- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.8K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#52
Meski kupijak tangga ini
Dan mendakinya
Bukan berarti
Aku meninggalkanmu
Mari pulang
Sahabatku
Dan mendakinya
Bukan berarti
Aku meninggalkanmu
Mari pulang
Sahabatku
Tetes air kesembilan
Akhirnya sampai juga aku di tempat ini. Sekarang tinggal menangkap Furan dan menyerahkannya pada Tuan Genzo. Wah, wah, ternyata dunia mimpi lebih indah dari dugaanku. Ini seperti di Balamb Garden. Gedung-gedung mewah seperti di pusat perbelanjaan luar negeri, lampu-lampu taman yang gemerlapan, rimbun pepohonan serta udara yang segar menyejukkan jelas sangat berbeda dengan di dunia nyata. Tapi tunggu dulu. Apa itu? Apa aku tidak salah baca?
PET SHOP
ShiroNeko – World’s Laziest Cat!
Get it for FREE
ShiroNeko – World’s Laziest Cat!
Get it for FREE
ShiroNeko gratis?! Aku bisa punya ShiroNeko. Hebaaaaaaaaaatttt. Siapa yang butuh Lia N, eh salah, siapa yang butuh wanita jika aku bisa punya ShiroNeko … Tidak ada kata yang bisa menggambarkan bahagianya hatiku saat ini. Aku akan punya ShiroNeko! Aku segera berlari ke toko tersebut.
“Permisi, Shironekonya gratis ya?” ucapku cepat
“Ya, betul Tuan” jawab si pramuniaga.
“Jangan panggil tuan, panggil saja Rahan.”
“Baiklah, Rahan”
“Mana? Saya mau dong Shironekonya.”
“Ini Tuan.”
Percakapan formal singkat dan membosankan itu pun berakhir dengan aku melenggang keluar toko tersebut dengan menggendong ShiroNeko di pelukanku bagaikan bayi yang sangat gendut. Dunia mimpi jauh lebih hebat dari apa yang aku bayangkan. Aku yang menyukai kucing sejak kecil, kini memiliki kucing terbaik yang pernah ada di dunia. Aku dan kucing ini, kami akan menjalani hari-hari sempurna disini. Tenanglah Shiro .. Daddy’s here. Daddy won’t leave you ever.
Aku letakkan Shironeko di trotoar dan kami pun mulai bermain. Aku memerintahkan trik-trik yang dengan sempurna dilakukannya. Orang-orang yang lalu lalang tersenyum melihat kami. Terkadang beberapa di antara mereka berhenti sejenak dan bertepuk tangan melihat saat Shiro berhasil melakukan lompatan salto, atau bahkan trik yang lebih aneh seperti menarikan tarian mesir. Ah indahnya mimpi ini … Aku bisa merasakan semua menjadi sangat pelan, langkahku bagaikan memantul, tepuk tangan berubah menjadi nada yang menenangkan .. dan Shiro seperti … seperti ….. seperti kucing badut yang beraksi layaknya topeng monyet. Ini takkan berakhir. Ini yang kumau. Jangan. Jangan berakhir.
-- // --
Di tempat lain Furan sedang meneguk air ludah. Ia tercekat di depan aula latihan. Tempat dimana ia biasa belajar biola dengan si raja biola yang seharusnya menjadi mertuanya itu, Genzo Nakamura. Dengan kepastian dan tekad bulat, ia pun bersiap melangkah maju dan mendorong pintu Aula.
Disana Tuan Genzo dan keduapuluh pengawalnya tampak berada di belakang alat-alat musik menyerupai orkestra musik dengan jumlah pemain yang lebih sedikit. Alat-alat musik tersebut tentunya bukan alat-alat biasa, karena Genzo Nakamura memiliki impian yang kompleks yaitu menciptakan alat-alat musik yang juga sekaligus berfungsi sebagai senjata penghancur. Ia pun menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa dunia mimpi dan membentuk kepolisian rahasia untuk melanggengkan kekuasaannya tersebut.
Tak ada yang berani bersuara. Para pengawal menatap Furan Leida dengan penuh kebencian. Apalagi boss mereka, Genzo Nakamura saat itu dengan perawakan sebesar sumo, memicingkan matanya melihat kehadiran Furan disana. Giginya ia rapatkan menahan amarah besar.
“Tuan Genzo yang saya hormati” Furan mulai membuka suara.
“Aku tidak tahu kau seorang pemberani, setelah terakhir kudengar kau melarikan putriku satu-satunya ke dunia nyata, kau masih berani kembali kesini.” Balas Genzo
“Saya datang untuk meminta maaf atas hal tersebut. Dan saya juga ingin menyampaikan pesan dari putri bapak agar bapak kembali ke dunia nyata.”
“Ini menarik sekali. Orang-orang muda memang punya kecenderungan bahwa mereka merasa lebih pintar dari orang-orang tua. Kalian menganggap bahwa orang-orang tua adalah orang-orang pahit yang hidupnya membosankan, stuck, dan tak lagi punya kemampuan mengubah dunia. Kalian selalu terinspirasi untuk menentang orang yang lebih tua, dengan bermacam alasan!” Genzo berbicara dengan cepat dan dengan suara yang lantang.
Furan masih berdiam diri, membaca keadaan.
“Apa kalian pikir, aku ini belum pernah hidup di dunia nyata? Apa kalian pikir, aku ini belum pernah jatuh cinta? Apa kalian pikir, aku menyia-nyiakan hidupku setelah kematian istriku dengan berada di tempat ini? Kau dan putriku adalah orang-orang muda. Kau belum melihat banyak hal! Kau baru melihat sedikit dari kekejaman dan kerusakan yang ada di dunia nyata! Aku tahu apa yang bisa terjadi dan oleh karena itu aku menginginkan kalian bahagia disini. Dan kau Furan Leida, orang yang memintaku untuk mengangkat murid, ternyata tak lebih dari pengkhianat dan pencuri yang menyesatkan putriku untuk berbalik dan meninggalkan aku.”
“Tuan Genzo, kami tidak merasa tinggal di dunia mimpi sebagai suatu kesalahan, dan kami juga tidak menyatakan hal-hal yang buruk tentang Tuan ingin berada disini. Kami memang orang muda. Semestinya kami masih mempunyai pilihan untuk jalan hidup kami. Hanya karena, ada orang yang pernah melewati semuanya, bukan berarti kami akan selalu mau memilih jalan yang paling aman. Anda semestinya lebih tahu, mengambil jalan seperti yang anda pilih, menghilangkan daya tarik hidup bagi kami,” balas Furan tak kalah tegasnya.
“Jadi kau mengatakan, bahwa orang tua tidak lagi memiliki pilihan?” Genzo Nakamura menahan amarahnya yang sudah hampir meledak.
“Sama sekali tidak, saya hanya menyatakan orang tua tidak iri dengan orang muda yang masih punya banyak pilihan, tetapi mereka tidak punya cukup keberanian untuk melihat putra-putri mereka melakukan kesalahan!” Furan meraung
“Aku … punya pilihan, dan kau orang muda rentan melakukan kesalahan, seperti yang kau lakukan saat ini! Pengawal! Mainkan The Nightmare Song! Basmi pemuda ini dengan mimpi buruknya!” titah Genzo Nakamura.
“Oh, shit!”
Cuma itu yang keluar dari mulut Furan dan ia pun membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya ke luar dari aula tersebut dan terus berlari dengan satu tujuan Pintu Penghubung.
Di belakangnya, nada-nada maut yang sedang dimainkan dari Aula beterbangan mengejarnya dalam bentuk awan gelap yang bergerak sangat cepat. Orang-orang yang melihat awan gelap tersebut langsung menyingkir dan berlindung. Merasakan mimpi buruk selamanya adalah lebih buruk dari kematian bagi siapapun.
“Siaaaaaaaalllll!!!” Furan terus berlari sekencang-kencangnya. Beberapa ratus meter ke depan, ia melihat sosok Rahan yang dikenalnya tengah bermain dengan kucing. Meski jarak di antara mereka masih sangat jauh Furan berteriak sambil masih terus berlari. Rahan berdiri di jalurnya, satu garis jalan menuju pintu penghubung.
“Bro Rahaaaaaann!!! Apa yang kau lakukan disini?! Cepat menyingkir dari sini kembali ke dunia nyata sekarang juga!”
“Hah, Bro Ran? Kenapa kau berlari Bro Ran? Adaaa apaa memangnya? Aku sedang bermain dengan kuciinggg impiankuuu..” Rahan menjawab dengan mulut monyong karena huruf u yang banyak.
Furan pun berlari melewati Rahan dan dengan cepat ia menyergap kerah baju Rahan dan menyeretnya, masih sambil berlari sangat kencang. Rahan tercekik karena ditarik sambil lari di kerah bajunya. Ia terseret dengan kaki menggelosor tanah. Kucing itu menatap Rahan yang menjauh dengan tatapan sedih.
“Apa.. uhk.. apa… uhk an ini? Kucingkuu? Uhk,” Rahan mencoba bersuara tapi ia masih dalam keadaan tercekik.
“Lupakan kucingmu, lihat itu awan gelap yang mengejar di belakang kita, itu awan mimpi buruk selamanya.”
“Hah, Shiro? Uhk… Maafkan .. uhk? Maaf ..” Rahan meneteskan air mata.
Layaknya dikejar wedus gembel, Furan terus menarik Rahan sekuat tenaga hingga akhirnya mereka tiba di depan Pintu Penghubung.
“Loncaaaaaaatttt!!!!”teriak Furan
“Shirooooooo!!” isak Rahan
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:19
0