Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.3KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#51
Kau terluka oleh impian?
Hidup tak ramah denganmu?
Dan saat itu kau ikhlaskan
Sebagai suatu kekalahan

Saat beberapa diantara kita
Tak lagi berani untuk bermimpi


Tetes air ke delapan

Furan dan Lia N tiba di gerbang dunia mimpi. Mereka segera berlari dengan tergesa-gesa seraya mengawasi sekitar mereka. Beberapa orang lalu lalang mengacuhkan mereka.

“Lia N, kita ke rumahmu, kau ambil blazer hitam tersebut, dan aku akan menghadap ayahmu. Kita bertemu lagi di gerbang. Tunggu saja aku disana. Kau mengerti?” ucap Furan setengah berbisik.

“Baiklah. Apa kau yakin ayah tidak akan memperlakukanmu dengan buruk?” cemas Lia N.

“Ya. Itu satu kemungkinan. Kita hanya bisa berharap ayahmu tidak melakukan suatu hal yang ekstrim.”

Tiba-tiba terdengar satu teriakan kencang dari salah satu atap rumah.
“Hey! Berhenti kalian berdua!”

Furan dan Lia N pun segera menghentikan langkah mereka. Mereka tidak melihat jelas, namun sosok tersebut melompat dari ketinggian 4 meter dan mendarat dengan santainya di depan mereka. Itu adalah Didi!

Ia menatap dengan sorot mata tajam kepada Furan. Situasi kini berubah menjadi tegang. Orang-orang yang lalu lalang pun berhenti sejenak. Mereka tahu, ini adalah situasi tak biasa. Situasi dimana seorang kepala polisi rahasia berteriak dan melompat bukan sesuatu yang bisa dijumpai setiap hari.

“Tidak melakukan sesuatu yang ekstrim katamu?” Didi membuka percakapan. “Kau sungguh-sungguh naif! Orang seperti kau ini, yang percaya bahwa segalanya semuanya akan baik-baik saja, orang seperti kau ini membuatku muak! Kau pikir semuanya akan mudah dan berjalan sesuai dengan keinginanmu? Saat ini Tuan Genzo sedang memerintahkan persiapan The Nightmare Song! Kau mungkin tidak tahu apa artinya itu, seberapa bahayanya itu, seberapa mengerikannya itu. Karena kau tidak tahu apa-apa, tidak punya informasi, tidak punya keahlian, hanya mengandalkan niat baik. Itu saja tidak cukup! Setidaknya kumpulkan sedikit keberanian untuk mengakui bahwa kau ini naif!” suara Didi bergetar penuh kekesalan.

Furan tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang dikatakan Didi benar. Ia bahkan tidak tahu apa itu The Nightmare Song.

“Apa itu benar Di?” suara Lia N tercekat, jelas sulit untuk menerima kenyataan.

“Apa itu benar katamu? Kau melukaiku lagi Lia N. Kau tahu itu? Apa pernah sekalipun aku berbohong kepadamu selama ini? Sesulit apapun bagimu untuk menerima, tak berhak bagimu mengatakan itu. Dan … dan … kau pun tak sekalipun mendengarkan pintaku.“

“Apa maksudmu Di?

“Tidakkah kau dengar aku mengatakan ‘Jangan pernah kembali’ malam itu?”

“Aku … aku ..” Lia N tak bisa mengucapkan kalimatnya.

Didi membuka tas bass yang disandangnya. Dari dalam tas tersebut ia mengeluarkan sesuatu yang lalu diulurkannya kepada Lia N.

“Kau kembali untuk ini bukan?” ucapnya seraya tersenyum.

Dengan blazer hitam di tangannya. Lia N menatap penuh rasa tak percaya pada Didi.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Didi hanya tersenyum.

“Well, kita sebut saja, aku lebih mengenalmu daripada si pemuda naif ini,” ucapnya seraya menatap Furan dengan tatapan yang mengejek.

“Lia N. Itu blazer hitam dari ibumu? Aku pikir sebaiknya kau sekarang kembali ke dunia nyata. Biar aku segera menemui ayahmu, dan aku akan kembali secepat mungkin,” gegas Furan.

“The Nightmare Song. Bila kau terkena gelombangnya, kau tak akan bisa kembali ke dunia nyata Furan. Kau akan tetap selamanya disini dan terjebak dalam mimpi burukmu?”

Be that as it may, aku masih harus tetap mengucapkan perpisahan dan permohonan pada ayahmu. Ia berhak mendapatkannya.”

“Aku setuju. Jika kau ingin hidup dalam mimpi burukmu selamanya. Silahkan pergi temui Tuan Genzo. Aku lebih dari cukup untuk menggantikanmu di sisi Lia N. Dan Lia N, jika kau tidak mau mendengarkanku, sebaiknya kau dengar kata-kata si naif ini. Ingat, semua yang datang dari dunia nyata, hari ini, bila lagu itu dimainkan, akan terjebak dalam mimpi buruk selamanya,” tegas Didi.

“Aku mengerti Di. Furan, sampaikan maafku pada ayah, katakan padanya bahwa aku menunggunya kembali ke dunia nyata. Dan kau, jaga dirimu baik-baik.”

Setelah menganggukkan kepalanya, Furan kembali berlari melesat ke arah kediaman Tuan Genzo, sementara Lia N dan Didi berlari menuju Pintu Penghubung.

“Didi, aku akan kembali sekarang. Apakah kau ikut denganku?”

“Aku turun ke Dunia Nyata mencarimu beberapa waktu yang lalu. Tapi yang kutemui hanya temannya Furan. Namun, aku sekarang paham apa yang kau cari di kenyataan. Ya, aku akan kembali menjalani hari-hariku di dunia nyata.”

Lia N tersenyum dan mengacungkan kelingking kanannya.
“Tetap sebagai sahabat?” pinta Lia N.

“Tetap sebagai sahabat!” jawab Didi pasti seraya juga mengangkat kelingking kanannya. Dan mereka pun melompat menembus Pintu Penghubung.

Sementara itu, ditempat yang sama, tak selang beberapa menit kemudian. Pintu Penghubung membuka dan seseorang pemuda dengan pakaian necis masuk menginjakkan kakinya untuk pertama kali di dunia mimpi.

Rahan!
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:17
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.