Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#37
Angin mendorong dorong awan
Memintanya turunkan hujan
Untuk bumi yang kian bermenung
Melarut dan melarung

Biarkan aku bersenggama
Dalam mimpi-mimpi hujan


Tetes air ketiga

Aku bangun dengan badan ringsek. Pegal! Terpaksa sedikit putar-putar poros pinggang ke kiri dan ke kanan. Tunggang tungging dengan jari menggapai jemari kaki mencoba melemaskan otot yang kaku. Lepas semua pegal, aku berjalan ke ruang tengah. Tidak ada tanda-tanda Furan dan Lia N. Hmm, kertas apa itu di atas meja?

Terdapat secarik kertas bertuliskan: “Aku harus pergi sekarang. Aku harus mengalahkan mimpiku. Cepatlah berkembang sahabatku. Kau ‘tertidur’ terlalu lama.”

Apa maksudnya ini?
--//--

Genzo Nakamura bukan seseorang yang bisa engkau beri senyum dengan tulus. Senyum siapapun kepada seorang Genzo Nakamura adalah senyum miris yang mencoba menepiskan rasa takut dari air wajah. Perawakannya yang besar, gempal, brewok yang liar serta alis dan sorot mata yang tajam, cukup untuk membuat gentar apapun yang berada di sekitarnya. Dan pagi itu di dunia mimpi. Genzo Nakamura sedang marah besar.

“SIALAAAAAAANNN!!!” “Jadi apa maunya si burung bangau Furan itu sebenarnya?” “Mau dia kubuat penyet seperti TELUR PUYUH, haaahh!!!”

Di depannya, sekitar dua puluh orang pengawal pribadi keluarga Nakamura duduk bersimpuh ketakutan. “Kingkong mau lepas, Kingkong mau lepas,” keluh mereka dalam hati.

“Hey Didi!, Polisi Rahasia macam apa kau ini? Kau dan anak buahmu sungguh tidak becus! Putriku diculik orang, lari ke dunia nyata, kau cuma bisa kasih laporan? Kenapa tidak kau tangkap!!!!!” amuk Genzo Nakamura.

--//--

Pria yang disebut bernama Didi adalah kepala dinas polisi rahasia dunia mimpi. Orangnya sangat ganteng, sangat mirip dengan vokalis Muse. Didi memiliki hubungan khusus dengan Lia N, dan tidak ada orang yang tahu tentang hal tersebut. Malam ketika Lia N melarikan diri bersama dengan Furan, Didi menghadang kedua pasangan tersebut di depan Pintu Penghubung.

“Lia N ….. apa maksud semua ini?” Didi menghalangi Pintu Penghubung. Ia memegang gitar bass listrik, tangannya bersiap mencabik dawai. Dan tanpa bermaksud melebih-lebihkan, bila Didi membetot bassnya, seluruh area di sekitar itu akan rata dengan tanah. Didi, polisi rahasia, raja bass dunia mimpi.

Furan dengan biolanya terhunus merasa terancam. Ia menyiapkan biolanya untuk kemungkinan terburuk. Mungkin ia akan terpaksa memainkan nada Baju Zirah level 2 untuk memperkecil kerusakan akibat serangan bass Didi. Namun, di sampingnya Lia N hanya tersenyum. Ia merentangkan lengan kirinya, mengisyaratkan agar Furan tidak menyentuh biola tersebut.

“Didi, kau ingat ceritaku dulu?” pelan Lia N menyapa si polisi rahasia.

“Aku …. Aku tidak pernah lupa ceritamu itu …” suara Didi tercekat, terdengar parau.

“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Kau tentu tahu … , sudah lama aku merasa terkurung di sini Didi. Kita memang bahagia disini. Tapi ini dunia mimpi. Seindah-indahnya impian, engkau pun tahu, aku lebih suka memilih untuk menjalani kenyataan.”

“Tapi Lia N?! Kenyataan itu pahit. Kenyataan itu kejam. Kau akan menua, kau akan sakit, kau akan miskin, kau akan mati!!” erang Didi dalam mengeluarkan semua perasaannya.

Hening sejenak. Lia N menunggu Didi berhasil mengumpulkan nafasnya yang terengah-engah. Lalu ia menatap langit ke arah bintang-bintang, “Semua yang kau katakan itu benar. Tapi kau lupa menyebutkan satu hal. Kau akan bahagia. Rasa bahagia di dunia nyata, tidak bisa kita tukarkan dengan mimpi kita yang manapun. Walau hanya satu kali dalam seumur hidupku Di, aku ingin merasakan rasa bahagia di kenyataan. Meski harus melalui penuaan, meski harus merasakan kesakitan, meski harus didera kemiskinan, dan meskipun mati adalah sesuatu yang pasti.”

Didi tak kuasa menahan berat tubuhnya. Kedua lututnya telah rubuh ke tanah, ia tertunduk lesu. “Baiklah, aku tidak mengerti, tapi aku akan mencoba memahamimu” ucapnya pelan.

Lia N menggenggam tangan Furan dan menariknya seraya mereka berjalan ke Pintu Penghubung. “Maaf ya Di, aku mengerti bebanmu sangat berat. Sampai jumpa di kenyataan. Mungkin suatu saat kelak, tetap sebagai sahabat,” ucap Lia N.

“Jangan pernah kembali.” Didi bangun dari simpuhnya, dan berjalan tanpa menengok ke belakang.

--//--

“Siapkan alat-alat musik!! Latih The Nightmare Song!!” ucap Genzo Nakamura dengan suara yang lebih menyerupai raungan. “Didi! Turun ke dunia nyata! Bawa kembali putriku dan si pengkhianat Furan!”

The Nightmare Song, lagu tidak biasa yang akan memutuskan hubungan mereka yang datang dari kenyataan ke dunia mimpi, membuat mereka tak bisa kembali ke kenyataan, dan mengalami mimpi buruk selamanya di dunia mimpi. Kematian lebih baik daripada terkena imbas The Nightmare Song.

Keduapuluh pengawal pribadi dengan tergopoh-gopoh, segera berhamburan ke aula latihan untuk melatih The Nightmare Song. Kening Didi berkerut, ini sungguh di luar dugaannya. Ia tahu persis riwayat Furan akan tamat dengan lagu ini.

catatan penulis: Chapter 3 dari Mimpi-mimpi Hujan ini baru saya buat hari ini setelah terbengkalai sekian lama, terakhir proyek ini ane kerjakan 29 Mei 2007. Semoga bisa berkesan bagi pembaca SFTH sekalian. Salam hangat saya.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 12:00
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.