Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#72
THIS IS NO LONGER MY HOME

Itu adalah sore yang biasa. Aku duduk di teras depan dengan sebatang rokok yang belum kunyalakan. Sekarang, saat orang tua sudah tiada seperti saat ini, aku berfikir, apa yang dilakukan oleh orang lain yang mengalami hal yang serupa. Penyebab kematian tentunya bisa sangat beragam, dan tidak ada satu pun yang menyenangkan. Hanya saja, ketika kematian datang begitu mendadak, orang yang ditinggalkan tidak bisa melakukan persiapan apapun. Ya, yang mati akan tetap mati, dan yang hidup akan harus tetap menjalani hidupnya, hari-harinya. Tanpa tahu apa yang tersimpan untuknya di masa depan.

Baru beberapa saat saja setelah aku menyelesaikan ujian akhir SMA ku, dan sekarang aku dihadapkan dengan pilihan yang sederhana, kuliah atau kerja. Setiap kali aku berada di dalam, bercak darah yang telah dibersihkan masih membekas jelas di ingatanku. Aku masih dapat melihat mereka meninggal dengan begitu menyedihkan. Aku tak tahu, apakah aku akan pernah mampu untuk melupakannya.

Apakah aku saat ini depresi? Apakah keputusanku untuk kuliah atau untuk kerja nanti merupakan keputusan yang benar? Bagaimana aku tahu keputusanku tidak terpengaruh oleh emosi? Satu-satunya yang aku tahu untuk saat ini adalah aku tak lagi sanggup untuk tinggal di rumah ini. Ini bukan lagi tempat kembali untukku.

Meski apapun yang terjadi, aku sama sekali tak ingin tahu alasan mengapa orang tuaku dibunuh dan siapa yang membunuh mereka. Aku ingin untuk bisa melupakan, untuk bisa melanjutkan hidupku. Itu saja. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Barma, tapi kurasa ia lebih tegar daripada diriku, itu jika melihat tingkah laku dan kata-katanya kemarin. Apakah ia tegar karena ia memiliki pasangan? Apakah ia sanggup untuk tegar karena ia laki-laki dan memiliki Ayunir? Ya. Pasti itu jawabnya mengapa ia begitu berupaya untuk tidak terusik. Ia ingin untuk kuat, demi kekasihnya.

Sedangkan aku? Aku saat ini tidak memiliki siapa-siapa. Barma adalah satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara. Semua pikiran-pikiran ini hanya melingkar dan terus berputar di dalam benakku. Ketika orang tuamu mati, hidup seakan tak memberikan banyak pilihan. Kecuali untuk tutup mata dan terus menjalaninya, seperti tak pernah terjadi apa-apa.
--//--

Barma pulang malam itu, dan aku baru saja selesai mencuci piring seusai makan malam. Dia memanaskan air untuk membuat kopi hitam kesukaannya. Aku duduk di meja makan, menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Apa yang kau lihat, Bang?” ucapnya

“Kau,” kataku.

“Ada apa?”

“Aku ingin tahu, apa yang harus kita lakukan, sekarang hanya tinggal kita berdua yang tersisa,” kataku lagi.

“Abang ada rencana apa?”

“Terus terang, aku tak bisa lagi tinggal di rumah ini. Tadi sore aku sudah hubungi Om Hendra, menanyakan berapa harga rumah ini, dan apakah dia bersedia membelinya.”

“Kita jual rumah ini? Boleh. Abang tinggal di mana?”

“Aku, kalau rumah ini jadi dibeli om Hendra, aku mungkin akan ke Bandung, kerja atau kuliah, aku belum tahu persis. Bisa juga dua-duanya.”

“Kuliah lah Bang, sayang kalau Abang ga jadi apa-apa. Bukannya Abang mau masuk UI?”

“UI? Universitas negeri bukan pilihan utamaku sekarang. Aku ambil D-3 Komputer saja atau yang semacamnya. Kau sendiri?”

“Ya, tempat tinggal bukan masalah untukku. Masjid sekolah ada. Di organisasi ada. Di klub basket ada. Aku bisa tinggal dimana saja. Aku mau teruskan basketku sajalah.”

“Kau .. engga masalah .. Kau setuju rumah ini kita jual?”

“Jual saja semua yang bisa dijual. Kita butuh biaya untuk mulai hidup baru bang.”

Airnya mendidih. Barma membuat kopi hitam kental dan menambahkan setengah sendok gula manis. Dia duduk di depan TV dan menyalakan rokoknya. Mendekatkan asbak dan gelas kopinya.

“Kau sudah makan, Barma?”

“Ini sajalah. Aku tidak lapar.”

Dan aku pun beranjak ke kamar tidur. Melarutkan diri dengan alunan lagu Rick Price hingga aku jatuh tertidur. Semoga tidak mimpi buruk.

-- // --


Why I live in despair?
Cause wide awake or dreaming
I know she's never there
And all this time I act so brave
I'm shaking inside
Why does it hurt me so

(Rick Price - 1992 - Heaven Knows)
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:48
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.