Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#120
"Kikan! Awas!"

Sierra berteriak keras. Ia berada sekitar 5 meter di belakang sepeda Kikan ketika dari arah kiri bundaran taman komplek ada mobil Lancer biru yang melaju kencang.

Tak terelakkan benturan antara bumper depan mobil sedan tersebut, meskipun mobil tersebut telah mengurangi kecepatannya. Dicium sedan, sepeda Kikan beserta yang menaikinya terhempas setengah terbang ke arah bundaran rumput di sebelah kanannya. Kikan terbanting ke tanah disusul sepedanya menimpanya, menyebabkan sakit yang sangat di bagian tubuh sebelah kanannya. Dengan cepat Sierra, turun setengah melompat dari sepedanya dan berlari bergegas ke arah Kikan.

"Gembel!" rutuk Sierra dalam hati

Pintu sedan terbuka. Seorang anak kecil yang mungkin masih duduk di SMP keluar dari pintu pengemudi dengan wajah pucat.

"Mbaknya mati ya kak?"

Sierra melihat ke arah bocah tersebut seluruh celana, kaki, dan sepatunya basah oleh air seni.

"Enggak. Enggak mati. Sini lo bantuin gw. Kita bawa ke rumah sakit."

Si bocah tersebut dengan sigap membantu mengangkat sepeda Kikan.

"Eh bocah, lu panggil satpam yang ada di pos depan. Suruh kesini biar jagain sepeda gw."

Bocah tersebut pun buru-buru berlari ke arah pos depan yang letaknya hanya beberapa puluh meter saja.

"Kak Sierra, gw kenapa?" ucap Kikan yang mulai siuman.

"Hah? Lo disenggol mobil. Trus terbang kaya superman, nyungsepnya untung pas di rumput."

"Aduuuh, kaki Kikan sakit banget kak."

"Iya, bentaran juga gw bawa ke rumah sakit. Yang nabrak lo bocah SMP. Jadi gw ga bisa marah-marah."

"Gulung aja tu bocah Kak. Permak mukanya,"

Aku menyentil hidung Kikan.

"Udah sengsara juga masih aja bakat sadisnya lu."

"Hehehe," Kikan tersenyum kecil.

Dua orang satpam datang dengan langkah tergesa-gesa bersama si Bocah,
"Ada apa nih bang?" kata salah satu satpam.

"Gw mau ke rumah sakit ama anak ini. Tolong jagain sepeda gw, ama sepeda yang penyok ini. Entar besok maleman baru gw ambil."

"Iya bang."

"Jangan lo bawa ke tukang loak tuh sepeda."

"Iya bang, buset takut amat."

Kedua orang Satpam tersebut pun kembali ke pos. Konyolnya, tadinya mereka rebutan sepeda Sierra.

"Gw naek yang masi bagus. Lo bawa aja yang udah ringsek noh."

Dan satu orang satpam tersenyum sambil naik sepeda Sierra yang masih bagus, sedangkan satpam satunya lagi dengan malas-malasan kembali ke arah sepeda Kikan yang sudah penyok dan copot rantainya, dan mulai mendorongnya ke pos jaga dengan malas.

Sierra mengangkat tubuh Kikan, menggendongnya dengan kedua tangannya, Kikan sembari tersenyum merangkulkan tangannya di leher Sierra. "Ini kaya, pengantin baru gendong istrinya kalau mau masuk rumah baru, ya kak?" bisik Kikan manja.

"Jiah, otak lo gegar? Ini gw mau bawa lo ke pemotongan daging, buat dimutilasi." Sierra menjawab sekenanya.

Kikan membalas dengan memanyunkan bibirnya. Bibirnya yang bawah ia majukan dan buat lebih tebal dari bibir atasnya.

"Ih jelek ih."

Si bocah yang punya mobil membukakan pintu belakang, Sierra pun mendudukkan Kikan secara hati-hati di kursi belakang. Setelah memastikan Kikan dalam posisi yang cukup nyaman, Sierra menutup pintu belakang.

"Kuncinya mana sini gw yang bawa mobil," ucapnya pada si bocah.

"Ini bang," si bocah menyerahkan kunci mobil pada Sierra.

Ketika Sierra sudah duduk di belakang kemudi dan bocah itu duduk di bangku depan sebelah Sierra, si bocah kembali mengatakan sesuatu.

"Bang boleh kerumah dulu ga, buat ganti celana? Lembab nih," ucapnya dengan muka memelas.

"Aduh, lo pake ngompol segala sih, ribet banget. Udah biarin, ntar juga kering sendiri."

Sierra pun langsung tancap gas ke rumah sakit terdekat.

—//—


Masih siang di hari Minggu yang sama. Dering nada penanda SMS masuk di telpon genggam milik Lowry.
:Ayah sudah di depan rumahmu. Kamu ada kan?

Lowry yang tertidur di sofa dengan televisi menyala gelagapan langsung berlari ke arah wastafel, dan mencuci mukanya agar tidak terlihat muka bantal. Lalu segera ia lari menuju pintu, membukanya dan mendapati seorang wanita muda cantik berparas sangat Jepang, dan ayahnya berdiri di depan pagar rumahnya. Di belakang mereka ada sebuah Nissan Teana berwarna hitam yang sangat elegan.

Terhenyak sesaat ia memandang ayahnya dalam setelan jas yang biasanya. ABG Jepang tersebut mengenakan celana jeans dan rambut dikuncir dua, bajunya cardigan biru langit dengan kancing terbuka dan shirt putih. Si gadis dan ayahnya sama-sama membawa Samsonite ukuran kecil.

"Konnichiwa -Lowry san," sapa si gadis.

"Dear Lord, will you stop staring at us and open this gate?" ucap ayahnya. Lowry tanpa sepatah kata membukakan pintu gerbang kecil tersebut.

"Siang ayah."

Ayahnya dan si gadis melangkah masuk kedalam rumah setelah melepaskan sepatu mereka sebelum teras.

"A bit messy as usual, you hardly change, young man."

"Silakan duduk, ayah, mbak.."

Ayahnya pun duduk. Si gadis Jepang masih berdiri dan melihat-lihat ke sekeliling interior rumah. Ia memperhatikan beberapa foto Sierra dan Lowry yang terpajang di dinding dan berbagai sudut rumah.

"Ayako, speak English, this man doesn't understand any Japanese at all."

"Yes, otousan."

"Lowry, let me introduce you, this is your step sister. Ayako Lowry."

What ... This girl is my sister?

"Hello .. oniisan, it's nice to meet you," ucap gadis itu seraya mengajukan tangannya untuk bersalaman.

"Hello .. welcome to Indonesia," Lowry menjawab dengan mulut terbuka, ia merasa seperti menjadi pemandu wisata dadakan.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:18
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.