabkan Indra jadi lebih sulit melawan Buto Ijo itu. Karena nantinya dia akan lebih sibuk melindungi para polisi yang menjaga tempat ini.
Polisi itu terdiam. Ucapan Yudha memang masuk akal. Polisi itu sudah melihat sendiri bagaimana kuatnya raksasa itu. Kalau saja tadi ada banyak polisi yang berjaga, maka korban yang akan jatuh akan jauh lebih banyak. Dan tidak seperti pemuda misterius yang terbaring di sudut ruangan ini, polisi-polisi itu tidak bisa memulihkan dirinya. Sehingga hampir dipastikan kalau mereka akan tewas terbunuh.
Baiklah pak. Saya yakin anda paham benar dengan apa yang sedang anda lakukan, ujar polisi itu sambil memberi hormat. Tapi saya mohon untuk dilibatkan dalam kasus ini hingga selesai.
Yudha tersenyum lebar ketika mendengar ucapan si polisi itu.
Tentu saja. Kau sudah terlibat sampai sejauh ini. Jadi kurasa tidak masalah kalau kau terlibat lebih jauh lagi bukan? ujar Yudha dengan nada riang. Ngomong-ngomong, siapa namamu pak polisi?
Agus. Agus Darsono, jawab polisi itu sambil memberi hormat pada Yudha. Saya permisi untuk membawa pak manajer ke ruang istirahat karyawan. Beliau sebaiknya beristirahat disana sampai beliau sadar.
Yudha mengangguk. Polisi bernama Agus itu dengan segera berjalan menghampiri si manajer, lalu merangkul tubuhnya dan membawanya pergi. Sementara Yudha dan Maya masih berdiri di samping Indra.
Bagaimana? tanya Yudha sambil memandang ke arah Maya.
Bagaimana apanya? Maya justru balik bertanya pada Yudha.
Ada yang aneh? tanya Yudha pada gadis itu.
Maya berpikir sejenak dan menutup matanya. Gadis itu sedang mengumpulkan semua bukti-bukti yang sudah dia dapatkan sampai saat ini. Lalu dia membuka matanya lagi.
Ya. Ada. Ada beberapa hal yang janggal. Tapi aku masih kurang bukti, ujar Maya sambil memandang ke arah Yudha, gadis itu sebenarnya sudah punya dugaan mengenai siapa pemilik makhluk gaib itu. Tapi dia membutuhkan lebih banyak bukti lagi sebelum dia bisa menentukan siapa pelakunya.
Bagaimana denganmu? tanya Maya sambil memandang ke arah Yudha. Pria berambut perak itu nyengir lebar.
Aku sudah tahu siapa pelakunya, ujar Yudha dengan nada penuh kemenangan. Tapi aku ingin menangkap Buto Ijo itu terlebih dahulu.
Jadi kau akan membuat Indra melawan makhluk itu lagi? tanya Maya dengan nada kasar, dia tidak setuju kalau Indra harus melawan Buto Ijo itu lagi. Karena dia takut pemuda itu akan terluka parah seperti saat ini.
Tentu saja. Itu tugasnya, balas Yudha dengan entengnya. Tapi tentu saja pada pertempuran selanjutnya, Indra yang akan menang.
Maya heran mendengar ucapan terakhir Yudha yang tampak yakin kalau Indra akan memenangkan pertempuran selanjutnya. Gadis itu lalu bertanya pada Yudha.
Kenapa kau bisa yakin? tanya Maya heran.
Yudha berbalik dan menyalakan rokoknya dengan lighter yang tadi dia sembunyikan di kantung rahasia dibalik kemejanya. Maya langsung melotot begitu melihat kalau rupanya Yudha masih punya pemantik api yang sengaja dia sembunyikan. Melihat ekspresi wajah Maya, pria berkacamta dan berambut perak panjang itu nyengir lebar.
Karena kali ini aku akan menyiapkan kejutan khusus untuk Indra.
Sambil berkata demikian, dia berjalan meninggalkan Maya yang masih berdiri di samping Indra. Gadis itu hanya bisa melongo dan memandang ke sekelilingnya. Ruangan brankas itu memang terang, walaupun ada beberapa lampu yang mati karena pertempuran antara Indra dan si Buto Ijo, tapi karena sepi sekali, Maya jadi merasa ketakutan. Suara-suara berderak, menggelegak, dan berdegub dari tubuh Indra yang sedang memulihkan dirinya, membuat suasana jadi semakin mencekam. Karena ngeri, Maya tidak berani menoleh ke arah Indra. Pemandangan tubuh Indra yang sedang memulihkan diri memang tidak baik untuk dilihat, terutama bagi orang yang tidak biasa melihat darah.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk duduk tidak jauh dari Indra. Kemudian memejamkan matanya. Dia bermaksud untuk mengistirahatkan matanya sejenak, tapi kemudian dia tertidur karena terlalu lelah. Maya tidak terbiasa bergadang, sehingga sebenarnya sejak tadi, dia sudah sangat mengantuk. Tapi berusaha ditahannya. Sekarang, dengan hilangnya ketegangan yang dia rasakan tadi, kini rasa kantuk itu menyerangnya. Kali ini, dia tidak menahannya lagi dan langsung terlelap dalam waktu singkat.
__________________________________________________ _
Spoiler for "Part 3.2":
Bujur sangkar misterius itu tidak lain adalah sebuah border, atau dinding pembatas. Selain memiliki kemampuan yang disebut Myth Eater, mendirikan dinding pembatas yang sangat kuat adalah kemampuan lain yang dimiliki oleh Yudha.
Pria berambut perak itu berdiri di pintu ruang brankas itu sambil memegang beberapa lembar kertas mantra. Di sekelilingnya, tampak beberapa lembar kertas mantra melayang-layang dan tampak berdansa di udara.
Sudah cukup! seru pria itu sambil berkacak pinggang, Buto Ijo itu mundur beberapa langkah ketika melihat Yudha. Seakan-akan makhluk itu sudah mengenal siapa pria berambut perak ini.
Butuh bantuan? tanya Yudha sambil memandang ke arah Indra, yang terbaring tidak berdaya.
Indra tidak bisa menjawab sama sekali. Tapi sebagai gantinya, dia kembali mengacungkan jari tengahnya ke Yudha. Pria berambut perak itu langsung tertawa tertahan.
Oke. Baiklah. Jadi kau memang butuh bantuan, ujar Yudha sambil melangkah maju. Tidurlah. Biar ini kutangani sendiri.
Sambil berkata demikian, Yudha mengangkat lembar-lembar kertas mantra tinggi-tinggi. Kemudian sambil berseru keras, dia melemparkan lembar-lembar kertas mantra itu ke arah lawannya.
Kertas-kertas bertuliskan aksara jawa kuno itu melesat bagaikan peluru ke arah si Buto Ijo. Makhluk raksasa itu berusaha melindungi tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke depan. Kertas-kertas mantra itu langsung menghasilkan ledakan dahsyat ketika bersentuhan dengan kulit si raksasa. Sambil meraung kesakitan, raksasa itu berjalan mundur. Asap tebal berbau menyengat, mengepul dari tangannya yang terbakar akibat ledakan itu. Menyadari kalau lawannya kali ini lebih tangguh, raksasa itu memutuskan untuk melarikan diri.
Buto Ijo itu berlari ke arah lubang di tembok, yang dia buat pada malam sebelumnya, dan merusak papan tripleks yang dipasang untuk menutupi tembok tersebut. Raksasa itu terus berlari hingga dia menghilang dari pandangan.
Melihat lawannya sudah melarikan diri, Yudha menghela nafas lega. Kertas-kertas mantra yang tadi melayang-layang dan menari-nari di sekitarnya, kini kembali ke tangannya. Pria itu menyimpan lembar-lembar kertas mantra itu ke saku celananya, dan berjalan menghampiri Indra.
Di samping Indra, rupanya sudah berdiri Maya. Gadis itu tampak ketakutan, sekaligus merasa mual melihat kondisi tubuh Indra. Dia berdiri terpaku sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, ujar Yudha sambil menepuk bahu Maya, gadis itu tersentak ketika tangan Yudha menyentuh bahunya. Dia lalu memandang ke arah Yudha dengan tatapan sedih.
Tapi....lukanya..... gumam Maya sambil sekilas melirik ke arah Indra yang masih terbaring di lantai.
Luka seperti ini tidak akan membuatnya terbunuh, ujar Yudha sambil mengambil rokok dari sakunya. Coba lihat baik-baik. Kemampuan regenerasinya sudah bekerja. Dalam beberapa jam lagi dia akan sembuh.
Maya menoleh ke arah Indra. Meskipun dia merasa mual karena melihat kondisi tubuh Indra, gadis itu akhirnya menyadari sesuatu. Luka-luka di tubuh Indra perlahan-lahan mulai menutup. Darah yang tadi mengalir seperti sungai kecil, juga sudah berhenti mengalir. Tangan dan kaki Indra yang tadi terpilin dengan sudut yang tidak wajar, juga sudah kembali seperti semula.
Tiba-tiba gadis itu ingat. Indra pernah bilang kalau dirinya bukan manusia, tapi setengah vampir, dan sepertinya vampir memang memiliki kemampuan regenerasi yang sangat hebat. Maya menarik nafas lega karena mengetahui kalau nyawa Indra tidak terancam.
Daripada kau mengkhawatirkan dia, lebih baik kau khawatirkan dia, ujar Yudha sambil menunjuk ke arah sosok lain yang terbaring di lantai. Sosok itu tidak lain adalah si manajer bank.
Pria itu tampaknya pingsan ketika melihat Buto Ijo yang tadi dilawan oleh Indra dan Yudha. Manajer itu rupanya sangat penakut dan mudah sekali panik, sehingga tadi dia langsung pingsan. Polisi yang mengawalnya tadi tampak bersandar ke pintu. Dia tampak shock ketika melihat kalau raksasa dalam mitos jawa itu, benar-benar ada. Saking terkejutnya, dia bahkan lupa kalau dia membawa senjata. Dia sama sekali tidak terpikir untuk melawan makhluk itu tadi.
Pak polisi. Sebaiknya kau bawa dia ke tempat lain, agar manajer ini bisa beristirahat, ujar Yudha sambil berjongkok di samping Indra, dia memandang Indra dengan ekspresi lega. Kalau yang satu ini biarkan saja. Kau tidak perlu menelpon ambulans. Besok pagi dia pasti sudah sembuh...Tapi kau tidak perlu melaporkan apapun pada atasanmu. Rahasiakan saja kejadian ini.
Polisi itu masih tampak shock, dan sekarang dia justru merasa heran karena Yudha memintanya untuk tidak melaporkan serangan yang barusan terjadi pada atasannya.
Pak Yudha. Tapi....
Yudha mengangkat sebelah tangannya.
Kalau kau melaporkan kejadian ini ke atasanmu, dia akan menerjunkan lebih banyak personel ke tempat ini, ujar Yudha dengan nada tegas. Dan itu akan menyebabkan Indra jadi lebih sulit melawan Buto Ijo itu. Karena nantinya dia akan lebih sibuk melindungi para polisi yang menjaga tempat ini.
Polisi itu terdiam. Ucapan Yudha memang masuk akal. Polisi itu sudah melihat sendiri bagaimana kuatnya raksasa itu. Kalau saja tadi ada banyak polisi yang berjaga, maka korban yang akan jatuh akan jauh lebih banyak. Dan tidak seperti pemuda misterius yang terbaring di sudut ruangan ini, polisi-polisi itu tidak bisa memulihkan dirinya. Sehingga hampir dipastikan kalau mereka akan tewas terbunuh.
Baiklah pak. Saya yakin anda paham benar dengan apa yang sedang anda lakukan, ujar polisi itu sambil memberi hormat. Tapi saya mohon untuk dilibatkan dalam kasus ini hingga selesai.
Yudha tersenyum lebar ketika mendengar ucapan si polisi itu.
Tentu saja. Kau sudah terlibat sampai sejauh ini. Jadi kurasa tidak masalah kalau kau terlibat lebih jauh lagi bukan? ujar Yudha dengan nada riang. Ngomong-ngomong, siapa namamu pak polisi?
Agus. Agus Darsono, jawab polisi itu sambil memberi hormat pada Yudha. Saya permisi untuk membawa pak manajer ke ruang istirahat karyawan. Beliau sebaiknya beristirahat disana sampai beliau sadar.
Yudha mengangguk. Polisi bernama Agus itu dengan segera berjalan menghampiri si manajer, lalu merangkul tubuhnya dan membawanya pergi. Sementara Yudha dan Maya masih berdiri di samping Indra.
Bagaimana? tanya Yudha sambil memandang ke arah Maya.
Bagaimana apanya? Maya justru balik bertanya pada Yudha.
Ada yang aneh? tanya Yudha pada gadis itu.
Maya berpikir sejenak dan menutup matanya. Gadis itu sedang mengumpulkan semua bukti-bukti yang sudah dia dapatkan sampai saat ini. Lalu dia membuka matanya lagi.
Ya. Ada. Ada beberapa hal yang janggal. Tapi aku masih kurang bukti, ujar Maya sambil memandang ke arah Yudha, gadis itu sebenarnya sudah punya dugaan mengenai siapa pemilik makhluk gaib itu. Tapi dia membutuhkan lebih banyak bukti lagi sebelum dia bisa menentukan siapa pelakunya.
Bagaimana denganmu? tanya Maya sambil memandang ke arah Yudha. Pria berambut perak itu nyengir lebar.
Aku sudah tahu siapa pelakunya, ujar Yudha dengan nada penuh kemenangan. Tapi aku ingin menangkap Buto Ijo itu terlebih dahulu.
Jadi kau akan membuat Indra melawan makhluk itu lagi? tanya Maya dengan nada kasar, dia tidak setuju kalau Indra harus melawan Buto Ijo itu lagi. Karena dia takut pemuda itu akan terluka parah seperti saat ini.
Tentu saja. Itu tugasnya, balas Yudha dengan entengnya. Tapi tentu saja pada pertempuran selanjutnya, Indra yang akan menang.
Maya heran mendengar ucapan terakhir Yudha yang tampak yakin kalau Indra akan memenangkan pertempuran selanjutnya. Gadis itu lalu bertanya pada Yudha.
Kenapa kau bisa yakin? tanya Maya heran.
Yudha berbalik dan menyalakan rokoknya dengan lighter yang tadi dia sembunyikan di kantung rahasia dibalik kemejanya. Maya langsung melotot begitu melihat kalau rupanya Yudha masih punya pemantik api yang sengaja dia sembunyikan. Melihat ekspresi wajah Maya, pria berkacamta dan berambut perak panjang itu nyengir lebar.
Karena kali ini aku akan menyiapkan kejutan khusus untuk Indra.
Sambil berkata demikian, dia berjalan meninggalkan Maya yang masih berdiri di samping Indra. Gadis itu hanya bisa melongo dan memandang ke sekelilingnya. Ruangan brankas itu memang terang, walaupun ada beberapa lampu yang mati karena pertempuran antara Indra dan si Buto Ijo, tapi karena sepi sekali, Maya jadi merasa ketakutan. Suara-suara berderak, menggelegak, dan berdegub dari tubuh Indra yang sedang memulihkan dirinya, membuat suasana jadi semakin mencekam. Karena ngeri, Maya tidak berani menoleh ke arah Indra. Pemandangan tubuh Indra yang sedang memulihkan diri memang tidak baik untuk dilihat, terutama bagi orang yang tidak biasa melihat darah.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk duduk tidak jauh dari Indra. Kemudian memejamkan matanya. Dia bermaksud untuk mengistirahatkan matanya sejenak, tapi kemudian dia tertidur karena terlalu lelah. Maya tidak terbiasa bergadang, sehingga sebenarnya sejak tadi, dia sudah sangat mengantuk. Tapi berusaha ditahannya. Sekarang, dengan hilangnya ketegangan yang dia rasakan tadi, kini rasa kantuk itu menyerangnya. Kali ini, dia tidak menahannya lagi dan langsung terlelap dalam waktu singkat.
__________________________________________________ _
0
Kutip
Balas