Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#57
LOVE LETTER - SMPN 14 Palembang, 23 Agustus 1996

Hari itu telah kuputuskan untuk mengungkap semua rasa aneh itu dengan surat. Surat yang kutulis tadi malam. Diatas kertas merah jambu. Semalam jariku menari dan aku menyusun kata-kata terindah yang aku bisa. Ingin menyentuh hatinya dengan tulisanku. Aku memang tak punya cukup nyali untuk bicara langsung. Sepertinya ada tangan gaib yang menundukkan pandangku dan membungkam mulutku jika harus berhadapan dengannya. Dan mulai kuukir pelan-pelan kata demi kata.

“… aku tidak meminta kamu untuk jadi pacarku… biarkanlah waktu berjalan apa adanya… karena kita tidak tahu apa yang ada di depan kita… dan suatu saat nanti… jika bintang kita masih bersinar… aku akan datang mencarimu… dan memintamu untuk mengiringi langkahku.. andai engkau mau..”

Aku bahkan masih takut untuk memintanya menjadi kekasihku. Di dalam surat itu tak sadar jari jemariku mengingkari hati nurani. Apa yang terjadi saat itu tak sedikit pun kumengerti. Tapi kemudian jadilah surat itu begitu saja. Di lembar kedua kutuliskan lirik lagu Forever and One yang sudah kualih bahasakan. Berharap ia tak mengetahui bahwa itu adalah lirik lagu yang sangat populer, dan menyangka ia mengira itu puisi cinta hasil karyaku. Apa yang kulakukan? Aku bahkan telah menganggap dirinya bodoh, padahal adalah aku yang membodohi diri sendiri. Begitulah cinta kukira, atau setidaknya yang terjadi padaku.

Kesempatan datang saat istirahat. Mimi sedang tidak di kelas, sementara Rizki, teman sebangkunya, belum beranjak keluar. Dan kudekati Rizki dengan ragu-ragu.

“Rizki, aku titip ini buat Mimi ya?” pintaku sambil memberikan surat itu.

“Eh, Rahan, ada hati ya ke Mimi? Aku boleh baca nggak?” Rizki malah balik bertanya.

“Udah kasih aja ke Mimi, ngapain sih pake dibaca segala?” bingung campur malu perasaanku.

“Eh, aku kan udah pengalaman, aku mau liat pemilihan kata kamu. Jangan-jangan ntar abis dibaca malah disobek, kan ga enak?” Rizki coba memberikan alasan.

Aku malah jadi bingung setengah ketakutan dan akhirnya mengizinkan Rizki membaca surat itu.

“Ya udah baca gih, tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya? Entar kamu kasihin ya jangan lupa!!” kataku lagi.

“Beres bos!”

Aku pun kembali ke tempat dudukku. Langkah pertama selesai pikirku. Begitu duduk, kuamati Rizki sedang kegirangan menimang-nimang surat itu dan membacanya sambil tersenyum seolah surat itu adalah majalah humor. Kemudian ia melangkah ke arahku sambil tersenyum lebar.

“Kamu pinter ya bikin surat cinta! Aku berikan sekarang ya?” Kemudian ia mencubit pipiku sebelum berlari-lari kecil keluar. Meninggalkanku dalam kebekuan sesaat. Aku sangat gugup saat itu. Aku pikir aku takkan dapat menatapnya kalau ia masuk kelas nanti. Bahkan untuk sekedar mencuri pandang saja. Kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi segera tersusun dalam benakku. Dan aku tak berani mengkhayal lebih jauh.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:28
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.