TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.2K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#32
2nd Arc: Manusia, Uang dan Makhluk Gaib
Part 3.1
[Yogyakarta, 25 April 2010]
Sayangnya harapannya tidak terwujud. Yang terjadi justru sebaliknya. Makhluk raksasa itu muncul di hadapan Indra. Saat dia sedang sibuk memeriksa kondisi bagian dalam brankas. Tiba-tiba saja makhluk itu sudah berada di luar brankas.
Makhluk itu setidaknya punya tinggi 2.5 meter dan tubuhnya sangat kekar. Kedua lenganya yang berotot tampak lebih panjang dari kakinya, sehingga lengan dengan kepalan tangan yang lebih besar dari wajan itu, menggantung hingga menyentuh lantai. Tubuh makhluk itu berwarna hijau gelap dan kulitnya kasar, serta dipenuhi tonjolan-tonjolan keras. Kepala makhluk itu botak dan kedua matanya bersinar dengan buas. Makhluk raksasa itu menyeringai dan menampakkan deretan gigi taring yang kotor dan tidak rapi. Secara keseluruhan, wujud makhluk ini sangat mirip dengan hulk yang ada di film bioskop. Hanya saja rupanya jauh lebih jelek.
Oooh shit! maki Indra dalam hati.
Dia sudah pernah menghadapi berbagai macam makhluk gaib sebelumnya, seperti wewe gombel, kuntilanak, jaelangkung, lamia atau siluman ular, oni dari jepang, dan masih banyak lagi. Hanya saja dia tidak pernah berhadapan dengan yang ukurannya sebesar ini.
Makhluk raksasa itu masih memandangi Indra dengan mata menyala-nyala buas. Sepertinya makhluk itu masih berpikir apakah Indra adalah ancaman atau bukan. Sementara Indra sendiri masih berpikir apakah dia akan menyerang makhluk itu, atau lari. Perlahan-lahan, pemuda itu mengambil ancang-ancang. Mau lari atau melawannya, yang pasti, dia harus keluar dari dalam brankas. Selama dia berada di dalam brankas, posisinya sangat terjepit. Sehingga dia akan sukar melakukan apapun.
Kemudian, tanpa peringatan, Indra menerjang maju sekuat tenaga. Sepatunya menimbulkan suara berdecit nyaring ketika dia menendang lantai brankas dari baja dengan sekuat tenaga. Tubuhnya melesat ke arah si Buto dengan kecepatan tinggi, lalu dengan kecepatan reaksi yang jauh diatas manusia biasa, Indra berputar di udara dan menendang kepala raksasa itu dengan keras. Tendangannya menghasilkan bunyi derak nyaring dan membuat raksasa itu limbung, sementara Indra berhasil mendarat di belakang raksasa itu.
Selagi raksasa itu masih limbung karena tendangannya, Indra tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat dia menerjang maju dan menyelengkat kaki raksasa itu, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kemudian, tanpa menunggu sampai raksasa itu benar-benar terjatuh, Indra melompat di atas kepala makhluk itu dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi.
Makan nih!!! seru Indra sambil mengambil pose tendangan cangkul.
Dengan sekuat tenaga, dia menghantamkan sebelah kakinya ke kepala Buto itu.
Tendangan cangkul Indra membuat kepala raksasa itu menghantam lantai dan menghasilkan suara berdentum yang sangat keras. Kekuatan tendangan Indra dan berat tubuh raksasa itu menghancurkan lantai keramik di bawahnya, serta membuat kaca-kaca jendela langsung gemeretak karena getarannya.
Indra mendarat dengan mulus dan membelakangi makhluk raksasa itu. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan kalau makhluk itu tidak akan bangkit untuk sementara waktu. Dan tampaknya itu benar. Raksasa itu masih terbaring dengan kepala terbenam di lantai beton berlapis keramik, dan sepertinya tidak akan bangun untuk waktu yang cukup lama. Setidaknya akan ada cukup waktu sampai Indra selesai meletakkan segel di sekeliling raksasa itu. Dia tidak buang-buang waktu dan segera meletakkan segel pertama di depan kepala Buto yang masih terbenam di lantai.
Pemuda itu baru saja selesai meletakkan segel keduanya, ketika tiba-tiba tangan panjang raksasa itu terayun dan menghantam tubuhnya. Karena tidak siap, dia tidak sempat menghindar. Serangan itu telak menghantam tubuh Indra. Tubuhnya langsung terbang ke arah dinding seberang ruangan, menghantam dinding beton itu dengan sangat keras, kemudian terbanting ke lantai.
Si....sial! umpat Indra sambil berusaha bangun.
Dia beruntung karena dia bukan manusia. Kalau manusia biasa pasti dia sudah mati karena pukulan tadi, atau setidaknya dia harus sudah dirawat di ICU. Tapi kekuatan vampirnya masih menyelamatkan nyawanya. Pukulan sedahsyat itu hanya membuat 2 tulang rusuknya patah, dan tulang dadanya retak, serta membuat bagian belakang kepalanya berdarah. Luka itu sebenarnya sudah sangat parah bagi manusia. Namun sekali lagi, dia bersyukur karena dia bukan manusia. Indra berusaha bangkit dengan susah payah, walaupun luka yang dia derita tidak mematikan baginya, tapi luka itu sudah membuatnya sulit untuk bergerak.
Indra merasa seperti baru saja dihantam oleh bola besi yang biasa digunakan untuk meruntuhkan bangunan. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan pandangannya berkunang-kunang. Tapi pemuda itu mengabaikan semua rasa sakit yang dia rasakan, karena sedikit saja dia berhenti bergerak. Dia akan segera jadi pepes.
Benar saja. Buto Ijo itu tahu-tahu saja sudah berlari ke arah Indra dengan kedua tangan terangkat tinggi. Makhluk itu bermaksud menghantam Indra dengan kedua tangannya. Dan tentu saja kalau Indra sampai terkena serangan itu, akibatnya akan sangat fatal sekali.
Sambil berseru menahan rasa sakit. Indra melompat mundur, tepat ketika kedua tangan Buto Ijo yang hampir sebesar tubuhnya sendiri, menghantam lantai tempatnya berdiri. Lantai beton berlapis keramik itu langsung hancur berantakan. Kekuatan pukulannya menggetarkan lantai dan menyebabkan kaca-kaca jendela di sekitar ruangan itu bergemeretak keras, beberapa langsung retak. Makhluk raksasa itu berhenti sejenak. Tapi itu sudah cukup bagi Indra untuk melancarkan serangan balasan.
Indra langsung melancarkan tendangan berputar dengan sekuat tenaganya. Tendangan itu telak mengenai kepala si raksasa dan membuat raksasa itu berputar ke samping. Tapi raksasa hijau itu tidak roboh. Makhluk itu merentangkan sebelah tangannya dan berusaha meraih tubuh Indra. Sialnya, karena dia terluka, reaksi Indra jadi terlalu lamban, dan itu berakibat fatal.
Sebelah tangan raksasa itu langsung menangkap kaki Indra yang masih terangkat setelah menendang kepalanya.
Celaka!! seru Indra dalam hati.
Pemuda itu berusaha memutar tubuhnya untuk membebaskan diri dari cengkraman makhluk itu, tapi tiba-tiba saja tubuhnya sudah melayang di udara. Kemudian dengan suara berderak yang mengerikan, tubuhnya terbanting ke lantai. Indra langsung berteriak kesakitan. Tapi makhluk buas yang memegang kakinya itu masih belum puas. Buto Ijo itu menghantamkan tubuh Indra sekali ke dinding, kemudian sekali lagi ke lantai, baru kemudian melemparkan tubuh pemuda itu ke seberang ruangan. Tubuh Indra tergelincir di lantai keramik yang licin, hingga akhirnya berhenti karena menabrak tembok. Darah memercik ke mana-mana. Ruangan itu sekarang dipenuhi oleh bercak darah Indra.
Luka yang diderita Indra begitu parah sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak lagi. Rasa sakit yang dia rasakan tidak perlu ditanya lagi, saking sakitnya, dia sampai mati rasa. Indra sama sekali tidak bisa merasakan bagian bawah, dan sisi kiri tubuhnya. Beberapa kali dia batuk darah, sementara di sekitarnya, genangan darah yang terbentuk semakin lebar.
Siaal.....apa-apaan makhluk ini.....?! Dia tidak roboh setelah menerima serangan-seranganku....geram Indra dalam hati. Dia sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan untuk bicara. Pandangannya sudah buram dan segalanya jadi berwarna merah. Dia juga sudah hampir tidak bisa mendengar lagi. Intinya, dia sedang sekarat.
Tapi Indra tidak akan mati. Kekuatan vampirnya langsung bekerja dan berusaha menyembuhkan luka-lukanya dalam waktu singkat. Tapi secepat apapun kerja kemampuan regenerasinya, kemampuan itu akan sia-sia jika dia mendapatkan serangan lagi. Indra ingin berdiri dan melarikan diri, tapi dia sudah tidak berdaya. Dengan pasrah dia melihat makhluk raksasa itu berjalan pelan-pelan ke arahnya. Buto Ijo itu mencibir ke arahnya. Wajahnya yang buruk jadi terlihat semakin buruk.
Indra tidak sudi dihabisi begitu saja oleh makhluk buas itu. Dalam usahanya yang terakhir, dia mengangkat tangan kanannya yang masih cukup utuh dan mengacungkan jari tengahnya ke arah makhluk itu. Dia tidak peduli apakah makhluk itu mengerti maksudnya atau tidak. Pokoknya, sampai akhir dia tidak mau terlihat lemah.
Entah mengapa, makhluk itu tampaknya mengerti maksud ejekan Indra. Dia meraung dan berlari sambil mengangkat sebelah tangannya. Buto Ijo itu bermaksud membenamkan tubuh Indra ke lantai beton yang berlapis keramik itu. Tapi begitu makhluk itu berlari mendekat dan mengayunkan sebelah tangannya, tiba-tiba saja sebuah bujur sangkar transparan yang sangat tipis muncul di atas Indra. Meskipun tampak tipis, tapi benda aneh itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Bujur sangkar transaparan itu bisa menahan pukulan yang dilancarkan si Buto Ijo, bahkan mementalkannya kembali. Sehingga makhluk raksasa itu tersentak mundur dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangannya.
Spoiler for "Part 3.1":
[Yogyakarta, 25 April 2010]
Sayangnya harapannya tidak terwujud. Yang terjadi justru sebaliknya. Makhluk raksasa itu muncul di hadapan Indra. Saat dia sedang sibuk memeriksa kondisi bagian dalam brankas. Tiba-tiba saja makhluk itu sudah berada di luar brankas.
Makhluk itu setidaknya punya tinggi 2.5 meter dan tubuhnya sangat kekar. Kedua lenganya yang berotot tampak lebih panjang dari kakinya, sehingga lengan dengan kepalan tangan yang lebih besar dari wajan itu, menggantung hingga menyentuh lantai. Tubuh makhluk itu berwarna hijau gelap dan kulitnya kasar, serta dipenuhi tonjolan-tonjolan keras. Kepala makhluk itu botak dan kedua matanya bersinar dengan buas. Makhluk raksasa itu menyeringai dan menampakkan deretan gigi taring yang kotor dan tidak rapi. Secara keseluruhan, wujud makhluk ini sangat mirip dengan hulk yang ada di film bioskop. Hanya saja rupanya jauh lebih jelek.
Oooh shit! maki Indra dalam hati.
Dia sudah pernah menghadapi berbagai macam makhluk gaib sebelumnya, seperti wewe gombel, kuntilanak, jaelangkung, lamia atau siluman ular, oni dari jepang, dan masih banyak lagi. Hanya saja dia tidak pernah berhadapan dengan yang ukurannya sebesar ini.
Makhluk raksasa itu masih memandangi Indra dengan mata menyala-nyala buas. Sepertinya makhluk itu masih berpikir apakah Indra adalah ancaman atau bukan. Sementara Indra sendiri masih berpikir apakah dia akan menyerang makhluk itu, atau lari. Perlahan-lahan, pemuda itu mengambil ancang-ancang. Mau lari atau melawannya, yang pasti, dia harus keluar dari dalam brankas. Selama dia berada di dalam brankas, posisinya sangat terjepit. Sehingga dia akan sukar melakukan apapun.
Kemudian, tanpa peringatan, Indra menerjang maju sekuat tenaga. Sepatunya menimbulkan suara berdecit nyaring ketika dia menendang lantai brankas dari baja dengan sekuat tenaga. Tubuhnya melesat ke arah si Buto dengan kecepatan tinggi, lalu dengan kecepatan reaksi yang jauh diatas manusia biasa, Indra berputar di udara dan menendang kepala raksasa itu dengan keras. Tendangannya menghasilkan bunyi derak nyaring dan membuat raksasa itu limbung, sementara Indra berhasil mendarat di belakang raksasa itu.
Selagi raksasa itu masih limbung karena tendangannya, Indra tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat dia menerjang maju dan menyelengkat kaki raksasa itu, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kemudian, tanpa menunggu sampai raksasa itu benar-benar terjatuh, Indra melompat di atas kepala makhluk itu dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi.
Makan nih!!! seru Indra sambil mengambil pose tendangan cangkul.
Dengan sekuat tenaga, dia menghantamkan sebelah kakinya ke kepala Buto itu.
Tendangan cangkul Indra membuat kepala raksasa itu menghantam lantai dan menghasilkan suara berdentum yang sangat keras. Kekuatan tendangan Indra dan berat tubuh raksasa itu menghancurkan lantai keramik di bawahnya, serta membuat kaca-kaca jendela langsung gemeretak karena getarannya.
Indra mendarat dengan mulus dan membelakangi makhluk raksasa itu. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan kalau makhluk itu tidak akan bangkit untuk sementara waktu. Dan tampaknya itu benar. Raksasa itu masih terbaring dengan kepala terbenam di lantai beton berlapis keramik, dan sepertinya tidak akan bangun untuk waktu yang cukup lama. Setidaknya akan ada cukup waktu sampai Indra selesai meletakkan segel di sekeliling raksasa itu. Dia tidak buang-buang waktu dan segera meletakkan segel pertama di depan kepala Buto yang masih terbenam di lantai.
Pemuda itu baru saja selesai meletakkan segel keduanya, ketika tiba-tiba tangan panjang raksasa itu terayun dan menghantam tubuhnya. Karena tidak siap, dia tidak sempat menghindar. Serangan itu telak menghantam tubuh Indra. Tubuhnya langsung terbang ke arah dinding seberang ruangan, menghantam dinding beton itu dengan sangat keras, kemudian terbanting ke lantai.
Si....sial! umpat Indra sambil berusaha bangun.
Dia beruntung karena dia bukan manusia. Kalau manusia biasa pasti dia sudah mati karena pukulan tadi, atau setidaknya dia harus sudah dirawat di ICU. Tapi kekuatan vampirnya masih menyelamatkan nyawanya. Pukulan sedahsyat itu hanya membuat 2 tulang rusuknya patah, dan tulang dadanya retak, serta membuat bagian belakang kepalanya berdarah. Luka itu sebenarnya sudah sangat parah bagi manusia. Namun sekali lagi, dia bersyukur karena dia bukan manusia. Indra berusaha bangkit dengan susah payah, walaupun luka yang dia derita tidak mematikan baginya, tapi luka itu sudah membuatnya sulit untuk bergerak.
Indra merasa seperti baru saja dihantam oleh bola besi yang biasa digunakan untuk meruntuhkan bangunan. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan pandangannya berkunang-kunang. Tapi pemuda itu mengabaikan semua rasa sakit yang dia rasakan, karena sedikit saja dia berhenti bergerak. Dia akan segera jadi pepes.
Benar saja. Buto Ijo itu tahu-tahu saja sudah berlari ke arah Indra dengan kedua tangan terangkat tinggi. Makhluk itu bermaksud menghantam Indra dengan kedua tangannya. Dan tentu saja kalau Indra sampai terkena serangan itu, akibatnya akan sangat fatal sekali.
Sambil berseru menahan rasa sakit. Indra melompat mundur, tepat ketika kedua tangan Buto Ijo yang hampir sebesar tubuhnya sendiri, menghantam lantai tempatnya berdiri. Lantai beton berlapis keramik itu langsung hancur berantakan. Kekuatan pukulannya menggetarkan lantai dan menyebabkan kaca-kaca jendela di sekitar ruangan itu bergemeretak keras, beberapa langsung retak. Makhluk raksasa itu berhenti sejenak. Tapi itu sudah cukup bagi Indra untuk melancarkan serangan balasan.
Indra langsung melancarkan tendangan berputar dengan sekuat tenaganya. Tendangan itu telak mengenai kepala si raksasa dan membuat raksasa itu berputar ke samping. Tapi raksasa hijau itu tidak roboh. Makhluk itu merentangkan sebelah tangannya dan berusaha meraih tubuh Indra. Sialnya, karena dia terluka, reaksi Indra jadi terlalu lamban, dan itu berakibat fatal.
Sebelah tangan raksasa itu langsung menangkap kaki Indra yang masih terangkat setelah menendang kepalanya.
Celaka!! seru Indra dalam hati.
Pemuda itu berusaha memutar tubuhnya untuk membebaskan diri dari cengkraman makhluk itu, tapi tiba-tiba saja tubuhnya sudah melayang di udara. Kemudian dengan suara berderak yang mengerikan, tubuhnya terbanting ke lantai. Indra langsung berteriak kesakitan. Tapi makhluk buas yang memegang kakinya itu masih belum puas. Buto Ijo itu menghantamkan tubuh Indra sekali ke dinding, kemudian sekali lagi ke lantai, baru kemudian melemparkan tubuh pemuda itu ke seberang ruangan. Tubuh Indra tergelincir di lantai keramik yang licin, hingga akhirnya berhenti karena menabrak tembok. Darah memercik ke mana-mana. Ruangan itu sekarang dipenuhi oleh bercak darah Indra.
Luka yang diderita Indra begitu parah sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak lagi. Rasa sakit yang dia rasakan tidak perlu ditanya lagi, saking sakitnya, dia sampai mati rasa. Indra sama sekali tidak bisa merasakan bagian bawah, dan sisi kiri tubuhnya. Beberapa kali dia batuk darah, sementara di sekitarnya, genangan darah yang terbentuk semakin lebar.
Siaal.....apa-apaan makhluk ini.....?! Dia tidak roboh setelah menerima serangan-seranganku....geram Indra dalam hati. Dia sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan untuk bicara. Pandangannya sudah buram dan segalanya jadi berwarna merah. Dia juga sudah hampir tidak bisa mendengar lagi. Intinya, dia sedang sekarat.
Tapi Indra tidak akan mati. Kekuatan vampirnya langsung bekerja dan berusaha menyembuhkan luka-lukanya dalam waktu singkat. Tapi secepat apapun kerja kemampuan regenerasinya, kemampuan itu akan sia-sia jika dia mendapatkan serangan lagi. Indra ingin berdiri dan melarikan diri, tapi dia sudah tidak berdaya. Dengan pasrah dia melihat makhluk raksasa itu berjalan pelan-pelan ke arahnya. Buto Ijo itu mencibir ke arahnya. Wajahnya yang buruk jadi terlihat semakin buruk.
Indra tidak sudi dihabisi begitu saja oleh makhluk buas itu. Dalam usahanya yang terakhir, dia mengangkat tangan kanannya yang masih cukup utuh dan mengacungkan jari tengahnya ke arah makhluk itu. Dia tidak peduli apakah makhluk itu mengerti maksudnya atau tidak. Pokoknya, sampai akhir dia tidak mau terlihat lemah.
Entah mengapa, makhluk itu tampaknya mengerti maksud ejekan Indra. Dia meraung dan berlari sambil mengangkat sebelah tangannya. Buto Ijo itu bermaksud membenamkan tubuh Indra ke lantai beton yang berlapis keramik itu. Tapi begitu makhluk itu berlari mendekat dan mengayunkan sebelah tangannya, tiba-tiba saja sebuah bujur sangkar transparan yang sangat tipis muncul di atas Indra. Meskipun tampak tipis, tapi benda aneh itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Bujur sangkar transaparan itu bisa menahan pukulan yang dilancarkan si Buto Ijo, bahkan mementalkannya kembali. Sehingga makhluk raksasa itu tersentak mundur dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangannya.
0
Kutip
Balas