- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#58
A BROKEN HEART - Kediaman Keluarga Rahan, 23 Agustus 1996
Aku kembali disini, melihat diriku yang tengah di mabuk cinta. Rahan muda yang menyedihkan, batinku. Ia tak tahu harus bicara apa di telpon nanti. Tentu ia tidak tahu, karena ia tidak akan membicarakan sesuatu yang penting. Bicara cinta pikirnya, dan bukankah cinta itu tidak penting? Ia menuliskan kalimat demi kalimat yang akan ia katakan dalam pembicaraan. Persis seperti seseorang yang sedang menyiapkan rencana curang untuk ujian. Kecil-kecil tulisannya, diatas kertas kusut, dan di bawah lampu temaram.
“Halo, ini dari Rahan, gimana Mi, suratku sudah dibaca belum?”
“Halo, assalamuallaikum, bisa bicara dengan Mimi?”
“Halo, permisi pak, bisa saya bicara dengan Mimi, dari temannya?”
Di luar hujan menetes kecil-kecil. Tapi di atas atap seng itu terdengar berirama buat si Rahan Muda. Seakan tabuh genderang cinta bergema di ruangan itu. Dan itu dia, kini mulai bergerak masuk ke ruang tengah. Uuh, tingkahnya seperti maling kecil, celingak-celinguk memastikan tak ada orang yang masih terjaga di ruangan itu. Tangan kiri memegang kertas kata-kata dengan gemetar, tangan kanan memencet nomor -81160*- leher menjepit gagang telpon. Nada sambung itu lebih mirip bunyi kereta api bagi si Rahan Muda, dan ia mendengarkan tiap-tiapnya dengan amat seksama. Dan saat suara di ujung sana berkata, “Halo?”, Rahan muda terkejut dan tersadar, itu suara Mimi!
“ha.. Halo Mimi, met malem, ehm ganggu nggak nih?”
“Eh? Siapa ya? Suara di ujung sana bertanya
“Ini aku, Rahan” gemetar suaranya
“Oh, ada apa nih?”
“Mimi, udah baca suratku yang tadi kan?”
“Iya, udah koq, makasih ya” jawabnya dengan halus
“Ehm, nggak marah kan? Ya udah deh, makasih ya Mimi. Udahan dulu ya”.. klik… Si Rahan bodoh menutup telponnya dengan mata memejam.
Aku melihat lagi kebodohanku. Rahan Muda menutup telpon itu dengan hati gembira, ia bernyanyi kecil, angin kencang dan suasana orang jatuh cinta menerpanya. Dengan pelan ia kembali ke ruangan atap seng yang tidak lain adalah kamar tidurnya. Ia tarik selimutnya setelah memadamkan lampu. Ia ingin berkhayal indah, tapi apa daya ia teringat.
“Mimi, UDAH baca suratku yang tadi kan?”
Ia tersadar sekarang, Mimi mengiyakan pertanyaan sudah atau belum membaca surat. Dan itu bukan berarti Mimi menerima cintanya. Menerima sesuatu yang tidak penting darinya. Rahan Muda terperangah, napasnya tak teratur. Dan ia tahu, malam itu ia tak akan tidur nyenyak. Urusan yang tidak penting sering kali mengganggu ketenangan seseorang. Aku berlalu.
Bagi Rahan Muda, cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Suatu perasaan yang menyenangkan dan berlebihan hingga hatinya tak mampu menguasainya. Angan-angan indah itu terpaksa terhenti tiga tahun kemudian. Rahan Muda mengetahui cintanya tak berbalas, dan seketika itu pula apa apa yang tadinya terlihat indah, sekarang berubah menjadi serbuk abu. Mati dan menumpuk di dalam hati itu. Rahan Muda terluka dan ia tidak tahu bagaimana mengobatinya.
Aku kembali disini, melihat diriku yang tengah di mabuk cinta. Rahan muda yang menyedihkan, batinku. Ia tak tahu harus bicara apa di telpon nanti. Tentu ia tidak tahu, karena ia tidak akan membicarakan sesuatu yang penting. Bicara cinta pikirnya, dan bukankah cinta itu tidak penting? Ia menuliskan kalimat demi kalimat yang akan ia katakan dalam pembicaraan. Persis seperti seseorang yang sedang menyiapkan rencana curang untuk ujian. Kecil-kecil tulisannya, diatas kertas kusut, dan di bawah lampu temaram.
“Halo, ini dari Rahan, gimana Mi, suratku sudah dibaca belum?”
“Halo, assalamuallaikum, bisa bicara dengan Mimi?”
“Halo, permisi pak, bisa saya bicara dengan Mimi, dari temannya?”
Di luar hujan menetes kecil-kecil. Tapi di atas atap seng itu terdengar berirama buat si Rahan Muda. Seakan tabuh genderang cinta bergema di ruangan itu. Dan itu dia, kini mulai bergerak masuk ke ruang tengah. Uuh, tingkahnya seperti maling kecil, celingak-celinguk memastikan tak ada orang yang masih terjaga di ruangan itu. Tangan kiri memegang kertas kata-kata dengan gemetar, tangan kanan memencet nomor -81160*- leher menjepit gagang telpon. Nada sambung itu lebih mirip bunyi kereta api bagi si Rahan Muda, dan ia mendengarkan tiap-tiapnya dengan amat seksama. Dan saat suara di ujung sana berkata, “Halo?”, Rahan muda terkejut dan tersadar, itu suara Mimi!
“ha.. Halo Mimi, met malem, ehm ganggu nggak nih?”
“Eh? Siapa ya? Suara di ujung sana bertanya
“Ini aku, Rahan” gemetar suaranya
“Oh, ada apa nih?”
“Mimi, udah baca suratku yang tadi kan?”
“Iya, udah koq, makasih ya” jawabnya dengan halus
“Ehm, nggak marah kan? Ya udah deh, makasih ya Mimi. Udahan dulu ya”.. klik… Si Rahan bodoh menutup telponnya dengan mata memejam.
Aku melihat lagi kebodohanku. Rahan Muda menutup telpon itu dengan hati gembira, ia bernyanyi kecil, angin kencang dan suasana orang jatuh cinta menerpanya. Dengan pelan ia kembali ke ruangan atap seng yang tidak lain adalah kamar tidurnya. Ia tarik selimutnya setelah memadamkan lampu. Ia ingin berkhayal indah, tapi apa daya ia teringat.
“Mimi, UDAH baca suratku yang tadi kan?”
Ia tersadar sekarang, Mimi mengiyakan pertanyaan sudah atau belum membaca surat. Dan itu bukan berarti Mimi menerima cintanya. Menerima sesuatu yang tidak penting darinya. Rahan Muda terperangah, napasnya tak teratur. Dan ia tahu, malam itu ia tak akan tidur nyenyak. Urusan yang tidak penting sering kali mengganggu ketenangan seseorang. Aku berlalu.
--//--
Bagi Rahan Muda, cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Suatu perasaan yang menyenangkan dan berlebihan hingga hatinya tak mampu menguasainya. Angan-angan indah itu terpaksa terhenti tiga tahun kemudian. Rahan Muda mengetahui cintanya tak berbalas, dan seketika itu pula apa apa yang tadinya terlihat indah, sekarang berubah menjadi serbuk abu. Mati dan menumpuk di dalam hati itu. Rahan Muda terluka dan ia tidak tahu bagaimana mengobatinya.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:30
0