- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#38
Bila kau dengar lamat-lamat
Suara yang memanggil airmata
Kau datangi walau luka
Kau hampiri walau sesak
Cinta tidak selalu tersenyum
Cinta itu memerdekakan
Suara yang memanggil airmata
Kau datangi walau luka
Kau hampiri walau sesak
Cinta tidak selalu tersenyum
Cinta itu memerdekakan
Tetes air keempat
Didi tak pernah turun ke dunia nyata sebelumnya. Dunia mimpi sudah sangat sempurna untuknya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dihadapi orang-orang di dunia nyata. Pintu Penghubung menurunkannya beberapa puluh meter di dekat rumah kosan Furan Leida. Saat itu sekitar pukul setengah enam sore. Gedung SMA 1 Cikuda tidak terlalu jauh dari tempat ia berdiri. Anak-anak dengan seragam bola warna-warni penuh bercak tanah becek tampak tersenyum riang saling bercerita riuh rendah seraya mereka berjalan melewati Didi.
“Apa yang mereka perbincangkan? Mereka tampak sangat bahagia” tanya Didi dalam hati. “Baju mereka kotor, tapi mereka tampak senang” membatin lagi ia untuk kedua kalinya. Ia berusaha keras untuk mengekang nuraninya bertanya. Namun sia-sia. “Bola apa itu? Sepertinya bola sepak biasa. Apa mereka tidak punya lapangan bola yang sempurna seperti di dunia mimpi? Bagaimana mereka bisa bahagia dengan sesuatu yang sangat jauh dari sempurna?” Ia tahu, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Cep, kunaon ngalamun wae, geura uwih ka bumi, geus magrib yeuh” tegur seorang ibu yang rupanya memperhatikannya sedari tadi.
“Iya bu,” jawabnya pelan.
Didi melangkahkan kakinya menyusuri pinggiran jalan dekat gerbang UNPADS. Gitar bassnya terbungkus rapi dan tersandang di punggungnya. Ia benar-benar nampak seperti mahasiswa biasa. Melewati sedikit area persawahan yang tersisa di dekat kantor pos. Melewati kantor desa. Dan akhirnya ia tiba persis di depan gerbang UNPADS.
Ia iri dengan apa yang ia lihat saat itu. Hiruk pikuk orang muda bercampur dengan para pedagang dan penduduk setempat. Ada yang terlihat terburu-buru, ada pula yang santai. Ada yang berdandan penuh gaya, ada yang tampil sederhana. Ada yang percaya dengan buku-buku tebal, ada pula yang percaya dengan rambut gondrong, bahkan kribo. Ia kini menyadari bahwa dalam kenyataan semua orang berusaha keras demi apa yang mereka percaya. Semuanya begitu indah, begitu sempurna. Hari mulai gelap dan lampu-lampu pun telah dinyalakan. Saat itu memandang langit kenyataan jauh lebih indah dari perasaan apapun yang pernah ia banggakan. Didi baru saja tersadar, kenyataan itu menyenangkan.
COLDPLAY
STRAWBERRY SWING
They were sitting
They were sitting on the strawberry swing
Every moment was so precious
They were sitting
They were talking under strawberry swing
Everybody was for fighting
Wouldn't wanna waste a thing
Cold, cold water bring me round
Now my feet won't touch the ground
Cold, cold water what ya say?
When it's such
It's such a perfect day
It's such a perfect day
I remember
We were walking up to strawberry swing
I can't wait until the morning
Wouldn't wanna change a thing
People moving all the time
Inside a perfectly straight line
Don't you wanna curve away?
When it's such
It's such a perfect day
It's such a perfect day
Now the sky could be blue
I don't mind
Without you it's a waste of time
Could be blue
I don't mind
Without you its a waste of time
Could be blue,
Could be grey
Without you Im just miles away
Could be blue
I don't mind
Without you it's a waste of time
1: "Nak, kenapa melamun saja. Cepat pulang ke rumah. Hari sudah magrib"
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:02
0