- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#87
A KISS FROM MY BROTHER
Saat sadarkan diri, aku berada di … di suatu tempat. Ya, di rumah kos Barma. Aku rupanya dibaringkan di sofa panjang. Badanku masih terasa nyeri, dan kepalaku masih agak pusing. Barma duduk di depanku sambil merokok serta ada asbak dan secangkir kopi hitam di atas meja.
“Apa-apaan sih tadi bang? Kacau gitu kayanya?” kening Barma mengkerut, dan mukanya masih tampak kesal.
“Lo yang apa-apaan. Kemana aja lo 5 tahun ga ada kontak? Gw tanya Om Hendra tadi pas gw sampe, dia bilang uang lo masih utuh. Maksud lo apa kaya gitu?”
“Lah, kan Abang yang pergi? Kenapa Barma yang mesti nyari?”
“Setidaknya kasih nomor kontak apa alamat lo brengsek! Gimana gua mau hubungin coba? Lo tu keluarga gw satu-satunya.”
“Ah udahlah bang, ga usah bawa-bawa keluarga. Ga ngaruh juga keluarga atau apa kalau jauh-jauhan. Kita cuma kebetulan aja lahir dari orang tua yang sama. Selebihnya kita ga ada persamaan.”
“Maksud lo apa?”
“Iyalah, abang pintar, abang tahu apa yang abang mau, abang bisa kerja, kuliah, dan jadi sukses seperti mimpi-mimpi abang. Barma cuma punya basket. Basket dan Rio” nada suaranya gemetar.
”Jadi bener lo Gay? Parah lo ya. Sejak kapan ada orangtua kita ngajarin kaya gitu. Gw tinggal makin sesat lo ya. Lo bukannya punya Ayunir? Lo bilang mau jadi pria terbaik buat dia. Mana omongan lo? Najis.”
“Ay? Heh!” Barma mendengus sinis.
“Apa itu?”aku tak mengerti
“Ay mutusin gw. Benar semua yang abang bilang. Ay cuma have fun saja waktu itu sama Barma. Barma sih ga pa-apa, asal dia bahagia lah. Oh ya, kebeneran abang pulang. Bulan depan Ay nikah. Tanggal 2. Tapi bukan sama gw.”
“Lo jadi gay, lo bilang itu ga pa apa?
“Sekarang abang judgmental ya. Kalo ga ngerti apa-apa ga usah ngomong deh bang, jangan sok ngerasa kenal gw. Jangan sok pinter. Lo ama gw cuma sedarah. Ga lebih.”
Tiba-tiba dia bangun dan menciumku di bibir. Adikku menciumku di bibir. Beberapa detik kemudian ia lepaskan ciuman itu.
“Pergi lah bang, Rio bentar lagi mau datang. Gw ga mau ada ribut lagi.”
Shock atas apa yang baru saja terjadi, aku melangkah tanpa bisa berfikir, tanpa bisa …
Saat sadarkan diri, aku berada di … di suatu tempat. Ya, di rumah kos Barma. Aku rupanya dibaringkan di sofa panjang. Badanku masih terasa nyeri, dan kepalaku masih agak pusing. Barma duduk di depanku sambil merokok serta ada asbak dan secangkir kopi hitam di atas meja.
“Apa-apaan sih tadi bang? Kacau gitu kayanya?” kening Barma mengkerut, dan mukanya masih tampak kesal.
“Lo yang apa-apaan. Kemana aja lo 5 tahun ga ada kontak? Gw tanya Om Hendra tadi pas gw sampe, dia bilang uang lo masih utuh. Maksud lo apa kaya gitu?”
“Lah, kan Abang yang pergi? Kenapa Barma yang mesti nyari?”
“Setidaknya kasih nomor kontak apa alamat lo brengsek! Gimana gua mau hubungin coba? Lo tu keluarga gw satu-satunya.”
“Ah udahlah bang, ga usah bawa-bawa keluarga. Ga ngaruh juga keluarga atau apa kalau jauh-jauhan. Kita cuma kebetulan aja lahir dari orang tua yang sama. Selebihnya kita ga ada persamaan.”
“Maksud lo apa?”
“Iyalah, abang pintar, abang tahu apa yang abang mau, abang bisa kerja, kuliah, dan jadi sukses seperti mimpi-mimpi abang. Barma cuma punya basket. Basket dan Rio” nada suaranya gemetar.
”Jadi bener lo Gay? Parah lo ya. Sejak kapan ada orangtua kita ngajarin kaya gitu. Gw tinggal makin sesat lo ya. Lo bukannya punya Ayunir? Lo bilang mau jadi pria terbaik buat dia. Mana omongan lo? Najis.”
“Ay? Heh!” Barma mendengus sinis.
“Apa itu?”aku tak mengerti
“Ay mutusin gw. Benar semua yang abang bilang. Ay cuma have fun saja waktu itu sama Barma. Barma sih ga pa-apa, asal dia bahagia lah. Oh ya, kebeneran abang pulang. Bulan depan Ay nikah. Tanggal 2. Tapi bukan sama gw.”
“Lo jadi gay, lo bilang itu ga pa apa?
“Sekarang abang judgmental ya. Kalo ga ngerti apa-apa ga usah ngomong deh bang, jangan sok ngerasa kenal gw. Jangan sok pinter. Lo ama gw cuma sedarah. Ga lebih.”
Tiba-tiba dia bangun dan menciumku di bibir. Adikku menciumku di bibir. Beberapa detik kemudian ia lepaskan ciuman itu.
“Pergi lah bang, Rio bentar lagi mau datang. Gw ga mau ada ribut lagi.”
Shock atas apa yang baru saja terjadi, aku melangkah tanpa bisa berfikir, tanpa bisa …
Diubah oleh rahan 05-06-2013 22:55
0