- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#45
Jika kekasih ada disisi
Awan pun rasanya mampu kugapai
Dengan kau
Segalanya mungkin
Walau ragu menggila
Walau tanya meraja
Awan pun rasanya mampu kugapai
Dengan kau
Segalanya mungkin
Walau ragu menggila
Walau tanya meraja
Tetes air keenam
Lia N dan Furan tengah berteduh di sebuah halte bis. Tidak ada orang lain selain mereka berdua disana. Hujan tengah mengguyur bumi dengan derasnya. Mereka tentu kedinginan. Angin bertiup kencang menghembuskan tetes-tetes air hujan sehingga walaupun mereka berteduh baju mereka tetap basah.
“Apa yang harus kita lakukan Furan?”
“Kita sudah melakukan suatu kesalahan sayang”
“Maksudnya kamu?”
“Iya, semestinya kita tidak lari begitu saja malam itu. Bagaimanapun juga, beliau adalah ayahmu Lia N.”
“Entahlah Furan, aku merasa ayah tidak pernah cocok dan memahami keinginanku. Ia sering mengatakan, ini dunia mimpi, semua ada disini, apalagi yang kau inginkan?”
“Ayahmu orang yang berwibawa. Ya, memang benar, mungkin dia juga orang yang mudah marah, tetapi selama aku belajar biola dengannya aku merasa ia orang yang baik.”
“Ayah baik padamu, kurasa karena ia ingin aku bahagia. Tetapi bukan dengan aku yang berada di dunia nyata, melainkan kau yang ada di dunia mimpi selamanya Furan.”
“Itu … itu tidak mungkin …”
“Apa yang tidak mungkin Furan? Sekarang kau lihat bukan. Aku sayang sama kamu. Aku bersedia ikut sama kamu. Kemanapun Furan. Kemanapun kau berada. Apakah kau tidak mau melakukan hal yang sama untukku?”
“Aku ingin memperbaiki keadaan ini Lia N. Tapi jangan buat ini terdengar seperti suatu pengorbanan. Tidak. Ini sama sekali bukan itu. Kau ada disini, karena kau tahu, kenyataan seperti ini, sepahit apapun yang mungkin nantinya akan kita hadapi, jauh lebih baik dari pada hidup dalam dunia mimpi.”
“Ini menyedihkan. Kau membuat aku terdengar tidak tulus.”
“Lia N. Hentikan keluhmu. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Maaf.”
Di sekitar mereka mobil-mobil berjalan dengan kaca tertutup. Hujan masih turun dengan derasnya. Dua jiwa yang bingung berada di tengah kota Bandung. Apa yang sepasang kekasih mungkin bayangkan ketika terkurung hujan?
Lia N merapatkan duduknya ke tubuh Furan. Ditariknya lengan kanan Furan agar memeluknya sementara ia merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu. Nafas mereka menghembus dan siapa pun dapat melihatnya dalam udara dingin itu, kepulan tarikan nafas mereka yang hangat. Hangat. Semakin erat Furan memeluknya ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan di dunia mimpi.
“Ini nyaman,” ucap si gadis sembari tersenyum.
“Kamu suka?”
“Aku suka hujan Furan. Setiap hujan turun, seakan-akan semua mimpiku tak lagi kuperlukan. Aku tak pernah merasa hujan itu membatasi. Sebaliknya, ia membebaskanku dari kepenatan.”
“Aku sayang kamu Lia N”
“Terima kasih ya. Waktu pertama kali kita bertemu di toko buku itu, aku tahu ada sesuatu yang beda dengan kamu.”
“Ya, aku juga demikian. Kemilaumu sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang lain yang pernah kujumpai.”
“Aku rasa ini memang takdir kita.”
“Takdir? Takdir tidak akan ada jika kau tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyusulku” Lia N tersenyum.
“Jadi, menurutmu aku pemberani?” Furan membalas.
“Haha, tidak ada orang yang pernah bicara dengan ayah dan meminta menjadi murid seperti yang kau lakukan sebelumnya.”
“Mengapa tidak ada?”
“Memangnya kau belum pernah lihat wajah ayahku?”
“Hahaha … durhaka nanti kamu, menghina ayah sendiri …”
“Haha .. ayah tidak akan marah padaku.”
Meski mereka tengah dirundung masalah yang pelik, kedua anak manusia tersebut masih dapat saling bersenda gurau dan menikmati hidup. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Bukankah cinta semestinya dapat membuat kita berpikir dengan tenang dalam menyelesaikan masalah?
“Lia N”
“Ya, sayang?”
“Kita harus kembali ke dunia mimpi untuk mengatakan langsung kepada ayahmu. Ini keputusanku. Kita tidak boleh berlaku seenaknya dalam hal ini. Bagaimanapun juga dia adalah ayahmu.”
“Ia tidak akan mengizinkan Furan” cemas Lia N.
“Kita bukan datang untuk meminta izin. Kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.”
“Baiklah, aku setuju. Ingatkan aku untuk mengambil blazer hitamku sebelum kita kembali.”
“Blazer hitam?”
“Ya, itu pemberian almarhum ibuku. Aku ingin membawanya dan mewariskannya pada anak kita suatu saat nanti”
“Baiklah sayang. Kita berangkat sekarang. Apa kau siap?” tanya Furan.
“Kemanapun. Asal denganmu. Aku selalu siap,” Lia N berkata seraya tersenyum manis.
“Dasar centil,” ejek Furan sambil tangannya mengacak-acak rambut Lia N.
Dan mereka pun lalu menghilang dari pandangan mata. Zap!
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:11
0