- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#79
A NEW PLACE
Bandung. Parahyangan. Padjadjaran. Pasundan. Aku tak pernah benar-benar tahu persis apa beda ketiga P tersebut. Aku datang saat itu dengan tumpukan uang hasil penjualan rumah bersarang di rekening bank. Suatu kesempatan untuk memulai hidup baru. Dan aku benar-benar sendiri. Apakah akan ada sesuatu yang indah menantiku di sini? Well, I don’t know. Perhentian pertamaku adalah kunjungan sementara pada teman masa kecilku yang menghabiskan masa SMA nya di Bandung. Namanya Andromeda. Ia tinggal di Daerah Haji Akbar, Kebon Kawung, dimana kuhabiskan dua minggu pertamaku bersamanya.
Teman masa kecil selalu menyenangkan, kurasa karena kami punya banyak kenangan untuk diperbincangkan. Aku melihat tinggi padanya, karena ia adalah anak yang sangat rajin, dan punya kepribadian hangat. Lama tidak bertemu, aku jadi sadar bahwa selama ini aku memang katak dalam tempurung. Dari Andromeda aku belajar beberapa hal yang bisa jadi merupakan pengetahuan umum, tapi datang dari seorang teman, hal-hal semacam itu sangat mempengaruhiku.
Di Bandung, terutama di daerah haji Akbar ini, banyak sekali gang-gang sempit dan tentu orang-orang duduk maupun pejalan kaki lain adalah suatu hal yang biasa ditemui. Kata punten atau permisi seraya sedikit menundukkan badan adalah tanda kita menghormati orang lain. Sederhana, tapi aku sungguh tidak terbiasa. Dan ini menjadi pengalaman yang menarik bagiku. Kata-kata bahasa Sunda pertamaku pun aku pelajari dari dia, seperti meser, wilujeng, ibak, cai, tos, seep, uwih, bade, poho dan semacamnya.
Di kamar Andromeda, yang belakangan menjadi kamarku setelah ia berangkat pulang ke Palembang untuk kuliah kedokteran di UNSRI, banyak terdapat Majalah yang memuat Kunci Gitar. Tentu aku suka musik, tetapi bermain musik adalah sesuatu yang sama sekali baru untukku. Ia pun dengan senang hati mengajariku bermain gitar. Dan seterusnya, gitar adalah sahabat karibku.
Keberagaman Indonesia mulai kurasakan, karena di rumah kos tersebut, yang hanya terdiri dari 3 kamar, penghuni lainnya adalah para pegawai bank, satu orang berasal dari Papua, dan yang satu lagi dari Manado. Di saat-saat senggang, kami saling bercerita tentang kejadian sehari-hari, mulai dari aktivitas main bola voli profesional, hingga tentang anak ibu kos yang cantik jelita. Hmm, kecantikan perempuan Bandung, mungkin sudah menjadi rahasia umum yang tak perlu dijelaskan lebih jauh.
Di malam terakhirnya, Andromeda menceritakan pengalaman semasa tahun-tahun sekolahnya di Bandung. Ia menyebutkan secara tidak langsung bahwa tidur bersama antara remaja pria dan wanita adalah sesuatu yang ‘biasa saja’. Ia menyarankan kepadaku agar luwes dalam bergaul dan tidak terjebak pada hal-hal yang melewati norma semacam itu. Di sisi lain, ia juga menasihatiku agar tidak bersikap menghakimi atau pun memandang negatif pada orang-orang yang kita kenal yang berlaku seperti itu. Dia bilang, “To put it short, it is a common sense that everyone should mind their own business.” Di tahun-tahun berikutnya, aku mendapati bahwa apa yang disampaikannya ini bukanlah pepesan kosong. Dan aku berterimakasih sekali atas ‘wejangan’ terakhirnya ini. Bukankah itu gunanya teman untuk saling mengingatkan?
Hari-hari tahun pertama selepas Andromeda pergi, aku habiskan dengan menjalani kursus bahasa Inggris di LIA Riau, kelas Conversation. Selebihnya, tak ada yang berarti selain berpaling pada mIRC, aplikasi obrolan internet, dan itulah saat dimana aku mulai menghabiskan waktuku antara internet dan kursus bahasa Inggris. Tak ada yang menarik. Tak ada yang mencerahkan. Dan satu tahun pun berlalu. Tanpa Barma, tanpa Ayunir, tanpa ada satupun orang yang bisa kuajak bicara. Tanpa kusadari, aku tersesat dalam deru waktu.
Arah perjalanan takdir membawaku beberapa puluh kilometer jauhnya dari Bandung, suatu ‘desa’ kecil sekaligus pusat pendidikan bernama Jatinangor.
Benda aneh yang membawaku kesana adalah DAMRI, suatu angkutan menyerupai bis, tapi bis ini dilengkapi dengan daya magis. Daya magis tergantung amalan dari si penumpang itu sendiri. Jika amalan anda ‘buruk’, kemungkinan besar anda akan terkapar selama perjalanan dengan mata terpejam dan air iler (apakah iler dan liur merujuk pada hal yang sama? Aku selalu berpikir kalau kata iler hanya untuk orang yang sedang tidur, sedangkan air liur adalah untuk orang yang sedang terjaga) kemana-mana. Ya, dan ini bukan omong kosong, DAMRI punya kemampuan menghipnotis seluruh penumpangnya tertidur selama perjalanan. Bila amalan anda ‘bagus’, maka anda bisa beruntung mendapatkan rekan seperjalanan wanita cantik nan ramah (jika anda pria), atau pria ganteng yang tidak playboy dan belum punya pacar (jika anda wanita) duduk di samping anda. Perjalanan menjadi menyenangkan, dan jika anda mendapatkan kesempatan emas semacam ini, cobalah lihat ke sekeliling, banyak mata-mata dengki menatap anda. Ada dua alasan mereka menatap seperti itu, yang pertama jelas karena anda duduk (sementara mereka berdiri menahan pegal 2 jam perjalanan) dan yang kedua karena anda duduk dengan ‘seseorang yang menyenangkan’. Tapi jangan terlalu khawatir. Tak lebih dari 10 menit mereka akan sudah tertidur di bawah hipnotis DAMRI tersebut.
Apa yang kulakukan di Jatinangor? Aku masuk kuliah Sastra Inggris. Jurusan yang sama dengan Ayunir. Aku berharap bisa bertemu dan mengenalnya lebih dekat. Apa mau dikata? Yang kutemukan hanyalah skripsi tulisannya. Ia telah lebih dulu lulus dan aku hanya terbawa hembusan angin ketika kuputuskan untuk tetap menjalani studi disana, tanpa ada Ayunir. Aku pikir, Bandung sudah kehabisan daya tariknya dan sudah saatnya untukku menjadi mahasiswa.
Apa yang menarik dengan tahun-tahunku di Jatinangor? Di awal kedatangan, ada dua tempat yang sangat kusukai, yaitu Jembatan Cincin, yang menurut kabar burung pernah menjadi tempat bunuh diri seorang kekasih yang kisah cintanya tidak berjalan dengan baik. Jembatan tersebut membentangkan pemandangan ke arah sawah dan pegunungan dan konon katanya jembatan tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Dan satu lagi adalah masjid Ibnu Sina yang juga hamparan halaman belakangnya memudahkan kita melihat perbukitan nun jauh disana. Sungguh suatu masjid yang menyejukkan hati. Dan kupikir, suatu siang seusai kutunaikan dzuhurku disana, ‘Jatinangor, aku milikmu saat ini.’ Aku mencoba sebaik mungkin untuk beradaptasi. Meskipun jujur, di dalam hati ini telah mati, dan semuanya sangat terasa membosankan. Aku telah kehilangan kemampuan untuk berbahagia sejak kejadian itu. Ibu, Ayah, Barma, maafkan aku. Yes, I think I’m dead inside.
Bandung. Parahyangan. Padjadjaran. Pasundan. Aku tak pernah benar-benar tahu persis apa beda ketiga P tersebut. Aku datang saat itu dengan tumpukan uang hasil penjualan rumah bersarang di rekening bank. Suatu kesempatan untuk memulai hidup baru. Dan aku benar-benar sendiri. Apakah akan ada sesuatu yang indah menantiku di sini? Well, I don’t know. Perhentian pertamaku adalah kunjungan sementara pada teman masa kecilku yang menghabiskan masa SMA nya di Bandung. Namanya Andromeda. Ia tinggal di Daerah Haji Akbar, Kebon Kawung, dimana kuhabiskan dua minggu pertamaku bersamanya.
Teman masa kecil selalu menyenangkan, kurasa karena kami punya banyak kenangan untuk diperbincangkan. Aku melihat tinggi padanya, karena ia adalah anak yang sangat rajin, dan punya kepribadian hangat. Lama tidak bertemu, aku jadi sadar bahwa selama ini aku memang katak dalam tempurung. Dari Andromeda aku belajar beberapa hal yang bisa jadi merupakan pengetahuan umum, tapi datang dari seorang teman, hal-hal semacam itu sangat mempengaruhiku.
Di Bandung, terutama di daerah haji Akbar ini, banyak sekali gang-gang sempit dan tentu orang-orang duduk maupun pejalan kaki lain adalah suatu hal yang biasa ditemui. Kata punten atau permisi seraya sedikit menundukkan badan adalah tanda kita menghormati orang lain. Sederhana, tapi aku sungguh tidak terbiasa. Dan ini menjadi pengalaman yang menarik bagiku. Kata-kata bahasa Sunda pertamaku pun aku pelajari dari dia, seperti meser, wilujeng, ibak, cai, tos, seep, uwih, bade, poho dan semacamnya.
Di kamar Andromeda, yang belakangan menjadi kamarku setelah ia berangkat pulang ke Palembang untuk kuliah kedokteran di UNSRI, banyak terdapat Majalah yang memuat Kunci Gitar. Tentu aku suka musik, tetapi bermain musik adalah sesuatu yang sama sekali baru untukku. Ia pun dengan senang hati mengajariku bermain gitar. Dan seterusnya, gitar adalah sahabat karibku.
Keberagaman Indonesia mulai kurasakan, karena di rumah kos tersebut, yang hanya terdiri dari 3 kamar, penghuni lainnya adalah para pegawai bank, satu orang berasal dari Papua, dan yang satu lagi dari Manado. Di saat-saat senggang, kami saling bercerita tentang kejadian sehari-hari, mulai dari aktivitas main bola voli profesional, hingga tentang anak ibu kos yang cantik jelita. Hmm, kecantikan perempuan Bandung, mungkin sudah menjadi rahasia umum yang tak perlu dijelaskan lebih jauh.
Di malam terakhirnya, Andromeda menceritakan pengalaman semasa tahun-tahun sekolahnya di Bandung. Ia menyebutkan secara tidak langsung bahwa tidur bersama antara remaja pria dan wanita adalah sesuatu yang ‘biasa saja’. Ia menyarankan kepadaku agar luwes dalam bergaul dan tidak terjebak pada hal-hal yang melewati norma semacam itu. Di sisi lain, ia juga menasihatiku agar tidak bersikap menghakimi atau pun memandang negatif pada orang-orang yang kita kenal yang berlaku seperti itu. Dia bilang, “To put it short, it is a common sense that everyone should mind their own business.” Di tahun-tahun berikutnya, aku mendapati bahwa apa yang disampaikannya ini bukanlah pepesan kosong. Dan aku berterimakasih sekali atas ‘wejangan’ terakhirnya ini. Bukankah itu gunanya teman untuk saling mengingatkan?
Hari-hari tahun pertama selepas Andromeda pergi, aku habiskan dengan menjalani kursus bahasa Inggris di LIA Riau, kelas Conversation. Selebihnya, tak ada yang berarti selain berpaling pada mIRC, aplikasi obrolan internet, dan itulah saat dimana aku mulai menghabiskan waktuku antara internet dan kursus bahasa Inggris. Tak ada yang menarik. Tak ada yang mencerahkan. Dan satu tahun pun berlalu. Tanpa Barma, tanpa Ayunir, tanpa ada satupun orang yang bisa kuajak bicara. Tanpa kusadari, aku tersesat dalam deru waktu.
--//--
Arah perjalanan takdir membawaku beberapa puluh kilometer jauhnya dari Bandung, suatu ‘desa’ kecil sekaligus pusat pendidikan bernama Jatinangor.
Benda aneh yang membawaku kesana adalah DAMRI, suatu angkutan menyerupai bis, tapi bis ini dilengkapi dengan daya magis. Daya magis tergantung amalan dari si penumpang itu sendiri. Jika amalan anda ‘buruk’, kemungkinan besar anda akan terkapar selama perjalanan dengan mata terpejam dan air iler (apakah iler dan liur merujuk pada hal yang sama? Aku selalu berpikir kalau kata iler hanya untuk orang yang sedang tidur, sedangkan air liur adalah untuk orang yang sedang terjaga) kemana-mana. Ya, dan ini bukan omong kosong, DAMRI punya kemampuan menghipnotis seluruh penumpangnya tertidur selama perjalanan. Bila amalan anda ‘bagus’, maka anda bisa beruntung mendapatkan rekan seperjalanan wanita cantik nan ramah (jika anda pria), atau pria ganteng yang tidak playboy dan belum punya pacar (jika anda wanita) duduk di samping anda. Perjalanan menjadi menyenangkan, dan jika anda mendapatkan kesempatan emas semacam ini, cobalah lihat ke sekeliling, banyak mata-mata dengki menatap anda. Ada dua alasan mereka menatap seperti itu, yang pertama jelas karena anda duduk (sementara mereka berdiri menahan pegal 2 jam perjalanan) dan yang kedua karena anda duduk dengan ‘seseorang yang menyenangkan’. Tapi jangan terlalu khawatir. Tak lebih dari 10 menit mereka akan sudah tertidur di bawah hipnotis DAMRI tersebut.
Apa yang kulakukan di Jatinangor? Aku masuk kuliah Sastra Inggris. Jurusan yang sama dengan Ayunir. Aku berharap bisa bertemu dan mengenalnya lebih dekat. Apa mau dikata? Yang kutemukan hanyalah skripsi tulisannya. Ia telah lebih dulu lulus dan aku hanya terbawa hembusan angin ketika kuputuskan untuk tetap menjalani studi disana, tanpa ada Ayunir. Aku pikir, Bandung sudah kehabisan daya tariknya dan sudah saatnya untukku menjadi mahasiswa.
Apa yang menarik dengan tahun-tahunku di Jatinangor? Di awal kedatangan, ada dua tempat yang sangat kusukai, yaitu Jembatan Cincin, yang menurut kabar burung pernah menjadi tempat bunuh diri seorang kekasih yang kisah cintanya tidak berjalan dengan baik. Jembatan tersebut membentangkan pemandangan ke arah sawah dan pegunungan dan konon katanya jembatan tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Dan satu lagi adalah masjid Ibnu Sina yang juga hamparan halaman belakangnya memudahkan kita melihat perbukitan nun jauh disana. Sungguh suatu masjid yang menyejukkan hati. Dan kupikir, suatu siang seusai kutunaikan dzuhurku disana, ‘Jatinangor, aku milikmu saat ini.’ Aku mencoba sebaik mungkin untuk beradaptasi. Meskipun jujur, di dalam hati ini telah mati, dan semuanya sangat terasa membosankan. Aku telah kehilangan kemampuan untuk berbahagia sejak kejadian itu. Ibu, Ayah, Barma, maafkan aku. Yes, I think I’m dead inside.
Oh, we're sinking like stones,
All that we fought for,
All those places we've gone,
All of us are done for.
We live in a beautiful world,
Yeah we do, yeah we do,
We live in a beautiful world,
Oh, we're sinking like stones,
All that we fought for,
Homes, places we've grown
all of us are done for
(Coldplay, 2001, Don't Panic)
All that we fought for,
All those places we've gone,
All of us are done for.
We live in a beautiful world,
Yeah we do, yeah we do,
We live in a beautiful world,
Oh, we're sinking like stones,
All that we fought for,
Homes, places we've grown
all of us are done for
(Coldplay, 2001, Don't Panic)
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:52
0