- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#56
RAHAN DAN BARMA
MENGINGAT
Penahkah kau mengingat semua yang terjadi dalam hidupmu? Mencoba untuk mengingat semua yang dapat kau ingat tentang kisah hidupmu. Atau mungkin hanya bagian terpenting saja dalam hidupmu. Engkau merasa begitu sedikit dari apa yang telah terlalui yang dapat kau ingat dengan jelas. Penggalan-penggalan kecil dari masa usia tertentu berlalu lalang di benakmu. Tergambar samar detil-detil kecil dan lalu berpindah lagi. Tak semuanya kau ingat. Tak semuanya kau lupakan. Dan semuanya ada dalam ingatanmu. Hanya saja, kadang orang tak terlalu ingin mengingat.
FIRST LOVE
Kedamaian Permai, 22 Agustus 1996
Tidak ada yang tahu kapan musim kemarau akan berhenti. Satu hal yang jelas aku masih sibuk melemparkan bola basket ini ke arah keranjang lapuk itu. Dan ini sudah tembakanku yang ke 120. Keringat masih terus mengucur karena matahari pun masih setia menemani walau sekarang sudah jam setengah lima sore. Di saat aku mulai kelelahan, kulihat adikku masih penuh semangat melemparkan bolanya. Ia memang bertubuh lebih atletis dibandingkan aku. Otot-otot bisepnya begitu mantap walaupun ia baru lulus SD tahun lalu. Namaku Rahan, sedang itu adikku Barma. Seandainya saat ini hujan turun sekalipun ia takkan berhenti berlatih. Barma terlatih untuk bermain basket di lapangan outdoor dalam segala kondisi cuaca, dan itulah yang membuat ia tampak lebih gagah dibanding aku yang akan berada di kantin Bi Yeti saat hujan turun.
“Barma! Sudah panas belum? Ayo lawan aku!” tantangku.
Sudah menjadi kebiasaan kami untuk bermain satu lawan satu sebelum mengakhiri sesi latihan. Dan lihatlah ia mendekat ke arahku sambil mendribel bola di antara kedua kakinya. Wajahnya menyiratkan rasa percaya diri yang tinggi.
“Bola siapa nih?” tanyanya.
“Bolamu lah.”
Ia mulai memantulkan bola dengan kedua tangannya. Bagiku sekilas ia terlihat seperti kiper yang akan menahan tendangan penalti. Barma mencoba menerobos masuk dari sisi kiriku. Aku melangkah mundur untuk menahan pergerakannya, tapi ia melakukan full stop dan langsung menembakkan bola, dan masuk. Aku hanya bisa memungut bola dan melihat wajahnya yang bersinar puas.
“Satu-Kosong!” teriaknya
Sekarang giliranku beraksi. Dengan cepat aku mendribel bola dan mendekatinya dengan perlahan. Tangan Barma berusaha mencuri bolaku, aku mematahkan geraknya dengan merendahkan bahuku. Lalu aku bergerak masuk untuk melakukan lay-up yang tak dapat ia bendung. Kedudukan imbang sekarang. Dan Barma tersenyum padaku. Sekarang ia yang memegang bola. Dengan tenang ia hanya memantulkan bola tanpa bergerak sedikit pun. Aku hanya memasang posisi bertahan. Barma bergerak maju, sedikit kekiri dan melakukan gerak tipuan. Tapi bola membentur ujung sepatunya dan terlepas ke arahku. Tak kusiakan kesempatan itu dan segera kulakukan lay-up yang lagi-lagi tak mampu ia halangi.
“Dua-Satu!” kataku senang
Barma sekarang nampak serius, ia merangsek dengan penuh tenaga ke dalam lingkaran. Bolanya tidak masuk memantul ke luar. Aku merebound bola itu, keluar dari garis tiga angka dan melesakkan sebuah tembakan yang mulus ke dalam keranjang. Dan berakhirlah permainan kami sore itu.
“Tembakanmu makin jitu rupanya?” Barma memujiku.
“Itulah kalau sering latihan. Tubuh akan mengenal polanya dan kau pun tak akan sulit mengenalnya,” jawabku.
Kami pun melangkah pulang ke rumah. Rutinitas sehari-hari kami adalah sekolah, bermain basket, dan belajar komputer (lebih tepat main games di komputer). Antara Barma dan aku banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Tapi ada hal yang Barma belum lakukan saat itu yang telah aku lakukan. Merasakan jatuh cinta pada seorang dewi. Ya, Barma tidak tahu apa rasanya mencintai seseorang. Tidak saat ia duduk di kelas I SMP.
Nama gadis itu Audrey Okta, dan entah mengapa teman-teman di kelas memanggilnya Mimi. Dan aku mencintainya seperti ikan yang merasa tak dapat hidup tanpa air. Seperti itulah aku mencintainya. Maka, aku pun tidak pernah tertarik untuk bolos sekolah. Karena aku tahu disanalah ia akan berada, duduk dengan indahnya di tengah kelas. Dan aku menikmati mencuri pandang ke arahnya. Mengamati setiap gerak-geriknya. Mengukir namanya di meja. Bahkan membuat surat cinta yang tidak pernah diberikan.
Ini cinta yang sulit untuk dijelaskan. Yang membuatku menunduk jika kami beradu pandang. Yang membuatku gugup jika ia menyapa. Yang memberimu semangat lebih saat mengerjakan soal matematika yang sulit di depan kelas. Adakah yang lebih indah dari cinta pertama?
Penahkah kau mengingat semua yang terjadi dalam hidupmu? Mencoba untuk mengingat semua yang dapat kau ingat tentang kisah hidupmu. Atau mungkin hanya bagian terpenting saja dalam hidupmu. Engkau merasa begitu sedikit dari apa yang telah terlalui yang dapat kau ingat dengan jelas. Penggalan-penggalan kecil dari masa usia tertentu berlalu lalang di benakmu. Tergambar samar detil-detil kecil dan lalu berpindah lagi. Tak semuanya kau ingat. Tak semuanya kau lupakan. Dan semuanya ada dalam ingatanmu. Hanya saja, kadang orang tak terlalu ingin mengingat.
FIRST LOVE
Kedamaian Permai, 22 Agustus 1996
Tidak ada yang tahu kapan musim kemarau akan berhenti. Satu hal yang jelas aku masih sibuk melemparkan bola basket ini ke arah keranjang lapuk itu. Dan ini sudah tembakanku yang ke 120. Keringat masih terus mengucur karena matahari pun masih setia menemani walau sekarang sudah jam setengah lima sore. Di saat aku mulai kelelahan, kulihat adikku masih penuh semangat melemparkan bolanya. Ia memang bertubuh lebih atletis dibandingkan aku. Otot-otot bisepnya begitu mantap walaupun ia baru lulus SD tahun lalu. Namaku Rahan, sedang itu adikku Barma. Seandainya saat ini hujan turun sekalipun ia takkan berhenti berlatih. Barma terlatih untuk bermain basket di lapangan outdoor dalam segala kondisi cuaca, dan itulah yang membuat ia tampak lebih gagah dibanding aku yang akan berada di kantin Bi Yeti saat hujan turun.
“Barma! Sudah panas belum? Ayo lawan aku!” tantangku.
Sudah menjadi kebiasaan kami untuk bermain satu lawan satu sebelum mengakhiri sesi latihan. Dan lihatlah ia mendekat ke arahku sambil mendribel bola di antara kedua kakinya. Wajahnya menyiratkan rasa percaya diri yang tinggi.
“Bola siapa nih?” tanyanya.
“Bolamu lah.”
Ia mulai memantulkan bola dengan kedua tangannya. Bagiku sekilas ia terlihat seperti kiper yang akan menahan tendangan penalti. Barma mencoba menerobos masuk dari sisi kiriku. Aku melangkah mundur untuk menahan pergerakannya, tapi ia melakukan full stop dan langsung menembakkan bola, dan masuk. Aku hanya bisa memungut bola dan melihat wajahnya yang bersinar puas.
“Satu-Kosong!” teriaknya
Sekarang giliranku beraksi. Dengan cepat aku mendribel bola dan mendekatinya dengan perlahan. Tangan Barma berusaha mencuri bolaku, aku mematahkan geraknya dengan merendahkan bahuku. Lalu aku bergerak masuk untuk melakukan lay-up yang tak dapat ia bendung. Kedudukan imbang sekarang. Dan Barma tersenyum padaku. Sekarang ia yang memegang bola. Dengan tenang ia hanya memantulkan bola tanpa bergerak sedikit pun. Aku hanya memasang posisi bertahan. Barma bergerak maju, sedikit kekiri dan melakukan gerak tipuan. Tapi bola membentur ujung sepatunya dan terlepas ke arahku. Tak kusiakan kesempatan itu dan segera kulakukan lay-up yang lagi-lagi tak mampu ia halangi.
“Dua-Satu!” kataku senang
Barma sekarang nampak serius, ia merangsek dengan penuh tenaga ke dalam lingkaran. Bolanya tidak masuk memantul ke luar. Aku merebound bola itu, keluar dari garis tiga angka dan melesakkan sebuah tembakan yang mulus ke dalam keranjang. Dan berakhirlah permainan kami sore itu.
“Tembakanmu makin jitu rupanya?” Barma memujiku.
“Itulah kalau sering latihan. Tubuh akan mengenal polanya dan kau pun tak akan sulit mengenalnya,” jawabku.
Kami pun melangkah pulang ke rumah. Rutinitas sehari-hari kami adalah sekolah, bermain basket, dan belajar komputer (lebih tepat main games di komputer). Antara Barma dan aku banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Tapi ada hal yang Barma belum lakukan saat itu yang telah aku lakukan. Merasakan jatuh cinta pada seorang dewi. Ya, Barma tidak tahu apa rasanya mencintai seseorang. Tidak saat ia duduk di kelas I SMP.
Nama gadis itu Audrey Okta, dan entah mengapa teman-teman di kelas memanggilnya Mimi. Dan aku mencintainya seperti ikan yang merasa tak dapat hidup tanpa air. Seperti itulah aku mencintainya. Maka, aku pun tidak pernah tertarik untuk bolos sekolah. Karena aku tahu disanalah ia akan berada, duduk dengan indahnya di tengah kelas. Dan aku menikmati mencuri pandang ke arahnya. Mengamati setiap gerak-geriknya. Mengukir namanya di meja. Bahkan membuat surat cinta yang tidak pernah diberikan.
Ini cinta yang sulit untuk dijelaskan. Yang membuatku menunduk jika kami beradu pandang. Yang membuatku gugup jika ia menyapa. Yang memberimu semangat lebih saat mengerjakan soal matematika yang sulit di depan kelas. Adakah yang lebih indah dari cinta pertama?
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:26
0