Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#89
AYUNIR’S WEDDING

Seharusnya tidak ada orang yang mabuk datang ke suatu pesta pernikahan. Akan ada resiko kekacauan yang timbul di saat-saat penting semacam itu. Aku memang tidak mabuk saat datang ke resepsi pernikahan Ayunir yang mana sebetulnya aku tidak diundang. Tetapi aku lebih dari siap untuk membuat kekacauan saat itu. Meskipun demikian, aku memutuskan untuk coba lebih keras dalam menahan emosi. Dan aku pun menunggu.

Akhirnya, para tamu undangan pun dipersilakan untuk menikmati sajian yang sudah disiapkan oleh keluarga mempelai. Mempelai pria dan mempelai wanita sedang asyik mengambil foto kenangan bersama tamu-tamu undangan, dan aku pun dengan langkah pelan tapi pasti naik ke atas panggung. Aku dan Ay beradu pandang beberapa saat lamanya. Ia nampak bingung dan takut. Aku berdiri di depan pengantin pria. “Mas, boleh saya bicara sama Ay sebentar ya? 5 menit?”

Pengantin pria bingung dan menatap Ay. Tapi akhirnya ia mengangguk. Kugenggam tangan kiri Ay dengan keras, “Ikut aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan.”

Dan aku pun membawanya ke area belakang gedung yang tidak terlalu banyak orang. Ay menuruti ajakanku. Kami berdua berdiri berhadapan dan saling berpandangan.

“Kamu masih tetap cantik Ay,”

I don’t have time for this Rahan. Just tell me what you want.”

Did you forget, that I said I love you? That I said you should be with me.”

“Dan aku bilang agar kau jauh-jauh dariku. Aku ngga pernah ingin lihat kamu lagi,..”

Yes, I did. I did try to stay away from you. Satu tahun Ay! Satu tahun aku di Bandung dan aku tidak ganggu kamu, tidak telpon, atau apapun, tetapi ketika akhirnya aku masuk kesana 2002, kamu udah ga ada. Apa-apaan itu? Dan apa-apaan pernikahan ini. Aku bilang jangan terlalu serius dengan Barma. But then what did you do, you left him, and then all this marriage shit … What the fuck, Ay?”

“Bagian mana yang rusak di otakmu Rahan? Karena aku tidak ingat aku harus lapor-lapor apa yang ingin kulakukan denganmu?” nada suaranya meninggi.

“Tapi kau menciumku?” ucapku.

Yeah, so what?! It was just a kiss. Aku sama sekali ga berpikir untukmu menanggapinya dengan serius. You should chill really, lighten up. Coz you’re freaking me out here!”

Plakkk! Kutampar pipi kanan Ay dengan keras.

It was just a kiss, katamu. Hanya sebuah ciuman? That was my only kiss ever! Tahun-tahun yang kuhabiskan di Bandung untuk bersama kamu, semuanya berlalu dengan sia-sia, karena kamu tidak pernah ada, tetapi satu kejap pun aku engga pernah bisa ngelupain kamu!” Aku merasa diriku penuh dengan amarah dan mulai kesulitan menahan seluruh tubuhku yang mulai bergetar.

“Aku ga ngerti,” Ay berkata pelan sambil mengusap pipinya yang baru saja kutampar.

Aku menarik nafas pelan. “I love you Ay. Aku selalu suka sama kamu. Bagian mana yang kamu ga ngerti.”

“Apa kau gila? Kau itu kakaknya Barma! Aku sebenarnya tidak punya urusan apapun denganmu.”

“That’s why I went to Bandung. Aku pikir kau pasti akan ada disana. Dan kita bisa jalani semuanya tanpa harus menyakiti perasaan adikku.”

“Gila! Kau tahu apa Rahan, kau ini benar-benar gila! Sekarang sebaiknya kau pergi dari sini. Aku sedang ada pernikahan yang harus kuurus dan kau, aku tak akan memaafkanmu jika kau … jika kau sedikit saja membuat kekacauan disini. Pergi sekarang. Demi kebaikanmu.” Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan pelan, dan jelas Ay sangat marah dan mengancam.

Aku berlalu dari pandangannya, dan perlahan berjalan ke arah kerumunan tamu yang masih menikmati hidangan makan malam. Ada seorang anak perempuan kecil berjalan berpapasan denganku. Ia berjalan ke arah Ay.
“Kak Ayu, kak Ayu nangis ya? kenapa nangis? Kak Ayu dicariin sama om Rahmat tuh.”

--//--


Sekitar sepuluh menit kemudian. Ayunir masih sibuk dengan tamu-tamunya di atas panggung bersalam-salaman. Aku telah meminjam microphone dari pembawa rangkaian acara pernikahan. Dan aku mulai menggunakannya. Berdiri dengan jarak 10 meter dari depan panggung.

“Untuk pengantin pria, saya ingin memperingatkan, agar anda lebih berhati-hati dengan istri anda.”

Semua mata menatap padaku. Ayunir sangat terkejut hingga ia tak bisa bersuara. Pengantin pria tampak bingung.

“Sebelum bersama anda, istri anda adalah kekasih adik saya. Adik saya, sangat menyayangi istri anda dengan sepenuh hatinya. Tetapi lalu, jelas bahwa Ayunir lebih memilih anda karena anda punya lebih banyak harta.”

Terdengar bisik-bisik orang banyak seperti dengung ribuan lebah.

“Tapi itu tidak buruk. Tidak buruk sama sekali. Hanya saja, malang bagi saya karena adik saya sekarang memilih untuk menjalani hubungan dengan sesama pria, karena istri anda memilih anda! Istri anda tentu tidak menceritakan itu bukan? Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Untuk kedua mempelai. Semoga bahagia. Selamat menempuh hidup baru.” Lalu kuserahkan lagi mic tersebut kepada si pembawa acara.

Ratusan pasang mata mengamatiku, tapi aku merasakan punggungku panas, karena ku tahu pasti Ayunir sedang menatapku penuh amarah. Dan aku pun berlalu.
--//--


I'll sing it one last time for you
Then we really have to go
You've been the only thing that's right
In all I've done

And I can barely look at you
But every single time I do
I know we'll make it anywhere
Away from here

Light up, light up
As if you have a choice
Even if you cannot hear my voice
I'll be right beside you dear

Louder, louder
And we'll run for our lives
I can hardly speak I understand
Why you can't raise your voice to say

(Snow Patrol - 2004 - Run)
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.