- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#76
THIS IS FAREWELL - Juli 2001
“Rokok?” ucapnya seraya menawarkan sebungkus Marlboro yang baru dibukanya.
“Ngga lah, nanti saja sehabis makan di Pagi Sore,” jawabku.
Dia mengambil sebatang dan menyelipkan ke sela bibirnya. Ada sesuatu yang khas dari cara Barma menahan batang rokok di sela bibirnya. Ia menjepitnya dengan agak miring. Ia pernah bilang padaku suatu ketika, “Bang, look at me, begini cara Andy Lau merokok.” Dan sejak saat itu ia selalu tampil dengan gaya ‘Andy Lau’nya. Ia lalu mengambil zippo dari saku jaketnya dan menyalakan rokok tersebut.
Saat itu kami sedang berada di Kolonel Atmo, banyak pool bis antar kota disana, dan aku akan berangkat dengan bis. Menempuh 18 jam perjalanan dengan satu-satunya hiburan adalah walkman dan beberapa kaset yang sudah kusiapkan. Tidak ada yang bisa membunuh kebosanan selain musik. Tapi saat ini musik dan baterai walkman bukanlah hal yang mengganggu karena aku sudah mempersiapkannya tadi malam.
Hari ini, aku akan meninggalkan kota Palembang dengan tujuan Bandung. Meninggalkan masa lalu demi menuju masa depan. Meninggalkan kenangan buruk suatu pembunuhan dengan berharap bertemu keajaiban. Meninggalkan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Yang terakhir ini tidak akan tergantikan. Aku tak tahu mengapa aku harus meninggalkan dia. Haruskah aku meninggalkan satu-satunya keluargaku yang masih hidup? Aku mungkin tidak ‘harus’ meninggalkan dia, tetapi dengan kepergianku ini, aku ‘akan’ meninggalkan dia. Apakah orang lain juga memikirkan keluarganya seperti ini? Sedalam ini? Ketika mereka akan berpisah? Ataukah orang lain memikirkan keluarganya seperti ini, setiap saat? Apakah keluarga harus selalu saling berada di sisi satu sama lain?
Aku kembali teringat saat ibu dan ayahku masih hidup. Aku selalu berkeras ingin pergi dan kuliah di luar pulau Sumatera. Aku ingin melihat pulau Jawa, aku ingin melihat tempat-tempat lain, aku tidak ingin menjadi sekedar katak dalam tempurung. Selalu alasan yang itu-itu juga kugunakan dalam argumenku dengan orangtuaku. Dan saat tensi perdebatan memanas, ibu selalu mengucapkan argumen yang sama,“Tapi keluargamu disini, Nak. Ya kan?” Argumen yang sama, kata-kata yang sama, selalu, setiap waktu. Aku selalu mereda, dan memutuskan untuk mengalah setiap kalinya pula, hingga pada suatu saat aku lepas kendali dan berkata, “Ya, keluargaku memang disini, tapi coba jelaskan lagi padaku, apa pentingnya keluarga untukku? Jelaskan, ayah ibu. Karena Rahan punya mimpi. Dan bila terus seperti ini, Rahan hanya melihat keluarga sebagai penghambat.”
Aku mengucapkannya dengan pelan. Tetapi ibu langsung menangis. Sedangkan ayah menatapku dengan sangat marah, lalu ia membuang badan dan melangkah ke luar rumah. Ibu yang menangis membuatku merasa bodoh dan bersalah. Aku menunggu ia selesai. Dan tatkala ia sudah mengusap air matanya, ia hanya berkata, “Minta maaflah pada ayahmu.”
Malam harinya, ayah, ibu, aku dan Barma, kami semua berkumpul. Ini rutin, dan biasanya ayah akan memberikan wejangan panjang lebar. Tetapi malam itu tidak, beliau hanya berucap, “Putraku, lakukan apa yang ingin kalian lakukan, kami akan selalu mendoakanmu.” Lalu keduanya masuk ke kamar tidur. Meninggalkan aku dan Barma di ruang keluarga. Omong kosong apa ini pikirku. Apakah ini cara mereka menghukum kesalahanku? Aku tak pernah mengerti.
“Bang, menurut abang Ayunir gimana orangnya?” ucapan Barma menghamburkan lamunanku.
“Ay? Kamu minta pendapat abang soal Ay? Hmm … gimana ya, anaknya cantik, otaknya agak keblinger, tapi itu bukan masalah sih ya …”jawabku.
“Terus, kok berhenti? Kalo itu bukan masalah, apa masalahnya?”
“It’s obvious, can’t you see? She’s older than you. Dia lebih tua daripada kau.”
“Emang itu masalah?”
“Oh ya. Jelas. It is a problem. A big one.”
“Aku ga ngerti.”
“It’s like this. Wanita yang lebih tua, hubungan dengan pria yang lebih muda, itu biasanya hanya untuk senang-senang, biar unik. Beberapa orang senang sesuatu yang melawan arus. Orang-orang semacam ini tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau mainstream, mayoritas. Cewek lain suka boysband, mereka suka musik lain. Cewek lain suka boneka, mereka suka hobi yang lain. Cewek lain tidak suka rokok, mereka suka. Cewek lain suka pria tua, mereka cari pria muda. Now, can you see the pattern? Mereka selalu ingin beda.”
“Trus apa masalahnya? Panjang lebar, tapi masih ga jelas apa masalahnya?
“Tidak masalah memang. Jika bisa konsisten. Sayangnya, sikap rebel kaya gini hanya sementara saja Barma. Hingga pada suatu titik, mereka akan perlu menikah, dan mereka akan mencari pria yang lebih tua, hanya karena satu alasan, wanita selalu, catat omongan Abang, selalu mencari pria yang mapan. Bila ada pilihan antara yang mapan dan yang tidak mapan. Common sense wanita akan tuntun mereka pilih yang lebih mapan. Itu tentunya masalah bagi pria yang muda.”
“Tidak jugalah, artinya selama Barma bisa mapan, Ayunir akan selalu ada di sisi Barma kan? I think I can do that.”
“Oh ya? Maybe, it’s possible. Tapi, ada satu hal lain lagi, hingga pada suatu saat wanita yang lebih tua akan selalu mencari alasan untuk mengatakan bahwa pasangannya kekanak-kanakan. Dengan kata lain, mereka akan merasa tua.”
“What? It doesn’t even make sense.”
“It is. Wanita di rumah. Pria kerja di luar rumah. Mereka akan selalu mencurigai kita punya affair dengan wanita yang lebih muda.”
“This is bullshit. How do you come up with all that?”
“It’s true.”
“Bullshit.”
“That’s how it works.”
“You’re mysogynist. That’s what you are. A big one.”
“Call me what you like. I stand true to my words.”
Ia memukul bahuku pelan. Dan kami berdua tertawa lepas. Meskipun siang itu seperti biasanya di Palembang mentari bersinar sangat terik, tapi aku merasakan hangat saat itu. Benar-benar situasi yang bisa dinikmati. Aku suka berbicara dengan adikku. Mungkin aku seharusnya lebih sering berbicara dengannya sebelum ini.
Dan bis yang akan membawaku pun datang. Petugas pool mulai meminta penumpang untuk naik dan aku serta Barma naik ke atas bis. Ia membawakan salah satu tas yang berisi pakaian. Aku duduk di kursi 2A, selang satu baris dari kursi supir. 2A berarti aku duduk dekat dengan jendela, dan aku suka duduk disana. Entah mengapa nuansa perjalanan akan lebih terasa jika duduk dekat jendela.
“Oke, Barma pulang ya bang. Hati-hati dijalan.”
“Kau juga, jaga dirimu baik-baik. Ayunir, sampaikan saja salamku.”
“Sip.”
“Oh ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Aku sudah lama penasaran.”
“Shoot it.”
“Ingat waktu ayah bilang ‘lakukan apa yang ingin kalian lakukan, kami akan selalu mendoakanmu’? Apa maksudnya? Apa itu tulus? Kukira mereka marah padaku.”
Barma tersenyum kecil.
“Abang, abang. Kukira mau tanya apa. Namanya orang tua manapun, ingin anaknya ada di dekatnya jadi bisa diawasi, dirawat, diasuh, dijaga. Kalau anaknya jauh, orang tua hanya bisa mendoakan. Apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan ayah dan ibu, kalau abang jauh. Dan itu sangat berat. Udah ya. Bye.”
“Bye.”
Sial. Aku tak tahu itu. Aku semakin tenggelam dalam rasa bersalah. Dan bis yang kunaiki mulai berjalan pelan. Saat aku memandang keluar, tak lagi kulihat Barma. Aku tak punya siapapun untuk kulambaikan tangan saat terakhir meninggalkan Palembang. This is farewell. Ya, inilah perpisahan.
“Rokok?” ucapnya seraya menawarkan sebungkus Marlboro yang baru dibukanya.
“Ngga lah, nanti saja sehabis makan di Pagi Sore,” jawabku.
Dia mengambil sebatang dan menyelipkan ke sela bibirnya. Ada sesuatu yang khas dari cara Barma menahan batang rokok di sela bibirnya. Ia menjepitnya dengan agak miring. Ia pernah bilang padaku suatu ketika, “Bang, look at me, begini cara Andy Lau merokok.” Dan sejak saat itu ia selalu tampil dengan gaya ‘Andy Lau’nya. Ia lalu mengambil zippo dari saku jaketnya dan menyalakan rokok tersebut.
Saat itu kami sedang berada di Kolonel Atmo, banyak pool bis antar kota disana, dan aku akan berangkat dengan bis. Menempuh 18 jam perjalanan dengan satu-satunya hiburan adalah walkman dan beberapa kaset yang sudah kusiapkan. Tidak ada yang bisa membunuh kebosanan selain musik. Tapi saat ini musik dan baterai walkman bukanlah hal yang mengganggu karena aku sudah mempersiapkannya tadi malam.
Hari ini, aku akan meninggalkan kota Palembang dengan tujuan Bandung. Meninggalkan masa lalu demi menuju masa depan. Meninggalkan kenangan buruk suatu pembunuhan dengan berharap bertemu keajaiban. Meninggalkan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Yang terakhir ini tidak akan tergantikan. Aku tak tahu mengapa aku harus meninggalkan dia. Haruskah aku meninggalkan satu-satunya keluargaku yang masih hidup? Aku mungkin tidak ‘harus’ meninggalkan dia, tetapi dengan kepergianku ini, aku ‘akan’ meninggalkan dia. Apakah orang lain juga memikirkan keluarganya seperti ini? Sedalam ini? Ketika mereka akan berpisah? Ataukah orang lain memikirkan keluarganya seperti ini, setiap saat? Apakah keluarga harus selalu saling berada di sisi satu sama lain?
Aku kembali teringat saat ibu dan ayahku masih hidup. Aku selalu berkeras ingin pergi dan kuliah di luar pulau Sumatera. Aku ingin melihat pulau Jawa, aku ingin melihat tempat-tempat lain, aku tidak ingin menjadi sekedar katak dalam tempurung. Selalu alasan yang itu-itu juga kugunakan dalam argumenku dengan orangtuaku. Dan saat tensi perdebatan memanas, ibu selalu mengucapkan argumen yang sama,“Tapi keluargamu disini, Nak. Ya kan?” Argumen yang sama, kata-kata yang sama, selalu, setiap waktu. Aku selalu mereda, dan memutuskan untuk mengalah setiap kalinya pula, hingga pada suatu saat aku lepas kendali dan berkata, “Ya, keluargaku memang disini, tapi coba jelaskan lagi padaku, apa pentingnya keluarga untukku? Jelaskan, ayah ibu. Karena Rahan punya mimpi. Dan bila terus seperti ini, Rahan hanya melihat keluarga sebagai penghambat.”
Aku mengucapkannya dengan pelan. Tetapi ibu langsung menangis. Sedangkan ayah menatapku dengan sangat marah, lalu ia membuang badan dan melangkah ke luar rumah. Ibu yang menangis membuatku merasa bodoh dan bersalah. Aku menunggu ia selesai. Dan tatkala ia sudah mengusap air matanya, ia hanya berkata, “Minta maaflah pada ayahmu.”
Malam harinya, ayah, ibu, aku dan Barma, kami semua berkumpul. Ini rutin, dan biasanya ayah akan memberikan wejangan panjang lebar. Tetapi malam itu tidak, beliau hanya berucap, “Putraku, lakukan apa yang ingin kalian lakukan, kami akan selalu mendoakanmu.” Lalu keduanya masuk ke kamar tidur. Meninggalkan aku dan Barma di ruang keluarga. Omong kosong apa ini pikirku. Apakah ini cara mereka menghukum kesalahanku? Aku tak pernah mengerti.
“Bang, menurut abang Ayunir gimana orangnya?” ucapan Barma menghamburkan lamunanku.
“Ay? Kamu minta pendapat abang soal Ay? Hmm … gimana ya, anaknya cantik, otaknya agak keblinger, tapi itu bukan masalah sih ya …”jawabku.
“Terus, kok berhenti? Kalo itu bukan masalah, apa masalahnya?”
“It’s obvious, can’t you see? She’s older than you. Dia lebih tua daripada kau.”
“Emang itu masalah?”
“Oh ya. Jelas. It is a problem. A big one.”
“Aku ga ngerti.”
“It’s like this. Wanita yang lebih tua, hubungan dengan pria yang lebih muda, itu biasanya hanya untuk senang-senang, biar unik. Beberapa orang senang sesuatu yang melawan arus. Orang-orang semacam ini tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau mainstream, mayoritas. Cewek lain suka boysband, mereka suka musik lain. Cewek lain suka boneka, mereka suka hobi yang lain. Cewek lain tidak suka rokok, mereka suka. Cewek lain suka pria tua, mereka cari pria muda. Now, can you see the pattern? Mereka selalu ingin beda.”
“Trus apa masalahnya? Panjang lebar, tapi masih ga jelas apa masalahnya?
“Tidak masalah memang. Jika bisa konsisten. Sayangnya, sikap rebel kaya gini hanya sementara saja Barma. Hingga pada suatu titik, mereka akan perlu menikah, dan mereka akan mencari pria yang lebih tua, hanya karena satu alasan, wanita selalu, catat omongan Abang, selalu mencari pria yang mapan. Bila ada pilihan antara yang mapan dan yang tidak mapan. Common sense wanita akan tuntun mereka pilih yang lebih mapan. Itu tentunya masalah bagi pria yang muda.”
“Tidak jugalah, artinya selama Barma bisa mapan, Ayunir akan selalu ada di sisi Barma kan? I think I can do that.”
“Oh ya? Maybe, it’s possible. Tapi, ada satu hal lain lagi, hingga pada suatu saat wanita yang lebih tua akan selalu mencari alasan untuk mengatakan bahwa pasangannya kekanak-kanakan. Dengan kata lain, mereka akan merasa tua.”
“What? It doesn’t even make sense.”
“It is. Wanita di rumah. Pria kerja di luar rumah. Mereka akan selalu mencurigai kita punya affair dengan wanita yang lebih muda.”
“This is bullshit. How do you come up with all that?”
“It’s true.”
“Bullshit.”
“That’s how it works.”
“You’re mysogynist. That’s what you are. A big one.”
“Call me what you like. I stand true to my words.”
Ia memukul bahuku pelan. Dan kami berdua tertawa lepas. Meskipun siang itu seperti biasanya di Palembang mentari bersinar sangat terik, tapi aku merasakan hangat saat itu. Benar-benar situasi yang bisa dinikmati. Aku suka berbicara dengan adikku. Mungkin aku seharusnya lebih sering berbicara dengannya sebelum ini.
Dan bis yang akan membawaku pun datang. Petugas pool mulai meminta penumpang untuk naik dan aku serta Barma naik ke atas bis. Ia membawakan salah satu tas yang berisi pakaian. Aku duduk di kursi 2A, selang satu baris dari kursi supir. 2A berarti aku duduk dekat dengan jendela, dan aku suka duduk disana. Entah mengapa nuansa perjalanan akan lebih terasa jika duduk dekat jendela.
“Oke, Barma pulang ya bang. Hati-hati dijalan.”
“Kau juga, jaga dirimu baik-baik. Ayunir, sampaikan saja salamku.”
“Sip.”
“Oh ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Aku sudah lama penasaran.”
“Shoot it.”
“Ingat waktu ayah bilang ‘lakukan apa yang ingin kalian lakukan, kami akan selalu mendoakanmu’? Apa maksudnya? Apa itu tulus? Kukira mereka marah padaku.”
Barma tersenyum kecil.
“Abang, abang. Kukira mau tanya apa. Namanya orang tua manapun, ingin anaknya ada di dekatnya jadi bisa diawasi, dirawat, diasuh, dijaga. Kalau anaknya jauh, orang tua hanya bisa mendoakan. Apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan ayah dan ibu, kalau abang jauh. Dan itu sangat berat. Udah ya. Bye.”
“Bye.”
Sial. Aku tak tahu itu. Aku semakin tenggelam dalam rasa bersalah. Dan bis yang kunaiki mulai berjalan pelan. Saat aku memandang keluar, tak lagi kulihat Barma. Aku tak punya siapapun untuk kulambaikan tangan saat terakhir meninggalkan Palembang. This is farewell. Ya, inilah perpisahan.
If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow's rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime's argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are
(Sting - 1987 - Fragile)
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow's rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime's argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are
(Sting - 1987 - Fragile)
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:51
0