- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#121
//
Masih di siang hari yang sama. Raine tiba di Jakarta. Ia turun dari travelnya dan dengan cepat menelpon Fiona.
"Halo, Fio, aku sudah sampai di pool travelnya nih."
"Oke, aku lagi di jalan, sepuluh menit lagi mungkin sampai disananya. Tunggu sebentar ya say."
"OK. See you then."
Menutup telpon ia melangkahkan kakinya masuk ke sebuah Seven Eleven yang ada beberapa meter di sisi pool travel tersebut. Sebuah SMS masuk. Dari Max. Tanpa membaca isinya ia langsung dengan cepat mendelete message tersebut. Mengambil Slurpee, membayar, dan tanpa banyak bicara ia melangkah keluar dan menikmati minumannya di meja tenda yang ada di luar.
-//-
Masih di siang hari yang sama, Max tengah mengitari area sayuran di Carrefour. Ia nampak seperti memikirkan sesuatu, dan tiba-tiba menghentikan troli belanjanya. Mengeluarkan telpon genggamnya dan membuat sebuah pesan singkat.
:Apakah kau ada alergi makanan tertentu? Aku berpikir untuk membuat menu seafood nanti malam.
Mengirimkannya.
Menunggu balasan.
Dan kita tahu tidak akan ada balasan apapun.
Lelaki itu menatapi telpon genggamnya dengan penuh harapan. Menghela nafas dalam-dalam. Mencoba untuk tersenyum dan lalu mendorong kembali trolinya.
//
Malam hari di hari minggu yang sama. Rumah sakit tempat Kikan sedang dirawat setelah kecelakaan yang menimpanya tadi pagi. Sierra masih mendampinginya. Ia duduk tertidur di sebuah kursi di sebelah Kikan yang sedang tertidur di ranjang. Sebuah majalah menutupi wajahnya.
Tiba-tiba lampu menyala. Ruangan kamar itu menjadi terang. Seorang dokter dan dua orang perawat datang. Salah satu perawat menyibakkan tirai yang membatasi pandangan ke pasien di sebelahnya.
'Selamat malam ya, maaf mengganggu tidurnya nona ... Kikan' ucap dokter tersebut.
Sierra yang terjaga segera meletakkan majalah yang tadi menutup mukanya ke kursi yang tadi ia duduki. Kikan pun segera terjaga manakala salah satu suster menyentuh lengannya. Perawat tersebut nampaknya sedang mengukur tekanan darahnya.
"Malam dokter," kata Kikan pelan.
"Bagaimana yang dirasa? Masih nyeri-nyeri ya?" ucap si dokter ramah.
"Tadi iya dok, waktu baru masuk, tapi sekarang sakitnya sudah agak berkurang."
"Iya, tapi hasil pemeriksaan tadi siang, ada sedikit keretakan di jari kaki sebelah kanan. Jadi kaki nona untuk sementara waktu harus digips, dan kalau jalan penopangnya juga harus selalu dipakai ya."
"Berapa lama itu dok?" tanya Sierra.
"Ya, normalnya sekitar 3 bulan hingga 4 bulan, biasanya pemulihan akan berlangsung lebih cepat jika asupan kalsiumnya juga dijaga ya."
"120/80, Dok," ucap salah seorang suster.
"Ok, normal ya, enggak ada demam juga kan ya. Baiklah kami tinggal dulu, selamat beristirahat kembali nona Kikan. Apabila ada sesuatu yang dirasa perlu silakan hubungi perawat, bisa menggunakan tombol pemanggil di sisi bed nya ya."
"Terima kasih banyak dokter, suster," ucap Sierra sementara Kikan hanya mengangguk lemah.
Lampu kamar pun kembali dipadamkan saat suster dan dokter meninggalkan ruangan. Dalam keremangan suasana, satu-satunya sumber cahaya adalah lampu yang ada di balkon, Sierra kembali duduk di kursi, sedangkan tangannya menggenggam tangan Kikan yang terulur ke arahnya. Kikan memecah keheningan.
"Ini romantis juga ya."
"Ya," jawab Sierra pelan.
"Kak Sierra sayang Kikan?"
Hening sejenak. Lalu Sierra menggenggam tangan Kikan lebih erat.
"Tentu, kakak sayang Kikan."
-//-
Masih di malam yang sama. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Janji makan malam Raine akan datang pukul 7, itu sudah satu jam yang lalu. Mbok Asih belum bisa tertidur, ia masih mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia terus mengamati tingkah majikannya di ruang makan. Max masih duduk dengan tenang, dengan lilin yang menyala. Di hadapannya terhidang berbagai macam menu yang telah ia siapkan untuk makan malam bersama Raine, bahkan lengkap dengan wine dan es segala. Max masih tidak mengerti mengapa Raine tidak datang. Bahkan tidak membalas satu pun dari beberapa sms yang dikirimnya hari ini.
Pria lain mungkin akan sudah menghempaskan meja makan bila berada dalam posisi Max saat itu. Tetapi Max mencoba untuk terus menekan apa yang ia rasakan menusuk di dalam hatinya. Semakin ia mengingat Raine, semakin perasaannya menjadi perih. Belakangan ini Raine kian jauh dari genggamannya.
"Mbok Asih," ucap Max tiba-tiba pelan.
Sang pembantu terhenyak kaget. Ia tidak menduga si majikan akan memanggilnya. Cepat-cepat ia merapatkan celah pintu yang terbuka sedikit itu.
"Temani saya makan mbok."
Sebenarnya nada suara Max biasa saja, tetapi ada sesuatu yang bisa ditangkap dan dirasakan oleh Mbok Asih yaitu kekecewaan dan luka yang mendalam. Mbok Asih merasakan hal tersebut, hingga ia pun bangkit dan keluar dari kamarnya yang gelap menuju ruang makan yang pencahayaannya sudah diset dengan remang yang hangat. Perlahan, Mbok Asih berjalan menuju kursi yang seharusnya ditempati oleh Raine. Ia duduk di situ.
"Maaf, mungkin hidangannya sudah agak dingin. Mari kita makan." Max berkata tanpa ekspresi dan memulai seluruh prosesi makan malam tersebut. Mbok Asih mengikutinya.
Seraya makan, Mbok Asih meneteskan air mata.
//
Malam hari yang sama, pukul 10 malam. Raine sedang sibuk mengganti saluran televisi puluhan channel di apartemen Fiona. Suara televisi itu ia setel mute. Ia hanya mengenakan piyama dan berbaring di atas sofa depan televisi. Asap rokok mengepul di ruangan tersebut. Beberapa kaleng coca-cola, wadah es batu serta kotak Ayam Goreng KFC berserakan di meja depan televisi.
Fiona sendiri sudah sejak tadi terkapar di kasur yang ia bentangkan di depan televisi tersebut. Suara headphonenya yang memutar musik dari iPod sedemikian kencangnya, hingga terdengar alunannya oleh Raine.
Raine mematikan rokoknya di asbak dengan sedikit tekanan dan putaran. Menenggak tetes tetes terakhir dari kaleng minuman ringan berwarna merah. Ia mendekat dan memperbaiki selimut yang dikenakan Fiona. Ia mengambil iPod yang tergeletak dan melihat judul lagu yang sedang diputar di layar kecil,
: IF - EMI FUJITA
Ia melepaskan headphone dari telinga Fiona secara hati-hati dan mendengarkan lagu tersebut selama beberapa detik. Lagu yang sangat mengalun tersebut sanggup menyentuh hati Raine. Tiba-tiba ia merasakan kesedihan entah darimana. Ia pun mematikan iPod tersebut dan meletakkan headphone beserta gadgetnya di atas meja.
Melangkah ke arah wastafel. Menyikat gigi. Mouthwash. Membasahi muka. Dan sekarang ia siap untuk tidur, setelah hari yang melelahkan. Lampu meja remang di dekat sofa pun ia padamkan. Tangan kiri yang memegang remote televisi menekan tombol power off. Raine membaringkan dirinya di sebelah Fiona.
//
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:18
0