- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#107
PDPDSH
“Masuk, pintunya enggak dikunci,” suara dari dalam menitah.
Aneh sekali. Padahal aku belum mengetuk.
“Rahan, kan? Silakan duduk di sofa itu,” suruh si tuan rumah.
Aku pun menuruti saja. Duduk di sofa empuk, yang kupilih adalah bagian tengah. Tuan rumah adalah seorang laki-laki yang usianya sebaya denganku. Aku seperti familiar dengan orang ini meskipun aku belum pernah bertemu dengannya. Dia sedang membuat kopi sepertinya, maksudku menyeduh kopi yang biasa diiklankan di televisi. Lalu ia pun meletakkan kedua cangkir kopi hitam panas tersebut di atas meja.
“Kopi saja ya, saya tidak minum teh,” ucapnya tanpa ditanya.
Lalu ia mengulurkan lengannya untuk jabat tangan. Aku menjabat tangannya perlahan.
“Bernard.”
Kuanggap itu namanya, dan aku tidak menyebutkan namaku, karena aku anggap dia sudah tahu namaku.
“Bagaimana tadi perjalanan kesini? Gampang dicari kan alamatnya?”
“Gampang, mas Bernard. Begitu saya bilang Bernard yang rumahnya di belakang kompleks kuburan, orang-orang sekitar sini pada tahu semua dan menunjukkan jalan setapak itu.”
“Iya lah, semua orang disini kenal sama saya. Siapa yang ga kenal Bernard si Pemberani?” ucapnya menyombongkan diri.
“Hah? Itu nama julukan mas?”tanyaku kaget.
“Iya. Kenapa? Kamu pernah dengar tentang saya?”
“Ah enggak mas.. enggak, enggak pernah,” aku berbohong.
“Wah, kamu bohong barusan ya .. hayo ngaku .. jangan main-main kamu, masa ganteng-ganteng pembohong.” Ia berkata demikian sambil senyum.
Sial. Darimana dia bisa tahu kalau aku berbohong barusan ya? Siapa juga yang ga pernah dengar cerita Bernard si Pemberani. Orang yang berprofesi sebagai penggali kuburan sekaligus kuncen kuburan sejak usia 13 tahun. Cerita itu aku dengar waktu SMP dari temanku. Waktu itu lagi ngetren zaman telpon setan. Dari telpon umum kita bisa menelpon nomor .. sudah lupa berapa nomornya .. nah di nomor itu nanti di ujung sana ada suara setan yang menangis. Katanya sih itu cuma bohong-bohongan. Sampai suatu ketika, suara telpon itu memanggil-manggil nama Bernard. Aku ga ingat jelas gimana ujung cerita itu.
“Iya mas, pernah dengar dulu waktu saya masih kecil,” aku tersipu merasa tidak enak ketahuan berbohong.
“Ah, emangnya sekarang sudah besar ya? Sudah merasa tua ya?” Bernard menyerempet lagi dengan pertanyaan nyelenehnya.
“Enggak mas, biasa aja.” Aku ga tau mesti jawab apa.
“Dulu memang, yang didengar cerita yang mana?”
“Yang tentang telpon setan mas,” aku engga berani berbohong lagi.
“Oh kalo itu bohong.”
“Hah? Sumpah mas, kali ini saya engga bohong.” Aku berkeras setengah ketakutan. Seperti takut bakal disihir jadi kodok atau yang menyerupainya.
“Bukan begitu, maksud saya itu cuma cerita bohongan. Wong, yang nelpon itu saya koq. Hehehe.” Si Bernard malah tertawa nggak jelas.
Aku melamun sesaat. Ini orang maunya apa sih, suruh aku datang kesini segala. Orang ini agak-agak aneh. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Tiba-tiba dia memecahkan lamunanku.
“Oh gitu ya? Menurut kamu saya aneh? Kamu bingung saya mau apa suruh kamu datang kesini? Tidak, tenang saja, tidak bakal terjadi sesuatu yang buruk koq.”
Anjrit! Mampus! Dia bisa baca pikiran gw. Gw kaget setengah mati, sampe seluruh bulu kuduk berdiri.
“Wah om, ampun om, saya jangan diapa-apain om.” Engga tahu kenapa, tiba-tiba saja aku memanggil Bernard dengan sebutan om. Sumpah takut banget rasanya.
“Ayo diminum dulu kopinya, siapa tau ini jadi minuman terakhir kamu. Hehehe” Bernard terkekeh lagi.
Wah. Beneran nih, jelek nih kalo kaya gini caranya. Berurusan sama orang kaya gini, kabur juga percuma kayanya. Aku menyeruput kopi hitam itu dengan malas.
“Iya, ga usah kabur lah. Ngapain juga kabur-kabur segala. Percuma.”
Andai ini di komik-komik jepang, karakterku pasti sudah ada keringat dingin segede Gaban di keningnya.
“Rahan. Kamu sukanya ngapain sih?”
“Kerja mas, eh om, cari duit,” jawabku gugup.
“Buat apa?”
“Buat biayain keluarga om. Adik saya masih kecil-kecil.”
“Oh gitu ya? Terus suka apa lagi yang lain?”
“Hah? Eh apa ya? Internetan om, Ngaskus… ngaskus, browsing google.”
“Hoo.. sama saja kaya saya ya. Disini saya juga internetan.”
Wah songong bener nih mahluk aneh satu, sinyal internet mana ada yang mau masuk belakang pekuburan begini. Aku nyolot dalam hati.
“Eits, anda sopan kami segan,” ucapnya memperingatkan.
“Iya.. iya .. maaf mas Bernard, eh om.”
“Kalo kamu kerja itu, dapat uangnya banyak engga?”
“Engga om. Sedikit, pas-pasan.”
“Sedikit, atau pas-pasan itu berapa?”
“3 jutaan sebulan.”
“Memang kamu maunya berapa?”
“5 jutaan sebulan. Biaya sekolah mahal sekarang.”
“Hm… begitu ya. Kamu mau ngga dapat uang banyak?”
“Mau.. mau banget, tapi yang halal tentunya. Saya takut sama uang haram. Ngga berkah om.”
“Hmm.. memang halal dan haram itu tau darimana?
“Dari cara dapatin uangnya lah. Kalo mencuri atau merampas hak orang lain, itu haram.”
“Oh, bukannya itu dosa ya?” ceplos Bernard lagi.
“Dosa dan haram, om.” kataku.
“Ya.. ya .. ya ,” ia manggut-manggut seperti orang tua.
“Selain kerja itu, kamu ada lagi pemasukan yang lain?”
“Ada om, buka lapak di kaskus om.”
Dia menatapku sebentar dengan tajam. Lalu kembali berbicara tanpa menatapku.
“Ya.. ya, memang itu engga haram ya? Kan film dan benda-benda itu, bukan kamu yang buat.”
Aku cuma nyengir kuda.
“Hm.. standar ganda ya.. Ya .. ya .. saya mengerti, manusia memang biasa begitu.”
“Nggak standar ganda om. Cuma …”
“Cuma apa?” tanyanya serius.
“Banyak yang butuh om, dan semua orang juga kaya gitu.”
“Ya … ya .. Kira-kira kalau adik kamu tahu kamu kasih dia uang haram tiap bulannya gimana?”
“Mungkin dia marah, om..”
“Mungkin?”
“Ya, namanya zaman sekarang om, yang penting uangnya, buat makan, buat bayar sekolah.”
Bernard cuma geleng-geleng kepala mendengar jawabanku. “Saya kecewa,” ucapnya.
Aneh sekali. Padahal aku belum mengetuk.
“Rahan, kan? Silakan duduk di sofa itu,” suruh si tuan rumah.
Aku pun menuruti saja. Duduk di sofa empuk, yang kupilih adalah bagian tengah. Tuan rumah adalah seorang laki-laki yang usianya sebaya denganku. Aku seperti familiar dengan orang ini meskipun aku belum pernah bertemu dengannya. Dia sedang membuat kopi sepertinya, maksudku menyeduh kopi yang biasa diiklankan di televisi. Lalu ia pun meletakkan kedua cangkir kopi hitam panas tersebut di atas meja.
“Kopi saja ya, saya tidak minum teh,” ucapnya tanpa ditanya.
Lalu ia mengulurkan lengannya untuk jabat tangan. Aku menjabat tangannya perlahan.
“Bernard.”
Kuanggap itu namanya, dan aku tidak menyebutkan namaku, karena aku anggap dia sudah tahu namaku.
“Bagaimana tadi perjalanan kesini? Gampang dicari kan alamatnya?”
“Gampang, mas Bernard. Begitu saya bilang Bernard yang rumahnya di belakang kompleks kuburan, orang-orang sekitar sini pada tahu semua dan menunjukkan jalan setapak itu.”
“Iya lah, semua orang disini kenal sama saya. Siapa yang ga kenal Bernard si Pemberani?” ucapnya menyombongkan diri.
“Hah? Itu nama julukan mas?”tanyaku kaget.
“Iya. Kenapa? Kamu pernah dengar tentang saya?”
“Ah enggak mas.. enggak, enggak pernah,” aku berbohong.
“Wah, kamu bohong barusan ya .. hayo ngaku .. jangan main-main kamu, masa ganteng-ganteng pembohong.” Ia berkata demikian sambil senyum.
Sial. Darimana dia bisa tahu kalau aku berbohong barusan ya? Siapa juga yang ga pernah dengar cerita Bernard si Pemberani. Orang yang berprofesi sebagai penggali kuburan sekaligus kuncen kuburan sejak usia 13 tahun. Cerita itu aku dengar waktu SMP dari temanku. Waktu itu lagi ngetren zaman telpon setan. Dari telpon umum kita bisa menelpon nomor .. sudah lupa berapa nomornya .. nah di nomor itu nanti di ujung sana ada suara setan yang menangis. Katanya sih itu cuma bohong-bohongan. Sampai suatu ketika, suara telpon itu memanggil-manggil nama Bernard. Aku ga ingat jelas gimana ujung cerita itu.
“Iya mas, pernah dengar dulu waktu saya masih kecil,” aku tersipu merasa tidak enak ketahuan berbohong.
“Ah, emangnya sekarang sudah besar ya? Sudah merasa tua ya?” Bernard menyerempet lagi dengan pertanyaan nyelenehnya.
“Enggak mas, biasa aja.” Aku ga tau mesti jawab apa.
“Dulu memang, yang didengar cerita yang mana?”
“Yang tentang telpon setan mas,” aku engga berani berbohong lagi.
“Oh kalo itu bohong.”
“Hah? Sumpah mas, kali ini saya engga bohong.” Aku berkeras setengah ketakutan. Seperti takut bakal disihir jadi kodok atau yang menyerupainya.
“Bukan begitu, maksud saya itu cuma cerita bohongan. Wong, yang nelpon itu saya koq. Hehehe.” Si Bernard malah tertawa nggak jelas.
Aku melamun sesaat. Ini orang maunya apa sih, suruh aku datang kesini segala. Orang ini agak-agak aneh. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Tiba-tiba dia memecahkan lamunanku.
“Oh gitu ya? Menurut kamu saya aneh? Kamu bingung saya mau apa suruh kamu datang kesini? Tidak, tenang saja, tidak bakal terjadi sesuatu yang buruk koq.”
Anjrit! Mampus! Dia bisa baca pikiran gw. Gw kaget setengah mati, sampe seluruh bulu kuduk berdiri.
“Wah om, ampun om, saya jangan diapa-apain om.” Engga tahu kenapa, tiba-tiba saja aku memanggil Bernard dengan sebutan om. Sumpah takut banget rasanya.
“Ayo diminum dulu kopinya, siapa tau ini jadi minuman terakhir kamu. Hehehe” Bernard terkekeh lagi.
Wah. Beneran nih, jelek nih kalo kaya gini caranya. Berurusan sama orang kaya gini, kabur juga percuma kayanya. Aku menyeruput kopi hitam itu dengan malas.
“Iya, ga usah kabur lah. Ngapain juga kabur-kabur segala. Percuma.”
Andai ini di komik-komik jepang, karakterku pasti sudah ada keringat dingin segede Gaban di keningnya.
--//--
“Rahan. Kamu sukanya ngapain sih?”
“Kerja mas, eh om, cari duit,” jawabku gugup.
“Buat apa?”
“Buat biayain keluarga om. Adik saya masih kecil-kecil.”
“Oh gitu ya? Terus suka apa lagi yang lain?”
“Hah? Eh apa ya? Internetan om, Ngaskus… ngaskus, browsing google.”
“Hoo.. sama saja kaya saya ya. Disini saya juga internetan.”
Wah songong bener nih mahluk aneh satu, sinyal internet mana ada yang mau masuk belakang pekuburan begini. Aku nyolot dalam hati.
“Eits, anda sopan kami segan,” ucapnya memperingatkan.
“Iya.. iya .. maaf mas Bernard, eh om.”
“Kalo kamu kerja itu, dapat uangnya banyak engga?”
“Engga om. Sedikit, pas-pasan.”
“Sedikit, atau pas-pasan itu berapa?”
“3 jutaan sebulan.”
“Memang kamu maunya berapa?”
“5 jutaan sebulan. Biaya sekolah mahal sekarang.”
“Hm… begitu ya. Kamu mau ngga dapat uang banyak?”
“Mau.. mau banget, tapi yang halal tentunya. Saya takut sama uang haram. Ngga berkah om.”
“Hmm.. memang halal dan haram itu tau darimana?
“Dari cara dapatin uangnya lah. Kalo mencuri atau merampas hak orang lain, itu haram.”
“Oh, bukannya itu dosa ya?” ceplos Bernard lagi.
“Dosa dan haram, om.” kataku.
“Ya.. ya .. ya ,” ia manggut-manggut seperti orang tua.
“Selain kerja itu, kamu ada lagi pemasukan yang lain?”
“Ada om, buka lapak di kaskus om.”
Dia menatapku sebentar dengan tajam. Lalu kembali berbicara tanpa menatapku.
“Ya.. ya, memang itu engga haram ya? Kan film dan benda-benda itu, bukan kamu yang buat.”
Aku cuma nyengir kuda.
“Hm.. standar ganda ya.. Ya .. ya .. saya mengerti, manusia memang biasa begitu.”
“Nggak standar ganda om. Cuma …”
“Cuma apa?” tanyanya serius.
“Banyak yang butuh om, dan semua orang juga kaya gitu.”
“Ya … ya .. Kira-kira kalau adik kamu tahu kamu kasih dia uang haram tiap bulannya gimana?”
“Mungkin dia marah, om..”
“Mungkin?”
“Ya, namanya zaman sekarang om, yang penting uangnya, buat makan, buat bayar sekolah.”
Bernard cuma geleng-geleng kepala mendengar jawabanku. “Saya kecewa,” ucapnya.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 13:07
0