Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#123
EPISODE 2 - FAKE PLASTIC TREE (28 SEPTEMBER 2009)

Pagi. Lima pagi. Sierra beranjak melangkah ke luar dari ruangan tempat dimana Kikan dirawat. Pria itu baru saja terbangun. Kikan jadi terjaga mendengar langkah Sierra menjauh dan membuka pintu.

"Kemana kak?" tanya gadis itu.

"Aku mau cari musholla dulu, shalat subuh. Kutinggal sebentar gak papa ya?" Kikan mengangguk pelan.

"Tolong nyalakan saja lampunya kak."

Sierra pun menyalakan lampu ruangan tersebut dan lalu menutup pintunya. Kebetulan ruangan tempat Kikan persis di depan loket perawat jaga. Sierra melihat ada seorang suster yang sedang berdiri membelakangi loket.

"Maaf suster, musholla di sini ke sebelah mana ya?"

Perawat itu membalikkan badan dan melihat ke arah pria yang baru saja bertanya. Ia mengamatinya dengan penuh kekaguman. Sierra memang memiliki kemampuan daya tarik seperti itu terhadap lawan jenisnya. Tubuh yang atletis, dada yang bidang, kulit coklat gelap serta rambut yang tipis namun indah serta alis mata yang tegas membuatnya terlihat bagaikan pahatan patung pahlawan. Sungguh mempesona.

"Mbak?" tegur Sierra lagi.

"Oh iya .. iya .. kalau mau ke musholla silakan turun saja nanti dari pintu yang sebelah kiri sekitar beberapa meter di depannya ada musholla," suster tersebut menjelaskan dengan sedikit terbata-bata,

"Oke. Terima kasih banyak ya." ucap Sierra seraya mengatupkan kedua tangannya dan merapatkannya ke dada. Suatu gestur terima kasih khas Sierra, membuat siapapun lawan bicaranya merasa dihormati.

"Sama-sama mas."

Lalu Sierra pun menyusuri selasar rumah sakit, berjalan beberapa meter ke arah tangga turun. Dan akhirnya, ia menemukan juga musholla sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh suster tadi.

Sierra menggulung lengan kemeja panjang kotak-kotaknya yang kancingnya memang selalu dibiarkan terbuka. Ia juga menggulung celana jeansnya hingga beberapa sentimeter di atas kaki, agar tidak basah terkena air saat wudlu. Jam tangan tali kulitnya ia lepaskan dan masukkan ke saku depan celana jeansnya.

Sierra pun berwudlu. Betapa percikan-percikan air itu sangat menyegarkan dan mampu menenangkan jiwanya yang gundah. Prosesi bersuci dilakukan dengan sempurna. Setelah itu ia berbalik dan melangkah dengan menjinjit. Ia menengadahkan kedua tangannya dan membacakan doa seusai berwudlu, lalu dengan kaki kanan melangkah masuk ke masjid itu.

Sierra berdoa. Beribadah. Menunaikan kewajibannya. Berharap agar kesedihan yang selama ini dirasakannya dapat hilang seluruhnya.

Usai gerakan salam, ia membaca doa dengan khusuk dan tak terasa air matanya menetes.

—//—


Pagi hari yang sama. Fiona sedang memasak sarapan untuk Raine. Raine masih berkutat dengan kosmetik di wajahnya. Fiona berteriak dari dapur. "Raine, apa rencanamu hari ini?"

"Maksudmu?" Raine menjawab dari dalam kamar.

"Ya.. maksudku, kamu mau kemana hari ini say?"

"Enggaklah.. enggak kemana-mana kok."

"Loh .. enggak kemana-mana kok dandan?"

Tidak terdengar suara beberapa saat. Fiona masih sibuk membolak-balik omeletnya di wajan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan tepukan Raine di bahunya.

"Cantik selalu, selalu cantik... masih inget motto tim cheers kita say? Cheers - Cheers - Cheers Cantiiikkk!"

Seraya mengulangi kalimat tersebut Raine melakukan gerakan yang selayaknya dilakukan oleh cheerleader. Melihat Raine jejingkrakan, Fiona hanya bisa terkekeh, "Aduh, Jeng, mbok ya inget umur. Ini bukan tujuh tahun yang lalu."

"S-A-R-A-P-A-N ... SA RA PAN ... YEEEEYY"

Raine terus tersenyum, jejingkrakan, dan berteriak-teriak seolah dirinya seorang anggota cheers.

Fiona diam saja. Sebagai sahabat lamanya, ia kenal persis watak dan pembawaan Raine. Bila Raine tersenyum berlebihan seperti ini, ini adalah caranya membunuh kesedihan dan kemurungan yang ia rasakan. Raine selalu seperti itu, menyembunyikan tangisnya dalam tawa. Fiona sadar betul, kemunculan Raine saat ini sangat tiba-tiba, seolah ia sedang melarikan diri dari sesuatu. Kemarin malam, Raine sahabatnya itu masih terus terlihat murung. Dan ia belum menceritakan alasan kedatangannya ke Jakarta. Fiona tidak ingin memulai mengorek kesedihan sahabatnya. Ia menunggu, menunggu Raine membuka perasaan dan menceritakan semuanya.

"Hey, nona Cheers. Sarapannya sudah siap!"

"YEEEEEEYYY ... Itadakimaaasu!" Lalu Raine menyantap makanannya dengan lahap.

Fiona memperhatikan sahabatnya dengan sudut matanya.

-//-


Lowry terbangun pagi itu, masih dalam kantuknya, ia menjangkau telpon genggam yang ia letakkan di balik bantal. Enam pagi. Ia langsung membuat pesan pendek kepada sahabatnya.
:Sierra, gimana keadaan Kikan, udah baek? Ada yang perlu dibawain lagi dari rumah? Nanti aku minta Mang Udan antar ke rumah sakit kaya kemarin. Bantal/selimut mungkin?

Ia sudah nyaris terlelap, ketika beberapa menit kemudian sms balasan dari Sierra masuk.
:Lumayan. Jari kakinya retak. Boleh deh, tolong mang Udan bawain buah sama roti. Thanks you're the best. Btw, bokap lo bikin masalah ga?

Lowry terhenyak sejenak membaca pesan tersebut. Akhirnya ia membalas.
:Enggak. Bokap fine-fine aja. Gw mau tidur lagi.

Dan mengirim sms lain untuk Mang Udan, sopir sekaligus orang kepercayaan Lowry dan Sierra.
: Mang, nanti tolong beliin buah dan roti. Bawa ke rumah sakit. Sekalian tanya Sierra, baju kotornya cewek itu ada yang mau dilaundry enggak. Ke rumah sakitnya jam 8 an biar nanti siang bisa antar saya ke bandara.

Mang Udan membalas dengan singkat.
: Siap laksanakan den Lowry.

-//-
Diubah oleh rahan 16-12-2014 10:16
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.