- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#59
MY BROTHER'S GIRLFRIEND
Palembang, Juni 01
Aku tak ingin kembali ke titik ini. Aku mengenali bau hari ini. Ya, sekarang tercium jelas olehku, ini bau darah. Dan dua orang yang disana, tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin, semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Aku kini, meskipun aku tahu, tapi aku tidak bisa mengubah keadaan. Aku tak nyata saat ini.
SMAN 14 Palembang, Juni 2001
“Oy gilo, kemano be kau ni? Mak ini ari la jarang nian latian basket.” Boy nyerocos seenaknya persis di kuping Barma.
“Iyo Rahan, adek kau ni mak ini ari la dak lagi gilo bola, becinto tulah gawenyo mak ini ari.” Sambung Firman.
“Kudenger-denger kau ni pacaran dengan mak wong ye?” si Boy semakin menjadi.
“Lemak be, mak wong, maknyo budak-budak kali ye. Kamu ni pacaknyo sirik be, dak seneng turuti.” Barma membalas dengan tersenyum.
“Berapo taun pucuk kito umur dio tu Ma?” tanya Syarif.
“Empat taun jok, bukan level kamu lah pokoknyo.” Barma kembali cekikikan.
Di kejauhan ada sosok gadis semampai bersender di pintu Starlet merah. Gadis itu menatap ke arah mereka. Ia mengenakan celana blue jeans, dan t-shirt putih bertuliskan “YOURS” tepat di bagian dadanya. Sangat kontras ia di tengah kerumunan siswa-siswi berpakaian seragam SMA itu. Kalau tidak salah namanya Ayu.. dan aku lupa kepanjangan namanya. Barma cerita ia kuliah di fakultas sastra di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Menurut Barma, Ayunir sangat dewasa, bijak, enak diajak bicara. Tapi kupikir itu semua hanya karena ia baru jatuh cinta. Aku pernah sekali berbicara dengan Ayu, tapi menurutku ia aneh. Ia tak pernah memposisikan dirinya jadi dirinya sendiri. Duh, kok aku justru jadi ribet. Maksudku, … aku merasa ia penuh kepalsuan. Tapi ya sudahlah aku tak mau ambil pusing. Ah, sekarang aku ingat Ayunir namanya. Ayunir Ayu kepanjangannya. Ay adalah panggilan sayang Barma untuknya. Kurasa itu bukan panggilan sayang, hanya saja ia tak mungkin memanggil gadis secantik itu Unir bukan? Ya, lebih tepat disebut panggilan terpaksa, mungkin.
“Ai, dijemput caknyo tu?” kata Boy setengah iri.
“Ne, diomongke dateng nian wongnyo. Panjang umur caknyo tu.” tambah Firman.
“Pelah e, anak mudo duluan. Kagek sore jadi kito sparring dengan budak UNSRI? Agek aku ke Pusri abis dari rumah Ay. Ka Rahan, Arma pegi ye!” Barma pun bergegas.
Barma berlari kecil ke arah Ayunir. Kulihat Ayunir melemparkan kunci Starletnya pada Barma. Barma menangkapnya sebelah tangan, ia mendekat dan pipi mereka bersentuhan. Sebuah adegan yang membuat iri mahluk lain di sekitarnya. Kepala Barma berputar dan mereka berdua tersenyum sembari melambai ke arah Firman, Boy, dan Rahan Muda. Barma memutari mobil dan masuk dari pintu kanan. Rahan Muda dalam hati kecilnya ingin Barma bersamanya, bukan, Rahan Muda cemburu karena Barma nampak bahagia dengan Unir. Tetapi sungguh, kini aku berharap wanita itu tak membawanya pergi saat itu. Dia semestinya pulang ke rumah bersamaku. Atau? Ah entahlah.
catatan kaki:
1. Oy gilo, kemano be kau ni? Mak ini ari la jarang nian latian basket.
1. Hey gila, kemana saja kamu? Sekarang ini sudah jarang sekali latihan basket.
2.Iyo Rahan, adek kau ni mak ini ari la dak lagi gilo bola, becinto tulah gawenyo mak ini ari.
2. Iya Rahan, adikmu ini sekarang sudah tidak suka lagi main bola, pacaran saja kerjanya sekarang.
3. Kudenger-denger kau ni pacaran dengan mak wong ye?
3. Aku dengar kau pacaran dengan yang lebih tua ya?
4. Lemak be, mak wong, maknyo budak-budak kali ye. Kamu ni pacaknyo sirik be, dak seneng turuti.
4. Enak saja, lebih tua, ibunya anak anak kali ya. Kalian ini bisanya sirik saja, kalo engga senang ikutin dong
5.Berapo taun pucuk kito umur dio tu Ma?
5. Berapa tahun di atas kita umur nya dia itu Barma?
6. Empat taun jok, bukan level kamu lah pokoknyo.
6. Empat tahun bro, bukan kelas kalian lah pokoknya
7. Ai, dijemput caknyo tu? = "wah sepertinya dijemput nih?"
8. Ne, diomongke dateng nian wongnyo. Panjang umur caknyo tu.
8. Baru saja digosipin malah beneran datang. Panjang umur nih pasti."
9. Pelah e, anak mudo duluan. Kagek sore jadi kito sparring dengan budak UNSRI? Agek aku ke Pusri abis dari rumah Ay. Ka Rahan, Arma pegi ye!
9. Mari, jagoan pergi dulu. Nanti sore jadi kita tanding lawan anak UNSRI? Nanti aku ke Pusri selepas dari rumah Ay. Ka Rahan. Arma pergi ya!"
Palembang, Juni 01
Aku tak ingin kembali ke titik ini. Aku mengenali bau hari ini. Ya, sekarang tercium jelas olehku, ini bau darah. Dan dua orang yang disana, tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin, semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Aku kini, meskipun aku tahu, tapi aku tidak bisa mengubah keadaan. Aku tak nyata saat ini.
--//--
SMAN 14 Palembang, Juni 2001
“Oy gilo, kemano be kau ni? Mak ini ari la jarang nian latian basket.” Boy nyerocos seenaknya persis di kuping Barma.
“Iyo Rahan, adek kau ni mak ini ari la dak lagi gilo bola, becinto tulah gawenyo mak ini ari.” Sambung Firman.
“Kudenger-denger kau ni pacaran dengan mak wong ye?” si Boy semakin menjadi.
“Lemak be, mak wong, maknyo budak-budak kali ye. Kamu ni pacaknyo sirik be, dak seneng turuti.” Barma membalas dengan tersenyum.
“Berapo taun pucuk kito umur dio tu Ma?” tanya Syarif.
“Empat taun jok, bukan level kamu lah pokoknyo.” Barma kembali cekikikan.
Di kejauhan ada sosok gadis semampai bersender di pintu Starlet merah. Gadis itu menatap ke arah mereka. Ia mengenakan celana blue jeans, dan t-shirt putih bertuliskan “YOURS” tepat di bagian dadanya. Sangat kontras ia di tengah kerumunan siswa-siswi berpakaian seragam SMA itu. Kalau tidak salah namanya Ayu.. dan aku lupa kepanjangan namanya. Barma cerita ia kuliah di fakultas sastra di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Menurut Barma, Ayunir sangat dewasa, bijak, enak diajak bicara. Tapi kupikir itu semua hanya karena ia baru jatuh cinta. Aku pernah sekali berbicara dengan Ayu, tapi menurutku ia aneh. Ia tak pernah memposisikan dirinya jadi dirinya sendiri. Duh, kok aku justru jadi ribet. Maksudku, … aku merasa ia penuh kepalsuan. Tapi ya sudahlah aku tak mau ambil pusing. Ah, sekarang aku ingat Ayunir namanya. Ayunir Ayu kepanjangannya. Ay adalah panggilan sayang Barma untuknya. Kurasa itu bukan panggilan sayang, hanya saja ia tak mungkin memanggil gadis secantik itu Unir bukan? Ya, lebih tepat disebut panggilan terpaksa, mungkin.
“Ai, dijemput caknyo tu?” kata Boy setengah iri.
“Ne, diomongke dateng nian wongnyo. Panjang umur caknyo tu.” tambah Firman.
“Pelah e, anak mudo duluan. Kagek sore jadi kito sparring dengan budak UNSRI? Agek aku ke Pusri abis dari rumah Ay. Ka Rahan, Arma pegi ye!” Barma pun bergegas.
Barma berlari kecil ke arah Ayunir. Kulihat Ayunir melemparkan kunci Starletnya pada Barma. Barma menangkapnya sebelah tangan, ia mendekat dan pipi mereka bersentuhan. Sebuah adegan yang membuat iri mahluk lain di sekitarnya. Kepala Barma berputar dan mereka berdua tersenyum sembari melambai ke arah Firman, Boy, dan Rahan Muda. Barma memutari mobil dan masuk dari pintu kanan. Rahan Muda dalam hati kecilnya ingin Barma bersamanya, bukan, Rahan Muda cemburu karena Barma nampak bahagia dengan Unir. Tetapi sungguh, kini aku berharap wanita itu tak membawanya pergi saat itu. Dia semestinya pulang ke rumah bersamaku. Atau? Ah entahlah.
--//--
catatan kaki:
1. Oy gilo, kemano be kau ni? Mak ini ari la jarang nian latian basket.
1. Hey gila, kemana saja kamu? Sekarang ini sudah jarang sekali latihan basket.
2.Iyo Rahan, adek kau ni mak ini ari la dak lagi gilo bola, becinto tulah gawenyo mak ini ari.
2. Iya Rahan, adikmu ini sekarang sudah tidak suka lagi main bola, pacaran saja kerjanya sekarang.
3. Kudenger-denger kau ni pacaran dengan mak wong ye?
3. Aku dengar kau pacaran dengan yang lebih tua ya?
4. Lemak be, mak wong, maknyo budak-budak kali ye. Kamu ni pacaknyo sirik be, dak seneng turuti.
4. Enak saja, lebih tua, ibunya anak anak kali ya. Kalian ini bisanya sirik saja, kalo engga senang ikutin dong
5.Berapo taun pucuk kito umur dio tu Ma?
5. Berapa tahun di atas kita umur nya dia itu Barma?
6. Empat taun jok, bukan level kamu lah pokoknyo.
6. Empat tahun bro, bukan kelas kalian lah pokoknya
7. Ai, dijemput caknyo tu? = "wah sepertinya dijemput nih?"
8. Ne, diomongke dateng nian wongnyo. Panjang umur caknyo tu.
8. Baru saja digosipin malah beneran datang. Panjang umur nih pasti."
9. Pelah e, anak mudo duluan. Kagek sore jadi kito sparring dengan budak UNSRI? Agek aku ke Pusri abis dari rumah Ay. Ka Rahan, Arma pegi ye!
9. Mari, jagoan pergi dulu. Nanti sore jadi kita tanding lawan anak UNSRI? Nanti aku ke Pusri selepas dari rumah Ay. Ka Rahan. Arma pergi ya!"
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:33
0