Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.1KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#60
DEAD PARENTS & LOST BROTHER - Kediaman Keluarga Rahan, Juni 01

Aku tidak bisa disini, aku tak ingin disini. Tapi semua semakin jelas, yang kabur semakin nyata. Aku tak akan masuk lebih jauh lagi. Aku lihat langkahku dari kejauhan. Tubuh kurus, tinggi, kacamata, rambut acak-acak. Ya, aku memang nampak kacau sekali hari itu. Aku berjalan sambil membaca koran. Aku mendekat. Semakin mendekat, mendorong pintu pagar besi dengan sebelah tangan, sambil tetap membaca. Aku menahannya agar tidak masuk ke rumah, dan Rahan Muda pun berhenti seolah mengerti. Rahan Muda berbalik. Rupanya, ia hanya merapatkan kembali pintu pagar, dan berbalik kembali menembusku. Di teras, ia duduk di kursi plastik, meletakkan koran, melepas ikatan tali sepatunya.

“Assalamuallaikum” salam Rahan Muda. Tak ada jawaban. “Bu, Yah?” ia memanggil. Tapi tetap tak ada sahutan. Ia membuka pintu, ternyata tak dikunci. Aku harus pergi! Aku tak bisa berada disini!!

Rahan Muda melangkah masuk tapi ia terhenti di langkah pertama. Ayah telah terkapar bersimbah darah di ruang tamu kami. Meja terguling, di lantai banjir darah ayah. Punggung ayah terluka bekas sabetan benda tajam, dan matanya tak terpejam. Bumi tempat berpijak terasa menghilang, kedua kaki Rahan Muda terasa lemas. Ia menjatuhkan sepatunya. Rahan Muda berpegangan pada dinding agar tidak rubuh. Ia menyeret langkahnya sangat perlahan dan dari ujung dinding ia melihat. Ibu. Ibu yang sangat dicintainya ada dibawah meja makan dengan sekujur tubuh penuh luka bacok.

Rahan menarik kembali kepalanya perlahan. Punggungnya disandarkan pada dinding dan perlahan kakinya merosot jatuh tak lagi mampu menumpu. Ia pun terduduk dengan bersandar di dinding. Kepalanya memberat, sementara di telinganya terngiang lagu yang sering dinyanyikan ibu untuknya.. “Tidurlah nak… anakku sayang, pejam matamu hilangkan lelah… Tidurlah nak… buah hatiku… biar kau mampu… bermain lagi…

Semakin lama semua semakin menghitam bagi Rahan Muda. Berat beban itu tak tertanggung oleh jiwa rapuhnya. Dan ia berada di ambang batas.
--//--

Seperti hujan yang turun tiba-tiba. Tiada yang mengira kalau ada garis seperti ini. Lelah ku bercampur dengan kesal. Adapun Barma, Ia tidak tahu apa-apa tentang ini semua. Di kepalanya saat ini hanya ada wanita itu. Ayah dan Ibu bersimbah darah seperti itu, dan aku bahkan tak bisa menangis untuk mereka. Larik-larik gelisah ini semakin menjadi. Sementara Barma duduk dengan tenangnya di depanku kini. Para tetangga telah menceritakan semua yang terjadi tadi sore padanya. Ia baru pulang. Dan hanya diam saja dari tadi. Kini orangtua kami terbungkus rapi oleh kain kafan dan para tetangga melantunkan lagu-lagu indah untuk mereka.

Mata kami bertemu, dan aku mencoba memancarkan semua emosiku padanya. Bibirku terbungkam rapat, tanganku mengepal keras, gerahamku saling mengatup. Barma tidak membalasku, ia menunduk. Pandangnya lalu dilempar ke atas langit-langit dan sebelah tangannya ia angkat menutupi wajahnya. Aku tahu, ia merasakan emosiku. Hening diantara kami semu adanya. Di dalam kepalaku masih tergambar jelas semua darah itu. Mata Ayah yang mendelik, dan di telingaku terdengar orang bersahut-sahutan, “Kemana saja kau tadi?”. Perutku semakin mual penuh rasa muak, hingga akhirnya bibirku bergerak.

“Kemana saja kau tadi sore Ma?”

Yang ditanya menghela napas panjang. “Di rumah Ay, Bang Rahan.”

“Menurutmu ini semua perbuatan siapa Ma?”

“Entahlah bang, Tuhan sendiri barangkali” Barma menjawab datar.

“Kau ini bicara apa?! Memang sudah gila otakmu dibikin wanita itu?” pekikku tertahan.

“Hey Barma dengar kau ya, apa kau tak malu pada Ayah dan Ibu yang meregang nyawa sedang kau asyik pacaran?” keluar sudah yang tertahan dari mulutku.

Barma hanya menyeringai dibalik tangan yang menutupi separuh wajahnya. Ia lalu menarik kursinya ke arahku, mencondongkan tubuhnya dan berkata pelan, “Justru Abang yang terlihat tak waras saat ini bagiku. Memangnya Abang mau aku bagaimana? Meratap? Bang, Ayunir ga ada kaitannya sama kematian Ayah dan Ibu, gak ada.”

“Pokoknya Abang nggak suka kau menganggap enteng kepergian Ayah dan Ibu, mereka dibunuh Ma! Di-Bu-Nuh!”

Hening sejenak diantara mereka berdua. Kulihat jelas betapa aku tak mampu mengontrol emosiku saat itu. Sementara Barma sibuk menggerakkan jari-jarinya. Itu adalah kebiasaannya jika sedang merasa gugup.

“Bang, dibunuh itu hanya cara. Lagian semua orang pasti mati. Tak ada yang perlu kita lakukan bang. Tak perlu marah, tak perlu kecewa, tak perlu pula dendam.”

“Aku nggak bisa mengerti kau Ma. Selama ini aku pikir kau dan aku dibesarkan dengan cara yang sama. Tapi lihat kau yang sekarang, baru tiga bulan pacaran, omonganmu udah sama nggak jelasnya dengan anak itu.”

“Abang kira aku terpengaruh Ay? Ay hanya menunjukkan bang, filsafat hidup yang ia pelajari dari kuliahnya. Kebanyakan yang ia bilang, bukan asal ngomong.” Barma kembali membela kekasihnya.

“Filsafat hidup taik kucing! Aku gak perduli ia mau dari mana, kuliahnya belajar apa. Aku cuma mau kamu jadi diri kamu sendiri. Jangan ikutin omongan wanita itu Barma.”

“Abang boleh bicara ama diri sendiri, boleh sok stress, tapi aku nggak akan ikut-ikutan layu cuma gara-gara masalah seperti ini.” Lalu ia beranjak bangkit dari bangkunya.

“Demi Tuhan Barma?! Orang tuamu meninggal dan kau bilang cuma? Sampai hati kau??” aku meneriakinya dengan keras.

Kemudian kulihat diriku sendiri menangis terisak–isak. Aku menyadari bahwa aku kehilangan segalanya. Orang tua dan juga saudaraku satu-satunya. Aku tak tau seberapa erat hubungan Barma dan Ayunir, tapi yang jelas Barma sudah berubah. Dan aku membenci Ayunir yang membuatku kehilangan saudaraku. Aku ingin saudaraku kembali.

--//--

Malam itu terasa sangat panjang. Tetanggaku dan beberapa temanku masih terus menyanyikan nyanyian untuk ayah dan ibuku. Mereka berganti-gantian sepanjang malam. Mungkin itu sebabnya aku sulit untuk tidur, mungkin karena suara mereka terlalu keras. Tapi aku pun masih memikirkan perubahan yang terjadi pada Barma. Atau mungkin aku yang salah dan Barma yang benar? Masihkah ada yang salah dan yang benar? Baik dan buruk? Mengapa aku seolah hanya ingin memaksakan jalan pikiran Barma sama denganku. Tentunya ia pun sudah cukup dewasa dan mampu berpikir sendiri. Namun mengapa aku begitu gusar padanya? Aku tak yakin Barma tahu apa yang ia katakan. Tapi aku juga tak yakin dengan apa yang kukatakan. Tuhan, kau dimana?

--//--

EPISODE BINTANG-BINTANG
Digariskan disana sepanjang nestapa…
Larik- larik cahaya menembus bayangan
Ada yang terkubur dan ada yang terlahir..
Tuan yang durjana kapan kau mati?
Jangan bawa adikku…

Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.